OUR NETWORK

Rumput Tetangga yang Lebih Hijau

Perlu keajaiban dari Yang Maha Kuasa agar Manchester City gagal juara FA CUP musim ini.
Britain Football Soccer - Ajax Amsterdam v Manchester United - UEFA Europa League Final - Friends Arena, Solna, Stockholm, Sweden - 24/5/17 Groundstaff work on the pitch before the match Reuters / Phil Noble Livepic *** Local Caption *** Petugas lapangan bekerja sebelum dimulainya pertandingan antara Ajax Amsterdam dengan Manchester United dalam laga Final UEFA Eropa di Friends Arena, Solna, Stockholm, Swedia, Rabu (24/5). ANTARA FOTO/Reuters / Phil Noble Livepic/djo/17

Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri. Hal tersebut adalah perumpamaan yang memiliki makna bahwa apa yang dimiliki oleh orang lain, biasanya terlihat lebih indah (lebih baik) dari apa yang kita miliki. Dalam pada kenyataannya, “rumput” Etihad Stadium di Kota Manchester saat ini lebih hijau dibandingkan rumut Old Trafford Kota Manchester. Ya, mereka berpeluang meraih quadraple winner (meraih empat gelar sekaligus) musim ini.

Pada laga FA CUP musim ini, Manchester City sudah berada di semifinal FA CUP dengan lawan yang tersisa “hanya” Watford, Wolves, dan Brighton/Millwall saja. Perlu keajaiban dari Yang Maha Kuasa agar Manchester City gagal juara FA CUP musim ini. Perlu diingat bahwa Manchester City sudah memenangkan Piala Liga musim ini dengan mengalahkan Chelsea pada final Piala Liga. Manchester City juga sudah memenangkan laga Community Shield kontra Chelsea di awal usim ini.

Saat ini juga, Manchster City menempati posisi kedua klasemen Liga Primer Inggris dengan torehan 74 poin hingga tulisan ini ditulis. Meski tertinggal 2 poin dengan Liverpool, The Citizen masih menyisakan satu pertandingan dibandingkan The Reds, yang kemungkinan besar akan kembali dimenangkan oleh he Citizen. Pada kompetisi Liga Champions, perjalanan The Citizen masih harus mendaki gunung yang tinggi, namun bukan berarti mustahil untuk didaki dengan squad yang sangat fantastis tersebut. Menyebalkan, tapi itu faktanya.

Jika ada orang yang bilang bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, saya pikir orang tersebut sangatlah munafik. Barangkali, dia belum melihat bagaimana perubahan besar-besaran dari Manchester City semenjak dibeli Syekh Mansoir bin Zayed. Klub yang duluya bukan apa-apa, sekarang menjelma menjadi raksasa yang menakutkan dengan pemain bintang yang dinahkodai oleh manajer kelas dunia Pep Guardiola yang telah sukses menahkodai Barcelona dan Bayern Munich sebelum hijrah ke Manchester.

Memang, deretan pemain bintang bukanlah jaminan bahwa tim tersebut akan menjuarai sebuah kompetisi. Apalagi memiliki mental juara. Perlahan namun pasti, Manchster City berusaha mengukir sejarah. Dan seketika, banyak fans dadakan dari The Citizen tersebut. Lah, selama ini kemana saja? Kalau ngaku fans, kenapa gak dari zaman sebelum Syekh Mansoir beli klub ini? Apa Anda Glory Hunter belaka?

Sebuah dilema bagi fans Setan Merah seperti saya, yang sudah lebih dari dua dekade mengikuti klub kesayangan saya tersebut. Melihat rival yg berpotensi menyamai rekor club yang saya cintai. Maksud dari tulisan ini bukanlah bagaimana saya yang hanya fans dari layar kaca yang lebih mengurusi tim rival dan hanya bisa nyinyir saja, namun seharusnya ini menjadi pukulan telak bagi board dan manajemen Manchester United untuk berbenah dan jangan membiarkan tim rival, si tetangga yang berisik itu berkuasa terlalu lama!

Tanpa bermaksud menyebarkan kebencian, saya pikir bebas saja siapapun pemenang Liga Inggris musim ini, asal bukan Liverpool! Saya hanya mengitup perkataan Sir Alex Ferguson berikut ini, “My greatest challenge is not what’s happening at the moment. My greatest challenge was knocking Liverpool right off their fucking perch. And you can print that.” Salah satu tradisi United adalah bersaing ketat dengan Liverpool.

Liverpool yang kala itu mengoleksi torehan 18 kali juara Liga Inggris mampu Fergie susul sehingga torehan Setan Merah saat ini adalah 20 kali juara Liga Inggris. Meskipun, saya juga tidak rela jika “si tetangga berisik”, yaitu Manchester “the fastfood FC” City menjuarai Liga Inggris.

Saya tidak ingin klub kesayangan kita pada akhirnya seperti Liverpool. Sang penguasa gelar juara Liga Inggris terbanyak, yang akhirnya disusul oleh rivalnya, Manchester United. Yang seketika, sejak saya lahir di tahun 1992, tidak pernah juara lagi Liga Inggris. Next year will be our years. Begitu saja terus sampai saya punya cucu kelak. Atau, seperti Arsenal yang menjadi satu-satunya klub liga Inggris yang tidak terkalahkan pada musim 2003/2004 dan tidak pernah juara lagi setelahnya. Saya tidak ingin hal tersebut terjadi.

Jangan sampai, Setan Merah menjadi klub yang hanya membanggakan sejarah masa lalunya seperti bagaimana dramatisnya Treble Winner 98/99 yang lalu, dan bagaimana luar biasanya The Class of 92, ketika The Citizen sedang membangun sejarah baru dalam dunia sepakbola.

Manchester United dan segenap jajarannya, dari board, manajemen, para pemain sampai para fansnya, janganlah terlena akan bulan madu yang singkat antara Solksjaer dan Setan Merah. Nyatanya, untuk kembali ke posisi empat besar saja, saat ini United butuh lebih dari sekedar keajaiban.

Dan Teruntuk Board member, yakni keluarga Glazer, tentu saja bukanlah favorit saya. Bagaimana cara Glazer merebut kekuasaan di Old Trafford yang sebagian besar disebabkan oleh hutang pitutang membuat nama besar Manchester United ternodai. Di atas kertas, Setan Merah bisa saja lebih kaya dari The Citizen. Tapi ayolah! Jangan intervensi manajemen dan kepelatihannya dan beri kebebasan bagi siapapun yang memegang kursi manajer untuk membeli pemain-pemain yang dibutuhkan! Jangan sampai kita mengalami apa yang dialami oleh Liverpool dan Arsenal yang saya jabarkan di atas. Salam olahraga! #GGMU

Aku adalah aku. Tidak kurang dan tidak lebih

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…