OUR NETWORK

Sambil Ngeteh Imajiner, Jokowi Ngomongin Cawapres ke Saya

Berita-berita seputar siapa cawapres Jokowi, akhir-akhir ini terus menjadi liputan empuk sejumlah media massa yang mampu membetot perhatian publik. Sayangnya, figur cawapres itu hanya Jokowi yang tahu dan tentu saja segelintir tokoh elit parpol pendukungnya.

Dalam sebuah kesempatan ngeteh sore imajiner di teras Istana Bogor, Jawa Barat, pak Jokowi bercerita kepada saya tentang siapa orang yang akan mendampinginya menjadi wapres, jika kelak dia terpilih kembali menjadi presiden RI periode kedua kalinya tahun 2019-2024. Berikut petikan obrolan teh sore itu.

“Sepertinya, soal siapa yang akan menjadi wakil saya, kalau saya terpilih lagi menjadi presiden, lebih heboh beritanya yaaa…ketimbang capresnya…hahaha…,” tutur Jokowi membuka percakapan sambil tertawa kecil.

“Kayaknya begitu pak, hahaha… (saya ikut tertawa). Ini pertarungan sengit antarkoalisi parpol pendukung bapak yang pada akhirnya melahirkan kesepakatan dan dapat diterima oleh semua elit parpol pendukung bapak. Tapi, dari sejumlah nama cawapres bapak, kayaknya bapak sudah punya calon kuat yaaa…benar ngak sih pak dugaan saya?” Tanya saya.

“Memang siapa sih, menurut dugaan Anda orang yang cocok untuk menjadi wakil saya?” Ujar Jokowi balik bertanya.

“Ngak beda sih pak dengan apa yang diberitakan pers. Nama-nama cawapres bapak sudah mengerucut menjadi tiga orang yatu TGB, Mahfud MD dan Arilangga Hartarto, atau mungkin bapak punya calon lain yang saya ngak tahu,” jawab saya spontan.

“Oohhh…gitu toh. Saya itu orangnya ngak suka neko-neko. Saya ingin wapres saya bisa bekerjasama dengan saya dan mau bekerja keras. Wapres saya juga harus mendapat dukungan dari parpol koalisi pendukung saya dan tidak mendapat resistensi tinggi dari rakyat dan parpol oposisi. Itu yang penting,” tandas Jokowi.

“Lantas, bagaimana pak dengan sejumlah kriteria cawapres yang sudah banyak disebut-sebut kalangan parpol yaitu seorang cawapres harus dekat dengan kalangan islam, militer, kaum profesional dan punya wawasan kebangsaan yang tinggi terhadap NKRI,” ujar saya.

“Itu khan… sifatnya usulan parpol dan semuanya baik serta ideal. Presiden itu khan dipilih rakyat. Jadi, boleh-boleh saja. Aspirasi rakyat lebih utama. Nama-nama calon yang Anda sebutkan tadi, nampaknya sudah sesuai dengan kriteria yang diinginkan parpol khan..,” ungkap Jokowi.

“Menurut bapak Kalau TGB gimana?” Tanya saya.

“Dia tokoh pesantren yang cukup dikenal. Dia juga seorang profesional. Perdebatannya dengan Amien Rais baru-baru ini dan adanya polemik dari sejumlah elit parpol PKS yang merasa dikhianati TGB, mungkin membuat TGB menjadi tidak nyaman untuk mendampingi saya. Selain itu, mungkin juga ada pertanyaan yang bersifat politis dari elit politik parpol koalisi pendukung saya dan dua kelompok ormas agama terbesar di Indonesia. Rakyat jadi bertanya-tanya, ada apa dengan TGB? Resistensi terhadap TGB dari kelompok tertentu nampak masih terlihat jelas. Buat saya, ini soal biasa saja. Tapi, buat TGB itu jelas sebuah tantangan, mampukah dia meredam resistensi itu,” kata Jokowi tenang.

“Bagaimana dengan Mahfud MD pak?” Tanya saya.

“Pak Mahfud itu orangnya baik lho… Dia berani bicara apa adanya terhadap orang atau kelompok-kelompok tertentu yang melakukan berbagai manuver politik negatif menjelang pilpres 2019. Dia juga orang NU dan dekat dengan kelompok islam dan militer. Dia juga seorang akademisi. Umumnya, rakyat juga sudah tahu rekam jejak pak Mahfud yang relatif bersih. Keberanian pak Mahfud untuk berpolemik di media massa terhadap kelompok-kelompok tertentu yang intoleransi dan mengeritik keras ormas-ormas radikal, tentu mengakibatkan posisi pak Mahfud terus menjadi sorotan publik dan sasaran ‘tembak’ serta perlawanan dari kelompok-kelompok yang anti pak Mahfud. Resistensi  ini sangat disadari oleh pak Mahfud. Ini ujian bagi pak Mahfud untuk membuktikan kepiawaiannya sebagai seorang tokoh publik,” papar Jokowi.

“Nah, kalau pak Airlangga Hartarto?” Tanya saya penasaran dengan sosok Ketum parpol Golkar ini di mata Jokowi.

“Pendapat Anda sendiri tentang sosok pak Airlangga Hartarto gimana? Coba saya ingin tahu,” ujar Jokowi balik bertanya kepada saya.

“Setahu saya sih…. pak Airlangga Hartarto pernah bertemu dengan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Natsir (12 April 2018). Waktu itu, mereka bertemu untuk membahas berbagai persoalan di tanah air, mungkin juga termasuk penyebutan nama pak Airlangga  yang masuk dalam bursa cawapres bapak. Setelah itu, pak Airlangga bertemu dengan Ketum PBNU Said Aqil Siradj (8 Juni 2018 ). Saat itu, pak Said berpesan agar Golkar mengupayakan kegiatan ekonomi yang mengutamakan kesejahteraan umat Islam. Jauh-jauh hari sebelum pak Airlangga bertemu Ketum PP Muhammadiyah dan PBNU, bapak khan pernah jogging dengan pak Airlangga di Istana Bogor, Sabtu 24 Maret 2018 lalu. Waktu itu, bapak mengatakan membicarakan banyak hal dengan pak Airlangga. “Ya ngobrol yang ringan-ringan saja, mengenai cawapres, bicara masalah negara, sambil joging, khan nggak apa-apa toh,” kata bapak waktu itu. Saya melihat, nampaknya ada chemistry antara bapak dengan pak Airlangga,” ungkap saya panjang lebar.

Mendengar penuturan saya tentang sosok Airlangga Hartarto, pak Jokowi hanya diam dan tersenyum kecil. Pak Jokowi meminta saya untuk menyudahi obrolan teh sore hari itu. Namun, saya masih penasaran, apa arti senyum pak Jokowi. Tapi yah…sudahlah…hari ini obrolan saya dengan pak Jokowi, kental dengan nuansa politis. Terima kasih pak Jokowi.

Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…