OUR NETWORK

Selubung Ancaman Sampah Plastik

Marilah kita sejenak melihat di sudut selokan, kali, maupun sungai bahkan pantai, pasti sampah plastik maupun sampah rumah tangga dapat kita temui. Di lahan kosong, di ruas jalan, hingga di fasilitas publik dapat mudah ditemui sampah.

Permasalahan sampah merupakan permasalahan global, dalam kutipan studi dari Science Advances yang dilansir oleh media dw.com menyebutkan bahwa sampah plastik dunia saat ini mencapai 8,3 miliar ton.

Bagaimana dengan keberadaan sampah plastik di Indonesia? Saya memang kebingungan mencari data mengenai hal ini dan hingga tulisan ini dibuat saya tidak memiliki keyakinan dari data yang ada sehingga saya tidak memasukkan data tersebut.

Namun, marilah kita sejenak melihat di sudut selokan, kali, maupun sungai bahkan pantai, pasti sampah plastik maupun sampah rumah tangga dapat kita temui. Di lahan kosong, di ruas jalan, hingga di fasilitas publik dapat mudah ditemui sampah.

Ya, masalah sampah ini menjadi persoalan serius karena Indonesia belum memiliki mekanisme untuk mengolah sampah yang tuntas dari hulu ke hilir. Apalagi sistem pembuangan sampah open dumping atau sampah ditumpuk saja tanpa ada pemilahan sampah masih menjadi pola yang lumrah terjadi di masyarakat.

Pertanyaan berikutnya “apabila sudah memilah sampah, berikutnya bagaimana?” Selanjutnya, apabila telah memilah sampah berikutnya apakah sampah anorganik (kertas, plastik, maupun botol) dapat dijual melalui bank sampah, didaur ulang, atau dikumpulkan kemudian akan berakhir dengan pertanyaan: “bagaimana caranya?” “dikumpulkan ke mana?” “apa untungnya memilah sampah?” “mengapa harus memilah sampah?”

Narasi seperti memilah sampah jadi bagian gaya hidup, merupakan hal yang baik. Namun, belum cukup karena narasi tersebut perlu diperkuat dengan filosofis dan mekanisme pengelolaan sampah yang sistematis.

Artinya secara struktur, mekanisme penanganan dan pengelolaan sampah seharusnya menjadi agenda prioritas pembuat kebijakan untuk melalukan pembenahan tata kelola sampah plastik. Perlu ada penanganan dan perlakuan yang berbeda untuk sampah organik, sampah plastik, sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun), sampah elektronik dan sampah otomotif.

Bayangkan permasalahan yang kita hadapi cukup serius karena sampah yang tidak dapat larut secara alamiah. Sampah plastik saja sudah bermasalah, apalagi kita pun dihadapi dengan kendala sampah lainnya seperti sampah B3, sampah elektronik dan sampah otomotif.

Bisa jadi di masa depan, bumi akan dipenuhi dengan sampah yang akan mempersempit ruang gerak manusia di saat ledakan populasi manusia yang tinggi. Apabila itu terjadi, tentu menjadi hal yang menakutkan, bukan?

Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab pemerintah. Apabila masih ada pernyataan dan pemikiran tersebut dalam pemikiran Anda, mohon maaf saya katakan kita semua perlu melakukan ‘pertobatan massal’. Mengapa?

Masing-masing kita sebagai individu pada dasarnya merupakan penghasil sampah baik organik maupun non organik. Kita yang memproduksi sampah kan tidak mungkin menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Tetapi kita individulah yang memiliki tanggung jawab baik secara spiritual, sosial dan lingkungan hidup. Mengapa terdapat tiga jenis tanggung jawab?

Tanggung jawab secara spiritual, sosial dan lingkungan hidup merupakan tiga hal yang saling berkaitan terkait dengan pola pikir, prinsip hidup dan perilaku yang berjalin berkelindan. Namun, tetap negara sebagai panglima yang menyediakan infrastruktur persampahan yang memadai yang dilengkapi dengan aturan dan mekanisme sosialisasinya.

Gambaran orang membuang sampah di sungai, ya umum terjadi. Membuang sampah di jalan, umum pula terjadi. Membuang puntung rokok, kertas, maupun lainnya juga menjadi lumrah terjadi. Pertanyaan berikutnya: Apakah kita nyaman dengan kondisi ini? Apakah kita tidak ingin berubah memperbaiki keadaan lingkungan hidup yang sedemikian kotor? Apabila jawabannya iya, mari bergerak.

Tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah yang berbuat atau menunggu instruksi, ya kita harus bertindak. Gerakan politik netizen di media sosial saja mampu, masa gerakan untuk pro lingkungan hidup yang berdampak langsung untuk kehidupan sehari-hari tidak mendapat gaung?

Apakah kita tengah menunggu bencana akibat sampah? Sementara tragedi longsor sampah sudah pernah terjadi. Tahun 2005, di Cimahi Jawa Barat terjadi longsor sampah yang menewaskan lebih dari 100 orang dan menelan beberapa perumahan warga di sekitar TPA Leuwigajah. Tragedi akibat sampah yang terbaru, tahun 2017, di Ethiopia terjadi longsor akibat sampah yang juga menewaskan lebih dari 100 orang.

Apakah menunggu ada bencana, kemudian saling menyalahkan? Tentu hal tersebut bukan hal yang baik. Maka, dari itu mari bergerak. Jangan sampai narasi di tahun politik didominasi dengan pilihan politik saja, tetapi seharusnya perlu memunculkan narasi-narasi yang memperlihatkan bahaya laten dalam sektor sosial dan lingkungan hidup. Salah satu bahaya laten adalah pengelolaan sampah yang menjadi tanggung jawab negara dan masyarakat untuk mengelolanya.

Blogger & Penulis lepas isu sosial ekologi dan politik lingkungan hidup

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…