Jumat, Desember 4, 2020

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Hari Ibu, Momen Perjuangan Perempuan Indonesia

Kasih sayang ibu sepanjang masa. Itulah ungkapan yang sangat sering kita dengar. Bukan tanpa sebab, karena pada kenyataannya memang Ibu selalu menyayangi kita bahkan...

Dilema Kaum Guru

Di Indonesia ada suatu pekerjaan yang penuh dengan resiko dilema. Resiko dilema ini bukan hanya berhubungan dengan pendapatan, tapi juga berkaitan dengan proses bekerja...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Akhlak al-karimah bermula dari Hati

Hati atau dalam bahasa arab disebut dengan قلب diambil dari fi'il kolaba-yaklubu yang beraarti tebolak-balik.Yang dimaksud dengan terbolak-balik disini bukanlah posisi dari hati tersebut bukan...
Muhamad Reza Hasan
Mahasiswa, tidak tinggal di Singapura.

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis pada 4000 tahun lalu di atas sebuah batu tersebut, kita kenal sebagai epik Gilgamesh, sebuah kisah mengenai raja dari Babilonia bernama sama dengan judulnya: Gilgamesh.

Tentu kita patut menduga bahwa tradisi sastra lebih tua lagi ketimbang hanya sebatas 4000 tahun lalu. Agaknya cukup maklum apabila temuan paling jauh tehadap karya sastra hanya sebatas 4000 tahun, sebab yang kita periksa hanya sastra dalam bentuk tulisan. Sedangkan usia tulisan sendiri, berdasarkan temuan yang kita miliki ialah sekitar 6000 tahun, yang pertama kali dimulai oleh bangsa Sumeria.

Padahal, sastra tidak hanya terbatas pada bentuk tulisan. Kita mengenal tradisi lisan dalam kesusastraan. Namun, cukup sulit menemukan jejak peninggalan terkait sastra dari leluhur kita selain dalam bentuk tulisan, sebab sastra lisan tidak meninggalkan apa-apa untuk dipelajari dan diperiksa: tak ada peninggalan fisik–dan pikiran masa lalu yang tidak terdokumentasikan takkan mungkin dipelajari.

Namun begitu, beberapa lukisan di gua dari zaman pra-sejarah mengindikasikan bahwa tradisi sastra atau bercerita telah ada jauh lebih lama lagi. Beberapa lukisan yang ditinggalkan leluhur kita kadang-kadang berisi beberapa adegan yang nampak seperti film pada masa modern. Ada beberapa babak pada lukisan tersebut. Misalnya pada lukisan di Chauvet, Prancis. Lukisan tersebut menggambarkan beberapa adegan terkait perburuan terhadap hewan.

Lukisan di gua Chauvet tidak sama dengan lukisan Monalisa-nya da Vinci, di mana gambar hanya satu dan diam, tanpa pembabakan dan cerita di dalamnya. Lukisan di gua Chauvet menujukkan beberapa adegan yang bisa diruntut sebagaimana kumpulan gambar yang hari ini kita kenal sebagai film. Di dalamnya terdapat cerita berdasarkan runtutan gambar di dalamnya.

Kita bisa menduga bahwa lukisan tersebut adalah cerita yang belum bisa didokumentasikan leluhur kita dengan tulisan sebagaimana kebanyakan kesusastraan hari ini, sebab tradisi tulisan belum ada pada saat itu. Maka hal itu menunjukkan bahwa setidaknya kebiasaan bercerita telah ada sejak 30.000 tahun lalu, sebagaimana umur lukisan tersebut–lukisan di gua Lean Bulu’ Sipong 4, Sulawesi, malah lebih tua lagi, yakni telah ada 40.000 tahun lalu.

Itu pun, lagi-lagi, merupakan tradisi sastra yang terdokumentasi dan dapat ditemukan. Barangkali masih banyak sastra terdokumenkan yang lebih tua dan belum ditemukan, di samping banyak pula mungkin sastra yang lebih tua dan tak terdokumenkan. Maka, tradisi bercerita sejatinya sudah cukup lama hadir dalam evolusi manusia.

Kini, kita perlu bertanya-tanya, mengapa demikian? Pertama-tama, penting bagi kita u tuk memahami bagaimana sifat dan cara kerja sastra. Sastra membicarakan suatu topik dengan menghadirkan model atau replika struktur dunia riil di mana kita bisa melihat kehadiran seseorang (tokoh) dalam suatu ruang dan waktu tertentu (latar). Dalam dunia riil, segala sesuatu terjadi secara determinan di mana suatu peristiwa dapat terjadi karena suatu penyebab tertentu. Ketika saya buang air besar, itu terjadi karena perut saya mulas.

Dalam dunia sastra, hal semacam itu dapat kita temui–yang kemudian kita sebut itu sebagai plot. Ayah Masri–dalam cerpen “Datangnya dan Perginya” karya A.A. Navis–menamparnya karena suatu sebab, yakni kesal setelah Masri memergokinya sedang bercinta dengan perempuan bayaran. Maka cukup jelas bahwa sastra adalah suatu metode yang digunakan pengarang dalam membicarakan topik tertentu dengan medium bahasa: yakni menciptakan model atau replikasi struktur dunia riil yang dapat dibayangkan dalam otak pembaca.

Namun begitu, mengapa sastra amat menarik sehingga tetap digunakan untuk membicarakan suatu topik tertentu sampai hari ini?

Sebagai manusia–barangkali, termasuk pula hewan-hewan lainnya–kita berevolusi untuk beradaptasi dengan menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Kita memiliki pengalaman di mana seorang anak yang malang, habis dicabik-cabik oleh seekor singa. Kita mungkin tak menyaksikan apalagi mengalami itu secara langsung, kita bisa melihatnya di tayangan video. Maka, kita menyimpulkan bahwa singa adalah hewan yang ganas, dan oleh karenanya, musti kita jauhi–atau susun rencana yang hebat jika ingin mengalahkannya– misalnya.

Di lain waktu, kita melihat bahwa beberapa ekor rusa tergolek lemas sehabis melahirkan. Kita juga tau bahwa terdapat satu waktu tertentu di mana biasanya, secara simultan, rusa-rusa kawin dan melahirkan. Maka, kita menyimpulkan berdasarkan pengalaman tersebut, bahwa pada suatu waktu tertentu rusa-rusa akan melahirkan dan menjadi lebih lemah setelahnya. Karenanya, itu saat yang tepat bagi kita untuk berburu.

Kini kita tau, bahwa kita belajar berdasarkan pengalaman. Makanya, kadang-kadang, seorang anak baru termotivasi untuk tidak lari-larian di jalan sehabis mengalami atau menyaksikan ada yang tertabrak kendaraan ketika lari-larian di jalanan, ketimbang diingatkan untuk “jangan lari-larian di jalanan, nanti ketabrak!”.

Namun kita punya masalah. Tak mungkin, misalnya, bapak saya sengaja menabrak seseorang di depan saya supaya saya terdapat pengalaman terkait hal tersebut. Maka, satu hal yang dapat dilakukan ialah dengan menciptakan model pengalaman sebagaimana dunia riil yang dapat dibayangkan melalui cerita atau sastra: terdapat seorang tokoh pada latar tertentu yang karena berlarian di jalan, maka ia tertabrak motor.

Kesamaan struktur dalam karya sastra dengan pengalaman dunia riil memanipulasi kita untuk dapat tertarik dengannya, kendati kadang-kadang, topik atau cerita yang dibahas bukanlah sesuatu yang riil. Fenomena semacam itu mirip dengan apa yang terjadi pada hewan ngengat. Sejak kemunculannya hingga hari ini, ngengat beradaptasi untuk menggunakan cahaya bulan sebagai alat navigasi.

Namun, hari ini, kita tau ngengat teramat tertarik dengan cahaya buatan seperti lampu atau lilin. Hal itu karena terdapat kesamaan antara cahaya bulan yang sejak dulu dijadikan kompas oleh ngengat dengan cahaya buatan semacam lampu atau lilin. Begitu pula yang terjadi pada sastra, manusia, dan pengalaman dunia riil. Kesamaan struktur antara sastra dan pengalaman dunia riil di mana terdapat pelaku (tokoh) dalam ruang dan waktu tertentu (latar) yang berinteraksi dan menghasilkan peristiwa secara kausalitatif (plot) membuat manusia tertarik, persis dengan yang terjadi pada ngengat.

Manipulasi semacam itu, dalam kehidupan manusia, selain sastra, dapat kita lihat pada fenomena alat bantu seks. Perempuan, pada umumnya, beradaptasi untuk terpuaskan oleh penis–sebaliknya, laki-laki pada vagina. Secara evolusioner, kepuasan tersebut menguntungkan dalam konteks reproduksi. Namun begitu, di kemudian hari, manusia menemukan cara untuk memuaskan diri manakala penis atau vagina tak ditemukan, yakni dengan alat bantu seks. Dildo, misalnya. Dildo mengandung kesamaan struktur dengan penis: padat namun tidak begitu keras, memiliki volume dan tidak datar, dan lain-lainnya. Kesamaan struktur tersebut mampu memanipulasi dan memberikan kepuasan bagi kita dalam konteks seksual. Maka, mudah bagi kita memahami mengapa sastra memuaskan bagi manusia.

Untuk membicarakan matematika yang rumit sekali pun, cerita kerap digunakan. Seorang guru fisika malah perlu menyusun suatu cerita untuk menjelaskan teori relativitas. Untuk memberitahu bahwa Adam dan Hawa adalah nenek moyang manusia, agama-agama samawi bahkan menggunakan struktur cerita di mana terdapat tokoh (Adam, Hawa, Jin/Ular, Tuhan) dalam latar tertentu (taman firdaus dan bumi) yang menghasilkan plot berupa rangkaian peristiwa determinan di dalamnya.

Muhamad Reza Hasan
Mahasiswa, tidak tinggal di Singapura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.