Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Saya, Islam, dan Papua

Kedewasaan dan Autisme Jaman Now

“Manusia lebih merupakan anak zamannya ketimbang anak bapaknya,” tulisan sejarah Marc Bloch. Inilah yang paling tidak yang saya bisa rasakan sebagai calon pengajar yang...

Revolusi Industri 4.0 dan TKDN

Menteri Perindustrian RI, pada Selasa, 25 September 2018 menyampaikan guna menindaklanjuti peta jalan Industri 4.0 (Making Indonesia 4.0) Kementerian Perindustrian RI, menetapkan lima sektor...

Perpanjangan Waktu Orde Baru

Jika pemilihan presiden (pilpres) 2019 dianalogikan menjadi pertandingan olahraga sepak bola, tampaknya wacana isu debat capres untuk mengangkat tema berkaitan orde baru dapat diumpakan...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...
Herlambang Dwi Prasetyo
Seorang Mahasiswa, Aktivis, dan Sociopreneur.

Buku Saya, Jawa, dan Islam karya Irfan Afifi benar-benar mempengaruhi saya, di dalam buku tersebut Penulis bercerita tentang kegelisahannya tentang Jawa dan Islam. Saya pun akhirnya mencoba menulis sesuatu yang berkaitan dengan pengalaman empiris, Saya sebagai orang Islam yang lahir dan besar di Papua. Bagaimana Saya mengenal Islam? Menjalankan Islam dengan orang-orang Non Muslim di Papua? dan Bagaimana Islam di Papua?

Papua hingga saat ini akan selalu menjadi isu menarik untuk dibicarakan, letaknya yang berada jauh di timur Indonesia ini menyimpan banyak misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan, tidak banyak literatur yang membahas secara umum tentang Papua ataupun Islam yang ada disana jika kita bandingkan dengan pulau besar lainnya yang ada di Indonesia. Papua pun akan semakin dibahas pada waktu-waktu tertentu, seperti pada bulan Desember yang dimana bertepatan dengan bulan kelahiran Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Secara demografi masyarakat di Papua terbagi menjadi 2 yaitu masyarakat pesisir yang tinggal di daerah pantai dan pulau-pulau kecil serta masyarakat pegunungan yang tinggal di daerah dataran tinggi. Lahir dan besar di Papua, spesifiknya saya lahir di Pulau Biak dan besar di Pulau Yapen, Di Yapen jumlah penduduk Non Muslim dan Muslim bisa dikatakan 2:1, jumlah yang cukup besar untuk daerah yang mayoritas Non Muslim ini.

Islam pertama hadir di Yapen dibawa oleh para pelaut serta pedagang  yang berasal dari Sulawesi dan kemudian oleh orang-orang Jawa yang kemudian disusul oleh kedatangan penduduk dari daerah lain. Hal inilah yang membuat saya mengenal Islam, sebagai seorang keturunan Jawa yang berasal dari orang tua beragama Islam membuat saya pun harus beragama Islam. Penduduk Muslim pun terpusat di daerah perkotaan yaitu Kota Serui,

Perkembangan Islam di Papua sangatlah beda dengan yang ada di Jawa, jika di Jawa penuh dengan kompetisi antar Organisasi Masyarakat (Ormas Islam) sedangkan di Papua penuh dengan sinergisitas. Faktor sebagai minoritas membuat umat Islam di Papua harus bersinergi, akan tetapi sejauh saya tinggal di Papua yang ditemukan adalah harmonisasi dan toleransi antar umat beragama terkhusus Islam dan Kristen.

Walaupun bisa saya petakan juga bahwa Islam sangat bermacam-macam di Papua terkhusus Pulau Yapen bagian perkotaan, letaknya yang di pesisir Papua bagian utara yang termasuk jalur laut yang ramai bukan hanya mendatangkan bermacam-macam etnis, akan tetapi agama terkhusus warna-warni aliran Islam di wilayah ini. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya berbagai Masjid dengan simbol-simbol yang melambangkan warna-warni tersebut, dan bahkan bukan hanya mewakili aliran Islam tetapi juga terkadang mewakili etnis,

Mulai dari daerah Selatan yang dimana terdapat Masjid Agung Darusslam, Masjid ini berdekatan dengan pelabuhan dan pasar, daerah ini diisi oleh orang-orang dari Sulawesi baik Bugis, Gowa, Makassar, Selayar, Buton, Barru, dan lain-lain. Bisa disimpulkan bahwa jama’ah dari Masjid ini rata-rata diisi oleh orang Sulawesi. Tidak jauh dari sini, terdapat Masjid Darul Furqon yang terletak di Jalan Padat Karya, sebuah kawasan yang mayoritas diisi oleh orang-orang bersuku Jawa.

Daerah Utara yang dimana terdapat Masjid Muhajirin, rata-rata pengurusnya adalah orang-orang yang berasal dari Jawa lebih spesifiknya adalah Jawa Barat yang dimana tempat lahirnya organisasi PERSIS, dan jamaahnya pun sebagian besar dari Jawa. Bisa disimpulkan bahwa jama’ah dari masjid ini rata-rata diisi oleh orang Jawa. Beberapa  ratus meter dari sini pun terdapat Masjid Hidayatullah, yang rata-rata pengurusnya adalah orang-orang yang berasal dari Pondok Pesantren atau disebut juga kaum Santri.

Daerah Barat terdapat Masjid Muhammadiyah, di kawasan Masjid ini pun terdapat Sekolah dan Panti Asuhan milik Muhammadiyah yang pernah dibahas dalam buku Kristen Muhammadiyah, karena Muhammadiyah egalitarian sehinga semua etnis berkumpul disini. Tidak jauh dari sini terdapat Masjid Nurul Huda, Masjid ini sering dipakai untuk kegiatan anak muda yang mengadakan liqo-liqo serta malam bina iman dan taqwa (MABIT), kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang dari kelompok Tarbiyah.

Daerah Timur terdapat Masjid Babussalam, masjid yang biasa dipakai oleh orang-orang Majelis Tabligh untuk singgah. Kelompok ini sering singgah dari satu Masjid ke Masjid yang lain, bahkan Masjid yang berada jauh dari Kota seperti Kaboena dan Menawi.

Terdapat juga Masjid-Masjid yang ramai akan tetapi letaknya di komplek pemerintahan, seperti Masjid Polres yang terletakan di Komplek Polres Yapen dan Masjid Al-Falah Kodim yang juga terletak di kawasan Kodim TNI Yapen.

Banyaknya jumlah Masjid di daerah ini menunjukkan bahwa tingkat toleransi antar umat beragama disini sangat tinggi, bahkan selama saya tinggal tinggal tidak pernah ditemukan konflik karena agama seperti pelarangan pembangunan tempat ibadah, suara pengeras suara yang mengganggu, dan lain-lain. Saking meleburnya toleransi yang ada disini, kadang umat Islam ikut merayakan hari raya umat lain dan juga sebaliknya,

Inilah Islam yang saya alami di Papua, Islam yang secara internal saling bersinergi dan bahkan tidak menjatuh-jatuhkan ataupun saling mengkafirkan, dan secara eksternal pun bisa hidup rukun dengan agama-agama lain yang ada disini.

Herlambang Dwi Prasetyo
Seorang Mahasiswa, Aktivis, dan Sociopreneur.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.