Rabu, April 14, 2021

‘Saya Memilih Pemimpin Yang Sering di Fitnah’

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu HargaKabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program...

Menyoal RUU Permusikan

Belakangan ini sedang ramai di media sosial soal RUU permusikan yang digagas oleh komisi X DPR RI. RUU ini menuai banyak kontra dari para...

Arah Langkah Media Konvensional di Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita telah merasakan sebuah fenomena yang dinamakan globalisasi. Globalisasi bermakna bahwa seluruh wilayah di penjuru dunia terhubung nyaris tanpa ada batas, termasuk...

Otonomi Militer dalam Supremasi Sipil

Taufik Abdullah mengatakan, penguasaan terhadap organisasi profesional menjadi ukuran dari kemampuan suatu golongan untuk memaksakan keinginannya kepada golongan lain. Dengan kata lain, penguasaan organisasi...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Kejadian yang menimpa Presiden Joko Widodo dan Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi dengan tuduhan Musyrik, syirik dan keluar dari akidah. Bahkan tuduhan PKI maupun Komunis kepada Pakde.

Atas kejadian tersebut saya jadi teringat apa yang di katakan oleh Imam Syafi’i

‘Carilah pemimpin yang banyak panah-panah fitnah menuju kepadanya, ikutilah mereka yang banyak difitnah. Karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di jalan yang benar’

Mutiara Hikmah yang di katakan oleh beliau rasanya membuka mata dan hati dengan kejadian yang melanda pemimpin-pemimpin yang di cintai oleh rakyatnya tersebut.

Tuduhan-tuduhan tersebut bagi saya sebenarnya merupakan iri dengan keberhasilan yang telah di gapai dalam menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin.

Mengapa begitu?

Coba lihat apa yang di lakukan oleh Pakde dan Kang Dedi. Tidak penting penghargaan secara pribadi bagi mereka. Kesejahteraan rakyat adalah yang utama bagi mereka.

Mereka rela menderita, rela tersiksa, asalkan masyarakatnya tidak terasing di tanah airnya, tidak tertinggal oleh negara-negara lain di belahan dunia lainnya.

Coba bayangkan, Purwakarta yang tadinya kota biasa, dirubah menjadi kota yang lebih tertata. Kebudayaan menjadi pondasi utama dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dulu, kalau kita berbicara Purwakarta, mungkin di kenal sebagai oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. Tetapi, di tangan dingin Dedi Mulyadi, Purwakarta bukan hanya di kenal oleh masyarakat domestik, melainkan juga dikenal oleh masyarakat Internasional.

Tidak hanya sampai disitu, Jawa Barat di kenal dengan Provinsi paling tinggi tingkat kasus Intoleran. Tapi di Purwakarta, itu tidak terjadi.

Bahkan, Purwakarta di nobatkan sebagai salah Kabupaten Paling Toleran oleh Kementrian Agama. Tingkat kesejahteraan masyarakat pun meningkat tajam selama sembilan tahun terakhir.

Sehari-hari hanya bekerja-bekerja dan bekerja. Pemimpin di daerah lain sibuk mencitrakan dirinya agar terlihat bersih dan suci, maka Dedi Mulyadi memilih untuk bekerja dan menjaga kebudayaan agar tradisi tidak kalah oleh tradisi asing. Bahkan hilang di rentas jaman karena hilangnya kepedulian terhadap kebudayaan sendiri.

Apalagi tahun-tahun politik seperti sekarang ini. Dedi Mulyadi yang di dorong oleh masyarakat Jawa Barat untuk menjadi Gubernur tentu menjadi sasaran empuk untuk menyebarkan kebohongan dan kebencian.

Tuduhan tersebut tidak berarrti baginya, jabatan bukanlah segala-galanya. Pengabdian kepada masyarakat untuk terus berbuat sesuatu adalah tujuannya.

Putra-putra terbaik Ibu Pertiwi yang teramat sangat mencintainya bukanlah anak-anak cengeng yang bisanya menangis. Tapi anak-anak ibu pertiwi adalah anak-anak yang kuat.

Mereka sudah terbiasa dengan badai, hujan dan teriknya matahari menyengat kulit. Pengandian dan kecintaan tidaklah menyrutkan mereka.

Imam Syafi’i tak sembarangan mengeluarkan pernyataan. Imam Syafi’i tahu bahwa orang-orang baik akan selalu dimusuhi oleh kejahatan.

Pemimpin yang baik akan diserang dengan panah-panah fitnah. Sebab, kebaikan adalah ancaman atas tirani kejahatan.

Mengutif larangan Nabi Muhammad. Saw yang telah di sepakati oleh para ulama.

‘Nabi Muhammad. Saw melarang untuk tidak mengkafir dan memusyrikan orang lain, kalau orang itu tidak kafir dan musyrik maka tuduhan itu kembali kepadanya’

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.