Banner Uhamka
Jumat, September 18, 2020
Banner Uhamka

Roti Beraroma Cinta

Kebangkitan PKI: Paranoia Korban Hegemoni

Apa yang terjadi dua hari kemarin, Sabtu dan Minggu, 16-17 September 2017 di depan gedung YLBHI, yaitu pembubaran paksa diskusi pelurusan sejarah 65 dan...

Inisiasi Gerakan Peduli Pendidikan Bagi Anak Miskin

“Anak-anak yang putus sekolah itu masih bingung. Bekerja juga serabutan, dan kami sulit menggali informasi apa yang mereka butuhkan” Pernyataan itu dari seorang warga di...

Duet Rhoma Irama-Via Vallen: Kekuasaan Meredup Perlawanan Menuai Titik Terang

Harapan tinggi dialamatkan kepada Via Vallen untuk ‘mengangkat’ citra dangdut koplo di belantika musik tanah air. Pasalnya dangdut koplo mengalami ‘kesialan’ berlipat, yakni dianggap...

NU, Muhammadiyah, dan Defisit Kemajemukkan di Indonesia

Suguhan konflik negeri ini nampaknya telah terlampau kelewat ambang batas. Gesekan-gesekan yang terjadi dalam masyarakat semakin menumbalkan rasa persaudaraan, kesatuan dan kebhinnekaan. UU tentang...
Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa

Saya tinggal di pinggiran Solo. Ketika menuju kawasan kota, bau jalanan acapkali sewangi bau adonan roti yang tertelecek. Solo dari pinggiran menuju kota hanya terbentang belasan kilometer. Kira-kira ada delapan toko cum perusahaan roti yang kulewati sepanjang jalan. Itupun hanya yang kuketahui dan kebetulan letaknya persis di pinggir jalan raya. Di antara yang delapan itu, ada satu perusahaan roti legendaris: Orion.

Terletak di Jalan Urip Sumoharjo yang notabennya ialah kawasan sentral perekonomian Solo sejak berabad-abad lalu. Perusahaan roti Orion ada sejak tahun 1932 ketika Njoo Hong Yauw pindah dari Tulungagung menuju Solo.

Sebelumnya, sepupu Njoo Hong Yauw lebih dulu membuka usaha dengan nama yang sama di Pasuruan. Termasuk di Kediri, sepupu lainnya telah membuka Orion pada tahun 1929. Nama Orion sebagai produsen dan toko roti ternyata memiliki sejarah panjang di Jawa Timur. Sebelum Njoo Hong Yauw, beberapa pendahulunya sudah lebih dulu khusyuk menggauli bakeri (Redana, 2018: 12).

Tak hanya menjadi saksi bisu, Orion beserta orang-orang di dalamnya menjadi pelaku aktif dalam kehidupan sejarah Solo pada tiga jaman berbeda. Masa pendudukan Belanda, Jepang, dan masa-masa kemerdekaan. Pada masa-masa itu posisi Orion sebagai perusahaan roti cukup diperhitungkan.

Tentara-tentara Belanda dan Jepang jelas membutuhkan persediaan logistik, baik untuk kegiatan berjaga maupun menyiapkan daya kuat tubuh melawan inlander. Kebetulan letak markas penjajah ada di Benteng Vastenburg, tak jauh dari Orion. Sehingga mudah saja bagi para penjajah untuk bolak-balik mengangkut roti dari Orion ke Benteng Vastenburg. Ketika perut kenyang, segala keadaan terkendali. Begitu para penjajah menyadari.

Kendatipun demikian, Njoo Hong Yauw tak serta merta mencari keuntungan di sela penderitaan rakyat Solo. Penolakannya memproduksi militaire bakkerij untuk tentara Belanda  membuat mereka nekad memproduksi sendiri roti untuk para tentaranya. Seorang koki tentara memimpin produksi militaire bakkerij di perusahaan Orion.

Njoo Hong Yauw terpaksa lari ke rumah kawannya. Sadar bahwa para pegawainya butuh makan, ia membiarkan mereka bekerja pada Belanda.  Masa-masa kemerdekaan ialah masa-masa susah memperoleh bahan baku. Njoo Hong Yauw memanfaatkan umbi untuk bahan dasar tepung yang akhirnya menghasilkan kue mandarijn seperti yang kita kenal sekarang. Mandarijn artinya priyayi cina. 

Cinta yang Terus Tumbuh

Orion selanjutnya ialah kerja tekun antara dua manusia yang menyatu dalam cinta, Njoo Hong Yauw dan Tjan Giok Nio. Sementara suami mengurusi makro perusahaan, istri mengurusi hal-hal mikro. Barang-barang yang tidak terpakai dalam produksi roti seperti putih telur dijual oleh Tjan Giok Nio dengan terlebih dahulu dikukus. Pengusaha suami istri ini juga sangat dekat dengan para pegawainya.

Dalam hal ini, saya jadi ingat sosok Marno dalam novel lawas berlatar Solo tahun 1950an, Solo Diwaktu Malam karangan Kamadjaja. Marno ialah seorang muda juragan batik yang amat disayang para pegawainya. Relasi yang dibangun dengan para pegawai ialah relasi kekeluargaan, bukan antara majikan dan pekerja. Tak ada jarak yang kaku antar mereka.

Kemiripan sosok Marno dengan Njoo Hong Yauw dan anak lelakinya Njoo Tik Tjiong (kelak berganti nama menjadi Purwohadi Sanjoto, pen) ialah sama-sama enggan duduk santai di rumah menikmati capaian diri selaku pengusaha sukses. Mereka terlibat aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan pada masa-masa genting kemerdekaan.

Marno dan Purwohadi Sanjoto – selanjutnya disebut Sanjoto— sama-sama aktif menginisiasi gerakan pemuda untuk mendorong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kalau Marno hidup di dalam dunia fiktif novel, Sanjoto ialah tokoh dalam semesta nyata.

Perkara asmara, barangkali Sanjoto lebih beruntung dibanding Marno. Sama-sama ditinggal nikah perempuan pujaannya dengan sosok dokter, toh kelanjutan hidup kedua lelaki ini berlainan.  Bila Marno hancur lebur dari yang sebelumnya kokoh laiknya pemuda nasionalis, Sanjoto tak terlalu meratap. Ia akhirnya menikah dengan seorang penjaga apotek setelah berpacaran satu tahun.

Kehidupan rumah tangga keduanya bisa dikatakan berhasil dan membahagiakan sampai dikaruniai dua anak. Termasuk urusan Orion, mereka kompak bukan main. Sanjoto fokus mengelola makro perusahaan seperti ayahnya dulu. Istrinya bagian mengelola mikro perusahaan. Di tangan Sanjoto, Orion mengalami perubahan besar-besaran: mulai dari mesin pemanggang, sampai produk-produknya yang kian beragam.

Karma Cinta

Pertumbuhan pesat Orion nyatanya timpang dengan kehidupan rumah tangga Sanjoto. Ia dan istrinya akhirnya bercerai secara baik-baik setelah berupaya menyelamatkan kapal yang hampir karam. Sampai di satu hari yang tak diduga, ia bertemu Giok Nie di Hotel Indonesia.

Ialah gadis yang membuat Sanjoto terpikat sejak pertama kali melihatnya pada masa perpeloncoan mahasiswa baru Universitas Indonesia 30 tahun silam dari pertemuan tak terduga di Hotel Indonesia. Kalau jodoh memang hendak ke mana lagi. Giok Nie ternyata sudah janda. Suaminya meninggal sebab serangan liver cirrhosis atau kanker hati. Menikahlah Sanjoto dan Giok Nie.

Memilih tinggal di Solo, rumah yang ditinggali hanya berjarak sekian langkah dengan perusahaan Orion. Urusan membangun rumah menjadi urusan penuh keduanya. Mereka percaya bahwasanya rumah ialah pertautan ruang dan batin. Maka perkara membuat rumah bukan serta merta diserahkan kepada arsitek. Sanjoto dan Giok Nie memilih dengan pertimbangan matang mulai dari bahan, ornamen, desain ruang, sampai karya-karya seni yang akan dipajang di sudut-sudut rumah. Keduanya memang pengagum kesenian.

Banyak lukisan dan patung karya para seniman moncer Indonesia dan dunia terpajang apik di rumah. Affandi, Misbah Thamrin, Fadjar Sidik, Widayat, Nyoman Gunarsa, Heri Dono, Nasirun, Rudolf Bonner, Theo Meier, Willem Gerard Hofker, dan banyak lagi. Belakangan, keduanya bermaksud membikin semacam museum dari lukisan dan patung yang dikoleksinya: untuk kenang-kenangan dan pembelajaran kepada para cicit.

Bau adonan roti yang dipanggang kian harum, seharum jalinan cinta Sanjoto dan Giok Nie yang ke mana-mana selalu berdua. Enggan berpisah. Mereka pernah berkelakar, sebab hampir musykil mati berdua kecuali meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang. Maka bila salah satu dari mereka meninggal lebih dulu, abu kremasinya akan diletakkan di kamar. Dengan begitu, mereka tetap bersama Berdua melulu. Tsah!

 

Rizka Nur Laily Muallifa
Pembaca tak tabah. Dalam masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku itu Menghidupi Kematian. Pamrih di @bacaanbiasa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

Pers Masa Pergerakan: Sinar Djawa dan Sinar Hindia

Surat kabar Bumiputera pertama adalah Soenda Berita yang didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo tahun 1903. Namun, surat kabar ini tak bertahan lama. Pada 1905-1906, Soenda...

Hukum Adat, Kewajiban atau Hak?

Mengenai definisi hukum adat dan proporsi hak dan kewajiban dalam hukum adat, Daud Ali dalam Buku Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum...

Tulisan Muhidin M Dahlan Soal Minang itu Tidak Lucu Sama Sekali

Sejak kanak-kanak sampai menjelang dewasa, saya sangat dekat dengan nenek. Sementara ibu dan bapak yang bekerja sebagi pegawai negeri sudah berangkat kerja setiap pagi....

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.