Selasa, Maret 2, 2021

Romantisme Beban Ganda Pekerja Migran

Ingin Tumpas Hoax? Rawat Tradisi Intelektualisme

Pada sebuah kesempatan, tokoh senior pers Dahlan Iskan pernah memberi wejangan, media cetak tidak akan pernah mati hanya karena kehadiran media daring (online). Syaratnya,...

Jakarta Oh Jakarta

Jakarta merupakan belantara gedung-gedung pencakar langit dipenuhi dan dikelilingi beton-beton tinggi, jalan layang, jalan bawah tanah, LRT, MRT, dan banyak jalan utama, serta pembatas...

CSR, Etika Bisnis dan Lingkungan Hidup

CSR (Corporate Social Responsibility) adalah suatu konsep yang terdapat di dalam suatu perusahaan sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada....

Jangan Terlalu Benci DPR dan Jangan Terlalu Cinta KPK

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara...
Yovi Arista
Alumnus Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro. Saat ini bekerja di Migrant CARE, organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada advokasi pekerja migran Indonesia.

Bertepatan dengan peringatan Hari Migran Sedunia, 18 Desember 2019 lalu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menetapkan pekerja migran Indonesia sebagai Duta Bela Negara dan Duta Pariwisata.

Penetapan itu dinyatakan sebagai tindaklanjut dari Nota Kesepahaman Bersama (MoU) antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Pertahanan tentang program pembinaan kesadaran bela negara bagi pekerja migran untuk merespons keterpaparan radikalisme di kalangan pekerja migran.

Keterkaitan pekerja migran dan radikalisme tidak terlepas dari perkembangan ideologi kekerasan ekstremisme yang mewarnai dinamika relasi global, kejahatan terorganisir dan isu keamanan di lintas batas negara.

Peranan pekerja migran dalam menjalankan mobilitas multi-teritori sekaligus menggerakkan remitansi dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstrem untuk mendanai, dan bahkan menjadi martir dalam aksi teror serta kekerasan.

Pekerja migran Indonesia yang mayoritasnya perempuan, tidak terlepas dari perkembangan ragam modus radikalisasi dan pergeseran peranan perempuan dalam gerakan radikalisme. Pergeseran juga terjadi pada pola persebaran paham radikal yang telah memaksimalkan penggunaan ruang-ruang mikro secara daring di media sosial serta komunitas.

Menarik beberapa contoh kasus dalam konteks Indonesia, tertangkapnya (D) pada 2016 atas keterlibatannya dalam aksi teror bom panci yang terencana diledakkan di depan Istana Negara, menjadi satu titik balik. D merupakan perempuan pekerja migran asal Jawa Barat yang pernah bekerja di Singapura dan Taiwan. D diidentifikasi mengalami proses radikalisasi melalui bacaan dan konten media sosial, serta difasilitasi untuk menjadi martir dalam aksi teror melalui modus perkawinan online.

Selain  D, ada juga (I), perempuan pekerja migran asal Jawa Tengah yang pernah bekerja di Malaysia dan Hong Kong. I bahkan memiliki kemampuan untuk merekrut sekaligus mendanai aksi teror.

Pada 2017, IPAC merilis laporan mengenai radikalisasi buruh migran Indonesia di Hong Kong. Dalam laporan tersebut, dinyatakan terdapat 45 orang buruh migran Indonesia yang teradikalisasi di Hong Kong. Perkembangan radikalisme juga dinyatakan dipengaruhi oleh tren layanan agama dan perniagaan di Hong Kong.

Gambaran situasi dalam laporan IPAC juga terjawab secara linier dengan kabar penahanan tiga orang perempuan pekerja migran Indonesia oleh otoritas Singapura pada September 2019  atas dugaan pendanaan gerakan radikalisme yang mendukung ISIS.

Berkembangnya ragam kasus dan dimensi kerentanan pekerja migran pada paparan radikalisme dan ektremisme kekerasan memang memerlukan intervensi negara yang lebih responsif dari aspek kebijakan dan tata kelola.

Di balik reformasi pelembagaan tata kelola migrasi tenaga kerja Indonesia yang tak kunjung tuntas, serta dengan minimnya interkonektivitas sistem pendidikan pada ketenagakerjaan dan pembangunan manusia, penyematan peran Duta Bela Negara kepada pekerja migran Indonesia seakan menjadi jalan pintas tanpa arah. Selain semakin membebani tugas baru kepada pekerja migran, label Duta Bela Negara juga meromantisir peranan militeristis kepada sipil atas disfungsi negara dalam menjamin perlindungan kepada warganya.

Penyematan peran baru sebagai Duta Bela Negara serta Duta Wisata juga menjadi tambahan standar baru akan beban ganda yang dialami pekerja migran Indonesia di luar negeri. Serupa spirit penyematan label “pahlawan devisa” yang kemudian menegasi dan meromantisir berbagai kerentanan pekerja migran dalam beragam pelanggaran hak dan kekerasan.

Isu radikalisasi pekerja migran agaknya perlu dilihat tidak hanya secara parsial menyoroti perihal kompentensi dari sisi pekerja saja, namun juga perlu dilihat secara komprehensif dalam tata kelola layanan perlindungan layanan ketenagakerjaan, keimigrasian dan kekonsuleran sebagai kanal pelepasan/disengagement warga negara dari paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.

Dengan demikian, kerja sama Kementerian Ketenagakerjaan dengan Kementerian Pertahanan dalam mengupayakan pencegahan dalam orientasi pra-keberangkatan pekerja migran perlu menggunakan pendekatan yang dikaji dan diformulasi secara matang. Upaya-upaya yang tak melekat pada fungsi keamanan dan militer juga perlu menjadi kerangka kerja yang digunakan.

Utamanya dalam mengaktivasi pendekatan partisipasif dan pelibatan publik di lingkup kelompok hingga keluarga untuk dapat membangun kontra-naratif dan ketahanan sosial atas pusaran radikalisme dan ektremisme kekerasan.

Yovi Arista
Alumnus Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro. Saat ini bekerja di Migrant CARE, organisasi masyarakat sipil yang berfokus pada advokasi pekerja migran Indonesia.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.