Minggu, Oktober 25, 2020

Romantisme Beban Ganda Pekerja Migran

HMI Connnection Dalang Jatuhnya Gus Dur?

Presiden RI yang ke-4 KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, merupakan presiden yang memiliki kisah hidup yang luar biasa. Beliau sosok yang sangat universal...

Duhai Elite Politik, Adakah Kami dalam Pelobian Kalian?

2018 adalah tahun yang ramai, tahun yang sangat sibuk bagi negeri ini. Setelah disibukkan dengan hiruk pikuk dan keramaian ibukota dari berbagai media serta...

Mencari Empati Bangsa

Rasa-rasanya segala persoalan tragedi kemanusian, kericuhan dan keributan yang menjumputi Bangsa Indonesia belakangan ini, seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua sebagai penyebab paling bias...

Karya Sastra dan Pengaruhnya dalam Hidup Manusia

Banyak orang lebih mengenal Wiji Tukul sebagai sastrawan revolusioner dengan karya-karyanya yang mengangkat isu-isu sosial, tetapi, hanya sedikit yang mengenal dia dengan membaca, mengilhami,...
Yovi Arista
Alumnus Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro. Saat ini bekerja di Migrant CARE, organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada advokasi pekerja migran Indonesia.

Bertepatan dengan peringatan Hari Migran Sedunia, 18 Desember 2019 lalu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menetapkan pekerja migran Indonesia sebagai Duta Bela Negara dan Duta Pariwisata.

Penetapan itu dinyatakan sebagai tindaklanjut dari Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pertahanan tentang program pembinaan kesadaran bela negara bagi pekerja migran untuk merespons keterpaparan radikalisme di kalangan pekerja migran.

Keterkaitan pekerja migran dan radikalisme tidak terlepas dari perkembangan ideologi kekerasan ekstremisme yang mewarnai dinamika relasi global, kejahatan terorganisir dan isu keamanan di lintas batas negara.

Peranan pekerja migran dalam menjalankan mobilitas multi-teritori sekaligus menggerakkan remitansi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstrem untuk mendanai, dan bahkan menjadi martir dalam aksi teror serta kekerasan.

Pekerja migran Indonesia yang mayoritasnya perempuan, tidak terlepas dari perkembangan ragam modus radikalisasi dan pergeseran peranan perempuan dalam gerakan radikalisme. Pergeseran juga terjadi pada pola persebaran paham radikal yang telah memaksimalkan penggunaan ruang-ruang mikro secara daring di media sosial serta komunitas.

Menarik beberapa contoh kasus dalam konteks Indonesia, tertangkapnya (D) pada 2016 atas keterlibatannya dalam aksi teror bom panci yang terencana diledakkan di depan Istana Negara, menjadi satu titik balik. D merupakan perempuan pekerja migran asal Jawa Barat yang pernah bekerja di Singapura dan Taiwan. D diidentifikasi mengalami proses radikalisasi melalui bacaan dan konten media sosial, serta difasilitasi untuk menjadi martir dalam aksi teror melalui modus perkawinan online.

Selain  D, ada juga (I), perempuan pekerja migran asal Jawa Tengah yang pernah bekerja di Malaysia dan Hong Kong. I bahkan memiliki kemampuan untuk merekrut sekaligus mendanai aksi teror.

Pada 2017, IPAC merilis laporan mengenai radikalisasi buruh migran Indonesia di Hong Kong. Dalam laporan tersebut, dinyatakan terdapat 45 orang buruh migran Indonesia yang teradikalisasi di Hong Kong. Perkembangan radikalisme juga dinyatakan dipengaruhi oleh tren layanan agama dan perniagaan di Hong Kong.

Gambaran situasi dalam laporan IPAC juga terjawab secara linier dengan kabar penahanan tiga orang perempuan pekerja migran Indonesia oleh otoritas Singapura pada September 2019  atas dugaan pendanaan gerakan radikalisme yang mendukung ISIS.

Berkembangnya ragam kasus dan dimensi kerentanan pekerja migran pada paparan radikalisme dan ektremisme kekerasan memang memerlukan intervensi negara yang lebih responsif dari aspek kebijakan dan tata kelola.

Di balik reformasi pelembagaan tata kelola migrasi tenaga kerja Indonesia yang tak kunjung tuntas, serta dengan minimnya interkonektivitas sistem pendidikan pada ketenagakerjaan dan pembangunan manusia, penyematan peran Duta Bela Negara kepada pekerja migran Indonesia seakan menjadi jalan pintas tanpa arah. Selain semakin membebani tugas baru kepada pekerja migran, label Duta Bela Negara juga meromantisir peranan militeristis kepada sipil atas disfungsi negara dalam menjamin perlindungan kepada warganya.

Penyematan peran baru sebagai Duta Bela Negara serta Duta Wisata juga menjadi tambahan standar baru akan beban ganda yang dialami pekerja migran Indonesia di luar negeri. Serupa spirit penyematan label “pahlawan devisa” yang kemudian menegasi dan meromantisir berbagai kerentanan pekerja migran dalam beragam pelanggaran hak dan kekerasan.

Isu radikalisasi pekerja migran agaknya perlu dilihat tidak hanya secara parsial menyoroti perihal kompentensi dari sisi pekerja saja, namun juga perlu dilihat secara komprehensif dalam tata kelola layanan perlindungan layanan ketenagakerjaan, keimigrasian dan kekonsuleran sebagai kanal pelepasan/disengagement warga negara dari paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.

Dengan demikian, kerja sama Kementerian Ketenagakerjaan dengan Kementerian Pertahanan dalam mengupayakan pencegahan dalam orientasi pra-keberangkatan pekerja migran perlu menggunakan pendekatan yang dikaji dan diformulasi secara matang. Upaya-upaya yang tak melekat pada fungsi keamanan dan militer juga perlu menjadi kerangka kerja yang digunakan.

Utamanya dalam mengaktivasi pendekatan partisipasif dan pelibatan publik di lingkup kelompok hingga keluarga untuk dapat membangun kontra-naratif dan ketahanan sosial atas pusaran radikalisme dan ektremisme kekerasan.

Yovi Arista
Alumnus Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro. Saat ini bekerja di Migrant CARE, organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada advokasi pekerja migran Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.