Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Sebutir Debu di Terompah Kanjeng Nabi

Perlukah Pekerja Rentan Ikut May Day?

Dalam memahami konteks perjuangan kaum buruh hari ini, perlu dipahami pentingnya momentum May day sebagai pembuka aspirasi bagi buruh untuk bersuara. Nasib buruh hari...

Dua Sisi Cashless Society, Realistis atau Utopis? (Bagian 2)

Pada tulisan sebelumnya, saya menjelaskan bagaimana budaya cashless menjadi harapan yang realistis bagi pemerintah. Namun ada beberapa kekeruangan yang menjadikan budaya cashless society ini...

Investasi dan Perimbangan Manfaatnya di Daerah

Pemerintah terus berupaya membuat kebijakan strategis untuk semakin menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya ini salah satunya bertujuan agar pelaku industri yang sudah ada...

(Calon) Pemimpin Baru dan Tugas Kegembalaan

Metafor gembala yang disematkan pada pemimpin atau penguasa dalam segala bentuknya mulai dikenal di seluruh wilayah Timur Dekat Kuno seperti Sumeria, Mesir, dan Babilonia...
Hamdani
Pegiat Budaya. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.

 

“Alas kaki Nabi Muhammad Saw, berada di atas kepala alam semesta/Dan seluruh makhluk berada di bawah bayang-bayangnya.”

 –Jawahir al-Bihar fi Fada’il al-Nabi, Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani

Duhai Gusti, bila tak mampu kami memaknai dan mengemban kekhalifahan, sudilah terima kami berkhidmat menjadi sepasang terompah. Jelmakan kefanaan wadag dan kegoyahan jiwa kami terikat pada sepasang kaki utusanMu yang mulia, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, menemuiMu, Mi’raj ke Sidratu al-Muntaha.

Lepaskan kami dari kulit kebinatangan nafsu dan kedirian, koyakkan kami dari menuhankan diri dan mempercayai dangkalnya akal. Walau jentera zaman terus berburu ke lembah tualang, remuklah kami; sebagaimana musim menempa pepohonan untuk berbuah atau malam yang luruh menjelma bayang tersiram cahaya matahariMu.

Walau menggunung khilaf alpa kami, jelmakan kami sepasang terompah. Di mana dengan penuh kasih kau maklumi hambamu yang mulia Nabi Idris As mengelabui malaikat mautMu untuk kekal di surga. Di mana dengan kecerdikannya sengaja ia tinggalkan terompahnya di bawah pohon di surga seraya mengagungkan sabdaMu: ”mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya” (QS. Al-Hijr: 48)

Jangan kehina-dinaan kami ini Kau biarkan menjelma sepasang terompah Nabi Musa, ketika ia hendak menjumpaimu di bukit Tursina. Kau seru untuk ditanggalkan mendekat padaMu sebagaimana kau sabdakan: “Lepaskan kedua sandalmu, wahai Musa, kau berada di lembah yang suci” (QS. At-Thaahaa: 12).

Agar tak silau kami pada gemerlap panggung kesalehan di dunia, sementara dengan namaMu kami tabuh perang terhadap kekasih dan makhlukMu. Ketika rasa dekat kami padaMu memberhalakan diri kami sendiri, menjadi tuhan-tuhan kecil di mana kebenaran adalah kebenaran kami dan kekuasaan adalah kekuasaan kelompok kami.

Agar tak dengan nama kesempurnaan risalah Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang agung, justeru kami menjadi pengutuk tiap gairah dan denyut hidup kekasih dan makhlukMu. Sementara setiap saat kau tunjukkan kedahsyatan kreasimu melalui ikhtiar hambamu memaknai kebudayaannya, karena Kaulah yang senantiasa menumbuhkan dan memelihara, bukan cipta-daya kami.

Wahai Kekasih para kekasih, jelmakanlah kami terompah menopang langkah ia yang begitu berat dipanggulnya penderitaan umatnya. Bisukan lisan kami dari bergagah diri sementara tangan dan kaki kami menyakiti mereka yang lemah. Remukkan kaki dan tangan kami untuk mengibarkan namaMu seakan Kau adalah satu-satunya Dzat, yang hanya milikku. Kamilah yang berhajat padaMu, bukan sebaliknya.

Agar tak senantiasa kami merasa tiada agama selain agama yang kami pahami, di mana kekufuran dan keimanan seakan berada dalam genggaman kami. Sementara setiap saat Kau bimbing hambamu yang berdosa dan dikalahkan menuju taliMu di bawah rengkuhan cahaya utusanMu yang mulia. Kau sesatkan pula sang ‘abid (ahli Ibadah) yang pongah ketika terbersit dalam hati kecilnya betapa fasik golongan yang bukan golongannya, diri yang bukan dirinya.

KebenaranMu lah kebenaran yang kokoh, cahaya maha cahaya, di mana ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan berpendaran. Sementara wujud kami fana, bahkan akal budi kami. Hanya Engkau yang mampu menggerakkan dan menggenggam setiap jiwa. Bila pun ada kebenaran di antara kami, ia tak lebih cerminan di mana tafsir bersifat relatif seumpama bayang-bayang tempat kami saling bercermin dan mengoreksi diri.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Katakanlah (Muhammad): “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isra’: 84)

Bila pun tak dapat kami baca petandaMu, ciptaanMu apa yang di langit dan di bumi di mana senantiasa ia menasbihkanMu dan senantiasa melantunkan puja-puji bagi kemuliaan utusanMu. Engkaulah yang maha berdiri sendiri dan tiada pernah bisa kami misalkan Engkau dengan amsal yang lain.

Dalam keinsyafan kami, Engkaulah yang tak terpermaknai, membuat cinta dan kerinduan menjadi berarti. Dalam rentang misteri hasrat dan gairah menuliskan syair, penghayatan bendawi melahirkan rupa dan lukisan, dan kesakitan di tubir gelisah menyenandungkan musik dan nyanyian.

Demikianlah kebudayaan yang kami upayakan, tak hanya mampu membangun namun juga menghancurkan diri. Memperbaharui dirinya untuk tumbuh, mati, melahirkan diri kembali bahkan punah selamanya. Dalam jejak kesenian dan pergumulan budaya, ijtihad manusia; menemukan dirinya sebagai proses yang tak usai.

Maka di bawah naungan Arsy-Mu, kiranya Engkau jelmakan kami sebagai terompah Kanjeng Nabi Muhammad yang mulia. Di mana di bawahnya langit menyanyikan lagu dalam gelap misteri, planet-planet beredar bagai bijian tasbih memusari cahaya, ketika alam saling memberi kala banyak dari hambamu saling menuntut.

Walau tak pernah terlampaui kemuliaan kasih sayangnya, ialah tauladan bagi para pencari, rasi bagi para pelaut di lautanMu. Kepadanyalah alam ditundukkan, dari tanganNya tali syafaat menjulur bagi para yang terkasih. Walau tak akan pernah patut kami menjelma bahkan sebagai terompah kaki sosok mulia yang ketika ia melangkah awan-awan memayunginya.

Maka bila pun cintaku melemah sementara kasih sayangmu tak berbatas. Sungguh aku percaya, Engkau pun tak ingin tiap hambaMu berputus harap dari kasihMu. Setidaknya, jadikanlah kami sebutir debu yang menempel di sela terompah NabiMu. Bila itu tiada mungkin, maka kecualikanlah aku.

Hamdani
Pegiat Budaya. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.