Selasa, Oktober 27, 2020

Saya Ingin Masuk Islam, Tapi Islam yang Mana?

Pilkada dan Investor Politik

Ada 270 daerah akan menyelenggarakan pilkada serentak pada 23 September mendatang. Salah satunya daerah kelahiran saya, Sumenep. Genderang perang mulai ditabuh dan terompet pertempuran...

Warisan Intelektual Prof. Yunahar Ilyas

Prof. Yunahar Ilyas adalah putra Minang kelahiran Bukittinggi pada 22 September 1956 dari pasangan H. Ilyas dan Hj. Syamsidar. Sosoknya dikenal luas sebagai ulama...

Kearifan Lokal Asian Games 2018

Asian Games memberikan sisi menarik bagi kearifan lokal Indonesia. Kultur adat, adab, dan jiwa sportivitas dalam bertanding menampilkan karakter jiwa masyarakat bangsa Indonesia. Pembukaan Asian...

Teknologi, Pendidikan, dan Etika Pelayanan Publik

Tentu kita tidak terlalu ketinggalan informasi, bahwa beberapa tahun lalu kita menyaksikan setiap melewati jalan toll, selalu ada petugas yang bekerja dengan serius. Bergulat...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Perselisihan pendapat yang terjadi di lingkungan umat Islam kerap kali disalah-pahami oleh orang-orang yang berada di luar Islam. Mereka mengira bahwa Islam itu banyak dan terkotak-kotak. Dan masing-masing kelompok mengklaim kotaknya sebagai kotak yang paling bersih dari kotak-kotak yang lain.

Memang kita tidak bisa memungkiri keragaman sekte Islam itu. Kalau kita baca buku-buku doksografi, yang membahas tentang sekte-sekte Islam klasik, kita akan temukan bahwa satu kelompok saja memiliki varian yang sangat banyak.

Namun, sebagian besar mazhab-mazhab itu kini sudah lenyap dan hilang, Yang tersisa sekarang, paling tidak, hanya tiga kelompok besar, yaitu Ahlussunnah, Syiah dan Salafiyyah/Wahabiyyah. Tiga kelompok itu saja sebenarnya yang masih bertahan sampai sekarang. Selainnya sudah lenyap ditelan sejarah.

Pertanyaannya: Kalau ada orang mau masuk Islam, Islam yang mana yang harus mereka anut? Agar terhindar dari tuduhan fanatisme, saya tak akan menjawab dengan menawarkan satu kelompok dan menegasikan kelompok yang lain.

Tapi saya ingin mengemukakan satu poin penting yang perlu Anda ketahui dengan baik. Betapapun kita menyaksikan kelompok Islam yang beraneka ragam dalam pentas sejarah, satu hal yang harus kita catat baik-baik ialah: ajaran pokok Islam itu sendiri sebenarnya bisa kita ringkas dalam satu baris.

Apa? Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Itu saja ajaran intinya. Kalau Anda mengikrarkan dua poin tersebut dengan hati dan lisan Anda, maka Anda sudah menjadi Muslim. Dan kalau Anda mati dengan membawa keyakinan itu, Anda dijanjikan selamat dan masuk sorga.

Hanya saja, keimanan kita akan dua hal tersebut melahirkan sekian banyak konsekuensi. Kalau Anda percaya Tuhan, Anda harus percaya pada semua utusan. Karena mereka diutus oleh Tuhan untuk mengajarkan kebaikan. Tuhan menjadikan malaikat sebagai perantara komunikasi antara Dia dengan para nabinya.

Konsekuensinya, kita juga harus percaya pada malaikat. Malaikat menyampaikan wahyu, wahyu kemudian menjadi kitab suci. Konsekuensinya, kalau kita percaya Tuhan, percaya nabi, percaya malaikat, kita juga harus percaya dengan semua kitab suci. Di kitab suci ada keterangan bahwa kelak akan ada hari akhir. Konsekuensinya, kita juga harus peraya pada hari akhir.

Kitab suci  menerangkan bahwa Tuhan tahu dengan apa yang terjadi di dunia ini. Dan semua yang terjadi sudah ditakdirkan di alam azali. Konsekuensinya, kita juga harus percaya pada qadha dan qadar. Qadha itu adalah pengetahuan Allah yang azali akan segala sesuatu yang terjadi. Sementara qadar adalah perwujudan dari pengetahuan itu. Kita harus percaya dengan semua itu.

Ringkasnya, kalau kita percaya Tuhan, dan mengikrarkan kenabian Nabi Muhammad, maka kita juga harus percaya pada malaikat, kitab suci, nabi-nabi, hari akhir, qadha dan qadar. Dan inilah yang disebut sebagai rukun iman. Tiga kelompok yang saya sebut tadi beriman pada enam prinsip pokok ini.

Tidak hanya berhenti sampai di situ. Sebagai konsekuensi dari keimanan Anda kepada nabi Muhammad, dengan mengikrarkan kenabiannya, Anda juga harus percaya dengan semua ajaran yang dia bawa. Ajaran yang dia bawa mewajibkan salat, zakat, puasa, dan haji. Dan itu semua tergolong sebagai ibadah yang wajib. Konsekuensinya, karena Anda beriman kepada Nabi Muhammad, Anda juga harus beriman pada kewajiban ibadah-ibadah tersebut.

Bukan hanya beriman, tapi Anda juga—sebagai seorang Muslim—diperintahkan untuk melaksanakan. Itulah yang dimaksud dengan rukun Islam. Kalau Anda ingin menjadi Muslim sungguhan, maka Anda berkewajiban untuk menunaikan lima pilar tersebut: syahadat, salat, zakat, puasa dan haji. Tiga kelompok yang saya sebutkan di atas juga beriman pada lima rukun Islam ini.

Setelah itu apa? Sudah. Kalau Anda sudah percaya dengan dasar-dasar keimanan, dan melaksanakan rukun-rukun Islam dengan benar, melaksanakan perintah Tuhan, menjauhi larangan, maka Anda sudah menjadi Muslim yang benar. Terlepas dari apapun mazhab Anda. Hanya saja, yang menjadi persoalan selanjutnya ialah perbedaan seputar masalah khilafiyyah.

Perbedaan seputar masalah khilafiyyah artinya perbedaan seputar masalah-masalah cabang yang tidak begitu mendasar. Perbedaan semacam ini sering terjadi dalam masalah fikih. Anda bebas mengikuti siapa saja. Selama yang diikuti termasuk ulama yang terpercaya. Karena semua ulama pada dasarnya merujuk pada sumber yang sama, yaitu al-Quran dan Sunnah. Berhubung al-Quran dan Sunnah membuka ruang pemahaman yang luas, maka lahirlah mazhab-mazhab yang beragam itu.

Yang selayaknya Anda ikuti adalah mazhab yang senafas dengan ajaran nabi dan para sahabatnya. Persis sama dengan mereka tentu sulit. Tapi paling tidak bisa mendekati. Masalahnya, masing-masing kelompok mengklaim mazhabnya sebagai mazhab yang paling dekat dengan nabi itu. Nah, kalau tidak mau pusing, sebagai seorang Sunni, saya menganjurkan Anda untuk memeluk mazhab Sunni.

Tapi, kalau Anda mau memeluk mazhab Syiah, selama Anda puas dengan penjelasan ulama-ulamanya, tidak ada masalah. Toh Syiah juga masih bagian dari Islam. Selama kelompok Syiah yang Anda ikuti termasuk kelompok Syiah yang moderat. Pada akhirnya, perbedaan mazhab itu tak perlu kita persoalkan secara serius.

Untuk menjadi Muslim yang benar, cukup Anda percaya pada rukun Iman, kerjakan rukun Islam, laksanakan perintah Tuhan, dan jauhi larangannya sebisa mungkin. Dan dengan begitu Anda sudah menjadi Muslim yang sah.

Perbedaan mazhab itu pada umumnya hanya terjadi pada persoalan-persoalan yang bersifat partikular. Bahwa ada perbedaan dalam soal akidah, iya. Tak bisa kita pungkiri juga. Hanya saja, kalau kita tarik lebih dalam lagi. Rukun Iman dan rukun Islam itu menjadi semen perekat antara semua mazhab.

Kalau Anda menemukan kelompok Islam yang tidak percaya dengan salah satunya, berarti kelompok itu tak layak untuk diikuti. Tapi kalau kelompok itu percaya dengan semua dasar-dasar ajaran Islam, dan gagasan-gagasan yang dikemukakannya tidak banyak menyimpang dari ajaran nabi Saw, berarti mazhab itu adalah mazhab yang benar, terlepas dari apapun namanya.

Semua mazhab itu pada dasarnya hanyalah jalan untuk mencapai tujuan yang sama, dan terekat oleh dasar-dasar ajaran yang sama. Selama satu mazhab itu ajarannya selaras—atau paling tidak mendekati—ajaran yang dibawa oleh Nabi, maka itulah mazhab yang harus Anda ikuti. Dan saya memandang bahwa mazhab Sunni lah yang paling mendekati itu.

Kenapa bisa begitu? Kita bisa berdiskusi panjang untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi kalau Anda punya pandangan berbeda, saya akan tetap menghormati pandangan Anda. Karena pada dasarnya kita semua hanyalah hamba yang sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama. Yaitu meraih rida Allah Swt. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.