Jumat, Oktober 30, 2020

Rocky Gerung dan Upaya Mengajarkan Kesadaran Kritis

Peluk Cium Saat Puasa, Bagaimana Fikih Menjelaskan?

Berpelukan dan berciuman di siang hari bulan Ramadan ---saat melaksanakan ibadah puasa--- menjadi sebuah kajian fikih ibadah puasa. Pada dasarnya, berpelukan maupun berciuman antara...

Menajamkan Mitigasi Bahaya Alam

Elisabeth Byrs dari kantor Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) pernah mengatakan, Jepang adalah negara yang paling siap menghadapi bencana. Jepang salah satu negara terkaya...

Climate Change dan Energi Bersih

Hari Bumi adalah sedikit ruang yang memberi kita kesempatan untuk merefleksikan kembali tentang nasib sebuah planet (bumi) yang selama ini menjadi "rumah" tempat kita...

Kesamaan Deschamp dan Beckenbauer

Franz Beckenbauer adalah legenda sepakbola Jerman (dulu Jerman Barat) khususnya dan dunia pada umumnya. Seorang libero yang taktis dan pintar membaca permainan. Saat menjadi...
Yahya Fathur Rozy
Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran, Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir

Siapa yang tidak kenal Rocky Gerung? Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) sekaligus pendiri SETARA Institute dan peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D), akhir-akhir ini namanya begitu mencuat di seantero Nusantara.

Sosok yang aktif menjadi kritikus sejati rezim pemerintahan Jokowi ini seakan-akan menjadi idola baru kawula muda karena kelincahannya dalam berpikir logis sekaligus lihai memainkan logika.

Tak jarang argumen yang sering dilontarkannya dapat memukul telak argumen lawan bicaranya yang banyak mengandung logical fallacy (sesat/kerancuan logika). Yaitu Indonesia Lawyers Club (ILC), acara yang dipandu oleh host senior TV One, Karni Ilyas, yang menjadi gerbang pembuka ketenaran Rocky Gerung dalam ranah publik.

Argumentasi logis yang sering diramunya dengan analogi-filosofis ditambah dengan beberapa contoh satire jenaka dan sedikit sarkasme, membuat siapapun selalu antusias mendengarkannya.

Decak kagum timbul dari orang yang setuju dengan argumennya, pun rasa jengkel bahkan marah juga tidak jarang muncul dari lawan bicaranya yang merasa dirugikan atas statement yang dilontarkan Rocky. Banyak istilah-istilah yang menjadi ciri khas dalam ceramah-ceramah Rocky seperi “Dungu”, “Akal Sehat”, “IQ 200 sekolam”, “plangak-plongok” dan istilah lain yang biasa digunakannya untuk menyindir rezim Jokowi.

Kejeniusan Rocky menarik beberapa instansi-instansi pendidikan untuk mengundangnya sebagai pembicara. Di lingkup Muhammadiyah, Rocky sudah berceramah di lebih dari 10 PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah), hal tersebut diungkapkannya ketika menjadi pembicara di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Selasa 29 Januari 2019. (PWMU.CO) 

Banyak sekali aspek yang dibahas dalam berbagai ceramah Rocky, namun satu aspek yang menarik penulis untuk membahasnya, yaitu ajaran Rocky berupa upaya metodis untuk merawat akal sehat.

“Demi Kesehatan Intelektual (akal sehat) kita harus menggeleng pada kekuasaan” ujar Rocky dalam ceramahnya di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Persis, menggeleng adalah metode Universitas, kita menggeleng terhadap kuliah dari dosen supaya terjadi dialog. Akal sehat memproduksi dialog.”

“kalau Anda manggut-manggut, misal ada dosen/profesor menerangkan sesuatu, kemudian mahasiswanya manggut-manggut, padahal dosennya lagi berbohong” imbuhnya.

Di ILC, Rocky juga sering mengungkapkan bahwasannya tradisi demokrasi itu menggeleng, jika mengangguk itu termasuk tradisi feodal.

Disini Rocky Gerung berupaya untuk mengajarkan “kesadaran kritis” kepada para audiensnya. Pada taraf kesadaran kritis, individu mampu melakukan analisis terhadap suatu permasalahan secara holistis dan makro, sehingga dapat menguraikan sebab-akibat dari suatu permasalahan. Sebagai contoh, dalam suasana perkuliahan.

Jika terdapat beberapa mahasiswa yang tidak paham terhadap penjelasan dosen, sang mahasiswa yang memiliki kesadaran kritis tidak serta merta menyalahkan dirinya karena lambat dalam memahami mata kuliah. Namun melihat aspek-aspek makro yang saling berkaitan dari proses belajar mengajar tersebut.

Seperti metode pengajaran dosen yang lemah, buruknya sylabus mata kuliah, dan kacau balau-nya kurikulum pembelajaran. Sikap tersebut menghasilkan konklusi sebab-musabab yang komprehensif kenapa sang mahasiswa tersebut susah memahami mata kuliah tertentu.

Namun per hari ini, banyak sekali para mahasiswa yang masih memiliki “kesadaran naif”. Menurut Paulo Freire, kesadaran naif ialah suatu kesadaran dimana individu yang memiliki kesadaran tersebut tidak dapat melihat permasalahan secara makro, sehingga tidak mampu untuk mengurai sebab-akibat dan keterkaitan antara permasalahan yang satu dengan yang lain.

Sebagai contoh yaitu ketika seseorang dihadapkan dengan fenomena globalisasi dan kemiskinan, maka kemiskinan itu terjadi dikarenakan sikap mental, budaya ataupun teologi yang melingkupi diri dan masyarakat. Kesadaran naif menilai bahwasanya kemiskinan tidak memiliki keterkaitan atau korelasi dengan masalah globalisasi.

Menyalahkan dan membodoh-bodohkan diri sendiri secara sepihak karena tertimpa kemiskinan. Tidak dapat melihat aspek korelasi antara sistem ­neo-liberlisme globalisasi yang dapat menyebabkan kemiskinan dimana-mana. Seperti halnya kasus mahasiswa tadi, jika dia serta merta menyalahkan dirinya secara sepihak karena lambat memahami mata kuliah tertentu dan tidak melihat aspek lain yang mempengaruhi, maka ia masih dalam taraf “kesadaran naif”.

“Menggeleng”, seperti yang dianjurkan Rocky untuk merawat akal sehat, mengarahkan seseorang memiliki kesadaran kritis sebagai kail peraih pembebasan dari penindasan. Sehingga menjadi manusia seutuhnya yang merdeka tanpa penindasan, sebagaimana quo vadis demokrasi.

Mahasiswa di kampus menggelengkan kepala kepada dosen sebagai upaya menciptakan dialektika dan megoreksi kurangnya wawasan sang dosen. Disamping itu, agar sang dosen tidak hanya menindas mahasiswa lewat pemberian materi-materi perkuliahan yang bejibun, namun tidak terdapat dialog dan dialektika di dalamnya. Maka pemahaman prematur akan menjadi implikasinya yang nyata.

Selain itu, “Kesadaran Kritis” ini menjadi bom yang ampuh untuk meledakan bangunan-bangunan “kesadaran magis” seseorang. Kesadaran magis menempati posisi yang lebih buruk daripada kesadaran naif. Kesadaran magis, menurut Mansour Fakih dalam karyanya Islam Sebagai Alternatif, ialah kesadaran untuk menganalisa permasalahan menggunakan pendekatan yang bersifat metafisika dan abstrak (takhayyul), dimana ia buta untuk melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain.

Misalkan seorang mahasiswa mendapat IPK jelek setelah Ujian Akhir Semester, mahasiswa yang memiliki kesadaran magis meyakini bahwa IPK jelek tersebut pada hakekatnya merupakan ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya Tuhan yang mengetahui tentang gambaran dan skenario dibalik buruknya nilai IPK tersebut. Dan hanya Tuhan yang tahu apa hikmah dibalik ketentuan tersebut. Mereka beranggapan bahwa musibah buruknya IPK merupakan ujian keimanan seorang hamba.

Kesadaran magis yang tertanam dalam suatu individu, secara dogmatik menerima kebenaran tanpa adanya mekanisme untuk mengungkap maknanya. Tentu bentuk kesadaran seperti ini sangat kontra produktif bagi setiap individu. Segala kegagalan selalu dikaitkan dengan faktor magis sebagai kambing hitamnya. Tindakan korektif-evaluatif akan kesalahan dan keteledoran diri, nihil dilakukan.

Maka metode “menggeleng” yang diajarkan oleh Rocky sangat baik diterapkan untuk merawat akal sehat dan menumbuhkan kesadaran kritis pada setiap individu. Billahi fi sabilil haqq fastabiqul khairaat, wassalam. 

Yahya Fathur Rozy
Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran, Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.