Rabu, April 14, 2021

Safron Iran Menghadapi Embargo Barat

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Santa Fest yang Mabuk dan Reuni 212 yang Bertuhan?

Sabtu malam kemarin saya berkunjung ke Santa Fest, sekadar berkeliling mencari sesuatu yang bisa dibeli dan dibawa pulang. Tentu juga tujuan utama menonton gigs...

Mabuk Piala Dunia, Ke Mana Timnas Senior Indonesia?

Saat tulisan ini disusun, publik sepak bola Indonesia sedang dilanda demam piala dunia, juga masih dimabuk buaian timnas U-19. Piala Dunia memang menciptakan euforia...

Judicial Review (Seharusnya) terhadap Perppu

Soal hak subjektif Presiden terhadap pembentukan Perppu MK (khususnya) menuai banyak kontroversi terkait isi dan bentuk Perppu itu sendiri. Perppu sebagai peraturan pemerintah sebagai...
Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional

Safron, rempah-rempah berwarna merah gelap dengan aromanya yang khas. Tak ayal bila banyak yang menyebutnya raja semua rempah-rempah. Emas merah Iran–sebutan Safron- ini memang dikenal sangat mahal harganya sekitar 2.000-10.000 dolllar per pon. Bahkan, mengalahkan beberapa hargalogam mulia.

Safron sendiri banyak tumbuh di daerah pegunungan Iran di daerah-daerah tertentu seperti di ProvinsiK horasan Razavi. Bunga Safron yang berwarna ungu itu tumbuh di setiap musim semi. Biasanya ia akan mekar hanya selama seminggu di musim itu. Bila cuaca mendukung, pada waktu pagi sekali, para petani akan memanennya dengan mengambil benang sari bunga saffron crocus (Crocus sativus). Untuk mendapatkan 1 gram safron akan membutuhkan 150 bunga.

Sebetulnya safron tidak hanya tumbuh di Iran saja. Pakistan, Yunani, Italia, dan Spanyol di beberapa daerahnya juga banyak ditumbuhi safron. Namun, 80-90 persen stok Safron internasional disuplai oleh Iran. Oleh sebab itu, Iran dikenal sebagai produsen utama Safron di dunia.

Pertengahan Januari 2016 lalu, sanksi embargo terhadap Iran sempat dicabut. Permintaan akan Safron melonjak naik. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak 15 tahun, safron Iran diekspor ke Amerika Serikat. Sebelumnya, ekspor safron sempat tenggelam selama satu dekade akibat sanksi embargo pemutusan hubungan ekonomi barat dengan Iran.

Dibukanya kembali kran ekspor safron Iran menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan dan industri dalam negeri Iran dalam menunjang kemampuan ekspor safron Iran. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga safron dalam negeri telah menjadi hambatan besar dalam ekspor safron. Hal ini karena sistem pertanian safron yang masih tradisional dan penjualan massal, ditambah lagi alur distribusi yang panjang menjadi beban tambahan dalam biaya produksi.

Di sisi lain, sanksi telah menciptakan pasar besar untuk produk palsu safron Iran. Terkadang, beberapa negara tertentu bertindak sebagai perantara. Mereka mengimpor safron asli dari Iran untuk di-rebrand kemudian mengekspornya ke pasar internasional atas nama mereka sendiri dengan harga yang lebih tinggi.

Di tengah pengenaan sanksi embargo, Iran sebetulnya tetap mengekspor safron ke beberapa negara. Akan tetapi total ekspor sangatlah sedikit. Bahkan, dalam 10 bulan terakhir sebelum sanksi dicabut, Dewan Safron Nasional Iran mencatat total nilai ekspor safron Iran hanya 110 juta dollar, menurun 35 persen dari periode yang sama pada tahun lalu. Kendati demikian, ekspor ke Amerika Serikat menjadi potensi dalam menambah total nilai ekspor safron Iran.

Sepanjang tahun 2014, dibawah sanksi embargo, Iran telah mengekspor 170 ton safron dengan total nilai ekspor 244 juta dollar ke 53 negara. Provinsi Khorasan Razavi menjadi daerah paling produktif di Iran yang menghasilkan safron dengan kualitas terbaik.

Di saat impor Safron Iran ke Amerika Serikat dilarang, kebutuhan safron Amerika Serikat disuplai dari Spanyol. Bahkan, Reuters melaporkan bahwa para pejabat Amerika Serikat telah mensurvey langsung pertanian Safron di Spanyol untuk memastikan mereka tidak mengambil safron Iran dalam ekspornya ke Amerika Serikat.

Namun, tak berlangsung lama, Amerika Serikat dibawah Donald Trump, menjatuhkan sanksi embargo kembali kepada Iran pada Agustus 2018 lalu. Akibatnya, impor produk-produk Iran, termasuk safron, terkendala. Kendati begitu, selama sanksi embargo Iran dicabut telah mampu mengangkat popularitas safron Iran.

Hingga kini, safron Iran pun masih banyak diburu. Safron sendiri tidak hanya dimanfaatkan untuk bumbu dapur saja. Bahkan, ia memiliki manfaat klinis sebagai antidepresan alami dan membantu memerangi Alzheimer dan kanker. Selain menjadi obat, safron juga diolah menjadi bahan-bahan kosmetik. Apakah Anda juga pernah menggunakan safron ?

Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.