in

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali


Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III dengan Ida Ayu Ketut Juni Supari dari Griya Suci Dencarik Banjar Buleleng. Acara pernikahan yang dikemas glamor dan eksklusif itu digelar di Istana Mancawarna Tampaksiring, Gianyar, Bali, Rabu (23/8/3017) lusa.

Hanya 500 orang yang diundang saja boleh masuk untuk menyaksikan rangkaian prosesi pertunangan sang raja. Tentu saja orang-orang yang diundang adalah mereka yang istimewa bagi raja. Pintu masuk istana dijaga cukup ketat. Para pengawal menerapkan sistem pengamanan berlapis, mirip paspampres membuat ring 1, ring 2 dan seterusnya saat mengamankan presiden.

Setelah itu, dalam waktu dekat sang raja segera melaksanakan upacara pernikahan yang tidak kalah gemerlap seusai acara pertunangan kemarin. Rangkaian pesta pernikahan ini akan dilaksanakan di sembilan kabupaten/kota di Bali selama satu tahun! Nah di pesta ini sang raja mempersilahkan para rakyat untuk menghadirinya. Humas Istana Mancawarna Dewa Anom Sukarno mengklaim bahwa pesta pernikahan ini akan menjadi pesta pernikahan terbesar di Bali pada abad ini. Tentu saja lebih besar daripada yang pernah dilaksanakan Puri-puri di Bali.

“Dari puri juga akan menyelenggarakan resepsi di sembilan kabupaten/kota mengingat antusias rakyat, dan juga kerabat yang ingin menjadi bagian dari royal wedding ini,” jelas Dewa Anom dikutip dari bali.tribunnews.com.

Klaim Wedakarna sebagai Raja Majapahit sebenarnya sudah jauh hari menjadi polemik. Raja dan penglingsir puri-puri se-Bali pada 9 Oktober 2011 lalu saat berkumpul di Puri Peliatan, Ubud, Gianyar, Bali sepakat tidak mengakui keberadaan Raja Majapahit di Bali. Belakangan memang banyak orang yang mengklaim dirinya sebagai Raja Majapahit. Taat Pribadi asal Probolinggo, Jawa Timur juga mengklaim sebagai Raja Majapahit dengan nama Dimas Kanjeng Taat Pribadi untuk menipu orang dengan modus bisa menggandakan uang.

Baca Juga :   Protes di Venezuela dan Kegagalan Sosialisme Bolivarian

Di tengah polemik gelar rajanya, sebenarnya Wedakarna melalui acara pernikahannya yang glamor tidak lebih hanya ingin menunjukkan eksistensinya sebagai seorang raja sebagaimana klaimnya. Meskipun dalam beberapa kesempatan dia mengaku tidak hirau dengan sikap penolakan dari raja-raja Bali dan menganggapnya hanya sebagai curhat para penglingsir puri yang tidak bisa menerima dirinya yang masih 36 tahun sebagai raja.


Sosiolog Charles H Cooley dengan teori cermin diri mengungkapkan bahwa seseorang seringkali berimajinasi dan memikirkan tentang penilaian orang lain tentang dirinya. Seseorang akan bercermin melalui penilaian orang-orang lain untuk menilai dirinya sendiri dan bersikap dalam bersosialisasi. “Jadi, dalam imajinasi, kita merasakan dalam pikiran orang lain beberapa pemikiran tentang penampilan kita, sikap kita, tujuan kita, perbuatan kita, karakter kita, teman-teman kita, dan lain-lain, dan berbagai hal yang dipengaruhi olehnya” (Cooley, 1964:169)

Di samping itu juga Sosiolog George Herbert Mead yang membagi diri seseorang menjadi dua antara I dan Me. I adalah apa yang ingin seseorang lakukan sedangkan Me adalah apa yang diharapkan masyarakat terhadap diri seseorang. Kedua teori ini kemudian menginspirasi teori dramaturgi Erving Goffman.

Bagi Hoffman kehidupan sosial masyarakat tidak lebih dari sekadar panggung sandiwara belaka. Setiap orang akan berusaha menampilkan pertunjukan drama sesuai peran yang dilakoninya kepada audiens dalam hal ini masyarakat. Teori ini kemudian diterjemahkan Godbless menjadi sebuah lagu berjudul ‘Panggung Sandiwara’.

Baca Juga :   Membaca Peta Politik Amien Rais

Goffman membagi panggung sandiwara ini menjadi dua bagian. Di antaranya front stage (panggung depan) dan back stage (panggung belakang). Panggung depan inilah yang digunakan seseorang untuk memainkan perannya dalam sebuah pertunjukan sosial kepada masyarakat. Sedangkan panggung belakang tempat seseorang mempersiapkan diri untuk tampil di panggung depan.

Panggung depan masih dibagi Goffman menjadi dua bagian, di antaranya personal front (front pribadi) dan setting front. Personal front adalah bahasa verbal dan bahasa tubuh seorang aktor saat tampil di panggung sandiwara. Sementara setting front adalah aksesoris yang mendukung saat Wedakarna tampil di panggung depan.

Wedakarna yang memposisikan dirinya sebagai raja di panggung depan akan berusaha menampilkan diri selayaknya raja kepada masyarakat Bali yang dianggapnya sebagai rakyat. Salah satunya dengan menggelar acara pernikaha glamor sebagaimana mestinya seorang raja. Ia berimajinasi bahwa masyarakat Bali menganggapnya sebagai seorang raja sehingga dirinya harus tampil selayaknya raja. Jangan sampai klaimnya sebagai raja kembali diragukan rakyatnya hanya karena acara pernikahannya biasa saja.

Di samping itu yang tidak kalah penting seorang aktor harus bisa menyembunyikan hal-hal tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap penampilannya di panggung depan. Misal saja ia yang juga anggota Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) RI yang selalu ingin selalu disebut Senator ini memiliki latar belakang buruk yang membuat dirinya lama menjomblo, itu harus bisa disembunyikannya. Dalam melakukan pertunjukan, aktor harus mengabaikan standar lain misalnya menyembunyikan hinaan, pelecehan, atau perundingan yang dibuat sehingga pertunjukan dapat berlangsung (Ritzer, 2004:298). Inilah alasan kenapa Wedakarna memilih bersikap tenang ketika raja-raja dan penglingsir Puri-puri di Bali tidak mengakuinya sebagai raja.

Baca Juga :   Sang Habib dan Kebebasan Kita

Selain itu, saat tampil di panggung depan aktor harus bisa menampilkan kesan jarak sosial yang lebih dekat dengan masyarakat sebagai audiens. Ini ia tunjukkan dengan menggelar acara pernikahannya selama satu tahun di sembilan kabupaten/kota Bali untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Melalui pernikahan itu masyarakat yang dianggapnya sebagai rakyat diharapkan akan merasa diperhatikan oleh sang raja.

Karena itu selain ada yang tidak sepakat dengan klaimnya sebagai raja juga masih banyak rakyat yang mengakuinya sebagai raja. Meskipun riwayatnya diragukan, tetapi itu bisa tertutupi dengan penampilan yang mengesankan di panggung depan. Sesuai teori dramaturgi, seseorang yang memainkan sandiwara memiliki kepentingan yang ingin dicapainya melalui pertunjukan di panggung depan.

Begitupula ketika Wedakarna memainkan lakon sebagai Raja Majapahit, hanya dia yang tahu betul maksudnya. Seperti lirik lagu Panggung Sandiwara, ada peran wajar atau peran pura-pura dalam sandiwara. Peran Wedakarna sebagai Raja Majapahit menjadi wajar kalau memang dia seorang raja. Namun akan menjadi sebaliknya bila dia melakukannya hanya berpura-pura demi kepentingan lain.

Sesuai lagu itu, dunia ini memang penuh sandiwara. Tidak saja Wedakarna sebagai Raja Majapahit Bali, setiap diri kita mendapatkan satu peranan yang harus dimainkan. Kini tinggal kita memilih apakah berperan wajar atau peran pura-pura. Jangan sampai kita sebagai aktor memerankan ”Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak”. Cukup itu diperankan pelawak saja di panggung beneran untuk menghibur kita yang pusing dengan peran masing-masing di panggung sandiwara ini. Sekarang pertanyaannya adalah “Mengapa kita bersandiwara?”.


Written by Lugas Wicaksono

Lahir di Malang 15 Maret 1990. Sarjana Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Twitter: @lugaswicaksono

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR