Rabu, Maret 3, 2021

Siapa Pahlawan Masa Depan?

Theologia Kemakmuran Ajaran Praktis Tentang Sukses Tapi Salah 1

Merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga...

Keterbukaan Kunci Pemahaman Agama

Hari ini kepercayaan yang kita anut telah membawa kengerian baru di era modern ini. Di Indonesia sendiri saat ini, kepercayaan agama kita telah membentuk...

Drama India dan Aktor Terlaris Setnov, saatnya nyinyir!

Mungkin kebanyakan dari kita suka menonton drama India. Kebanyakan menonton drama bisa menjadi alat kita dalam menganalisis. Tapi untunglah dengan adanya drama-drama India yang...

Wujud Islam ‘Rahmatan Lil Alamin’ [Gus Nadir: Islam Wasathiyah]

Pernyataan Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir tentang ‘Islam Wasathiyah itu Moderat’ yang dimuat media online Gatra.com (27 Mei 2019) sangat menarik sekaligus...
munir
Pengamat politik amatiran, tukang ngopi sana-sini, gak suka rasan-rasan

Gugur adalah batas akhir dari perjuangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa waktu, tenaga dan harta pun bisa di korbankan dalam ranah perjuangan.

Tak mudah pastinya dalam mewujudkan harapan, harapan untuk bebas dari segala macam penindasan, bebas dari segala kemiskinan, bebas dari kejahiliyaan.

Modernisasi menuntut kemajuan pendidikan juga teknologi, media sosial menjadi sarana yang banyak menarik perhatian sebab Indonesia adalah pengguna Internet terbanyak, terkhusus pada facebook.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa hal ini sangat berbahaya sebab akan terjadinya pergeseran sosial-budaya dan terkikisnya rasa toleransi, namun sebagian juga berpendapat bahwa ini adalah hal yang positif yang bisa menjadi peluang bisnis, dakwah atau sekedar hiburan.

Kebebasan berpendapat ini, kadang sering juga disalah artikan dengan melakukan penghinaan dan penghasutan yang bisa merugikan orang lain. Tak luput pula pimpinan negara yakni presiden, menjadi korban penghinaan sebagian masyarakat yang picik tanpa ada upaya mengkritik untuk kebaikan.

Bahkan yang lebih parah lagi, tokoh politik, pejabat publik pun seakan latah ikut arus dalam fenomena ini. Pendidikan, akal sehat bahkan nurani kadang seakan telah mati demi hanya menuruti nafsu untuk menghina atau mencari salah orang dan ingin di anggap pahlawan.

Apa mereka ini sehat, atau bangsa ini yang sedang sakit?

Pertanyaannya adalah ketika hal-hal itu terjadi berulang-ulang dan pelakunya adalah mereka-mereka saja yang membawa kepentingan partai, golongan atau kelompok dengan mengklaim sebagai perwujudan suara rakyat, aneh bukan…?

Tanpa karya, tanpa kemanfaatan, dan tanpa keihklasan kalian ingin menjadi salah satu pahlawan, atau menjadikan seseorang pahlawan, lantas adilkah tetesan darah mereka yang berjuang membela tanah air, melawan penindasan atas keserakahan ini. Sekali lagi hal ini pun kau anggap hal yang lumrah tanpa ada rasa bersalah.

Kelakuan buruk yang kau pelihara menjadikan pahlawan pun enggan menyapamu, seperti itu kiranya bangsa juga akan mengadilimu. Kisah ini akan selalu dicatat oleh generasi penerusmu untuk membuat penilaian seperti para senior mereka berulah, bahkan keturunanmu yang tak tau hal pun kadang juga terbebani atas lakumu, atas dosamu dan atas keserakahanmu.

Pahlawan berjuang tanpa pamrih, mereka merelakan mengorbankan segalanya karena adanya dorongan yang bernilai kemuliaan, baik atas nama tanah air, kebenaran, atau juga agama, karenanya itu sejalan dengan slogan yang diciptakan oleh para kyai dan ulama’ “hubbul wathon minal iman”, semua elemen masyarakat bersatu padu melawan para penjajah, itulah Indonesia raya.

Maka memaknai peringatan Hari Pahlawan, 10 november sudah seyogyanya kita bisa lebih bijak dalam bersikap, khususnya para politisi, akademisi  pejabat birokrasi hingga musisi. Paling tidak pejabat publik yang sudah “diakui” akan kepiawaian pengetahuan, pengalaman, fans juga basis massanya bisa memberi teladan atau uswah yang bagus kepada masyarakat umum, bisa menjadi inspirasi juga buat generasi yang akan melanjutkan perjuangan dalam membela NKRI, menjaga kedaulatannya bahkan memajukan tanah air tercinta ini.

Upaya menciptakan keharmonisan, kedamaian juga kebermanfaatan telah dibuktikan para tokoh bangsa, kyai dan ulama’, tindakan mereka adalah essensi dari perjuangan pahlawan terdahulu, bagaimana ia menyantuni kaum pinggiran, bagaimana ia membimbing umat, dan bagaimana ia juga berupaya mencerdaskan anak bangsa, serta bagaimana membela kaum minoritas.

Kuburlah egoisme, fanatik berlebihan, merasa paling benar dan upaya melemahkan bahkan mengganti bingkai NKRI dengan apapun, sebab perjuangan kemerdekaan telah banyak menyengsaraka, memakan korban, penderitaan juga penghinaan. Sebaliknya untuk putra bangsa, teruslah berkarya, berinovasi, wujudkan cita-cita negerimu, harumkanlah hingga langitpun kan mencium dan mendengar akan kebaikan yang kau lakukan.

Salam damai Indonesiaku, terimakasih pahlawanku atas perjuangan, pengorbanan dan dedikasimu.

Lamongan, 11 Nopember 2017

AMH

munir
Pengamat politik amatiran, tukang ngopi sana-sini, gak suka rasan-rasan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.