OUR NETWORK

Sapardi, Bowo, dan Kabar-Kabur Tik-Tok Hari Ini

Apakah Sapardi akan dianggap alay dan kampungan? Apakah aksi goyang-goyangan Sapardi yang diunggah di akun twitter @adimasnuel termasuk ke dalam konten yang tidak mendidik?
(Sumber foto: www.twitter.com/adimasnuel)

Di dalam episode 74b serial animasi SpongeBob Square Pants yang berjudul Wigstruck, SpongeBob menemukan sebuah wig besar jatuh di depan rumahnya sebelum ia berangkat kerja.

SpongeBob bangga memakai wig itu. Setelah merasa bahwa tak ada satupun yang mengganggap dirinya “keren”, bahkan ia diolok oleh “ikan-ikan”, SpongeBob kemudian melepas wig nya dan wig tersebut diambil oleh pemilik aslinya, anggota band Need and Needle Fish.

Naas bagi Spongebob, ketika wig itu berada di puncak popularitasnya, semua orang mengenakannya. Tetapi, SpongeBob sama sekali tidak memiliki hasrat untuk menggunakan wig itu lagi. Pertanyaannya: apakah wig tersebut menjadi sesuatu yang “berharga cum dianggap penting” tergantung dari siapa yang memakainya?

Jika kita kilas balik ke tahun 2018 silam, Indonesia dihebohkan dengan kemunculan Bowo si artis dadakan yang hadir lewat aplikasi Tik-Tok. Di puncak popularitasnya sebagai seorang artis Tik-Tok, Bowo sering dianggap alay, kampungan, dan tidak mencerminkan sikap anak seusianya.

Meski pada akhirnya, beberapa stasiun televisi memanfaatkan momen kemahsyuran sesaat Bowo tersebut dengan “berladang di punggung Bowo” dan mengundangnya beberapa kali hanya untuk melihat Bowo “goyang dua jari” sambil sesekali menjulurkan lidah.

Setelah Tik-Tok diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 3 Juli 2018 karena alasan banyaknya konten yang tidak mendidik dan tidak adanya filter di sana, termasuk adanya konten pornografi, Bowo pun menghilang dari peredaran, bahkan nyaris tak ada dari spotlite stasiun televisi. Meski pada 10 Juli 2018, Tik-Tok kembali bisa diakses oleh masyarakat Indonesia, tetapi tidak dengan kembalinya Bowo yang wajahnya sudah diblokir oleh aplikasi tersebut.

Wabah Tik-Tok yang sempat meredam di tahun 2019, kini mulai mencuat lagi ke permukaan pada awal tahun 2020. Entah siapa yang mencoba menghidupkan kembali aplikasi ini.

Banyak orang keganjringan menggunakannya termasuk artis-artis dan publik figur lainnya, hingga penyair gaek seperti Sapardi Djoko Darmono menjadi terlihat muda lagi dan menggemaskan saat bermain Tik-Tok. Apakah Sapardi akan dianggap alay dan kampungan? Apakah aksi goyang-goyangan Sapardi yang diunggah di akun twitter @adimasnuel termasuk ke dalam konten yang tidak mendidik? Aku tidak ingin mengatakan Sapardi alay dengan sederhana, dengan caci yang tak sempat diucapkan Bowo kepada mereka yang menjilati ludah sendiri.

Menarik jika kita membahas antara Sapardi, Bowo, dan Tik-Tok. Keterlibatan Sapardi dalam bermain Tik-Tok tidak serta-merta ada begitu saja atau karena Sapardi lelah meneropong dunia perpuisian Indonesia hingga ia butuh menghibur diri sendiri dengan bermain Tik-Tok bersama remaja yang bisa kita golongkan telah seperti cucunya. Kita juga bisa menilik beberapa aktivitas Sapardi belakangan ini.

Penyair gaek tersebut saat ini sedang menulis buku dengan salah satu penulis muda yang juga aktif menulis quote di sosial media dan memiliki cukup banyak penggemar. Keberadaan Sapardi di dalam lingkaran Tik-Tok barangkali mencoba merangkul kawula muda untuk tidak hanya mengenal tulisan dan namanya, tapi juga “dirinya”.

Bisa jadi, itu sebatas hiburan semata untuk mencoba meruntuhkan anggapan bahwa sastra yang selama ini dianggap rumit dan memusingkan kepala ternyata orang-orangnya bisa “secair” itu juga.

Uniknya, Sapardi sama sekali tidak memiliki akun Tik-Tok. Beliau seakan “numpang tenar” di akun orang lain meski sebenarnya beliau telah lebih dulu terkenal sebelum lahirnya Tik-Tok. Atau, beliau bermain Tik-Tok masih dalam tahap trial sebelum meyakinkan diri memiliki akun sendiri. Entahlah. Ini hanya sebatas asumsi saya saja. Meski, di dalam video yang sempat viral tersebut, Sapardi tampak kaku, tidak ceria, dan sering terlambat mengikuti gerak dua orang gadis yang berada di sisi kiri dan kanannya. Faktor “U” tentunya menjadi faktor utama akan hal itu.

Tetapi, ada perbedaan respon dari publik yang terjadi ketika satu hal yang sama digunakan oleh dua orang yang berbeda. Ketika dulu di tahun 2018 saat Bowo memainkan Tik-Tok, cukup banyak respon negatif yang ia terima. Bahkan, ia sampai dianggap sebagai perusak moral generasi bangsa.

Tetapi, ketika Sapardi yang bermain Tik-Tok, malah terasa nihil satu hujatan keluar dalam respon yang negatif. Semua komentar yang bertengger di video tersebut tak ada yang bersifat mengecilkan hati Sapardi untuk bermain Tik-Tok sekali lagi. Jika saja Sapardi mencoba fokus di Tik-Tok menjelang akhir tahun, bukan tidak mungkin ia juga akan menjadi artis Tik-Tok seperti Bowo dan diundang ke berbagai acara di stasiun-stasiun televisi. Lewat itulah, tidak menutup kemungkinan Sapardi bisa lebih mendekatkan lagi dunia kesusastraan ke masyarakat Indonesia.

Mungkin saja, membaca puisi dengan ala-ala Tik-Tok akan menjadi salah satu efek yang bakal hadir kedepannya dan dunia kesusasteraan semakin dekat dengan masyarakat luas hanya dengan bermain Tik-Tok. Pihak Tik-Tok harusnya membaca itu sebagai “pasar” baru. Entahlah.

Tetapi, jika kita kembali ke permasalahan respon publik tadi, pertanyaannya adalah apakah karena usia Sapardi yang sudah tua sehingga dia tidak mendapat perlakuan yang sama seperti Bowo yang masih berusia belasan tahun? Saya rasa tidak.

Hal fundamental yang menjadi alasan perbedaan respon publik terhadap Sapardi dalam bermain Tik-Tok dengan Bowo adalah ketokohan Sapardi dan citra positif beliau di mata masyarakat Indonesia. Beliau hadir ke masyarakat lewat tulisan yang sampai kini masih menjadi masterpiece dan banyak dikutip oleh orang-orang.

Sementara Bowo hadir ke publik lewat video-video yang dianggap “sampah”, sehingga citra Bowo di mata masyarakat pada “pandangan pertama” menjadi tidak baik. Jikalau Bowo awalnya adalah seorang penyair cilik yang bukunya banyak dibicarakan di berbagai kelompok sastra dan “diupayakan” untuk memiliki nama besar, barangkali perlakuan masyarakat pada Bowo pada saat itu belum tentu sama.

Ketokohan dan citra seseorang sepertinya mempengaruhi respon publik terhadap apa-apa saja yang ia lakukan. Bahkan, jikalaupun seseorang telah memiliki nama yang cukup besar tetapi tidak didukung dengan citra positif, hasilnya akan sama saja dengan apa yang dirasakan Bowo. Hal ini bisa saja terjadi jika yang bermain Tik-Tok adalah Lucinta Luna. Saya tidak mau membahas pada bagian Lucinta Luna ini.

Istilah kampungan dan alay seperti yang disematkan kepada Bowo di tahun 2018 lalu rasanya sudah tidak berlaku lagi sekarang. Pengguna Tik-Tok sekarang seolah melepaskan Tik-Tok dari “jubah” nama besar Bowo yang membuat aplikasi ini cukup terkenal di Indonesia.

Saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa untuk membuat sesuatu itu digunakan dan dinikmati oleh banyak orang, harus ada yang mesti dikorbankan atau menjadi korban. Kita tidak tahu apakah saat ini Bowo sedang tertawa, sedih, atau ambyar, melihat orang-orang yang dulu anti sekali bermain Tik-Tok, menghujatnya, membully-nya, kini malah mereka yang bolak-balik berkunjung ke Tik-Tok dan Instagram untuk memamerkan keseruan-keseruan mereka yang sudah lebih dulu Bowo “khatamkan”.

Sapardi. Sepertinya aku ingin menjadi Tik-Tokers dengan sederhana.

Lahir di Padang, 11 Maret 1995. Sedang menempuh studi di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Bergiat di Metasinema FIB Unand dan Lab. Pauh 9 (sebuah ruang diskusi yang berfokus mengkaji dunia sastra dan humaniora).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.