Jumat, Januari 22, 2021

Saatnya Upgrade Budaya Kampus

Menghargai Perokok Pasif

Merokok tentu saja menjadi hak yang dimiliki oleh setiap orang. Akan tetapi seringkali dengan merasa bahwa memiliki hak tersebut, maka orang lupa akan sikap...

Suara Rakyat yang Tercekik

Saya bukan siapa-siapa. Bukan aktivis. Bukan praktisi hukum. Bukan politisi pro rakyat. Juga bukan SJW partisan maupun non partisan. Tak pernah ikut demo. Tak...

Aktivis Pendidikan Sebagai Pahlawan Pembangunan Masyarakat

Konsep mengenai pembangunan selalu menjadi hal yang menarik dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan sendiri yang berarti perubahan menuju lebih baik menjadi pertanyaan besar...

Baptisan Jenazah

Baptis secara sederhana dimaknai sebagai penanda kalau seseorang telah mengimani agama Kristen baik itu Protestan, Katolik Roma maupun ortodoks. Dalam implementasinya setiap denominasi tentu...
Beni Agus Prasetiono
Dosen di STKIP Pamane Talino Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi

Menurut artikel Fachrirozi dengan judul Paradigma kampus sebagai center of exelent, disana terdapat beberapa bahasan yang menarik. Beberapa bahasan tersebut adalah menjelaskan mengenai kampus sebagai kaderisasi pemimpin-pemimpin bangsa. Topik bahasan ini sangat menarik karena faktanya pemimpin-pemimpin bangsa lahir dan melalui pendidikan di lingkungan kampus.

Meninjau teori lain mengenai penyimpangan sosial, Edwin H. Sutherland dengan “Differential Association theory” menyatakan, “believes that the behaviors of an individual are influenced and shaped by other individuals they associate with”. Melalui teori ini seseorang mempelajari kebudayaan menyimpang.

Meninjau dari pernyataan di atas, maka terdapat beberapa budaya di lingkungan kampus yang harus diupgrade. Beberapa budaya di lingkungan kampus ini antara lain:

1. Suka dengan jam kosong

Hayow, siapa yang tidak suka ketika jam kuliah kosong? Kebanyakan mahasiswa pasti suka dengan jam kuliah kosong, karena waktu tersebut dapat digunakan oleh mahasiswa untuk aktivitas pribadi, seperti jalan2 ke mall, shoping, nongkrong, atau bahkan kembali ke kos melanjutkan hibernasi. Haha

Padahal kalau kita tinjau dari aspek afektif, jam kosong menandakan bahwa dosen kita tidak disiplin, tidak amanah. Jangan sampai jam kosong menjadi budaya yang mengakibatkan dosen itu sendiri menjadi malas. Hal demikian dapat terjadi jika kalian sebagai mahasiswa kurang kritis dengan jam kosong.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari faktor kenapa jam kuliah bisa kosong. Langkah berikutnya adalah mintalah ganti jam yang ditinggalkan tersebut pada hari lain terhadap dosen yang bersangkutan. Hal ini normal anda lakukan sebagai mahasiswa karena anda memang harus mendapatkan hak tersebut. Bentuk penyimpangan ini terkesan sederhana, akan tetapi jika hal tersebut tidak ditangani, maka akan berakibat kepada pembentukan karakter yang tidak disiplin.

Bahaya lain apabila jam kosong menjadi budaya adalah rawannya ngaji. Apa ngaji? Dalam istilah jawa, kata tersebut berarti “ngarang biji” atau dalam bahasa Indonesia disebut “membuat nilai yang tidak obyektif”.

Budaya kuliah kosong menjadikan dosen tidak pernah memberikan materi, tidak hafal dengan mahasiswa, dan prosedur dalam pemberian nilai menjadi tidak wajar. Memang terasa aneh tapi memang terjadi demikian adanya. Efek yang lebih luas selain memberi dampak menimbulkan pengaruh menyimpang tidak disiplin, juga memberikan pengaruh untuk melakukan kesalahan prosedur dalam kerja.

2. Tugas dalam bentuk makalah

Dalam hal ini, Handar Subhandi menyatakan bentuk penyimpangan yang disebut “teori kontrol”. dalam teori tersebut dikatakan bahwa penyimpangan adalah hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Tugas dalam bentuk makalah adalah tugas yang umum diberikan kepada mahasiswa. Tapi apakah anda tau bahwa tugas tersebut sekarang sering diselewengkan karena kurangnya pengawasan. Penyelewengan disini adalah dalam bentuk proses pembuatannya.

Pada zaman “now” yang semua serba google, tidak dapat dipungkiri banyak yang melewatkan proses yang benar. Penyusunan makalah lebih kepada bentuk formalitas saja guna melengkapi tugas dosen. Penyusunan makalah lebih ke arah copy paste saja. Apakah anda sadar, hal tersebut menjadikan kita menjadi pemalas. Budaya copy paste mengajari kita untuk menjadi mental penjiplak. Copy paste membuat ide-ide kita menjadi terkurung. Apabila kebiasaan ini berkelanjutan, maka tidak dipungkiri akan membuat kita menjadi manusia bermental instan. Bahaya!!!

3. Pemberian hadiah

Pemberian hadiah kepada dosen adalah suatu hal yg biasa. Bahkan pemberian hadiah merupakan bentuk apresiasi oleh mahasiswa kepada dosen. Akan tetapi pemberian hadiah perlu dipertimbangkan ulang oleh pihak dosen. Banyak faktor yang dapat melatarbelakangi pemberian hadiah. Pertimbangan latar belakang tersebut sebaiknya dipikirkan ulang oleh seorang dosen.

Apabila kita kaji mengenai pemberian hadiah, maka kita akan temukan hal yang mirip di dalam Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yaitu gratifikasi. Gratifikasi diatur dalam Pasal 12B Undang-Undang tersebut di atas.

Dalam penjelasan pasal tersebut, gratifikasi didefinisikan sebagai suatu pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat,komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan,perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya,yang diterima di dalam negeri maupun yang di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronika maupun tanpa sarana elektronika.

Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dipikirkan ulang mengenai pemberian hadiah yang diberikan oleh mahasiswa. Sebaiknya hindari hal-hal yang bersifat abu-abu. Budaya demikian dapat mempengaruhi dalam pembuatan keputusan.

Jangan sampai seorang dosen terikat dan merasa berhutang budi dengan hal tersebut. Alangkah bijaknya apabila budaya demikian dihindari. Kalaupun harus menerima, usahakan tidak ada lagi hubungan yang dapat mengakibatkan perubahan ketika mengambil keputusan. Hal yang sederhana dan umum dalam pemberian hadiah adalah penyajian konsumsi saat sidang skripsi.

Hal yang sangat sederhana tapi sangat fatal apabila hadiah tersebut menjadi budaya. Apabila hal tersebut dilakukan dengan tujuan/ maksud tertentu, efek jangka panjang dari budaya tersebut adalah proses suap yang sekarang membudaya di lingkungan birokrasi pemerintahan.

Daftar Pustaka:

http://handarsubhandi.blogspot.com/2014/09/teori-penyimpangan-perilaku.html

Kampus Adalah Mata Air,Mengaplikasikan Paradigma Kampus Sebagai Center Of Excellence

Sutherland, Edwin Hardin. (1974). Criminology (9th ed.). Philadelphia: Lippincott.

Kutipan dari:

http://criminology.wikia.com/wiki/Differential_Association_Theory

Beni Agus Prasetiono
Dosen di STKIP Pamane Talino Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.