Minggu, Maret 7, 2021

Sedulur Kridha dalam Misi Sosial Credit Union

Lebaran: Fashion On The Street

I speak through my cloth ~ Umberto Eco Lebaran di Indonesia identik dengan perayaan hari kemenangan yang dirayakan secara besar-besaran setelah berlelah-lelah dan menahan segala...

Konstelasi Kabinet Dua Periode Jokowi

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah melengkapi konstelasi pemerintahan di jajaran eksekutif dengan dilantiknya 38 pejabat setingkat Menteri ke dalam susunan...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Trump-Hillary, Industri Terbelah, dan Karakter Kota Masa Pandemi

Industri di dunia beberapa tahun belakangan ini semakin didominasi industri berat dan industri kreatif-jasa. Dominasi industri meruncing akibat pertarungan Trump dan Hillary di Amerika. Trump...
Suranto Andreas
Alumni Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

“Credit Union (CU) tidak boleh membatasi dirinya hanya sebagai pemberi pinjaman. Tujuan utama dari credit union adalah mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik dari setiap orang dan memberdayakan mereka untuk mandiri”, pesan Raiffeisen.

Semua unsur organisasi Credit Union haruslah berjalan bersamaan pada dua misi sejati yakni misi ekonomi dan misi sosial. Misi ekonomi CU ialah menjadi lembaga keuangan yang sehat, aman, dipercaya, dan menyejahterakan anggota.

Sementara itu, misi sosial CU adalah untuk menolong anggota dalam meningkatkan kualitas hidupnya sehingga dapat hidup layak, bermartabat, mandiri, dan bahagia. Kedua misi tersebut haruslah menjadi roh penggerak dalam setiap unsur gerakan CU.

Dalam perkembangan era modern ini, keseimbangan dari kedua misi tersebut belum berjalan sesuai dengan wejangan Raiffeisen sendiri. Pelaksaanan dan pencapaian misi ekonomi umumnya lebih dominan dibandingkan dengan misi sosial. Akibatnya, saat ini, banyak CU yang hanya berfokus menjadi lembaga keuangan, namun belum menjadi lembaga pemberdayaan anggota.

Salah satunya adalah CU Kridha Rahardja (CUKR), sebuah CU primer yang dilahirkan oleh CU Bererod Gratia dan diterima menjadi anggota Puskopdit (Pusat Koperasi Kredit) BKCU Kalimantan nomor 86.

CUKR mencoba memaknai dan mengejawentahkan pesan Raiffeisen melalui misi dan visi yang dipegang oleh CUKR. Misi CUKR adalah meningkatkan kualitas hidup anggota melalui pemberdayaan berbasis komunitas dan pelayanan keuangan yang bermutu. Visi CUKR yakni menjadi lembaga pemberdayaan masyarakat yang aman terpercaya dan berkelanjutan di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Perbedaan CUKR dengan lembaga CU lainnya terletak pada dua strategi utama dalam mendorong upaya pemberdayaan anggota, yaitu pengembangan Komunitas Basis Anggota (Kombas/KBA) dan pengembangan Sedulur Kridha.

Bagaimana CUKR mampu meningkatkan kualitas anggota melalui pemberdayaan berbasis komunitas?

CU Kridha Rahardja menuangkan misinya melalui program pemberdayaan. Secara lebih detail, CU Kridha Rahardja senantiasa melakukan peningkatan pengetahuan, pengembangan keterampilan, akses kebutuhan fisik/ekonomi dengan memperhatikan nilai-nilai hidup, kemampuan dan kearifan lokal masyarakat setempat secara teratur berkelanjutan demi penguatan anggota itu sendiri.

Dalam mengembangkan CUKR, diangkatlah sukarelawan yang bertugas membantu CUKR dalam melakukan kegiatan pendidikan, pelatihan dan pendampingan usaha anggota. Sukarelawan tersebut disebut Sedulur.

Keterlibatan Sedulur ini merupakan implementasi dari 3 pilar CU yaitu kemandirian, solidaritas dan pendidikan. Pilar kemandirian yakni dari anggota oleh anggota dan untuk anggota, dengan keberhasilan dan kekuatan CU atau tempat pelayanan berasal dari CU atau tempat pelayanan itu sendiri.

Pilar solidaritas ialah menolong orang lain untuk menolong dirinya sendiri yakni keterbatasan pengelola dan memberikan pelayanan termasuk menjaga kesehatan organisasi yang perlu diperkuat dengan keterlibatan anggota untuk menjadi Sedulur agar organisasi berkembang dan tetap berkelanjutan.

Pilar pendidikan yaitu dimulai dari pendidikan, berkembang melalui pendidikan, dikontrol oleh pendidikan, dan tergantung pada pendidikan. Artinya, CU merupakan lembaga penyadaran yang membantu anggota agar keluar dari kemiskinan dan kemudian membawa perubahan dalam masyarakat.

Kinerja Sedulur

Bagaimana efektivitas kehadiran Sedulur dalam meningkatkan kualitas anggota dalam mendukung perkembangan CU Kridha Rahardja (CUKR)? Anggota CUKR TP Yogyakarta berjumlah lebih dari 682 anggota yang tersebar di berbagai daerah di Yogyakarta dan sekitar Magelang. Sementara itu, jumlah Sedulur aktif hanya berkisar 3-4 persen dari jumlah anggota.

Fakta dilapangan bahwa, posisi Sedulur semakin minim peminat dan minim pengetahuan terkait pemberdayaan CU. Tak hanya itu, tugas Sedulur mendapat porsi yang lebih besar pada penagihan kredit lalai saja tanpa memperdulikan faktor pendidikan dan koordinasi Sedulur satu sama lain.

Pengembangan Kapasitas Sedulur

Untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas Sedulur, CUKR secara mandiri maupun berkolaborasi dengan pihak lain, berupaya  menyelenggarakan berbagai bentuk pelatihan bagi Sedulur, seperti pendidikan dasar credit union, financial literacy, pendidikan dasar penggerak, manajemen kredit, pendidikan dasar fasilitator, pembukuan credit union, analisis PEARLS, kewirausahaan, kepemimpinan, personal plus, dan team building.

Menjadi sebuah keseriusan bahwa dari sekian banyak Sedulur yang sudah merasakan fasilitas pendidikan di CUKR, terdapat kecenderungan mereka belum menangkap secara komprehensif tentang materi-materi yang diberikan selama pelatihan. Hal ini mengindikasikan kurang efektifnya sosialisasi terkait apa saja tugas dan peran Sedulur serta model pelatihan bagi Sedulur yang saat ini diterapkan di CUKR TP Yogyakarta.

Untuk mengurangi kecenderungan pemahaman materi-materi yang belum maksimal tersebut, CUKR TP Yogyakarta harus mengambil langkah inisiatif dengan menggalakkan aspek koordinasi Sedulur. Pada kegiatan rapat rutin Sedulur, satu sama lain dapat bertukar informasi dan pengetahuan yang dapat menghasilkan kerja sama produktif dan diharapkan mampu menguatkan kinerja serta pemahaman Sedulur itu sendiri. Secara tidak langsung maka akan mempengaruhi tugas dan tanggung jawab Sedulur dalam mengembangkan CU Kridha Rahardja TP Yogyakarta.

Suranto Andreas
Alumni Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.