Jumat, Maret 5, 2021

Sebelah Mata Novel, Setelah Dua Tahun

Kampanye Ramah Difabel

Pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 tinggal beberapa hari lagi. Artinya, kesempatan rakyat untuk mengenali dan menentukan calon yang akan dipilih juga semakin menipis. Kampanye...

Overcrowded Lapas dan Revitalisasi

“Tantangan-tantangan yang dihadapi Pemasyarakatan ialah setinggi gunung, seringkali bersifat kejam, dan kadangkala mencekam perasaan” sekilas sambutan Menteri Kehakiman Ali Said pada peringatan Hari Pemasyarakatan...

Pemberdayaan CU Meningkatkan Kualitas Hidup

“...Credit Union (CU) tidak dapat menawarkan kepada Anggota sebuah keajaiban yang akan membebaskan Anggota dari kemiskinan tanpa adanya usaha dari Anggota itu sendiri, tetapi......

Belajarlah dari Iblis

Dalam keyakinan umat beragama, iblis dikenal sebagai makhluk terkutuk paling durjana yang kelak akan disiksa dan diabadikan di dalam neraka. Karena tahu hidupnya akan...
irsyadmuhammad
Seorang penulis lepas, biasa menulis seputar isu sosial dan politik.

Kamis, 11 April 2019 lalu, adalah bertepatan dengan peringatan dua tahun kasus penyiraman air keras yang dialami oleh salah satu penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Novel Baswedan. Untuk mengingat momentum tersebut, para pegawai KPK dan berbagai kalangan masyarakat sipil mengadakan sebuah acara atau aksi di halaman gedung KPK.

“Ini bukan memperingati dua tahun saya diserang, tapi ini momentum yang digunakan sebagai peringatan dua tahun saya diserang dan tidak diungkap.” Ungkap Novel di acara tersebut.

Apa yang disampaikan Novel Baswedan seperti menyimpan sebuah pesan. Di tengah perjuangannya melawan korupsi, menerima berbagai macam bentuk teror, sampai sebelah matanya rusak dan tak bisa lagi berfungsi akibat disiram air keras, ia seakan menyampaikan kritiknya terhadap proses penyelidikan yang sampai saat ini tidak menemui titik terang.

Sudah Berulang Kali

Kasus penyiraman air keras bukan penyerangan satu-satunya yang ia terima. Sebelumnya Novel Baswedan pernah ditabrak mobil oleh orang yang tidak dikenal sebanyak tiga kali, dua diantaranya tepat sasaran hingga ia terpental dari sepeda motornya. Karena penyerangan itu, kakinya cedera cukup serius sampai ia harus tertatih-tatih setiap kali masuk kantor.

Lebih jauh lagi, Novel bukan pula satu-satunya pegawai KPK yang menerima serangan semacam itu. Beberapa pegawai KPK lain juga sering menerima penyerangan dalam berbagai macam bentuk. Bentuknya ada yang berupa ancaman, teror secara langsung, hingga penyerangan yang berupa kontak fisik.

9 Januari 2019, rumah Ketua KPK, Agus Rahardjo, didatangi paket bom paralon yang tersimpan di dalam sebuah tas hitam. Masih di hari yang sama, sebuah botol bersumbu yang di dalamnya berisi minyak tanah dan diduga bom molotov, terletak di rumah Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarif.

Rentetan penyerangan juga terjadi kepada seorang penyidik KPK bernama Afief Yulian Miftach di pertengahan tahun 2015. Di rumahnya, Afief pernah didatangi dua pria tak dikenal yang lalu meletakkan sebuah bingkisan mirip bom.

Seminggu sebelumnya, ban mobil Aifef ditusuk oleh oknum tak dikenal. Malam harinya, rumah Afief dilempari telur. Kap mobilnya juga pernah melepuh karena disiram cairan kimia. Waktu itu Afief sedang bertugas untuk mengungkap kasus rekening gendut perwira polisi.

Selain itu, ada seorang pegawai KPK yang pernah diculik oleh orang tak dikenal. Sedangkan untuk ancaman pembunuhan, mungkin itu adalah hal yang biasa bagi mereka-mereka yang berjuang memberantas korupsi. Belum lagi korban lain yang kaussnya tidak terlalu naik di media.

Tidak Serius Mengungkap Kasus Penyerangan

Dua tahun sudah kasus Novel terombang-ambing tanpa arah, dan itu adalah bukti jelas kalau tidak ada upaya serius dalam mengungkap kasus ini. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) memang sudah dibentuk sejak lama, tapi sampai sekarang belum tercium fakta pengungkapan dalang dibalik penyerangan itu.

Jika penyerangan yang membuat sebelah mata Novel Baswedan rusak saja belum bisa terungkap, bagaimana kita mau berharap pada pengungkapan kasus teror yang lain?

Padahal, mereka yang ada di KPK adalah para pejuang perlawanan korupsi yang sesungguhnya. Berbagai teror dan penyerangan yang mereka terima adalah bukti bahwa mereka bekerja dengan tekanan yang luar biasa: nyawa dan keselamatan keluarga mereka kapan saja bisa terancam.

Di satu sisi, mereka sendiri tidak mendapat perlindungan keamanan yang memadai. Tentu menurut saya ini telah mencoreng citra perjuangan negara ini yang (katanya) serius melawan korupsi.

Nah, selain itu, saya sendiri juga cukup heran kenapa kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan tidak dijadikan “jualan utama” para pasangan Capres dan Cawapres pada masa kampanye Pilpres kemarin. Keheranan saya berlandaskan fakta bahwa isu korupsi selalu menjadi isu utama setiap berlangsungnya penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia, baik untuk kepala daerah maupun Presiden sekalipun.

Jika dipikir-pikir, kasus ini sangat “seksi” bagi para pasangan calon sebagai bentuk keseriusan mereka dalam memberantas korupsi. Aneh jika dalam kampanye dan penyampaian program terkait pemberantasan korupsi, para kandidat ini lupa dan tidak mengungkit penyerangan yang diterima Novel Baswedan.

Pada masa kampanye lalu, kedua pasangan hanya berbicara pemberantasan korupsi dari kulit luarnya saja. Mereka berjanji ini dan itu agar korupsi tidak terjadi lagi, tapi menutup mata bahwa banyak pegawai KPK yang nyawanya terancam ketika sedang memberantas korupsi tanpa adanya upaya melindungi dan mengungkap aktor dibalik teror yang mereka terima.

Terlalu naif jika kita berharap mereka untuk selalu berani mengungkap kasus-kasus korupsi tanpa adanya perlindungan maksimal untuk mereka. Kita ingin korupsi terus diberangus, tetapi penegak hukum yang berusaha memberangusnya tidak dijamin keamanannya. Logikanya, korupsi tidak akan dapat diberangus secara maksimal jika hal yang sangat mendasar seperti itu diabaikan.

Kembali pada kasus Novel Baswedan yang sudah dua tahun tak ada titik terang. Penyiraman air keras terhadap orang yang berusaha mengungkap kasus korupsi adalah bukti bahwa korupsi sendiri sudah menjadi penyakit akut di tubuh negeri ini. Novel Baswedan memang bukan korban satu-satunya, tapi lihatlah sebelah matanya, mau sampai kapan hal seperti ini terus dibiarkan?

irsyadmuhammad
Seorang penulis lepas, biasa menulis seputar isu sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.