Kamis, November 26, 2020

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Profesor Nurdin Abdullah dan Semangat (yang terus) Muda

Apa yang kita kenang setiap 28 Oktober?Barangkali sebuah teks lawas yang menggugah dan yang bunyinya begini:Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah...

Menjawab Radikalisme di Tubuh KPK

Di tengah gegap gempita kesuksesan KPK melakukan operasi tangkap tangan atau OTT terhadap sejumlah koruptor, ada angin tak sedap berhembus ke tubuh KPK. Sebuah...

Masihkah kita, Bhinneka?

Pertanyaan yang selalu terngiang di pikiran saya apakah kita ini masih bisa di sebut satu saudara satu bangsa satu nusa dan beragam suku,ras maupun...

Manusia Indonesia Dalam Kemunduran

Aku sudah membaca buku Manusia Indonesia yang berisi ceramah Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977. Ceramahnya sendiri berisi berbagai...
Lugas Wicaksono
Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang. Twitter: @lugaswicaksono

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III dengan Ida Ayu Ketut Juni Supari dari Griya Suci Dencarik Banjar Buleleng. Acara pernikahan yang dikemas glamor dan eksklusif itu digelar di Istana Mancawarna Tampaksiring, Gianyar, Bali, Rabu (23/8/3017) lusa.

Hanya 500 orang yang diundang saja boleh masuk untuk menyaksikan rangkaian prosesi pertunangan sang raja. Tentu saja orang-orang yang diundang adalah mereka yang istimewa bagi raja. Pintu masuk istana dijaga cukup ketat. Para pengawal menerapkan sistem pengamanan berlapis, mirip paspampres membuat ring 1, ring 2 dan seterusnya saat mengamankan presiden.

Setelah itu, dalam waktu dekat sang raja segera melaksanakan upacara pernikahan yang tidak kalah gemerlap seusai acara pertunangan kemarin. Rangkaian pesta pernikahan ini akan dilaksanakan di sembilan kabupaten/kota di Bali selama satu tahun! Nah di pesta ini sang raja mempersilahkan para rakyat untuk menghadirinya. Humas Istana Mancawarna Dewa Anom Sukarno mengklaim bahwa pesta pernikahan ini akan menjadi pesta pernikahan terbesar di Bali pada abad ini. Tentu saja lebih besar daripada yang pernah dilaksanakan Puri-puri di Bali.

“Dari puri juga akan menyelenggarakan resepsi di sembilan kabupaten/kota mengingat antusias rakyat, dan juga kerabat yang ingin menjadi bagian dari royal wedding ini,” jelas Dewa Anom dikutip dari bali.tribunnews.com.

Klaim Wedakarna sebagai Raja Majapahit sebenarnya sudah jauh hari menjadi polemik. Raja dan penglingsir puri-puri se-Bali pada 9 Oktober 2011 lalu saat berkumpul di Puri Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali sepakat tidak mengakui keberadaan Raja Majapahit di Bali. Belakangan memang banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai Raja Majapahit. Taat Pribadi asal Probolinggo, Jawa Timur juga mengklaim sebagai Raja Majapahit dengan nama Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk menipu orang dengan modus bisa menggandakan uang.

Di tengah polemik gelar rajanya, sebenarnya Wedakarna melalui acara pernikahannya yang glamor tidak lebih hanya ingin menunjukkan eksistensinya sebagai seorang raja sebagaimana klaimnya. Meskipun dalam beberapa kesempatan dia mengaku tidak hirau dengan sikap penolakan dari raja-raja Bali dan menganggapnya hanya sebagai curhat para penglingsir puri yang tidak bisa menerima dirinya yang masih 36 tahun sebagai raja.

Sosiolog Charles H Cooley dengan teori cermin diri mengungkapkan bahwa seseorang seringkali berimajinasi dan memikirkan tentang penilaian orang lain tentang dirinya. Seseorang akan bercermin melalui penilaian orang-orang lain untuk menilai dirinya sendiri dan bersikap dalam bersosialisasi. “Jadi, dalam imajinasi, kita merasakan dalam pikiran orang lain beberapa pemikiran tentang penampilan kita, sikap kita, tujuan kita, perbuatan kita, karakter kita, teman-teman kita, dan lain-lain, dan berbagai hal yang dipengaruhi olehnya” (Cooley, 1964:169)

Di samping itu juga Sosiolog George Herbert Mead yang membagi diri seseorang menjadi dua antara I dan Me. I adalah apa yang ingin seseorang lakukan sedangkan Me adalah apa yang diharapkan masyarakat terhadap diri seseorang. Kedua teori ini kemudian menginspirasi teori dramaturgi Erving Goffman.

Bagi Hoffman kehidupan sosial masyarakat tidak lebih dari sekadar panggung sandiwara belaka. Setiap orang akan berusaha menampilkan pertunjukan drama sesuai peran yang dilakoninya kepada audiens dalam hal ini masyarakat. Teori ini kemudian diterjemahkan Godbless menjadi sebuah lagu berjudul ‘Panggung Sandiwara’.

Goffman membagi panggung sandiwara ini menjadi dua bagian. Di antaranya front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang). Panggung depan inilah yang digunakan seseorang untuk memainkan perannya dalam sebuah pertunjukan sosial kepada masyarakat. Sedangkan panggung belakang tempat seseorang mempersiapkan diri untuk tampil di panggung depan.

Panggung depan masih dibagi Goffman menjadi dua bagian, di antaranya personal front (front pribadi) dan setting front. Personal front adalah bahasa verbal dan bahasa tubuh seorang aktor saat tampil di panggung sandiwara. Sementara setting front adalah aksesoris yang mendukung saat Wedakarna tampil di panggung depan.

Wedakarna yang memposisikan dirinya sebagai raja di panggung depan akan berusaha menampilkan diri selayaknya raja kepada masyarakat Bali yang dianggapnya sebagai rakyat. Salah satunya dengan menggelar acara pernikaha glamor sebagaimana mestinya seorang raja. Ia berimajinasi bahwa masyarakat Bali menganggapnya sebagai seorang raja sehingga dirinya harus tampil selayaknya raja. Jangan sampai klaimnya sebagai raja kembali diragukan rakyatnya hanya karena acara pernikahannya biasa saja.

Di samping itu yang tidak kalah penting seorang aktor harus bisa menyembunyikan hal-hal tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap penampilannya di panggung depan. Misal saja ia yang juga anggota Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) RI yang selalu ingin selalu disebut Senator ini memiliki latar belakang buruk yang membuat dirinya lama menjomblo, itu harus bisa disembunyikannya. Dalam melakukan pertunjukan, aktor harus mengabaikan standar lain misalnya menyembunyikan hinaan, pelecehan, atau perundingan yang dibuat sehingga pertunjukan dapat berlangsung (Ritzer, 2004:298). Inilah alasan kenapa Wedakarna memilih bersikap tenang ketika raja-raja dan penglingsir Puri-puri di Bali tidak mengakuinya sebagai raja.

Selain itu, saat tampil di panggung depan aktor harus bisa menampilkan kesan jarak sosial yang lebih dekat dengan masyarakat sebagai audiens. Ini ia tunjukkan dengan menggelar acara pernikahannya selama satu tahun di sembilan kabupaten/kota Bali untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Melalui pernikahan itu masyarakat yang dianggapnya sebagai rakyat diharapkan akan merasa diperhatikan oleh sang raja.

Karena itu selain ada yang tidak sepakat dengan klaimnya sebagai raja juga masih banyak rakyat yang mengakuinya sebagai raja. Meskipun riwayatnya diragukan, tetapi itu bisa tertutupi dengan penampilan yang mengesankan di panggung depan. Sesuai teori dramaturgi, seseorang yang memainkan sandiwara memiliki kepentingan yang ingin dicapainya melalui pertunjukan di panggung depan.

Begitupula ketika Wedakarna memainkan lakon sebagai Raja Majapahit, hanya dia yang tahu betul maksudnya. Seperti lirik lagu Panggung Sandiwara, ada peran wajar atau peran pura-pura dalam sandiwara. Peran Wedakarna sebagai Raja Majapahit menjadi wajar kalau memang dia seorang raja. Namun akan menjadi sebaliknya bila dia melakukannya hanya berpura-pura demi kepentingan lain.

Sesuai lagu itu, dunia ini memang penuh sandiwara. Tidak saja Wedakarna sebagai Raja Majapahit Bali, setiap diri kita mendapatkan satu peranan yang harus dimainkan. Kini tinggal kita memilih apakah berperan wajar atau peran pura-pura. Jangan sampai kita sebagai aktor memerankan ”Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak”. Cukup itu diperankan pelawak saja di panggung beneran untuk menghibur kita yang pusing dengan peran masing-masing di panggung sandiwara ini. Sekarang pertanyaannya adalah “Mengapa kita bersandiwara?”.

Lugas Wicaksono
Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang. Twitter: @lugaswicaksono
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.