Sabtu, Maret 6, 2021

SBY dan Media Asing dengan Sejuta Taktik Politik

Masa Depan Syariah, Ide Relevansi Syariah

Terdapat persepsi liar dikalangan Muslim yang sebetulnya tidak seluruhnya tepat yaitu sebuah pemahaman tentang konsep syariah yang final dan pasti. Artinya ketentuan syariah historis...

Pendidikan: Antara Ilmu dan Moralitas

Apa yang terlintas dipikiran kita, ketika mendengar istilah pendidikan? Secara umum, ada mengingat gedung kampus, gedung sekolah, sistem pendidikan. Sebagian lagi, ada mengingat keindahan...

Stack Of Grip dalam Komposisi Ruang

Trans Padang adalah layanan angkutan umum Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Padang yang mulai beroprasi pada Januari 2014. Trans Padang merupakan program unggulan...

Program Bela Negara: Buah Tangan Fasisme di Lingkup Kampus

They have the masses brainwashed "we're so lucky to be free" They won't remove the blindfold fearing someday we may see For if the people see...
Ujang Wardi
Peneliti dan Konsultan Pemberdayaan Lasigo Institute

Saat elite partai disibukkan dengan usulan debat pilpres 2019 dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab, saya justru tertarik dengan isu miring tentang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari media Hongkong (Asia Sentinel). Kenapa tidak?

Media yang memuat artikel tentang keterlibatan SBY dengan bank century dan bahkan terang-terangan mengatakan bahwa bank century merupakan bank SBY memberi sinyal bahwa politik tahun ini tidak hanya sekadar kontestasi antara Jokowi vs Prabowo, atau Ma’aruf Amin vs Sandiaga Uno.

Lebih dari itu, kontestasi ini adalah  antara Barat dan Timur tepatnya America vs Cina. Apa hal? Sedikit mencoba merefleksi kembali bagaimana Jokowi mencoba untuk menjegal berbagai kepentingan pengusaha dan investasi Amerika terhadap Indonesia selama beberapa tahun menjabat Presiden.

Mandeknya perpanjangan kontrak Freeport menandakan bahwa sebenarnya Jokowi kurang tertarik untuk membangun kerja sama dengan Barat. Tidak diduga, Jokowi membangun kerja sama dengan Cina yang membuat banyak orang shock. Ini tentu membuat Barat Geram dengan tindakan Jokowi.

Tak tanggung-tanggung, Jokowi di awal pemerintahan membuka kran investasi yang selama ini diinginkan oleh Cina di Indonesia. sehingga kegeraman tersebut tidak hanya ditujukan untuk Amerika bahkan juga melanda  terhadap berbagai politisi dalam negeri. Tidak mengherankan jika berbagai serangan politikpun gencar dimainkan terhadap pemerintahan Jokowi.

Dimulai dengan isu PKI antek asing, pihak asing dan lain sebagainya melekat di pemerintahan Jokowi. Sebagai orang nomor One, Jokowi tentu tahu dengan konsekuensi yang di hadapi. Ini tentu berbanding terbalik pada era pemerintahan SBY. Kerja sama SBY dengan Barat yang selama ini  harmonis dan adem ayem, juga akan menjadi perbandingan setelah masa jabatan Jokowi berakhir. Makan menghilangkan distinasi SBY selama menjabat serta kolega baratnya adalah ide cemerlang.

SBY Sebagai Singa Politik 

Di awal pemerintahan 2014 lalu memang tidak terlihat pertarungan yang signifikan antara SBY dengan Jokowi. Jika beberapa kritikan yang datang dari SBY-pun dianggap suatu yang wajar dan masukan selaku seorang negarawan. Namun seiringnya waktu. semua itu berubah. Bak drama ketiga antara Jokowi dan Prabowo, SBY adalah suatu yang unik dalam memainkan cinta segitiga.

Hal ini terlihat saat ditariknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kedalam bursa pencalonan Gubernur DKI Jakarta. Anggapan tenggelamnya SBY dengan kapalnya Partai Demokrat, dengan berbagai kasus yang membelit, ternyata muncul seperti fajar menyingsing. Cahayanya mulai panas menyinari dan menyoroti pemerintahan Jokowi. Dan genderang perang-pun sudah dimulai.

Munculnya kekhawatiran ini tidak hanya bagi Jokowi, yang lebih mendalam terhadap  kekhawatiran itu adalah Megawati ketua Partai PDI-P yang mengantar Jokowi di tapuk kekusasaan. Bagaiaman tidak? Sebagai politisi senior, Megawati kenal betul sepak terjang SBY di dunia politik.

Manis pahitnya pun sudah di telan oleh Megawati waktu masih kompotan. Pengalaman berharga yang dirasakan oleh Megawati adalah ketika mundurnya SBY dari kabinet gontong royong besutan Megawati ketika menjabat sebagai presiden. SBY yang mundur dari kabinet mendirikan partai politik yang dikenal partai  demokrat (PD). Pemilu berikutnya SBY bertarung melawan Megawati pada pilpres 2004 sehingga menyingkirkan Megawati dan PDI-P dua kali berturut-turut. Sakit, bagaimana tidak dengan kasus demikian SBY perlu di waspadai.

Beberapakali SBY mencoba untuk masuk dalam pemerintahan Jokowi dengan berbagai legitimasi politik yang dimiliki. Namun Megawati dengan segudang pengalaman politik yang di miliki tentu tidak mau kecolongan yang kedua kalinya. Sehingga negosiasi politik yang dibangun SBY terhadap Jokowi dan Megawati harus kandas di tengah jalan. Tak ambil pusing, SBY segera membangun citra partai melalui jagoannya AHY dengan mencoba menggandengkan AHY dengan Prabowo untuk pilres 2019, namun tetap kandas di tengah jalan.

Satu sisi SBY memang kecewa dengan berbagai upaya konsolidasi politik yang dibangun, namun di sisi lain eletabilitas partai juga perlu di perhitungkan. Mengingat merosotnya elektabilitas partai demokrat memaksa SBY mesti melakukan tindak lain dengan bersikap legowo dengan bergabung dengan kubu Probowo-Sandi untuk pilpres 2019. Selain mengedepankan sikap kenegarawan, masa depan anak sulungnya pun mesti di pertimbangkan secara matang.

SBY di Kubu Prabowo Sebagai Ancaman

Masuknya SBY ke kubu Prabowo-Sandi bukan tindakan yang tidak memiliki arti. Yang perlu digarisbawahi bahwa SBY merupakan mantan Presiden dua periode yang memiliki data dan track rekor dalam mengurus berbagai persoalan ekonomi dan stabilitas politik. Apalagi SBY merupakan tokoh kenegarawan mengambil sikap akan turun langsung untuk memenangkan Prabowo-Sandi untuk pilpres 2019.

Bukan tanpa mainan politik, semua akan memiliki serdadu dan cara masing-masing untuk menggenjot suara Prabowo yang terbilang jauh dari Jokowi. Apakah memungkinkan untuk Prabowo untuk menang?

Dalam politik semua bisa terjadi dalam hitungan jam bahkan dalam hitungan menit. Tidak ada yang pasti dalam dunia politik demikian juga dengan kemenangan. Mengingat skuat politik yang dimiliki kubu Prabowo-Sandi adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas yang pantas di waspadai.

Langkah yang tepat bagi kubu Jokowi sebagai petahana untuk tetap lenggang menjadi presiden 2019 adalah bagaimana menjegal SBY dan mempersempit ruang geraknya terhadap pilpres 2019. Ini tentu bukan peran Jokowi dan Megawati, melainkan orang-orang disekelilingnya yang memiliki kepentingan. Mengingat kepentingan untuk berinvestasi dan kiblat yang selama ini mengarah kepada Tiongkok, akan tidak mungkin tiongkok tidak terlibat untuk pilpres 2019.

Cara ampuh yang dimainkan adalah untuk membuka luka lama dengan kasus century yang merupakan kegagalan pemerintahan SBY pada masa lalu. Dengan pertimbangan yang matang, isu ini merupakan isu yang seksi untuk di mainkan agar SBY kehilangan fokus. Jika tidak, akan tidak mungkin membuat Megawati dan kolega menjadi kewalahan untuk memenangkan Jokowi untuk pilpres 2019.

Melalui media Asia Sentinel, isu ini kembali mencuat dengan tudingan bahwa pencucian uang senilai 12 USD miliar lewat bank-bank di luar negeri oleh pemerintah SBY akan menjadi tranding topik dalam rangka mengkelabui taktik SBY untuk pilpres mendatang.

Sungguhpun demikian, kebenaran itu tentu dapat dilihat bagaimana ujung dari cerita itu akan berlabuh. Mengingat bahwa tahun ini adalah tahun politik, dimensi politiknya dalam pemberitaan itu akan dapat dinilai setelah pesta demokrasi itu usai. Jika tidak dengan cara demikian, dapat dikatakan bahwa politik yang berjalan tidak lagi pada poros politik yang mematikan dan akan terlihat ambar.

Ujang Wardi
Peneliti dan Konsultan Pemberdayaan Lasigo Institute
Berita sebelumnyaKomunitas Sosial untuk Indonesia
Berita berikutnyaTeror Big Data
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.