Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Saatnya Upgrade Budaya Kampus | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Saatnya Upgrade Budaya Kampus

Magnis Suseno dan Hantu Politik Indonesia

Minus mallum atau Lesser evil adalah istilah yang lazim kita dengar kala menjelang pemilihan umum di Indonesia. Teori ini biasanya didengungkan untuk menjinakkan gelombang masyarakat yang tidak...

Peluang Gerakan Mahasiswa Kekinian

Mahasiswa memiliki sejarah yang tak bisa dilupakan di Indonesia, ia hadir dalam bentuk kelompok-kelompok pergerakan penentu arah politik. Dimulai dari proses kemerdekaan hingga gerakan...

Catatan Pemberantasan Korupsi 2019

Tak terasa tahun 2019 akan segera berakhir, momen di penghujung tahun selalu dipergunakan untuk melakukan refleksi semua hal yang telah dilakukan sepanjang tahun. Gunanya...

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940

Hari ini umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940. Perayaan Nyepi, mengandung makna sakral yang tidak hanya dirasakan oleh umat Hindu,...
Beni Agus Prasetiono
Dosen di STKIP Pamane Talino Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi

Menurut artikel Fachrirozi dengan judul Paradigma kampus sebagai center of exelent, disana terdapat beberapa bahasan yang menarik. Beberapa bahasan tersebut adalah menjelaskan mengenai kampus sebagai kaderisasi pemimpin-pemimpin bangsa. Topik bahasan ini sangat menarik karena faktanya pemimpin-pemimpin bangsa lahir dan melalui pendidikan di lingkungan kampus.

Meninjau teori lain mengenai penyimpangan sosial, Edwin H. Sutherland dengan “Differential Association theory” menyatakan, “believes that the behaviors of an individual are influenced and shaped by other individuals they associate with”. Melalui teori ini seseorang mempelajari kebudayaan menyimpang.

Meninjau dari pernyataan di atas, maka terdapat beberapa budaya di lingkungan kampus yang harus diupgrade. Beberapa budaya di lingkungan kampus ini antara lain:

1. Suka dengan jam kosong

Hayow, siapa yang tidak suka ketika jam kuliah kosong? Kebanyakan mahasiswa pasti suka dengan jam kuliah kosong, karena waktu tersebut dapat digunakan oleh mahasiswa untuk aktivitas pribadi, seperti jalan2 ke mall, shoping, nongkrong, atau bahkan kembali ke kos melanjutkan hibernasi. Haha

Padahal kalau kita tinjau dari aspek afektif, jam kosong menandakan bahwa dosen kita tidak disiplin, tidak amanah. Jangan sampai jam kosong menjadi budaya yang mengakibatkan dosen itu sendiri menjadi malas. Hal demikian dapat terjadi jika kalian sebagai mahasiswa kurang kritis dengan jam kosong.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari faktor kenapa jam kuliah bisa kosong. Langkah berikutnya adalah mintalah ganti jam yang ditinggalkan tersebut pada hari lain terhadap dosen yang bersangkutan. Hal ini normal anda lakukan sebagai mahasiswa karena anda memang harus mendapatkan hak tersebut. Bentuk penyimpangan ini terkesan sederhana, akan tetapi jika hal tersebut tidak ditangani, maka akan berakibat kepada pembentukan karakter yang tidak disiplin.

Bahaya lain apabila jam kosong menjadi budaya adalah rawannya ngaji. Apa ngaji? Dalam istilah jawa, kata tersebut berarti “ngarang biji” atau dalam bahasa Indonesia disebut “membuat nilai yang tidak obyektif”.

Budaya kuliah kosong menjadikan dosen tidak pernah memberikan materi, tidak hafal dengan mahasiswa, dan prosedur dalam pemberian nilai menjadi tidak wajar. Memang terasa aneh tapi memang terjadi demikian adanya. Efek yang lebih luas selain memberi dampak menimbulkan pengaruh menyimpang tidak disiplin, juga memberikan pengaruh untuk melakukan kesalahan prosedur dalam kerja.

2. Tugas dalam bentuk makalah

Dalam hal ini, Handar Subhandi menyatakan bentuk penyimpangan yang disebut “teori kontrol”. dalam teori tersebut dikatakan bahwa penyimpangan adalah hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Tugas dalam bentuk makalah adalah tugas yang umum diberikan kepada mahasiswa. Tapi apakah anda tau bahwa tugas tersebut sekarang sering diselewengkan karena kurangnya pengawasan. Penyelewengan disini adalah dalam bentuk proses pembuatannya.

Pada zaman “now” yang semua serba google, tidak dapat dipungkiri banyak yang melewatkan proses yang benar. Penyusunan makalah lebih kepada bentuk formalitas saja guna melengkapi tugas dosen. Penyusunan makalah lebih ke arah copy paste saja. Apakah anda sadar, hal tersebut menjadikan kita menjadi pemalas. Budaya copy paste mengajari kita untuk menjadi mental penjiplak. Copy paste membuat ide-ide kita menjadi terkurung. Apabila kebiasaan ini berkelanjutan, maka tidak dipungkiri akan membuat kita menjadi manusia bermental instan. Bahaya!!!

3. Pemberian hadiah

Pemberian hadiah kepada dosen adalah suatu hal yg biasa. Bahkan pemberian hadiah merupakan bentuk apresiasi oleh mahasiswa kepada dosen. Akan tetapi pemberian hadiah perlu dipertimbangkan ulang oleh pihak dosen. Banyak faktor yang dapat melatarbelakangi pemberian hadiah. Pertimbangan latar belakang tersebut sebaiknya dipikirkan ulang oleh seorang dosen.

Apabila kita kaji mengenai pemberian hadiah, maka kita akan temukan hal yang mirip di dalam Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu gratifikasi. Gratifikasi diatur dalam Pasal 12B Undang-Undang tersebut di atas.

Dalam penjelasan pasal tersebut, gratifikasi didefinisikan sebagai suatu pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat,komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan,perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya,yang diterima di dalam negeri maupun yang di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronika maupun tanpa sarana elektronika.

Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dipikirkan ulang mengenai pemberian hadiah yang diberikan oleh mahasiswa. Sebaiknya hindari hal-hal yang bersifat abu-abu. Budaya demikian dapat mempengaruhi dalam pembuatan keputusan.

Jangan sampai seorang dosen terikat dan merasa berhutang budi dengan hal tersebut. Alangkah bijaknya apabila budaya demikian dihindari. Kalaupun harus menerima, usahakan tidak ada lagi hubungan yang dapat mengakibatkan perubahan ketika mengambil keputusan. Hal yang sederhana dan umum dalam pemberian hadiah adalah penyajian konsumsi saat sidang skripsi.

Hal yang sangat sederhana tapi sangat fatal apabila hadiah tersebut menjadi budaya. Apabila hal tersebut dilakukan dengan tujuan/ maksud tertentu, efek jangka panjang dari budaya tersebut adalah proses suap yang sekarang membudaya di lingkungan birokrasi pemerintahan.

Daftar Pustaka:

http://handarsubhandi.blogspot.com/2014/09/teori-penyimpangan-perilaku.html

Kampus Adalah Mata Air,Mengaplikasikan Paradigma Kampus Sebagai Center Of Excellence

Sutherland, Edwin Hardin. (1974). Criminology (9th ed.). Philadelphia: Lippincott.

Kutipan dari:

http://criminology.wikia.com/wiki/Differential_Association_Theory

Beni Agus Prasetiono
Dosen di STKIP Pamane Talino Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.