Kamis, Februari 25, 2021

Selamatkan Hutan Boven Digoel dari Kapitalisme

Post-Islamisme: Sebuah Pengantar

Suatu pengakuan: Aku belum menyelesaikan Pos-Islamisme-nya Asef Bayat (LKIS, 2011). Maklum, buku itu tebalnya lebih dari 400 halaman dan sekilas menawarkan studi-studi kasus yang...

Pablo Escobar dan Kapitalisme dalam Serial Netflix

Narcos adalah sebuah serial Netflix, yang berkisah tentang dunia hitam kartel-kartel narkotika di Kolombia, Mexico, dan kebijakan War on Drugs, Pemerintah Amerika Serikat, tahun...

Kita Semua Ingin Ada Buzzer

Akan hambar linimasa, jika buzzer tidak ada. Buzzer adalah penyambung lidah kita. Ada rasa was-was menghantui jika kita posting isi hati tentang sebuah tragedi....

Hukum Tata Negara Darurat pada Situasi Pandemi

Dalam Kondisi Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia seperti saat ini, seharusnya seluruh negara di dunia menerapkan darurat nasional di masing-masing negaranya untuk mencegah...
Arif Uopdana
Suka mengisi waktu kosong dengan membaca dan menulis.

 

Dalam pengertian yang paling singkat, kapitalisme adalah suatu sistem sosial dan ekonomi di mana para pemilik kapital (atau kapitalis) mengambil surplus produk yang dihasilkan oleh produsen langsung (atau buruh), yang membuahkan akumulasi kapital.

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi mendominasi hampir semua sudut dunia. Bagi sebagian besar kita, kapitalisme begitu menjadi bagian dari kehidupan kita sampai-sampai ia tak lagi kasat mata, layaknya udara yang kita hirup.

Kita tidak menyadarinya, etos, pandangan, dan nilai-nilai internal kapitalismelah yang kita serap dan biasakan seiring kita tumbuh bersamanya. Tanpa disadari, kita belajar bahwa kerakusan, eksploitasi atas seumber daya alam berlebih bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup semata melainkan untuk mendapatkan akumulasi kapital.

Sistem kapitalisme selalu mendambakan pertumbuhan ekonomi, seolah pertumbuhan ekonomi adalah dewa atau obat yang mujarab untuk mengobati kemiskinan dan memberantas pengangguran. Ini seperti paradoks pertumbuhan.

Nyatanya, sistem ini banyak menimbulkan kerusakan lingkungan, penderitaan, eksploitasi buruh, dan kesenjangan yang semakin tinggi antara si kaya dan si miskin yang semakin jauh.

Tuntutan akumulasi kapital harus dibarengi dengan tuntutan kebutuhan akan sumber bahan mentah untuk produksi yang semakin tinggi. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan semata, melainkan untuk menciptakan laba. Dorongan untuk terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi mengakibatkan eksploitasi manusia dan lingkungan yang masif.

Seiring pertumbuhan jumlah manusia dan produksi industri yang semakin tinggi, kebutuhan akan energi bahan bakar fosil (Minyak, Gas, Batubara) semakin meningkat. Bahan bahan bakar fosil merupakan sumber daya alam tak terbaruka,  suatu saat akan habis. Sehingga dibutuhkan energi yang bersumber dari sumber daya yang dapat diperbarui untuk menunjang kebutuhan energi manusia yaitu Bahan bakar Nabati (Biofuel) dari tumbuhan dan hewani.

Menurut data U.S Energy Information Administration, konsumsi energy dunia saat ini sebesar 33% masih bergantung pada minyak bumi, 22 % dari gas alam, 27% dari batubara, dan 13 % dari energy lain. Dari jumlah tersebut, diketahui bahwa 82% kebutuhan energy manusia diperoleh dari energy fosil.

Saat ini, perusahaan-perusahaan multinasional menjelajahi dunia mencari sumber daya dan kesempatan, mengeksploitasi buruh, memanfaatkan longgarnya aturan lingkungan hidup, dan mengandalkan manfaat keringanan pajak di Negara miskin. Semua ini memperkuat, alih-alih mengurangi, kesenjangan kemakmuran antara negara kaya dan miskin.

Hasilnya adalah eksploitasi global yang lebih rakus atas alam dan naiknya kesenjangan kekuasaan dan kemakmuran. Korporasi global tidak punya kesetiaan pada apapun selain kepada bottom line mereka, yakni keuntungan ekonomi. Salah satu dampak dari globalisasi kapital mutakhir dan kekhawatiran kelangkaan pangan di tingkat global adalah pencaplokan tanah (land grab) secara masif. Modal swasta dan dana pemerintah berusaha menguasai lahan luas untuk menghasilkan tanaman pangan dan persediaan biofuel bagi pasar.

Boven Digoel merupakan salah satu kabupaten terluas di provinsi Papua, yang memiliki luas wilayah 27.108 km persegi, dengan mayoritas wilayahnya adalah hutan primer/hutan alam. Menjadi target investor perkebunan sawit untuk menanamkan modalnya.

Di sana 14 perusahaan perkebunan sudah mendapatkan izin Pelepasan Kawasan Hutan dengan luas total 417.251 hektar, saat ini sebagian besar masih tertutup hutan. Sampai akhir Desember 2018 hanya sekitar 30,254 hektar dari jumlah total tersebut yang sudah dibuka dan ditanami kelapa sawit sisanya masih hutan alami.

Jika melihat laporan investigasi yang dilakukan The Gecko Project, bekerja sama dengan Mongabay, Tempo, dan Malaysiakini. Beberapa perusahaan-perusahaan cangkang (Shell Company) kelapa sawit yang mendapatkan izin konsesi dengan tidak transparan, mulai perusahaan yang hanya didirikan 8 hari, alamat perusahaan yang palsu, bahkan dua orang pemilik saham dari 7 (tujuh) perusahaan tersebut ternyata pemilik saham palsu, dan tidak adanya presentasi dan penilaian AMDAL.

Para pemilik saham sesungguhnya dari perusahaan-perusahaan yang memperoleh izin konsesi di Boven Digoel pun tidak diketahui. Proyek di Boven Digoel pun diselimuti bayang-bayang kelam.

Alih-alih meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kabupaten, masuknya perkebunan sawit di Boven Digoel nyatanya tak merubah masyarakat setempat menjadi lebih baik, justru deforestasi menghilangkan lahan yang menjadi tempat berburu untuk mendapatkan makanan dan minuman.

Dalam perspektif masyarakat setempat (lokal) hutan adalah mamah yang memberikan mereka kehidupan. Dengan hilangnya hutan bukan hanya menghilangkan lahan untuk mendapatkan sumber makanan dan minuman namun banyak yang hilang. Seperti, kerukunan, persaudaraan diantara masyarakat sudah mulai hilang. Kehidupan yang dulu harmonis sekarang sudah sering terjadi pertikaian diantara keluarga sendiri dan diantara masyarakat.

Dalam banyak kasus, korporasi hanya melihat tanah dan segenap kekayaannya dalam perspektif ekonomi-bisnis (nilai komoditi).Sementara itu, tanah bagi sejumlah masyarakat adat nusantara, memandang tanah dalam perspektif kultural sebagai ibu yang memberi makan kepada mereka, ibu tanah ini harus dirawat dan dipelihara,bukannya dijual untuk dialih fungsikan.

Perbedaan perspektif antara perusahaan dengan masyarakat adat sering kali menimbulkan konflik. Dalam berbagai kasus konflik lahan di Indonesia sering sekali masyarakat pemilik hak Ulayat dalam posisi yang lemah. Korporasi dengan modal yang besar sering bermain dengan pejabat yang memiliki kewenangan di daerah maupun di pusat.

Tak jarang pejabat berharap banyak kepada parah investor untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan daerah. Para pejabat berharap dengan masuknya investor kedaerah mereka maka akan menciptakan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, mengentaskan kemiskinan, memberi beasiswa dan bantuan sarana-prasarana pendidikan, kesehatan, dan membantu membangun infrastruktur di daerah.

Nyatanya diberbagai daerah para Investor hanya manis di depan saja. Perusahaan-perusahaan tetap mengutamakan keuntungan kapital yang sebesar-besarnya, karena keuntungan kapital adalah tujuan utama setiap perusahaan. Apa yang diberikan perusahaan kepada daerah dan masyarakat pemilik hak Ulayat tak sebanding dengan keuntungan yang mereka dapat dari eksploitasi alam.

Masyarakat setempat yang sebelumnya hanya hidup mengandalkan alam harus dipaksa untuk merubah cara mereka bertahan hidup yaitu dengan menjadi buruh perkebunan, tak jarang masyarakat mengalami “shock culture”, dan mengalami degradasi budaya dan nilai-nilai hidup.

Ancaman hilangnya flora dan fauna endemik dan ancaman negatif lainnya akibat eksploitasi alam harus masyarakat terima dengan dalih untuk kesejahteraan dan mengejar pertumbuhan ekonomi.Kekayaan sumber daya alam sebagi anugerah Tuhan yang seharusnya dapat dimanfaatkan dengan bijak untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemilik hak ulayat sering kali berubah menjadi kutukan sumber daya alam.

Masih ada harapan untuk menyelamatkan hutan dan masyarakat Boven Digoel dari ancaman kapitalis yang ingin menguasai hutan untuk perkebunan sawit. Pemerintah provinsi Papua harus bersinergi dengan pemerintah kabupaten Boven Digoel dan masyarakat adat setempat juga pemerintah pusat untuk menyamakan pandangan betapa pentingnya hutan untuk keberlangsungan hidup  dan mencari solusi permasalahan yang terjadi.

Perusahaan-perusahaan kapitalis dengan segala macam kekuataannya tetap akan mengincar kekayaan alam di Papua, khususnya kabupaten Boven Digoel. Sehingga butuh tekad dan ketegasan serta transparansi dalam pengelolaan dan perlindungan kekayaan alam di Papua.

Referensi

Fred Magdoff dan Jhon B Foster. 2011. Lingkungan Hidup dan kapitalisme. Terjemaahan oleh Pius Ginting. Tangerang Selatan : CV.Marjin Kiri

https://geckoproject.id/kesepakatan-rahasia-hancurkan-surga-papua-b347e51639fb, diakses 5 Juni 2020

https://www.mongabay.co.id/2018/08/25/pilih-mana-energi-fosil-atau-energi-terbarukan/, diakses 5 Juni 2020

https://jubi.co.id/bagaimana-boven-digoel-menjadi-sasaran-perkebunan-sawit-terluas-di-dunia/, diakses 5 Juni 2020

Arif Uopdana
Suka mengisi waktu kosong dengan membaca dan menulis.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.