Minggu, Februari 28, 2021

Sang Tempramen dan Paku

Ulama Aswaja Sedunia Tolak Wahabi Salafi, Ini Sebabnya!

Muktamar Ulama AhlusSunnah Wal Jamaah sedunia yang digelar di Chechnya, belum lama ini menolak dan mengeluarkan sekte Wahabi Salafi bentukan Saudi Arabia dari AhlusSunnah...

Data Statistik di Tengah Hiruk Pikuk Tahun Politik

Tahun politik sudah datang. Hiruk pikuk persiapannya mulai lalu lalang di setiap lini kehidupan. Televisi, koran, kanal berita online, bahkan baliho-baliho di pinggir jalan mulai...

Prabowo Sebut Elite Pendukungnya Diancam, Hoaks atau Fakta?

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebutkan bahwa sejumlah elite pendukungnya diancam oleh pihak-pihak tertentu. "Saya sering kedatangan elite entah pakai gelar ini,...

Kenapa Takut Berpikir Tentang Tuhan? (Membela Mun’im)

Setiap kali Mun’im Sirry menulis tentang dinamika pemikiran ketuhanan, atau apa pun yang berkaitan dengan Tuhan sering muncul komentar yang bersifat kontra dalam artian...
Achmad Zamzami
Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI

Ada seorang anak laki-laki yang sangat tempramen, ia tidak bisa menahan diri untuk berkata dan marah-marah setiap kali melihat ada hal yang menurutnya salah.

Ayah dari anak tersebut ingin memberinya sebuah pelajaran sehingga ia memberinya sekantong paku dan mengatakan pada anak tersebut untuk memamkukan sebuah paku dipagar belakang setiap kali dia kehilangan kesabaran dan marah.

Pada hari pertama ia sudah memakukan 37 paku ke pagar – ia benar-benar tempramen-!!

Selama beberapa hari kemudian, anak tersebut mulai bisa mengendalikan emosinya, sehingga jumlah paku yang dipaunya di pagar muali berkurang, dia menyadari ternyata lebih susah menahan emosi dan amarah daripada memaku dipagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa menyelesaikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia pun begitu bangga pada dirinya sendiri, ia segera cepar-cepat menceritakan kepada ayahnya.

Setelah diceritakan, ayahnya mengusulkan kepada anaknya untuk mencabut paku tersebut satu paku untuk setiap harinya dimana disaat dia tidak marah.

Hari demi hari berlalu dan anak tersebut akhirnya memberitakan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut, lalu ayahnya dengan lambat mengajak anaknya untuk melihat pagar yang tadinya terdapat bekas tancapan paku.

“Kamu telah berhasil dengan baik anakkku, tapi lihatlah lubang-lubang dan pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti semula.

Sang anak mendengarkan dengan seksama ketika ayahnya melanjutkan pembicaraan

“Ketika kamu mengatakan sesuatu  dalam kemarhan kata-katamu meninggalkan bekas luka seperti lubang ini dihati orang lain”

“ Kamu dapat memasukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu tetapi tidak peduli seberapa banyak kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada dan luka karena kata-kata adalah luka yang sama buruknya dengan luka fisik”Semoga kita dapat mengambil hikmahnya. Amiin

Achmad Zamzami
Tenaga Ahli Komisi IX DPR RI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.