Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Santri Menjawab Tantangan Zaman

Formalisasi Hukum Agama

Proses panjang Pilkada DKI yang menyita perhatian publik  telah selesai dilaksanakan, dan kini DKI telah mempunyai Gubernur baru. Namun  demikian ekses dari pilkada DKI...

Memangnya, Mengapa dengan Pribumi?

Senin, 16 Oktober 2017. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno resmi dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Pelantikan yang berjalan dengan khidmat dan...

Kerentanan Wacana dan Urgensi Pendidikan Politik Dini

“Bapak, sampeyan milih Jokowi apa Prabowo?”, Tanya anakku yang baru kelas enam Madrasah Ibtidaiyah tiba-tiba di sela kami nonton berita tentang hiruk pikuk politik...

Sistem Zonasi PPDB, Cocok Gak Sih untuk Kita? (1)

Setelah ramai-ramai pendaftaran PPDB beberapa waktu kemarin, sekolah-sekolah sudah memulai aktivitasnya kembali hampir 1 bulan lamanya. Guru kembali dengan setumpuk tugasnya dan murid kembali...
Didi Manarul Hadi
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktifis muda NU. Pecinta Islam Nusantara

Kaum tradisionalis dalam kiprahnya selalu menjaga kearifan budaya lokal dan menjunjung tinggi tradisi leluhur yang biasa dilakukan oleh para pendahulu. Begitupun Islam tradisionalis dalam metode ke-Islamannya, mereka senantiasa mengedepankan nilai-nilai budaya tradisional, ciri dakwah yang khas dengan metode yang alami, dan selalu menjaga tradisi-tradisi terdahulu yang masih memberikan kemaslahatan untuk digunakan saat ini.

Di samping itu, Islam tradisionalis mempunyai misi rahmatan lil’alamiin sebagimana Islam sesungguhnya yang dirisalahkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW. Islam  rahmatan lil’alamiin dalah Islam yang menebarkan kasih sayang kepada semua ummat manusia dan seluruh alam. Melalui kolaborasi budaya dengan kearifan luhurnya Islam tradisionalis mengemplementasikan Islam rahmatan lil’alamiin  itu. Islam tradisionalis merupakan Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduk di Indonesia. Sehingga bukan hanya mengedapankan nilai ke-Islaman saja melainkan juga mengedepankan nilai cinta tanah air atau kebangsaan. Ikut serta dalam menjaga keutuhan bangsa dan ikut serta dalam memperjuangkan kemajuan bangsa ini. Melalui pengkaderan para santri di pondok pesantren sebagai estafet perjuangan para ulama, Islam tradisionalis mencetak kader-kader Islam yang cerdas, mampu menjawab tantangan zaman, menyerukan nilai-nilai kedamaian, dan yang terpenting adalah mampu menjaga serta berjuang untuk keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kader-kader itulah yang disebut dengan kaum santri.

Kesederhanaan kaum santri merupakan bentuk kerendahan hati dan merupakan suatu proses yang mengantarkan dirinya menuju insan yang berkualitas. Ciri khas yang biasa digunakan oleh kaum santri yaitu seperti sarung, songkok miring, sendal jepit, dan lain sebagainya yang menunjukan kesederhanaan dari seorang santri. Akan tetapi dibalik itu semua terkandung nilai-nilai yang luhur. Karena santri biasa dilatih dengan kesederhanaan, kesabaran, dan keteguhan jiwa dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang mengahadang. Sehingga santri akan selalu kuat, selalu teguh bagaikan karang dilautan yang tak pernah rapuh meskipun diterjang ombak, sepertihalnya perahu yang tetap utuh di tengah lautan meskipun diterjang badai.

Kaum santri adalah kaum yang memiliki keteguhan hati yang kuat. Tidak mudah terganggu oleh berbagai situasi dan tantangan zaman. Teguh dalam menjaga aqidah Islamiyyah , teguh dalam menjaga persatuan, dan teguh dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Terbukti dalam sejarahnya santri senantiasa berkiprah dalam membangun bangsa Indonesia. Salah satunya adalah peristiwa resolusi jihad 22 Oktober 1945, dimana para ulama dan santri memiliki semangat juang yang membara untuk mengusir para kolonial Belanda dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. KH. Wahab Hasbullah atas perintah KH. Hasyim Asy’ari mengumpulkan para ulama se-Jawa dan Madura. Dari perkumpulan itu maka terbitlah resolusi jihad melawan kolonial Belanda yang mana salah satu isinya adalah  fardlu ‘ain (kewajiban individu) kepada para santri dan masyarakat untuk ikut terjun mengusir para kolonial. Sebagai bentuk nilai  amar ma’ruf nahi munkar dan wujud cinta tanah air atau nasionalisme para santri. Sehingga Presiden Joko Widodo menerbitkan keputusan Presiden RI No.22 tahun 2015. Beliau menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Karena peran santri begitu besar dalam sumbangsih terhadap bangsa Indonesia. Dan tanggal 22 Oktober merupakan salah satu peristiwa penting yang melibatkan para santri dalam mempertahankam kemerdekaan Indonesia. Adanya penetapan Hari Santri Nasional memberikan penghargaan yang istimewa untuk kaum santri. Yang mana baru-baru ini telah dirayakan oleh seluruh santri di tiap daerah di Indonesia. Akan tetapi ada hal yang paling penting dari adanya hari santri ini, bukan hanya sekedar berhura-hura merayakan hari santri, akan tetapi yang terpenting adalah mengenang dan mengambil banyak pelajaran dari peristiwa hari santri ini. Semangat juang santri pada waktu itu yang perlu kita tanamkan dalam jiwa kita pada saat ini. Semangat juang dalam mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia. Sehingga menjadi santri yang benar-benar sejati. Sarung yang dipakenya menjadi saksi perjuangannya, peci miring di kepalanya menjadi wujud kecintaan kepada tanah airnya Indonesia.

Hal yang perlu dilakukan oleh santri di era milenial ini yaitu mengambil pelajaran dari sejarah santri dan para ulama terdahulu yaitu santri harus memiliki keteguhan hati, cerdas dan mampu menjawab segala tantangan zaman. Dalam era milenial ini santri harus dituntut kreatif dan inovatif dalam mengikuti arus globalisasi yang ada. Karena prinsipnya adalah “al muhafadzotu ala qodiimissolih wal akhdu biljadiidil ashlah”. Yaitu mengkolaborasikan budaya terdahulu dengan budaya baru, dengan melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebig baik. Sepertihalnya tekhnologi, santri harus bisa menguasai tekhnologi untuk kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia. Juga harus bisa mengambil peluang-peluang strategis dalam melakukan dakwah Islamiyah. Yaitu dengan cara dakwah yang ramah, toleran, dan damai. Sehinga dengan adanya keberadaan santri memberikan kedamaian dan ketentraman bagi masyarakat.

Lalu pada saat ini banyak yang memaknai apa santri itu sendiri. Salah satunya definisi santri menurut KH. Musthafa Bisri (Gus Mus), beliau mengatakan ” Santri bukan hanya yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak santri, yang tawadlu kepada gusti Allah, tawadlu kepada orang-orang alim kalian namanya santri”. Jadi santri menurur Gus Mus adah orang-orang yang senantiasa dalam hidupnya bertawadlu kepada Alloh dan kepada orang-orang alim. Dalam artian santri selalu sederhana, memiliki akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-harinya meskipun ia belum pernah mondok di pesantren. Selama ini banyak yang berpandangan bahwa santri itu adalah orang yang mondok atau pernah mondok di pondok pesantren. Tetapi sejatinya santri adalah siapapun yang memiliki akhlak yang agung, menebarkan kedamaian kepada semua orang di setiap harinya. Dan memiliki jiwa yang teguh dalam memperjuangkan keutuhan bangsa Indonesia. Dengan demikian santri sejati ia dapat menjawab tantangan zaman. Karena sosok santri sejatilah yang dibutuhkan saat ini. Orang yang memiliki akhlak mulia, teguh dalam pendirian, cerdas dalam bertindak dan berkarya untuk bangsa dan agama. Perayaan hari santri ini harus kita jadikan sebagai momentum kebangkitan kaum santri dengan menamkan marwah kesatrian dalam diri kita untuk menjawab tantangan zaman.      

Didi Manarul Hadi
Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fak. Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktifis muda NU. Pecinta Islam Nusantara
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.