Sabtu, Maret 6, 2021

Sebutir Debu di Terompah Kanjeng Nabi

Salut untuk Pembakar Ijazah UGM

Para pendukung gerakan #KitaAgni belakangan dihebohkan oleh seorang pria yang mengaku alumni UGM yang membakar ijazahnya. Ia mengunggah aksinya tersebut di akun Facebooknya dan...

Berliterasi di Bulan Ramadan

Setiap Ramadan kita akan sering mendengar lantunan ayat suci Alquran. Tadarus menjadi agenda rutin setiap habis Isya. Selain kondisi fisik, Ramadan juga perlu dihadapi...

Jangan Meremehkan Politik

Pilkada merupakan salah satu dari konsekuensi berdemokrasi. UU secara tegas mengatur sekaligus sebagai payung hukumnya. Hiruk pikuk dan gegap gempita menyambut kepala daerah baru...

Pulanglah ke Nusantara

Pulang dari bahasa sehari-hari yang di gunakan berarti memiliki makna 'Kembali'.Kembali ke Nusantara menurut saya adalah kembali kepada ajaran Nusantara yang ramah tamah, santun,...
Hamdani
Pegiat Budaya. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.

 

“Alas kaki Nabi Muhammad Saw, berada di atas kepala alam semesta/Dan seluruh makhluk berada di bawah bayang-bayangnya.”

 –Jawahir al-Bihar fi Fada’il al-Nabi, Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani

Duhai Gusti, bila tak mampu kami memaknai dan mengemban kekhalifahan, sudilah terima kami berkhidmat menjadi sepasang terompah. Jelmakan kefanaan wadag dan kegoyahan jiwa kami terikat pada sepasang kaki utusanMu yang mulia, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, menemuiMu, Mi’raj ke Sidratu al-Muntaha.

Lepaskan kami dari kulit kebinatangan nafsu dan kedirian, koyakkan kami dari menuhankan diri dan mempercayai dangkalnya akal. Walau jentera zaman terus berburu ke lembah tualang, remuklah kami; sebagaimana musim menempa pepohonan untuk berbuah atau malam yang luruh menjelma bayang tersiram cahaya matahariMu.

Walau menggunung khilaf alpa kami, jelmakan kami sepasang terompah. Di mana dengan penuh kasih kau maklumi hambamu yang mulia Nabi Idris As mengelabui malaikat mautMu untuk kekal di surga. Di mana dengan kecerdikannya sengaja ia tinggalkan terompahnya di bawah pohon di surga seraya mengagungkan sabdaMu: ”mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya” (QS. Al-Hijr: 48)

Jangan kehina-dinaan kami ini Kau biarkan menjelma sepasang terompah Nabi Musa, ketika ia hendak menjumpaimu di bukit Tursina. Kau seru untuk ditanggalkan mendekat padaMu sebagaimana kau sabdakan: “Lepaskan kedua sandalmu, wahai Musa, kau berada di lembah yang suci” (QS. At-Thaahaa: 12).

Agar tak silau kami pada gemerlap panggung kesalehan di dunia, sementara dengan namaMu kami tabuh perang terhadap kekasih dan makhlukMu. Ketika rasa dekat kami padaMu memberhalakan diri kami sendiri, menjadi tuhan-tuhan kecil di mana kebenaran adalah kebenaran kami dan kekuasaan adalah kekuasaan kelompok kami.

Agar tak dengan nama kesempurnaan risalah Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang agung, justeru kami menjadi pengutuk tiap gairah dan denyut hidup kekasih dan makhlukMu. Sementara setiap saat kau tunjukkan kedahsyatan kreasimu melalui ikhtiar hambamu memaknai kebudayaannya, karena Kaulah yang senantiasa menumbuhkan dan memelihara, bukan cipta-daya kami.

Wahai Kekasih para kekasih, jelmakanlah kami terompah menopang langkah ia yang begitu berat dipanggulnya penderitaan umatnya. Bisukan lisan kami dari bergagah diri sementara tangan dan kaki kami menyakiti mereka yang lemah. Remukkan kaki dan tangan kami untuk mengibarkan namaMu seakan Kau adalah satu-satunya Dzat, yang hanya milikku. Kamilah yang berhajat padaMu, bukan sebaliknya.

Agar tak senantiasa kami merasa tiada agama selain agama yang kami pahami, di mana kekufuran dan keimanan seakan berada dalam genggaman kami. Sementara setiap saat Kau bimbing hambamu yang berdosa dan dikalahkan menuju taliMu di bawah rengkuhan cahaya utusanMu yang mulia. Kau sesatkan pula sang ‘abid (ahli Ibadah) yang pongah ketika terbersit dalam hati kecilnya betapa fasik golongan yang bukan golongannya, diri yang bukan dirinya.

KebenaranMu lah kebenaran yang kokoh, cahaya maha cahaya, di mana ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan berpendaran. Sementara wujud kami fana, bahkan akal budi kami. Hanya Engkau yang mampu menggerakkan dan menggenggam setiap jiwa. Bila pun ada kebenaran di antara kami, ia tak lebih cerminan di mana tafsir bersifat relatif seumpama bayang-bayang tempat kami saling bercermin dan mengoreksi diri.

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Katakanlah (Muhammad): “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isra’: 84)

Bila pun tak dapat kami baca petandaMu, ciptaanMu apa yang di langit dan di bumi di mana senantiasa ia menasbihkanMu dan senantiasa melantunkan puja-puji bagi kemuliaan utusanMu. Engkaulah yang maha berdiri sendiri dan tiada pernah bisa kami misalkan Engkau dengan amsal yang lain.

Dalam keinsyafan kami, Engkaulah yang tak terpermaknai, membuat cinta dan kerinduan menjadi berarti. Dalam rentang misteri hasrat dan gairah menuliskan syair, penghayatan bendawi melahirkan rupa dan lukisan, dan kesakitan di tubir gelisah menyenandungkan musik dan nyanyian.

Demikianlah kebudayaan yang kami upayakan, tak hanya mampu membangun namun juga menghancurkan diri. Memperbaharui dirinya untuk tumbuh, mati, melahirkan diri kembali bahkan punah selamanya. Dalam jejak kesenian dan pergumulan budaya, ijtihad manusia; menemukan dirinya sebagai proses yang tak usai.

Maka di bawah naungan Arsy-Mu, kiranya Engkau jelmakan kami sebagai terompah Kanjeng Nabi Muhammad yang mulia. Di mana di bawahnya langit menyanyikan lagu dalam gelap misteri, planet-planet beredar bagai bijian tasbih memusari cahaya, ketika alam saling memberi kala banyak dari hambamu saling menuntut.

Walau tak pernah terlampaui kemuliaan kasih sayangnya, ialah tauladan bagi para pencari, rasi bagi para pelaut di lautanMu. Kepadanyalah alam ditundukkan, dari tanganNya tali syafaat menjulur bagi para yang terkasih. Walau tak akan pernah patut kami menjelma bahkan sebagai terompah kaki sosok mulia yang ketika ia melangkah awan-awan memayunginya.

Maka bila pun cintaku melemah sementara kasih sayangmu tak berbatas. Sungguh aku percaya, Engkau pun tak ingin tiap hambaMu berputus harap dari kasihMu. Setidaknya, jadikanlah kami sebutir debu yang menempel di sela terompah NabiMu. Bila itu tiada mungkin, maka kecualikanlah aku.

Hamdani
Pegiat Budaya. Ketua Yayasan Paddhang Bulan Tacempah, Pamekasan, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.