Rabu, April 14, 2021

Salam Penghormatan untuk Dua Maestro Indonesia

Musik di Asian Games Kurang Berdaulat

Asian Games telah mencapai purnanya pada 2 September kemarin di Gelora Bung Karno. Upacara seremoni penutupan tersebut berjalan dengan gemilang: tak kalah meriah dengan...

Berakhirnya Politik Hoaks

Politik dengan menyebarkan sentimen-sentimen permusuhan yang tujuannya meningkatkan ekskalasi ketakutan. Mengalami 'anti klimaks' Ya, kasus Ratna Sarumpet pekan lalu. Seakan membuka tabir kesadaraan kita. Bahwa...

Mutu Guru, Wewenang Siapa?

Era disrupsi merupakan era di mana terjadi perubahan mendasar atau fundamental dalam berbagai aspek dan kegiatan. Sebuah era peralihan dari dunia nyata ke dunia...

RA Kartini Menangis, Kenapa?

Euforia peringatan hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu menggelegar di langit Indonesia. Seluruh kaum perempuan dari Sabang sampai Merauke bersuka cita merayakan spirit...
Zain Rochmatiningsih
Penikmat seni.

Kita sudah pasti tak asing lagi dengan kabar berpulangnya Glenn Fredly dan Didi Kempot ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Selain kerabat dan keluarga, tentu kabar berpulangnya Glenn Fredly dan Didi Kempot menyisakan duka yang mendalam bagi industri musik Indonesia.

Tak sedikit pula masyarakat yang ikut merasakan duka pilu tersebut. Saya pun demikian, sebagai masyarakat penikmat musik saya juga merasa janggal jika tak memberikan salam penghormatan untuk kali terakhir kepada dua maestro ternama ini. Maka dari itu, tulisan ini lahir sebagai bentuk penghormatan saya kepada dua maestro pencipta karya-karya luar biasa yang mengharumkan nama Indonesia.

Setelah kabar duka mengenai berpulangnya Glenn Fredly pada hari Rabu 8 April 2020 lalu, menyusul kabar duka atas berpulangnya Didi Kempot pada hari Selasa 5 Mei 2020. Sungguh memilukan. Belum genap satu bulan kita semua telah kehilangan putra-putra terbaik Tanah Air.

Meskipun sama-sama meninggal pada masa pandemi Covid-19, bukan berarti kedua maestro meninggal karena terkena virus Corona. Bahkan sebelum meninggal, keduanya merupakan musisi yang memiliki kepedulian dan jiwa sosial dalam membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, yakni dengan menjadi penggerak penggalangan dana konser amal. Sangat Mengagumkam.

Najwa Shihab dalam akun instagramnya mengunggah pernyataan kepedulian dua Maestro yang ikut serta dalam acara penggalangan dana untuk korban terdampak pandemi Covid-19. Dalam unggahan 8 April 2020 tersebut Najwa menyatakan, “Sahabat saya, Glenn Fredly berpulang malam ini. Terakhir kami berkontak minggu lalu. Memintanya merekam video ini dan mengajaknya ikut konser musik amal #dirumahaja. Belakangan saya baru tahu ketika menyanyikan dan membuat video ini Kakak Glenn sedang menahan sakit kepala luar biasa. Tapi dia memang orang yang tidak pernah mau mengecewakan orang lain. Video ini adalah rekaman penampilan terakhirnya sebelum berpulang.”

Tak lupa juga dalam unggahan berikutnya 5 Mei 2020 Najwa menyatakan, “Tapi Didi bukan musikus air mata belaka. Ia punya kesahajaan sekaligus kepedulian terhadap sesama. Pada 28 Maret 2020 lalu, Didi ikut terlibat dalam konser #dirumahaja yang diinisiasi @narasi.tv. Konser ini bertujuan menggalang dana untuk membantu masyarakat terdampak corona.”

Secara pribadi, saya mulai familiar dengan karya-karya dua maestro ini sejak saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Terutama untuk karya-karya Didi Kempot, sampai sekarang pun setiap hari telinga saya mendengar lagu ciptaan sosok maestro yang dijuluki “The Godfather of Broken Heart” ini, karena ayah saya seorang kempoters sejati penggemar beliau.

Lagu-lagu khas berbahasa Jawa ciptaannya sarat akan kata-kata yang mengandung makna ambyar, yang selalu berhasil menarik hati para penikmatnya. Terakhir lagu ciptaan Didi Kempot yang saya dengar sebelum beliau berpulang berjudul “Tamba Teka Lara Lunga” dan “Ojo Mudik”. 

Dua karya yang menjadi saksi tentang betapa pedulinya beliau terhadap pandemi yang melanda negeri ini, serta bukti betapa hebatnya Sang Maestro dalam melahirkan karya-karyanya.

Mari bernostalgia sejenak, saat saya masih duduk di Sekolah Dasar, entah kelas berapa, sekitar tahun 2000-an, kali pertama saya mendengar lagu Didi Kempot ialah lagu yang berjudul “Kuncung”. Dulu lagu tersebut saya dengar melalui radio milik ayah saya. Karena sering disiarkan oleh stasiun radio, saya sampai hafal liriknya, tetapi bagian yang paling sering saya nyanyikan ialah “Tanggal limolas padhang njingglang mbulane bunder. Aku dikudang sok yen gedhe dadi dokter. Tanggal limolas padhang njingglang mbulane bunder. Bareng wis gedhe aku disuntik bu dokter”.

Pada saat itu saya belum memiliki kemampuan memahami keseluruhan makna lagu. Saya hanya senang menyanyikan bagian cuplikan lagu tersebut dengan bayangan bahwa kelak ketika dewasa saya akan menjadi seorang dokter, dan ternyata meleset, saya benar-benar hanya pernah disuntik oleh bu dokter.

Lagu karya Glenn Fredly juga kali pertama ramah di telinga saya sekitar tahun 2000-an. Saat itu saya menyukai lagu yang berjudul, “Salam Bagi Sahabat”. Saya mengetahui Glenn Fredly menyanyikan lagu tersebut di sebuah acara TV. Lagu yang menarik bagi saya kala itu, yang sesuai dengan kapasitas saya sebagai anak-anak.

Lirik yang paling saya suka ialah “Hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar. Harapan ada harapan ada bila kau mengerti. Hidupmu indah bila kau tahu jalan mana yang benar. Harapan ada harapan ada bila kau percaya”. Bahkan sampai sekarang pun saya masih menyanyikan lagu tersebut jika saya merasa down pada waktu tertentu. Sedangkan karya terakhir Glenn Fredly yang saya dengar berjudul, “Selesai”.

Sampai hari ini duka itu masih terasa. Dalam acara televisi, siaran radio, internet, media cetak, bahkan media sosial pribadi para penggemar Glenn Fredly dan Didi Kempot masih menyuarakan duka maupun kangen yang tak ada habisnya. Mengamati tagar meninggalnya Dedi Kempot di Twitter, tagar tentang Glenn Fredly pun ikut melejit. Dari situlah saya menilai bahwa betapa masyarakat Indonesia ini sangat mengidolakan dan mengenang kedua Maestro tersebut.

Istri Glenn Fredly, Mutia Ayu, dalam postingan instagramnya turut mengunggah karikatur kebersamaan dua Maestro sebagai ungkapan belasungkawa meninggalnya Didi Kempot dan menceritakan kisah percakapannya sebelum Glenn Fredly meninggal, “Bebe keren gak ya kalau di konser 25 tahun nanti aku duet sma beliau” dan saya bilang “wah keren banget, pasti ambyaar banget”. 

Tak disangka, keinginan Maestro Glenn merayakan konser 25 tahun berkarya dan Maestro Didi untuk merayakan konser 30 tahun berkarya harus terlaksana di tempat lain yang tak diketahui para penggemarnya di dunia ini.

Ya, seperti itulah kiranya jejak seseorang yang melahirkan karya-karya. Meski telah tiada, ia tetap abadi. Ia tetap di hati. Ia dicatat zaman. Selamat jalan para Maestro. Karya-karyamu dikenang pertiwi.

 

Zain Rochmatiningsih
Penikmat seni.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.