Senin, Oktober 26, 2020

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Impor Beras yang (Tak) Waras

Beras adalah kebutuhan primer manusia. Dari beras tersebut banyak olahan makanan yang dapat dibuat sebagai makanan pokok. Beras (nasi) terus diupayakan agar dapat dikonsumsi...

Syariat Islam Versus Pancasila

Syariat Islam sudah lama disoal, ia bukan barang baru bagi sejarah bangsa ini. Ia lahir jauh sekali sebelum negeri ini merdeka. Apalagi sejak ada...

Ali Shariati: Tokoh Sosiologi Islam Revolusioner (1)

Qabil dan Habil dalam mitologi drama kosmik adalah seorang anak Adam, yang mempunyai saudara kembar. Qabil maupun Habil mempunyai adik perempuan. Ali Shariati melihat...

Surat untuk Pemira UB dan DPM UB (1/2)

Perkataan Soe Hok Gie tentang politik merupakan barang-barang kotor, dan lumpur-lumpur yang kotor, itu salah. Tesis Soe Hok Gie tentang politik sekali lagi, salah....
Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Bagi saya, mereka bagaikan makhluk lugu yang rela mengorbankan kebebasannya demi suatu hal semu; kemapanan, prestise, dan membenahi sistem dari dalam. Begitulah sekiranya anggapan saya, seseorang yang baru saja membaca buku Marxisme Untuk Pemula terbitan Resist Book ini.

Seolah-olah, upaya yang dilakukan oleh para pelamar CPNS, mengimplisitkan pesan bahwa negara sangatlah adil dan aparatur sipil dibawahnya merupakan sebaik-baiknya peran dalam mensejahterakan kehidupan. Sungguh, betapa kritis dan sinisnya saya terhadap segala hal yang berbau negara, padahal saya juga bukanlah siapa-siapa.

Terkesima dengan gagasan Marx tentang betapa indah dan idealnya ‘surga’ berkehidupan komunal, saya seringkali skeptis pada mereka yang sedang memantaskan diri untuk kehidupannya dan seringkali pula mengutuk tindakan mereka yang acuh tak acuh terhadap sekitarnya.

Perlahan namun pasti, batang demi batang rokok saya isap, dan tanpa disadari, sebungkus rokok telah habis dari tempatnya. Merogoh kantong celana, melihat isi dompet, ternyata tak cukup pula uang untuk membeli sebungkus rokok kembali. Terpaksa meminta rokok teman, sebatang-dua batang-tiga batang, lantas disusul celetukan: “ngomongin revolusi dan solidaritas komunal, tapi rokok minta mulu.”

Pada titik itu, saya pun menyadari bahwa saya tak lebih dari seseorang penerima doktrin baru yang mengelu-elukan kebebasan, cemburu terhadap situasi dibalut dengan kritisisme, inkompetensi diri yang bersembunyi dalam solidaritas komunal, dan kalah dengan situasi namun berlindung dibalik narasi pesimistis. Menyedihkan sekali.

Lambat laun, saya menyadari bahwa ramainya pelamar CPNS dan pekerjaan lainnya, adalah cara bertahan orang-orang yang mungkin hidup dalam situasi yang sama seperti saya, hidup dalam kegamangan situasi; tekanan untuk mempertahankan hidup, ekspektasi dan harapan, hingga kurangnya peluang untuk memperbaiki hidup menjadi lebih layak, baik secara ekonomi, politik, dan sosial. Bedanya, mereka hanya tidak membaca buku Marxisme Untuk Pemula saja.

Tidak perlu banyak panjang lebar berbicara tentang idealisme yang luntur setiap musim pendaftaran CPNS dibuka, tentang ketulusan bekerja mengabdi pada negara, mengubah kebobrokan sistem dari dalam, hingga menyejahterakan kehidupan berbangsa, apalagi bercita-cita untuk revolusi sosial untuk membuat semua orang setara. Buat kehidupan sendiri sehari-hari saja susah.

Sehingga saya menyimpulkan dengan cepat, mendaftar CPNS tak semata ingin membenahi segala kebobrokan atau memberi makan idealisme individu pendaftarnya, karena pendaftar tak pernah peduli dengan segala kasak-kusuk yang terjadi. Mendaftar CPNS hanya salah satu usaha yang ada untuk mendapatkan cuan; untuk makan dan kemapanan.

Cita-cita dan Realita

Sebagai seseorang dengan referensi bacaan berbau Marxisme, saya mengidentifikasi diri sebagai seorang aktivis yang revolusioner. Memiliki idealisme −atau terdoktrin(?), untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas, memberantas segala ketidakadilan yang ada dan mengutuk segala ketimpangan akibat sistem kapitalisme. Sebuah pleonasme kehidupan kaum tertindas.

Memiliki sebuah gagasan besar dan cita-cita mulia, terilhami oleh seseorang bernama Marx, yang sosoknya sudah mati 137 tahun lalu. Bersama dengan sosialisme ilmiahnya, Marx selalu mengandaikan krisis besar akan melanda yang membuat kapitalisme hancur. Namun bersamaan dengan itu, Marx tidak menyadari bahwa semakin banyak kapitalisme berada dalam krisis, semakin kuat ia untuk keluar dari krisis tersebut.

Suatu hal yang saya pegang waktu itu, bahwa untuk mencapai cita-cita mulia tersebut, revolusi perlu dilancarkan. Dengan mengandaikan krisis besar dalam tubuh kapitalisme, revolusi proletar akan menjadi sebuah tindakan yang jelas dengan sendirinya, Marx menyebutnya dengan self-transparent act. Sebuah tindakan yang dengan jelas dipahami oleh orang-orang yang turut ambil bagian.

Maka, bagi saya dan kawan-kawan pembaca Marxisme Untuk Pemula −itupun belum tamat, yakin bahwa komitmen ideologis dalam menentang ketidakadilan itu perlu. Tapi apa daya, komitmen tersebut runtuh hanya karena meminta berbatang rokok teman yang diisap tanpa henti. solidaritas dipertanyakan, kesadaran kelas hanya isapan, cita-cita tak lebih sekedar gurauan.

Saya sadar, bahwa saya tak lebih dari segumpal daging bernyawa yang membutuhkan makan untuk asupan kalori-gizi, beban tanggungan keluarga, dan afeksi dari sang kekasih hati. Aktivis atau bukan, pembaca Marxisme Untuk Pemula atau bukan, pada akhirnya kita semua sama-sama bersaing dalam lumbung pasar tenaga kerja, dan salah satunya adalah seleksi CPNS.

Setelah dipikir-pikir, tak ada bakti kerja luhur yang sejalan untuk mewujudkan cita-cita mulia Marx tersebut. Menjadi pers atau jurnalis? kalah dengan titipan berita dari meja redaksi. Menjadi penulis? Bersiaplah untuk tak bisa makan. Kerja di NGO? Yang ada hanya dikejar laporan dan saling sikut antar karyawan. Jadi dosen atau peneliti? Tetap saja terlilit aturan birokrasi dan administrasi, sampai menjalankan riset untuk mengelola jurnal di bawah rezim bereputasi.

Lihat saja Marx, menyandarkan hidup hanya dengan menulis gagasan-gagasan yang kita kultuskan itu ke kantor-kantor terbitan, sampai membuat tiga anaknya meninggal. Beruntung dia ketemu Engels, sehingga dia dan keluarganya mampu bertahan.

Dengan idealisme yang sama, seharusnya Marx mendaftarkan diri menjadi PNS saja. Hidup terjamin, dan bisa memiliki akses untuk mengubah sistem dari dalam. Dengan begitu, cita-cita mulianya bisa jadi cepat tercapai, sehingga, kita menjadi tak perlu repot-repot mengurusi ketimpangan dan ketidakadilan!

Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.