in

‘Saya Memilih Pemimpin Yang Sering di Fitnah’


Kejadian yang menimpa Presiden Joko Widodo dan Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi dengan tuduhan Musyrik, syirik dan keluar dari akidah. Bahkan tuduhan PKI maupun Komunis kepada Pakde.

Atas kejadian tersebut saya jadi teringat apa yang di katakan oleh Imam Syafi’i

‘Carilah pemimpin yang banyak panah-panah fitnah menuju kepadanya, ikutilah mereka yang banyak difitnah. Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di jalan yang benar’

Mutiara Hikmah yang di katakan oleh beliau rasanya membuka mata dan hati dengan kejadian yang melanda pemimpin-pemimpin yang di cintai oleh rakyatnya tersebut.

Tuduhan-tuduhan tersebut bagi saya sebenarnya merupakan iri dengan keberhasilan yang telah di gapai dalam menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin.

Mengapa begitu?

Coba lihat apa yang di lakukan oleh Pakde dan Kang Dedi. Tidak penting penghargaan secara pribadi bagi mereka. Kesejahteraan rakyat adalah yang utama bagi mereka.


Mereka rela menderita, rela tersiksa, asalkan masyarakatnya tidak terasing di tanah airnya, tidak tertinggal oleh negara-negara lain di belahan dunia lainnya.

Coba bayangkan, Purwakarta yang tadinya kota biasa, dirubah menjadi kota yang lebih tertata. Kebudayaan menjadi pondasi utama dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dulu, kalau kita berbicara Purwakarta, mungkin di kenal sebagai oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. Tetapi, di tangan dingin Dedi Mulyadi, Purwakarta bukan hanya di kenal oleh masyarakat domestik, melainkan juga dikenal oleh masyarakat Internasional.

Baca Juga :   Menagih Sumpah Jabatan

Tidak hanya sampai disitu, Jawa Barat di kenal dengan Provinsi paling tinggi tingkat kasus Intoleran. Tapi di Purwakarta, itu tidak terjadi.

Bahkan, Purwakarta di nobatkan sebagai salah Kabupaten Paling Toleran oleh Kementrian Agama. Tingkat kesejahteraan masyarakat pun meningkat tajam selama sembilan tahun terakhir.

Sehari-hari hanya bekerja-bekerja dan bekerja. Pemimpin di daerah lain sibuk mencitrakan dirinya agar terlihat bersih dan suci, maka Dedi Mulyadi memilih untuk bekerja dan menjaga kebudayaan agar tradisi tidak kalah oleh tradisi asing. Bahkan hilang di rentas jaman karena hilangnya kepedulian terhadap kebudayaan sendiri.

Apalagi tahun-tahun politik seperti sekarang ini. Dedi Mulyadi yang di dorong oleh masyarakat Jawa Barat untuk menjadi Gubernur tentu menjadi sasaran empuk untuk menyebarkan kebohongan dan kebencian.

Tuduhan tersebut tidak berarrti baginya, jabatan bukanlah segala-galanya. Pengabdian kepada masyarakat untuk terus berbuat sesuatu adalah tujuannya.

Putra-putra terbaik Ibu Pertiwi yang teramat sangat mencintainya bukanlah anak-anak cengeng yang bisanya menangis. Tapi anak-anak ibu pertiwi adalah anak-anak yang kuat.

Mereka sudah terbiasa dengan badai, hujan dan teriknya matahari menyengat kulit. Pengandian dan kecintaan tidaklah menyrutkan mereka.

Imam Syafi’i tak sembarangan mengeluarkan pernyataan. Imam Syafi’i tahu bahwa orang-orang baik akan selalu dimusuhi oleh kejahatan.

Pemimpin yang baik akan diserang dengan panah-panah fitnah. Sebab, kebaikan adalah ancaman atas tirani kejahatan.

Baca Juga :   Ingat, 2018 Tahun Politik Bukan 'Jomblo'

Mengutif larangan Nabi Muhammad. Saw yang telah di sepakati oleh para ulama.

‘Nabi Muhammad. Saw melarang untuk tidak mengkafir dan memusyrikan orang lain, kalau orang itu tidak kafir dan musyrik maka tuduhan itu kembali kepadanya’


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR