Minggu, Januari 17, 2021

Scholar-Activist Sebagai Paradigma, Sebuah Refleksi

Kesesatan Geger dan Kemenangan Politik Identitas

Pilkada DKI Jakarta 2017 sudah berakhir. KPU DKI Jakarta menetapkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno meraih suara terbanyak, 57,96%. Ada pun pasangan Basuki Tjahaja Purnama...

Memahami Esensi Manusia yang Berpikir

Hidup memang indah, penuh dengan pesona dan alegori cinta yang meneduhkan pikiran dan menyejukkan hati. Sebuah anugerah yang tidak dapat dipungkiri menjadikan kehidupan menjadi...

Komunitarian dalam Ruang Publik

Belakangan ramai diperbincangkan surat yang berkop Forum Muslim Bogor melarang perayaan acara umat konghucu. Dalam surat seruan tersebut terdapat beberapa poin yang hendak menjadi...

Milenial dan Paradigma Koperasi Alternatif

Beberapa kawan gerakan koperasi mulai mengadakan seminar bernada millenial di banyak kesempatan. Tujuannya untuk menarik minat anak muda berkoperasi lebih banyak lagi. Tentu ini...
Novita Puspasari
Lecturer at Universitas Jenderal Soedirman. Researcher at Kopkun Institute. Erasmus University Rotterdam alumni

Peran akademisi di masyarakat selalu menjadi objek yang diperdebatkan. Banyak yang mengkritik Universitas sebagai menara gading dengan ilmu pengetahuan yang bergerak lamban dalam pusaran intelektual namun tidak relevan dengan dunia “nyata”.

Jika jumlah dosen perguruan tinggi di Indonesia sebanyak 260.333 orang, dengan setiap dosen minimal memiliki satu riset wajib berkelompok sebanyak tiga orang, maka akan ada sekitar 86.800 hasil penelitian setiap tahunnya.

Belum lagi jika angka tersebut digabung dengan kegiatan pengabdian masyarakat. Maka, kita akan memiliki sekitar 170,000 metode penyelesaian masalah sosial yang baru setiap tahunnya. Angka tersebut baru didapat langsung dari kedua jenis Tridharma: penelitian dan pengabdian.

Sementara dampak lainnya dari pengajaran ke lebih dari 4 juta mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi saat ini. Bukankah sebuah jumlah yang luar biasa? Namun, bagaimana dampak dari output-output perguruan tinggi ini di masyarakat? Dapatkah menjadi driver bagi transformasi sosial di masyarakat atau tetap tersimpan dalam rak-rak usang dan menunggu waktu untuk disingkirkan?.

Refleksi tersebut membawa saya pada paradigma scholar-activist atau akademisi-aktivis. Paradigma ini akan mengajak kita, para akademisi, untuk tidak hanya menangkap fenomena dan menteorikan praktek, tetapi juga mempraktekkan teori.

Kita akan mulai dengan membahas satu per satu dari definisinya. Definisi “scholar” menurut Merriam Webster (2004), Collins (2005), dan Tilley and Taylor (2014) adalah “orang terpelajar”, “bagian dari institusi pembelajaran, sangat terpelajar namun minim penguasaan praktek”, “ahli pada laboratorium atau tempat-tempat terisolasi lainnya”, dan “mengumpulkan ilmu pengetahuan yang esoterik” . Esoterik artinya “hanya dipahami oleh kalangan sejenisnya”.

Scholar sering dilambangkan dengan lambang burung hantu (owl). Dalam mitologi Yunani, burung hantu melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Namun burung hantu juga selalu keluar di malam hari, mengintai dunia dalam senyap, mengobservasi dari ketinggian, tidak berinteraksi langsung dan berjarak. Begitulah bagaimana akademisi digambarkan di luar sana.

Sementara definisi aktivis menurut Merriam Webster (2004) dan Conway (2004) adalah mereka yang terlibat dalam pergerakan sosial yang “berharap untuk mengubah dunia dan percaya bahwa manusia merupakan sentral dari perubahan tersebut”.

Selama ini, terdapat distrust antara aktivis ke akademisi dan begitu pula sebaliknya. Aktivis beranggapan bahwa akademisi adalah orang-orang yang tercerabut dari akar sosial (socially detached), memiliki kemewahan intelektual dengan akses-akses ke sumberdaya yang lebih baik, gaji penuh dan keamanan pekerjaan yang terjamin. Sementara akademisi beranggapan bahwa kerja-kerja aktivis adalah pekerjaan yang tidak terstruktur, tidak terukur outputnya, rawan kepentingan politik dan menguras energi dan menghabiskan banyak waktu.

Sederhananya, terdapat gap besar antara akademisi dan aktivis. Akademisi tempatnya di atas (menara gading), sementara aktivis adalah mereka yang membumi.

Paradigma scholar-activist mencoba menjembatani akademisi yang ada di menara gadingnya, dengan aktivis yang lebih “real”. Akademisi diajak untuk menyelami persoalan-persoalan nyata yang ada di masyarakat.

Menjadi scholar-activist berarti menghibahkan diri untuk selalu berbagi waktu dan pengetahuan ke orang banyak, terlibat dalam pertemuan-pertemuan tak berujung dengan komunitas, dan berkontribusi untuk pencapaian tujuan sosial yang lebih besar. Scholar-activist tidak hanya menangkap fenomena di masyarakat, namun juga melakukan intervensi terhadap masalah-masalah sosial yang ada di masyarakat, dan memastikan bahwa perubahan terjadi lewat intervensinya.

Scholar-activist bukanlah akademisi bermental penumpang gelap (free rider) yang fokus pada tujuan-tujuan jangka pendek, namun mereka yang bervisi besar dan melakukan banyak hal untuk membuat perubahan di masyarakat. Muhammad Yunus adalah salah satu contoh scholar-activist.

Muhammad Yunus awalnya adalah professor ekonomi di Chittagong University. Objek observasinya adalah para pengusaha mikro di Bangladesh yang memiliki akses modal terbatas dan tidak bankable. Alih-alih hanya melaporkan fenomena tersebut pada jurnal ilmiah, Yunus mendirikan Grameen Bank yang memberikan kredit lunak bagi para pengusaha mikro. Di tahun 2006, Yunus mendapatkan Nobel Perdamaian dengan Grameen Bank nya.

Di masa di saat kita, para akademisi, dijejali oleh berbagai tugas administratif yang melelahkan. Dimana kita dilihat sebagai deretan angka, diukur dari jumlah kehadiran dan publikasi jurnal yang kita hasilkan. Alih-alih bertanya, “seberapa Scopus” kah kita?, bagaimana jika kita bertanya “seberapa berdampak kah kita?”. Bukankah mencengangkan melihat bagaimana perubahan sosial akan terjadi jika kita, akademisi, membuat impact (dampak), dan bukan hanya impact factor seperti pada jurnal-jurnal Scopus. Make an Impact, not only an Impact Factor. 

Artikel yang ada di jurnal-jurnal Scopus ini adalah pengetahuan esoterik, yang hanya akan dibaca dan didiseminasikan ke rekan-rekan sejawat. Untuk sampai ke masyarakat, mungkin perlu jutaan tahun cahaya. Kita bisa mempercepatnya dengan menjadi scholar-activist. Satu kaki menjejak di kampus, satu kaki lagi menjejak di luar sana.

Kiranya, sepenggal puisi “Sajak Sebatang Lisong”  dari WS. Rendra masih relevan dengan kondisi saat ini:

“Diktat-diktat hanya boleh memberi metode ,

Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya,

Keluar ke desa-desa,

Mencatat sendiri semua gejala,

Dan menghayati persoalan yang nyata,

…………………………………………………………………………………

Apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan

Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan”

(WS. Rendra)

Para akademisi, turunlah dari menara gading!. Keluarlah dari sarang emas untuk berkontribusi lebih banyak lagi bagi negeri. Cukuplah jadi penonton, jadilah scholar-activist, mulailah perubahan.

*Orasi Ilmiah. Disampaikan penulis pada Dies Natalis Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Ke-55.

Novita Puspasari
Lecturer at Universitas Jenderal Soedirman. Researcher at Kopkun Institute. Erasmus University Rotterdam alumni
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.