Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Sedotan Mana yang Baik untuk Lingkungan? | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Sedotan Mana yang Baik untuk Lingkungan?

Generasi Baper

Generasi milenial memiliki proses berfikir yang luar biasa berbeda dari generasi sebelum-sebelumnya. Perbedaan pandangan ini menjadikan generasi ini trus di-spotlight sekaligus dicibir. Cemoohan-cemoohan yang dilontarkan...

Globaliasi, Daya Tahan Bangsa dan Soft Power

Semakin derasnya arus globalisasi saat ini membuat negara-negara berkembang  termasuk Indonesia harus waspada dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Benturan dan konflik dengan negara lain...

Indonesia, Bukan Sekuler Bukan Teokrasi

Politik bagi sebagian negara tidak dapat atau enggan memisahkan diri dengan agama. Politik dapat diartikan sebagai buah pemikiran agamis untuk menciptakan ketentraman hidup berbangsa...

Televisi, Kekeliruan yang Dianggap Tak Masalah

Sebuah adagium, sejarah ditulis oleh pemenang. Kesaksian orang kalah lenyap dari referensi resmi. Kadang dipinggirkan, tak jarang dihanguskan. Bahkan, yang fiksi masih saja ditakuti....
AthariqDias Muyasar
Undurgratuade Student of Departemen Physics, ITS Surabaya.

Sampah plastik kian memarak bumi. Setiap tahunnya selalu bertambah, selalu menumpuk dan masih banyak orang yang menggunakannya. Tentunya kita sebagai manusia yang masih belum bisa jauh dari plastik dan sebenarnya tahu akan keburukan dari penggunaan plastik seharusnya bisa setidaknya mengurangi dan beralih kepada alat-alat yang reusable atau bisa digunakan kembali. Dan tentunya memiliki impact untuk menjaga lingkungan sekitar kita.

Sudah banyak para ahli melakukan riset untuk bisa mengatasi permasalahan sampah ini. Mulai dari membuat  kemasan plastik dari sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Tetapi yang harus kita ketahui adalah salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik itu sendiri itu adalah habbit/kebiasaan kita menggunakan plastik itu sendiri.

Dimana kita harus mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari kita secara perlahan dan konsisten. Dan menggantikan plastik dengan alat-alat yang reusable atau bisa digunakan kembali.

Salah satu sampah plastik yang kian memarak adalah sedotan. Tetapi sekarang sudah banyak orang yang tidak menggunakan sedotan plastik lagi dan beralih ke sedotan yang reusable atau bisa digunakan kembali. Orang kebanyakan sudah menggunakan sedotan stainless steel dan juga sedotam bamboo.

Tetapi lebih dominan menggunakan sedotan stainless steel daripada sedotan bamboo. Namun apakah dari kedua sedotan tersebut tidak memiliki dampak terhadap lingkungan? Dan mana yang lebih baik untuk lingkungan? Sedotan stainless steel atau sedotan bamboo?

Sebuah universitas di Amerika, Humbodlt State University, melakukan riset terhadap sedotan yang ada di zaman sekarang. Mereka melakukan riset dari sedotan plastik, sedotan kertas, sedotan kaca, sedotan plastik dan sedotan bamboo. Aspek yang mereka riset adalah dari segi emisi karbon dioksida (CO2) yang tertanam, energi yang tertanam dalam pembuatannya dan limbah setelah penggunaan terhadap lingkungan. Dan disini dari riset tersebut, saya akan membandingkan sedotan stainless steel dan sedotan bamboo.

Dari hasil riset tersebut disimpulkan bahwa : pada sedotan stainless steel, untuk membuat sedotan stainless steel tunggal menggunakan kurang lebih 2420 KJ energi, melepaskan 217 gram karbon dioksida (CO2) dengan harga $ 0.26 (Rp. 4.000) persatuan sedotannya. Dan diperkirakan bahwa 3% dari sedotan stainless steel yang dibeli dibuang 5 tahun sejak memperoleh sedotannya.

Sedangkan pada sedotan bambu, untuk membuat sedotan bambu tunggal menggunakan 754 KJ energi, melepaskan 38,8 gram karbon dioksida (CO2) dengan harga $1.29 (Rp. 19.000)per jerami bambu untuk 100 sedotan. Dan diperkirakan bahwa 25% dari semua jerami bambu yang dibeli dikomposkan dan 25% dibuang dalam 5 tahun setelah perolehan.

Maksud dari riset penelitian diatas adalah untuk pembuatan sedotan stainless steel membutuhkan lebih banyak energi daripada pembuatan sedotan bambu dan emisi karbon dioksida yang dikeluarkan pun lebih banyak sedotan stainless steel daripada sedotan bambu.

Kemudian dari segi harga, tentu harga untuk satu buah seditan stainless steel lebih murah dibandingkan sedotan bambu. Setelah pemakaian yang cukup lama atau sekitar 5 tahun dan tidak layak pakai lagi, limbah dari sedotan stainless steel hanya bisa dibuang sedangkan sedotan bambu bisa dijadikan kompos.

Dari pertimbangan riset diatas, ternyata untuk menggantikan sedotan plastik ke sedotan yang reusable mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan dari segi energi yang dibutuhkan dan emisi karbon dioksidanya (CO2). Tetapi jika kita melihat perbandingan keduanya, sedotan bambu memiliki nilai yang lebih rendah dari segi energi yang dibutuhkan dan emisi karbon dioksidanya (CO2). Ini menjadikan pilihan alternatif terbaik untuk kalian yang peduli terhadap lingkungan dan ingin menggantikan sedotan plastik ke sedotan reusable.

Jadi, sedotan apa yang kamu gunakan hari ini? Tentukan sekarang! 😁

Photo by: @djetke (Direktorat jendral Energi baru, Terbarukan dan konservasi energi.)

AthariqDias Muyasar
Undurgratuade Student of Departemen Physics, ITS Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.