Minggu, Maret 7, 2021

Selamat Hari Pers Nasional, Masih Adakah Idealisme Wartawan?

Prabowo Sebut Elite Pendukungnya Diancam, Hoaks atau Fakta?

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebutkan bahwa sejumlah elite pendukungnya diancam oleh pihak-pihak tertentu. "Saya sering kedatangan elite entah pakai gelar ini,...

Rusaknya DAS Brantas

Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas termasuk dalam Satuan Wilayah Pengelolaan (SWP) Brantas, memiliki luasan wilayah sekitar 1.188.564,63 ha, dengan cakupan wilayah administratif yang meliputi...

Berbeda-beda tetapi Satu: Ketuhanan dalam Agama Hindu (2 dari 2)

(Lanjutan dari tulisan sebelumnya.)Istilah Hindu sendiri tidak ada di dalam kitab-kitab Veda, nama itu diberikan oleh orang-orang Persia untuk menyebut orang-orang dan tradisi masyarakat...

Kebijakan Global Tiongkok, Upaya Menghadapi Krisis Energi

Tiongkok merupakan salah satu negara yang tergolong dalam hal boros untuk konsumsi energi. Sebagai negara industri tentu terdapat pertimbangan dan akan menjadi masalah apabila...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Selamat hari Pers Nasional 9 Februari 2018, masih adakah idealisme wartawan? Pertanyaan ini sungguh menohok. Apa itu idealisme wartawan? Jawaban gampangnya ialah seorang wartawan yang dalam menjalankan profesinya selalu dituntut bersikap netral, jujur, berimbang dan bertanggung jawab.

Menyangkut soal tanggung jawab wartawan, Theodore Peterson dalam buku Four Theory of The Press menyebutkan bahwa pers dalam negara demokrasi memiliki kewajiban dan tanggung jawab kepada masyarakat, ketika menjalankan fungsi-fungsinya.

Secara tegas teori ini mengungkapkan bahwa wartawan sebagai salah satu unsur terpenting pers, dituntut untuk bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, terutama ketika membuat berita dan menyiarkannya kepada publik.

Sebagai salah satu subjek penting dalam dunia pers, wartawan mempunyai dua fungsi yaitu pertama sebagai seorang profesional. Dalam fungsi ini, seorang wartawan berkewajiban menyampaikan berita kepada publik agar masyarakat well inform.

Kedua sebagai seorang politisi. Dalam menjalankan fungsinya sebagai politisi, seorang wartawan diharapkan mampu menciptakan perlawanan rakyat terhadap terjadinya ketidakadilan sosial.

Dunia pers identik dengan media massa (surat kabar, majalah, televisi dan radio) serta media online (website). Wartawan zaman now, dinilai sebagai profesi atau pekerjaan yang banyak menghasilkan uang, kenal dan akrab dengan sejumlah selebritis, atlet, pejabat dan konglomerat.

Rekan-rekan seangkatan saya di dunia pers (sekitar tahun 1994 lalu), saat ini sudah banyak yang sukses. Mereka ada yang jadi anggota parlemen, direktur marketing perusahaan otomotif, staf ahli lembaga survey. Bahkan, ada yang jadi bos dalam bisnis properti dan owner media online.

Saya tidak tahu, apakah rekan-rekan saya masih kuat memegang idealisme? Atau mungkin saja, jabatan dan harta benda yang mereka miliki merupakan hasil dari  ‘penjualan’ idealismenya. Itu semua hanya mereka yang tahu.

Berprofesi sebagai wartawan di era milenal, sangat sulit untuk tidak bersentuhan dengan uang dan harta benda. Antara kepentingan profesi dan kebutuhan hidup, tanpa disadari sering bercampur jadi satu.

Sebagian besar masyarakat menganggap, profesi wartawan sebagai salah satu jalan pintas untuk cepat menjadi kaya raya. Namun, itu semua tergantung dari niat orangnya. Ada sejumlah wartawan yang menjual idealismenya kepada kelompok kapitalis dengan tujuan untuk mendapatkan sejumlah uang dan harta benda.  Kalau ini terjadi, maka dalam menjalankan profesinya, seorang wartawan akan didikte kaum kapitalis.

Namun, ada juga wartawan yang masih mempertahankan idealisme. Kebutuhan hidup mereka tetap terpenuhi, walaupun terkadang terpaksa harus ngutang sana-sini untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya.

Ada sebuah kenikmatan bathin yang tidak ternilai harganya, ketika seorang wartawan mempertahankan idealismenya yaitu mereka bisa bebas menulis atau meliput apa saja tanpa ‘dicekoki’ oleh kepentingan apa pun.

Wartawan idealis akan terus berkarya jurnalistik dengan tetap menjaga etika dan bertanggungjawab secara moral, agama serta sosial. Mereka juga akan selalu berhati-hati ketika mengungkapkan data dan fakta berita, agar kebersihan hati dan pikiran masyarakat tetap terjaga. Semoga saja idealisme pers masih ada.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.