OUR NETWORK

Riset Bukan Sekadar Proyek!

Ada satu hal yang kerap, entah sadar atau tidak sadar, mengemuka di banyak program-program “riset” di perguruan tinggi; bahwa “riset” bersinonim dengan satu istilah lain: “proyek”. Tidak begitu jelas anggapan ini muncul karena masalah penerjemahan (dalam bahasa Inggris, riset memang banyak disandingkan dalam istilah research project) atau karena sistem penelitian di Indonesia yang menggunakan model research grant dan dikerjakan dalam logika “proyek” dalam birokrasi.

Dalam beberapa hal, saya bisa jadi sepakat dengan istilah ini. Riset bisa jadi memang adalah “proyek” yang harus dikerjakan secara profesional, dilakukan melalui proses yang logis dan sistematis, punya output dan outcome yang jelas, akuntabel penggunaan dananya, dan tentu saja bisa menghidupi para pekerjanya (ya, peneliti adalah pekerja di bidang riset). Karena riset mungkin adalah proyek yang sumber dananya bisa jadi adalah pajak, penggunaan dananya juga perlu pertanggungjawaban yang tidak sepele.

Namun demikian, agaknya keliru jika kita hanya melihat riset sekadar sebagai proyek yang dikerjakan sebagai “business-as-usual”, hanya sekadar memenuhi kum-kum pegawai negeri (untuk naik pangkat) atau hanya sebagai tanggung jawab atas kontrak kerja. Ya, tentu keduanya penting. Tapi riset bisa jadi jauh lebih luas dari sekadar proyek yang dikerjakan tahunan. Riset adalah bagian tak terpisahkan dari upaya membangun masyarakat yang berkemajuan.

Untuk Apa Riset di Perguruan Tinggi?
Mari kita mulai dari satu pertanyaan sederhana: untuk apa kita melakukan penelitian? Tentu tidak ada yang menyangkal bahwa semua penelitian dimulai dari satu hal: keingintahuan. Tak ada riset yang tidak dimulai dari pertanyaan: sebab untuk apa kita menanyakan sesuatu yang sudah kita ketahui jawabannya? Persoalannya jadi lebih kompleks karena orang-orang kemudian berdebat soal jenis pertanyaan apa yang perlu ditanyakan dalam penelitian. Mereka yang berpikir dengan corak filosofis-teoretis biasanya akan memulai dari pertanyaan yang belum terjawab oleh para peneliti, sementara mereka yang berpikir dengan corak pragmatis-praktis bisa jadi akan memulai dari pertanyaan yang mendesak untuk dipecahkan karena berhubungan langsung dengan orang banyak

Namun demikian, seberapapun kerasnya perdebatan di antara mereka, toh mereka akan bersepakat bahwa riset harus dimulai dari pertanyaan yang belum pernah ditanyakan dan dijawab oleh orang lain. Nah, di sini peliknya masalah dalam penelitian: kalau kita sudah tahu apa yang ingin kita tanyakan, bagaimana cara untuk men emukan jawaban itu? Jawabannya mungkin sederhana: masuklah ke dalam laboratorium lalu lakukanlah penelitian sesuai metodologi yang dikembamgkan. Dalam ilmu sosial, bisa jadi caranya juga tak kalah sederhana: carilah jawabannya melalui survey, wawancara, atau tinggal bersama orang-orang yang ingin diteliti.

Hanya saja, cara-cara semacam itu tentu membutuhkan biaya. Negara, korporasi, kampus, atau para filantropist punya solusinya: membuka research grant (hibah riset) yang biasanya bersifat kompetitif. Bisa jadi inilah asal-muasal munculnya istilah “proyek” itu: karena penelitian adalah sesuatu yang didanai bukan oleh kantong pribadi peneliti, tentu ia harus dilakukan secara profesional dan bisa dipertanggungjawabkan.

Tapi masalahnya tidak berhenti di sini. Riset-riset yang didanai oleh negara, korporasi, kampus, atau filantropist bisa jadi punya prasyarat-prasyarat tertentu –karena mereka tidak gratis! Riset-riset yang didanai oleh pemerintah seringkali (terutama di Indonesia) mengharuskan peneliti untuk bisa menghasilkan sesuatu yang aplikatif, riset-riset korporasi diukur berdasarkan untung-rugi, riset-riset filantropist mungkin akan mendanai proyek yang sesuai visi mereka.

Sehingga, bisa jadi, tidak semua pertanyaan didanai. Ini membutuhkan kreativitas peneliti. Karena riset-riset yang didanai adalah riset-riset yang “aplikatif” alias punya dampak langsung, riset-riset yang bersifat teoretis biasanya akan minggir.

Di beberapa negara seperti Inggris atau Eropa, riset teoretis bisa mendapatkan sedikit tempat karena riset dikeluarkan oleh Research Council yang, dengan sedikit kebaikan hati, memberi tempat bagi pengembangan teori. Tapi di Indonesia? Bersiaplah untuk dianggap “mengawang-awang”, tidak membumi, atau paling ringan didanai dalam hibah riset.

Ada dua jalan yang biasanya menjadi alternatif para peneliti yang minat risetnya adalah wilayah-wilayah teoretis: (1) melakukan riset sepaket dengan riset Doktoral (dimana peneliti punya kebebasan untuk mengembangkan minat topiknya dengan dibimbing peneliti yang lebih senior) atau (2) menulis di sela-sela proyek penelitian utamanya (yang bisa jadi akan dilakukan dengan penuh perjuangan karena sebagian besar waktunya sudah habis untuk riset dan mengajar.

Tapi apakah cuma ini yang bisa dilakukan? Kita tentu mungkin bisa memahami budget constraint (terutama di masa ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang), tapi ini bukan berarti meninggalkan wilayah-wilayah Teoretis, atau pertanyaan-pertanyaan yang bersifat “pengetahuan” dalam riset-riset kita. “Teori” dan “Praktik” adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam riset. Teori membantu kita membingkai riset, tapi ia juga memerlukan pembuktian yang sifatnya empiris.

Untuk itulah kita melakukan riset. Di satu sisi, riset harus punya landasan metodologis yang jelas dan rigid. Di sisi lain, riset juga perlu dibuktikan melalui metode-metode yang memungkinkan kita mendapatkan jawaban dari orang pertama. Inilah esensi riset yang, menurut saya, memiliki nilai lebih dari sekadar memenuhi “proyek”: riset sosial adalah upaya untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang real, sekaligus juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum terjawab dan terpecahkan di masyarakat.

Riset itu soal Tradisi Pengetahuan, Bung!
Ini berarti ada satu hal yang bisa jadi perlu ditanamkan di benak para peneliti muda yang bergiat di kampus-kampus: Riset, bisa jadi, bukan (sekadar) proyek. Riset adalah bagian tak terpisahan dari tradisi pengetahuan. Bisa jadi, peneliti memerlukan dana untuk memastikan aktivitasnya bisa terlaksana. Namun, apa yang dilakukan oleh peneliti lebih bermakna daripada sekadar dana riset yang tersedia.

Karena itu, melakukan penelitian tidak tergantung pada dana penelitian yang tersedia (kecuali, mungkin, jangkauan penelitiannya). Pada akhirnya, meneliti adalah mentradisikan budaya ilmiah di kalangan para penelitinya: membaca, menulis, dan mengajarkan hasil penelitiannya kepada masyarakat luas. Ini tradisi yang menjadi dasar sebelum kemudian membawa riset kita di dunia nyata (entah lewat rekomendasi kebijakan, paparan seminar, atau mungkin gerakan).

Tanpa tradisi, bisa jadi riset hanya akan berakhir di artikel-artikel jurnal atau (yang lebih mengenaskan) laporan-laporan di perpustakaan tanpa ada keinginan untuk mendalami hasilnya. Tanpa tradisi, riset hanya akan menjadi business-as-usual, yang mungkin akan menempatkan riset dalam rantai nilai industri pengetahuan.

Dan bagi para peneliti-peneliti muda yang mengabdikan hidupnya di dunia riset (walau dengan banyak risiko seperti menunda pernikahan, misalnya), riset adalah bagaimana mentradisikan hidup untuk beropengetahuan. Dan mungkin ini bisa jadi renungan. Para peneliti tidak punya apa-apa kecuali pengetahuan kita, tapi peneliti punya dunia di luar sana untuk direbut dan dimenangkan.

Jadi, wahai peneliti-peneliti muda sedunia, bersatulah!

Ahmad Rizky Mardhatillah Umar adalah Peneliti Doktoral di School of Political Sciences and International Studies, University of Queensland, Australia. Ia terlibat aktif di Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan Jaringan Riset Earth System Governance (ESG). Artikel-artikel di laman ini adalah opini pribadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…