Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Sekolah Menghasilkan Orang Bingung?

Meninjau Kembali Mobile Application untuk Anak

Saat ini, terdapat banyak aplikasi digital yang telah dikembangkan khusus untuk anak. Selain ‘aman’ dan menyenangkan, aplikasi tersebut baik untuk perkembangan kognitif anak. Namun,...

Memaknai 90 Tahun Sumpah Pemuda

Pada 28 Oktober 1928 merupakan titik di mana anak muda pada zamannya bersatu dengan semangat nasionalisme dan patriotisme yang tinggi yang berjuang di berbagai...

Dwi Hartanto, Egy Maulana Vikri, dan Media di Indonesia

Pagi ini – seperti biasanya – laptop, kopi, dan beberapa makanan ringan setia mendampingi. Beberapa laporan harus dieksekusi secepatnya, tentu dengan kualitas yang tetap...

Meluruskan Gagal Paham Islam Nusantara

Jangan kau seperti Iblis, hanya melihat air dan lumpur ketika memandang adam. Lihatlah di balik lumpur,  Beratus-ratus ribu taman yang indah. Barangkali kata-kata Jalaluddin...
Ayunda Amaliyah
Mahasiswi Pendidikan Kimia Untirta | ig: @yundanes

Mari kita refleksi kembali pada masa-masa di mana kita banyak menghabiskan waktu untuk duduk di bangku dan menatap papan tulis. Adalah sekolah, yang menghabiskan biaya hidup dan keringat orang tua diperas sebagian besar untuk biaya pendidikan.

Pendidikan yang ‘katanya’ tonggak kesuksesan dan dapat mengubah hidup menjadi lebih baik sehingga kita terus bersekolah dalam menjalankan kewajiban. Berangkat pagi, memakai seragam, membawa bekal, buku dan uang jajan berharap kita bisa menjadi orang yang hebat seperti pengusaha besar, berseragam putih dan pegawai berdasi yang bekerja digedongan.

Tapi nyatanya, jika kita lihat data dari hasil Riset ICCN (Indonesia Career Center Network) 2017 mengatakan bahwa sebanyak 87% mahasiswa Indonesia mengaku salah jurusan atau jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya ditambah lagi. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) 2019 jumlah pengangguran di Indonesia sebesar 6,82 juta orang yang didominasi oleh lulusan SMK.

Kenyataan tersebut sangat pahit untuk didengar, bukankah kita setiap hari bersekolah? Mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA/K bahkan Perguruan Tinggi? Lantas mengapa hal itu bisa terjadi? Apa yang kita lakukan di sekolah dahulu secara tidak langsung ternyata pendidikan formal dengan kurikulum nasional membentuk kita menjadi robot.

Bagaimana tidak? Kita selalu disuguhkan dengan berbagai macam mata pelajaran, disuapi dengan berbagai teori dan soal-soal, kemudian diiming-imingi dengan nilai yang secara harfiah hanyalah angka, siapa yang nilainya paling tinggi dialah yang pintar ’katanya’. Ternyata angka itu fake tidak benar-benar mewakili kecerdasan seseorang.

Kita terus mengejar nilai tersebut, yang ada difikiran adalah nilai yang tinggi. Kita mempelajari semua mata pelajaran mulai dari yang sederhana seperti bahasa indonesia hingga yang sulit seperti matematika dan fisika, kemudian mencatat, menulis, mengerjakan soal, tugas, PR dengan segala tetek bengeknya, belum lagi tugas kelompok yang terkadang harus menumpang rumah teman untuk direpotkan.

Sekolah berangkat pagi-pulang sore dengan memikul tas yang berat berisi setumpuk buku, lalu ketika pulang dilontarkan dengan pertanyaan yang cukup sederhana saja, “nak, apa yang kamu pahami dari belajar tentang mata pelajaran tadi?” pasti anak itu langsung diam dan tidak bisa menjawab. Sungguh miris, anak-anak terus bersekolah tetapi tidak mengerti apa yang mereka pelajari.

Jika kita menelisik sebetulnya apa yang terjadi pada pendidikan kita, ternyata pekerjaan anak-anak lebih banyak menghafal, menghafal dan menghafal selain itu yaa mengerjakan soal.

Anak-anak tidak pernah diberitahu tentang pentingnya suatu ilmu atau mata pelajaran tersebut diajarkan: kenapa kita belajar ini, apa gunanya, apa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, apa yang saya bisa lakukan dengan ilmu ini untuk masa depan. Yang selalu dilakukan guru adalah mencekoki dan mencekoki.

Kapan anak-anak diberi ruang untuk melakukan hal yang ia sukai, untuk memilih pelajaran yang ia minati, terkadang untuk bertanya dalam kelas saja takut dan bingung, takut salah, takut gurunya marah dan takut dikatai temannya. Dimana letak kemerdekaan yang sesungguhnya? Jangan sampai negara sudah merdeka secara legal tapi penduduknya tidak.

Wajarlah, jika masih banyak mahasiswa yang salah jurusan, penyebab salah jurusan adalah karena orang tersebut belum mengetahui tujuan hidupnya. Dia tidak tahu dia sendiri siapa dan mau apa. Sekolah tidak mengaktifkan imajinasi, tidak membantu anak menemukan dan menciptakan dirinya, tidak membentuk anak memiliki tujuan hidup, intinya tidak memberi ruang kemerdakaan dalam belajar.

Sekolah itu mengajarkan hal yang baik akan tetapi tidak pernah mengajarkan realita, akhirnya wajar lagi jika pengangguran masih banyak, sekolah itu buta apa sengaja menutup mata dengan apa yang sekarang terjadi, zaman sekarang zaman edan, perubahan terjadi sangat cepat, jika tidak pintar-pintar maka kita bisa kegiling, terdistrupsi oleh mesin dan teknologi jika yang diandalkan hanyalah otot bukan otak.

Memang lapangan pekerjaan masih kurang tetapi peluang bekerja masih tetap ada. Anak-anak tidak siap untuk bekerja bukan karena tidak ada pekerjaan tetapi karena tidak kompeten. Dia tidak bisa bekerja secara berdaya, profesional dan belum mengerti apa yang harus mereka lakukan.

Sehingga pantaslah jika sekolah itu menghasilkan orang yang bingung: bingung saya siapa, bingung saya mau melakukan apa, bingung apa yang saya sukai, ketika sekolah bingung saya mau kuliah dimana dan jurusan apa, lalu ketika sudah kuliah bingung saya mau bekerja apa, dan mau melakukan usaha apa. Apa jangan-jangan bingung pula hidup untuk apa?

Kita lupa, kita terlalu banyak mengenal orang lain tetapi tidak mengenal dengan diri sendiri. Kita lupa, kita terlalu berkutik dengan tugas, soal dan laporan tetapi tidak pernah mengenal semesta dengan segala problematika yang menyelimutinya.

Yang dibutuhkan adalah menggali tentang kepribadian, melihat permasalahan yang nyata dalam kehidupan serta mempelajari cara kerja dunia dan alam semesta.

Maka sengatlah penting ruang kemerdekaan dalam belajar. Semoga kebijakan pemerintah diakhir tahun 2019 yang diluncurkan oleh Kemendikbud saat ini tentang #MerdekaBelajar itu bukan sekedar wacana dan omong kosong, tetapi benar-benar menjadi regulasi yang tepat untuk memberi ruang agar anak-anak bisa bebas memilih segala sesuatu, menentukan tujuan hidup dan menjadi manusia yang sesungguhnya serta berdaya.

 

Ayunda Amaliyah
Mahasiswi Pendidikan Kimia Untirta | ig: @yundanes
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berperang Melawan Infodemi

Menurut (Eshet-Alkalai, 2004) ruang maya atau cyberspace bukan hanya desa global atau global village melainkan hutan belantara yang lebat dengan segala informasi. Informasi tersebut bisa jadi...

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.