Sabtu, Maret 6, 2021

Safron Iran Menghadapi Embargo Barat

Pertarungan Ulama Sana Versus Ulama Sini

Presiden Joko Widodo dalam jumpa pers di Restoran Plataran, Menteng, Kamis (09/08/2018) lalu, telah mengumumkan disepakati sebagai calon wakil presidennya adalah KH. Ma’ruf Amin....

Tonton Black Panther, Pahami Makna Diskriminasi

Siapa yang tak kenal Marvel? Dulunya, Marvel hanyalah sebuah perusahaan komik saja, namun sekarang, mereka telah memiliki studio sendiri dalam memproduksi filmnya. Studionya sendiri...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

Logika Tirai Warung Saat Puasa

“Puasa di Bulan Ramadhan. Menjaga hawa nafsu, tidak makan, dan tidak minum. Tirai warung ditutup” Ketika mencermati kata tersebut, terdapat tiga variabel. Mari kita membedah...
Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional

Safron, rempah-rempah berwarna merah gelap dengan aromanya yang khas. Tak ayal bila banyak yang menyebutnya raja semua rempah-rempah. Emas merah Iran–sebutan Safron- ini memang dikenal sangat mahal harganya sekitar 2.000-10.000 dolllar per pon. Bahkan, mengalahkan beberapa hargalogam mulia.

Safron sendiri banyak tumbuh di daerah pegunungan Iran di daerah-daerah tertentu seperti di ProvinsiK horasan Razavi. Bunga Safron yang berwarna ungu itu tumbuh di setiap musim semi. Biasanya ia akan mekar hanya selama seminggu di musim itu. Bila cuaca mendukung, pada waktu pagi sekali, para petani akan memanennya dengan mengambil benang sari bunga saffron crocus (Crocus sativus). Untuk mendapatkan 1 gram safron akan membutuhkan 150 bunga.

Sebetulnya safron tidak hanya tumbuh di Iran saja. Pakistan, Yunani, Italia, dan Spanyol di beberapa daerahnya juga banyak ditumbuhi safron. Namun, 80-90 persen stok Safron internasional disuplai oleh Iran. Oleh sebab itu, Iran dikenal sebagai produsen utama Safron di dunia.

Pertengahan Januari 2016 lalu, sanksi embargo terhadap Iran sempat dicabut. Permintaan akan Safron melonjak naik. Bahkan, untuk pertama kalinya sejak 15 tahun, safron Iran diekspor ke Amerika Serikat. Sebelumnya, ekspor safron sempat tenggelam selama satu dekade akibat sanksi embargo pemutusan hubungan ekonomi barat dengan Iran.

Dibukanya kembali kran ekspor safron Iran menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan dan industri dalam negeri Iran dalam menunjang kemampuan ekspor safron Iran. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga safron dalam negeri telah menjadi hambatan besar dalam ekspor safron. Hal ini karena sistem pertanian safron yang masih tradisional dan penjualan massal, ditambah lagi alur distribusi yang panjang menjadi beban tambahan dalam biaya produksi.

Di sisi lain, sanksi telah menciptakan pasar besar untuk produk palsu safron Iran. Terkadang, beberapa negara tertentu bertindak sebagai perantara. Mereka mengimpor safron asli dari Iran untuk di-rebrand kemudian mengekspornya ke pasar internasional atas nama mereka sendiri dengan harga yang lebih tinggi.

Di tengah pengenaan sanksi embargo, Iran sebetulnya tetap mengekspor safron ke beberapa negara. Akan tetapi total ekspor sangatlah sedikit. Bahkan, dalam 10 bulan terakhir sebelum sanksi dicabut, Dewan Safron Nasional Iran mencatat total nilai ekspor safron Iran hanya 110 juta dollar, menurun 35 persen dari periode yang sama pada tahun lalu. Kendati demikian, ekspor ke Amerika Serikat menjadi potensi dalam menambah total nilai ekspor safron Iran.

Sepanjang tahun 2014, dibawah sanksi embargo, Iran telah mengekspor 170 ton safron dengan total nilai ekspor 244 juta dollar ke 53 negara. Provinsi Khorasan Razavi menjadi daerah paling produktif di Iran yang menghasilkan safron dengan kualitas terbaik.

Di saat impor Safron Iran ke Amerika Serikat dilarang, kebutuhan safron Amerika Serikat disuplai dari Spanyol. Bahkan, Reuters melaporkan bahwa para pejabat Amerika Serikat telah mensurvey langsung pertanian Safron di Spanyol untuk memastikan mereka tidak mengambil safron Iran dalam ekspornya ke Amerika Serikat.

Namun, tak berlangsung lama, Amerika Serikat dibawah Donald Trump, menjatuhkan sanksi embargo kembali kepada Iran pada Agustus 2018 lalu. Akibatnya, impor produk-produk Iran, termasuk safron, terkendala. Kendati begitu, selama sanksi embargo Iran dicabut telah mampu mengangkat popularitas safron Iran.

Hingga kini, safron Iran pun masih banyak diburu. Safron sendiri tidak hanya dimanfaatkan untuk bumbu dapur saja. Bahkan, ia memiliki manfaat klinis sebagai antidepresan alami dan membantu memerangi Alzheimer dan kanker. Selain menjadi obat, safron juga diolah menjadi bahan-bahan kosmetik. Apakah Anda juga pernah menggunakan safron ?

Diautoriq Husain
Penulis isu-isu internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.