Jumat, Februari 26, 2021

SBY, Prabowo, dan Ironi Politik

Mengenal Sosok Father John Misty: Musikus Hipster nan Flamboyan

"Otentik palsu, bukan asli palsu". Kata-kata yang diucapkan selama wawancara 'New Yorker' 2017 dengan pria itu sendiri; menyimpulkan pendekatan tidak sopan penyanyi-penulis lagu Father...

Ketika Selera Tidak Sesuai Salary

Derasnya arus globalisasi membuka celah terhadap digitalisasi. Fenomena ‘serba digital’ diyakini telah melahirkan generasi gadget, sebutan bagi generasi millennials. Generasi milenial atau generasi Y merupakan...

Corona dan Pembudayaan E-Learning

Virus corona atau coronavirus disease (COVID-19) ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai pandemi atau wabah global. Pemrintah menetapkan sebagai sebagai bencana nasional. Berbagai kebijakan...

Benarkan PNS Tidak Produktif?

Pengawai Negeri Sipil atau PNS dalam kacamata masyarakat luas memiliki stigma tak bagus lantaran kurang produktif, kurang kompeten dan malas bekerja meskipun berbagai upaya...
Ujang Wardi
Peneliti dan Konsultan Pemberdayaan Lasigo Institute

Pengumuman hasil perolehan suara pemilu 2019 oleh lembaga penyelenggara KPU menuai protes dari pendukung Prabowo-Sandi. Pasalnya, mereka menolak dan tidak menerima hasil pengumuman yang di selenggarakan pada tgal 21 Mei 2019.

Sebelumnya lembaga KPU memang menyatakan akan mengumumkan paling lama pada tanggal 22 Mei 2019. Namun reaksi demikian seakan tidak dipahami bahwa boleh saja mengumumkan lebih cepat dari rentang waktu yang di janjikan KPU. Mencurigai hasil pengumuman tersebut, massa yang melakukan aksi damai di gedung Bawaslu pusat menjadi anarkis dan ngamuk.

Sebagaimana diketahui bahwa kontetasi pemilu 2019 lalu memang sedikit panas. Hal ini ditandai dengan terbentuknya dua poros yang sebelumnya pernah berhadapan. Pada pemilu 2014 lalu Kandidat yang sama juga bertarung untuk menjadi orang nomor satu Indonesia.

Namun pasangan Prabowo-Hatta kalah dalam kontestasi tersebut. Akan tetapi sikap yang di munculkan oleh Pasangan Prabowo-Sandi cukup wibawa dengan mengakui kekalahan dalam menghadapi pasangannya Jokowi-JK. Meskipun sempat menggugat melalui Mahkamah Konstitusi dan dinyatakan kalah. Alhasil, Prabowo di tinggalkan Para partai koalisi seperti PAN, Golkar, dan beberapa Partai besarnya lainnya.

Saat ini justru berbanding terbalik. Prabowo-Sandi tidak sama sekali mencerminkan legowo dan kedewasaan dalam berpolitik. KPU yang menyatakan kemenagan untuk pasangan Jokowi-Amin justru dihadapkan dengan situasi sulit oleh para demonstran. Keberatan yang mestinya ke MK, seakrang justru ke kantor penelenggara seperti KPU dan Bawalu.

Massa yang memprotes dengan isu kecurangan menuntut keadilan di kantor Bawaslu. Sebelumnya Prabowo memang kerapkan kali menyatakan melalui media bahwa tidak akan menempuh jalur Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menggugat hasil Pilpres 2019. Jika terjadi kecurangan, Prabowo dan kolega akan melakuakn People Power yang sekarang disebut dengan sebutan kedaulatan rakyat untuk keadilan. Desah desus demikian ternyata tidak membuat nyaman bagi para koalisi Prabowo.

Pandangan Prabowo tersebut jelas seakan momentum bagi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai jalan keluar dari koalisi. Beberapa kali Partai Demokrat (PD) kerap melakukan maneuver politik.

Dimulai dari Pertemuan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Jokowi di Istana, dan Kicauan Andi Arief dengan pandangan setan gundulnya. Alhasil hubungan PD mulai renggang dengan koalisi. Ada apa dengan Prabowo? Benarkah Prabowo sedikit depresi politik dengan kekalahan beruntun? Kenapa Prabowo selalu ditinggal kawan dalam perang?

Sikap Kebangsaan SBY dan Prabowo

Sebagai mantan Kopassus, Prabowo memang memiliki rekam jejak yang bagus dalam karier militernya. Hal demikian perlu di acunkan jempol dengan perolehan pengahrgaan militer yang dimiliki. Namun Karier militer tersebut tidak melulu berbanding lurus dengan karier politik Prabowo.

Tidak bisa pungkiri, Prabowo beberapa kali ikut pemilu ternyata kalah terus dalam kontetasi politik. Berbeda dengan karier politik SBY yang sudah terbukti menjabat presiden dua Periode.

Dibanding Prabowo, SBY jelas piawai dalam urusan politik. Meski karier militer SBY tidak sebagus Prabowo, SBY jelas Master dalam persoalan strategi politik. Salah satu kepiawaian SBY adalah kewibawaan dan sikap kebangsaannya yang di tunjukan ketika hasil pengumuman KPU.

Tidak selang lama, SBY mengucapkam selamat kepada Jokowi-Amin sebagai pemenang kontestasi. Melalui media seperti Kompas.com,Liputan6, detik.com,SBY menyatakan akan mendukung pemerintah Jokowi-Amin 2019-2024 mendatang.

Secara tidak langsung, hal demikian tentu saja menarik perthatian publik sebagai tokoh kebangsaan. Sebagaimana diketahui PD kelas bersbebrangan dengan kubu Jokowi-Amin. Namun sikap SBY jelas berbeda dengan koalisi yang didukungnya. Bagi SBY bagaimanapun juga, tidak ada sikap yang lebih untuk mengakui kekalahan dalam kontestasi politik.

Sebagai seorang yang ahli politik, dari awal SBY seakan membaca arah pergerakan politik kedepan. Pasca pensiunannya SBY dari Presiden dua periode, bukan berarti akan berakhirnya karier dalam politik. jelas saja, karena SBY memiliki jagoan yang dipersiapkan untuk bertarung dan juga kepentingan kelanjutan nasib partai Demokrat kedepan.

Di satu sisi, SBY tentu tidak ingin jika partai Demokrat akan berkahir seperti Partai Hanura besutan Wiranto yang mulai goyang. Di sisi yang sama, SBY juga melihat peluang besar untuk masa depan anak sulungya.

Di situ permainan baru di mulai. Meski sama-sama duren, isinya tetap berbeda. Meski sama-sama militer, jelas dalam urusan politik tentu siapa yang paling memiliki strategi yang akurat. Peluang 2014 untuk urusan politik, SBY tentu came backmelalui AHY putra sulungmya. Sepertinya hal demikian yang membuat Prabowo sedikit depresi politik.

Sebagaimana diketahui peluang Prabowo untuk maju pilpres mendatang memang sedikit gelap. Pasalnya, Prabowo terkendala dengan faktor usia. Prabowo jelas tidak muda lagi dalam mengahadapi kebutuhan pasar politik.

Untuk melawan pendatag baru seperti Agus Harimurti (AHY), Anies Baswedan, Ridwan Kamil dan Sandi Uno yang saat ini berpasangan denganya, agaknya prabowo sedikit khawatir. Kekhwatiran tersebut seakan di manfaatkan oleh berbagai orang yang ada di sekeliing Prabowo.

Sehingga sikap kebangsaan yang ada pada dirinya tidak lagi muncul sebagai orang patutu dikenang. Meskipun Prabowo kerap menyatakan bahwa dirinya adalah seorang mantan militer, yang cinta akan Indonesia, dari sikap politiknya jelas Prabowo tidak mencerminkan hal demikian dari pemilu 2019.

Penolakan hasil pengumuman, dan tidak menempuh jalur hukum dengan isu kecurang, sama sekali bukan suatu sikap kenegarawaan yang dimiliikinya. Namun yang terlihat adalah suatu pemaksaan kekuasaan melalui mobilisasi terhadap masyarakat. Lagi-lagi Prabowo kalah dalam pertempuran politik.

Bukan suatu keniscayaan suatu saat Prabowo juga akan di tinggalkan PKS yang selama ini kerap menemani di tengah kesunyian oposisi. Jikalau demikian bertul-betul terjadi, tidak hayal akan terjadi depresi politik yang berkelanjutan.

Ujang Wardi
Peneliti dan Konsultan Pemberdayaan Lasigo Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.