Selasa, Oktober 27, 2020

Sedotan Mana yang Baik untuk Lingkungan?

Potret Buram Demokrasi Indonesia: Refleksi 22 Tahun Reformasi

Dalam buku Assesing the Quality of Democracy (2005, The Jhon Hopkins University Press), Larry Diamond dan Leonardo Molino menulis tentang 3 dimensi demokrasi, yakni procedural...

Menemukan Kepingan Islam

Beberapa waktu yang lalu, umat Islam digegerkan dengan polemik ucapan Basuki Thahaja Purnama atau Ahok tentang surat Al Maidah ayat 51, yang dinilai oleh...

Ramadan Malas Olahraga? Perhatikan Tips Ini

Puasa terkadang menjadikan alasan diri untuk bermalas-malasan dan tidak ingin banyak melakukan aktivitas banyak. Padahal beraktifitas saat puasa merupakan kebutuhan tubuh agar terlihat tetap...

Singkong dan Keju sebagai Potret Si Miskin dan Si Kaya

“Ingatlah wajah-wajah orang yang mengalami kemiskinan dan orang-orang yang tak berdaya yang telah kamu lihat, dan tanyakan pada dirimu sendiri langkah apa yang akan...
AthariqDias Muyasar
Undurgratuade Student of Departemen Physics, ITS Surabaya.

Sampah plastik kian memarak bumi. Setiap tahunnya selalu bertambah, selalu menumpuk dan masih banyak orang yang menggunakannya. Tentunya kita sebagai manusia yang masih belum bisa jauh dari plastik dan sebenarnya tahu akan keburukan dari penggunaan plastik seharusnya bisa setidaknya mengurangi dan beralih kepada alat-alat yang reusable atau bisa digunakan kembali. Dan tentunya memiliki impact untuk menjaga lingkungan sekitar kita.

Sudah banyak para ahli melakukan riset untuk bisa mengatasi permasalahan sampah ini. Mulai dari membuat  kemasan plastik dari sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Tetapi yang harus kita ketahui adalah salah satu cara untuk mengurangi sampah plastik itu sendiri itu adalah habbit/kebiasaan kita menggunakan plastik itu sendiri.

Dimana kita harus mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari kita secara perlahan dan konsisten. Dan menggantikan plastik dengan alat-alat yang reusable atau bisa digunakan kembali.

Salah satu sampah plastik yang kian memarak adalah sedotan. Tetapi sekarang sudah banyak orang yang tidak menggunakan sedotan plastik lagi dan beralih ke sedotan yang reusable atau bisa digunakan kembali. Orang kebanyakan sudah menggunakan sedotan stainless steel dan juga sedotam bamboo.

Tetapi lebih dominan menggunakan sedotan stainless steel daripada sedotan bamboo. Namun apakah dari kedua sedotan tersebut tidak memiliki dampak terhadap lingkungan? Dan mana yang lebih baik untuk lingkungan? Sedotan stainless steel atau sedotan bamboo?

Sebuah universitas di Amerika, Humbodlt State University, melakukan riset terhadap sedotan yang ada di zaman sekarang. Mereka melakukan riset dari sedotan plastik, sedotan kertas, sedotan kaca, sedotan plastik dan sedotan bamboo. Aspek yang mereka riset adalah dari segi emisi karbon dioksida (CO2) yang tertanam, energi yang tertanam dalam pembuatannya dan limbah setelah penggunaan terhadap lingkungan. Dan disini dari riset tersebut, saya akan membandingkan sedotan stainless steel dan sedotan bamboo.

Dari hasil riset tersebut disimpulkan bahwa : pada sedotan stainless steel, untuk membuat sedotan stainless steel tunggal menggunakan kurang lebih 2420 KJ energi, melepaskan 217 gram karbon dioksida (CO2) dengan harga $ 0.26 (Rp. 4.000) persatuan sedotannya. Dan diperkirakan bahwa 3% dari sedotan stainless steel yang dibeli dibuang 5 tahun sejak memperoleh sedotannya.

Sedangkan pada sedotan bambu, untuk membuat sedotan bambu tunggal menggunakan 754 KJ energi, melepaskan 38,8 gram karbon dioksida (CO2) dengan harga $1.29 (Rp. 19.000)per jerami bambu untuk 100 sedotan. Dan diperkirakan bahwa 25% dari semua jerami bambu yang dibeli dikomposkan dan 25% dibuang dalam 5 tahun setelah perolehan.

Maksud dari riset penelitian diatas adalah untuk pembuatan sedotan stainless steel membutuhkan lebih banyak energi daripada pembuatan sedotan bambu dan emisi karbon dioksida yang dikeluarkan pun lebih banyak sedotan stainless steel daripada sedotan bambu.

Kemudian dari segi harga, tentu harga untuk satu buah seditan stainless steel lebih murah dibandingkan sedotan bambu. Setelah pemakaian yang cukup lama atau sekitar 5 tahun dan tidak layak pakai lagi, limbah dari sedotan stainless steel hanya bisa dibuang sedangkan sedotan bambu bisa dijadikan kompos.

Dari pertimbangan riset diatas, ternyata untuk menggantikan sedotan plastik ke sedotan yang reusable mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan dari segi energi yang dibutuhkan dan emisi karbon dioksidanya (CO2). Tetapi jika kita melihat perbandingan keduanya, sedotan bambu memiliki nilai yang lebih rendah dari segi energi yang dibutuhkan dan emisi karbon dioksidanya (CO2). Ini menjadikan pilihan alternatif terbaik untuk kalian yang peduli terhadap lingkungan dan ingin menggantikan sedotan plastik ke sedotan reusable.

Jadi, sedotan apa yang kamu gunakan hari ini? Tentukan sekarang! 😁

Photo by: @djetke (Direktorat jendral Energi baru, Terbarukan dan konservasi energi.)

AthariqDias Muyasar
Undurgratuade Student of Departemen Physics, ITS Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.