Jumat, Februari 26, 2021

Ridwan Kamil Vs Anies Baswedan

Senjakala Toko-Toko Buku di Semarang [1]

Akhir Januari 2018 kemarin saya bersama istri menyempatkan waktu di akhir pekan untuk berkunjung ke Toko Buku Toga Mas, di jalan Majapahit, Semarang. Pukul...

Paperless Culture

Kertas adalah benda ajaib yang membantu dan memudahkan banyak hal dalam hidup kita. Mulai dari pembungkus makanan, buku catatan, tisu hingga struk belanja, kehidupan...

The Fallacy of Reification

Dalam suatu kesempatan saya pernah menyaksikan dialog panas antara Rocky Gerung dengan sejumlah politisi di salah satu channel televisi swasta. Tema utama dalam debat...

Pengesahan RUUPKS, Napas Baru bagi Sekaratnya Nalar Negara Soal Kekerasan Seksual!

Beberapa hari yang lalu, saya membaca pengumuman pembukaan volunteer untuk acara tahunan Woman March untuk tahun 2019. Cepat, saya langsung merasa sangat excited dan menggebu-gebu ingin...
Ahmad Sholikin
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif III (SKK - ASM III) dan Penulis di ahmadsholikin.web.ugm.ac.id

Panggung politik Indonesia saat ini sudah berbeda jauh dengan panggung politik era sebelumnya, kita disuguhi oleh banyak tokoh yang beramai-ramai untuk mengklaim dirinya sebagai tokoh yang paling milenial. Mulai dari gaya berpakaian, gaya bicara, hingga gaya bermedia sosial pun disesuaikan dengan selera milenial.

Dari banyak tokoh tersebut nampaknya Ridwan Kamil dan Anies Baswedan merupakan representasi dari politisi yang sangat digandrungi oleh para pemilih milenial. Keduanya adalah sosok yang charming, muda dan kekinian. Keduanya adalah sosok masa depan pemimpin Indonesia, dan jika benar asumsi ini maka Pak Prab tidak usah khawatir, bahwa Indonesia akan hilang di tahun 2030, pun dengan Pak Joko jangan khawatir bahwa politisi di Indonesia akan semakin “sontoloyo”.

Anies Baswedan adalah Gubernur di Jakarta yang kata banyak orang adalah batu loncatan untuk mejadi RI 1, sedangkan Ridwan Kamil adalah Gubernur Jawa Barat yang merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Keduanya bisa menjadi idola baru dan wajah baru kepemimpinan di Indonesia di pemilu presiden mendatang (2024).

Generasi Milenial memiliki beberapa karakter mendasar, yang membedakannya dengan generasi X (36 tahun-55 tahun) maupun generasi baby boomers (55 tahun ke atas). Generasi Millenial (17 tahun-35 tahun) adalah generasi yang melek akan informasi dan selalu terkoneksi melalui jejaring media sosial digital, yang terhubung melalui internet.

Media sosial kini menjadi salah satu ‘mesin politik’ yang efektif untuk melakukan propaganda politik maupun penetrasi isu, dan ini merupakan dunia yang sangat akrab dengan generasi milenial.

Kenyataan ini nampaknya ditangkap oleh Anies Baswedan dan Ridwan Kamil  sehingga keduanya aktif bersosial media, baik Twitter, Facebook dan Instagram. Dari laporan berjudul “Essential Insights Into Internet, Social Media, Mobile, and E-Commerce Use Around The World” yang diterbitkan tanggal 30 Januari 2018, dari total populasi Indonesia sebanyak 265,4 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 130 juta, dengan penetrasi 49 persen.

Selanjutnya We Are Social menunjukkan fakta lainnya, bahwa orang Indonesia rata-rata menghabiskan waktu untuk berselancar di internet dengan berbagai perangkat hingga delapan jam 51 menit. Sementara, rata-rata berkecimpung di medsos dengan berbagai perangkat hingga tiga jam 23 menit.

Platform medsos yang paling digandrungi oleh orang Indonesia, di antaranya YouTube 43 persen, Facebook 41 persen, WhatsApp 40 persen, Instagram 38 persen, Line 33 persen, BBM 28 persen, Twitter 27 persen, Google+ 25 persen, FB Messenger 24 persen, LinkedIn 16 persen, Skype 15 persen, dan WeChat 14 persen.

Fakta diatas nampaknya membuat kedua Gubernur ini sangat aktif dalam bermedsos ria. Berdasarkan pantauan saat ini, Jumlah follower Instagram Kang Emil lebih tinggi dari Pak Anies dengan masing-masing 9,2m untuk Kang Emil dan 1,8m untuk Pak Anies. Sedangkan jumlah follower Twitter Pak Anies jauh lebih sedikit di banding Kang Emil, dengan masing-masing 3,21m untuk Kang Emil dan 2,37m untuk Pak Anies. Untuk Facebook Kang Emil unggul kembali atas Pak Anies, dengan masing-masing 3.402.259 untuk Kang Emil dan 1.289.134 jiwa untuk Pak Anies.

Dengan potensi dan popularitas yang dimiliki keduanya, saya mencoba memberikan gambaran terkait persamaan dan perbedaan kedua tokoh ini, agar nantinya para dedek-dedek gemez tidak bingung lagi untuk menentukan pilihan politiknya di tahun 2024.

Isi Media Sosial

Media sosial adalah sebuah media yang dapat digunakan untuk bersosialisasi oleh para penggunanya menggunakan jaringan internet atau secara online. Media sosial yang paling sering digunakan adalah Facebook, Twitter, dan Instagram.

Kalau saya pantau, persamaan isi media sosial dari Kang Emil dan Pak Aneis adalah sama-sama berisi terkait hasil kerja dan rencana kerja (alih-alih untuk pencitraan di tahun 2024). Namun saat ditelisik lebih jauh ternyata media sosial keduanya memiliki perbedaan.

Selain dari jumlah followernya, media sosial milik Kang Emil lebih berwarna-warni sedangkan milik Pak Anies cenderung agak formal isinya. Kang Emil lebih suka membuat ilustrasi setiap kebijakannya dengan goresan tangannya, sedangkan Pak Anies lebih suka membuat power point dalam mempresentasikan keberhasilan kinerjanya.

Percintaan

Seorang pemimpin harus punya hasrat. Jelas donk, kalau tidak ada hasrat, tidak ada keinginan, tidak ada api, bagaimana ia bisa memberikan inspirasi pada orang-orang yang dipimpinnya? begitu pula dalam hal percintaan, seorang pemimpin di mata milenial harus memiliki kesempurnaan cinta seperti lagu Rizky Febian.

Jika dipandang dari segi percintaan keduanya sama-sama memiliki istri yang cantik dan anak-anak yang manis, jadi jangan harap kalian para cebong dan kampret bisa menyindir lawannya dengan sindiran “Kalau nanti Pak Anies/Kang Emil jadi Presiden, siapa yang jadi Ibu Negaranya ?”

Jika kalian menanyakan itu, bisa-bisa kalian di semprot sama Ibu Atalia Praratya dan Ibu Fery Farhati Ganis, sama seperti semprotan Bu Ani saat kalian mempertanyakan keluarganya.

Dibalik kesamaan tersebut, ternyata juga ada perbedaannya. Perbedaannya adalah Kang Emil sangat senang menampilkan kemesraan dan kegombalannya kepada Bu Atalia di media sosial, sedangkan Pak Anies terlihat jarang sekali memposting kemesraan beliau dengan Ibu Farhat. Atau mungkin Jakarta membuat Pak Anies harus terlihat serius sehingga wagu kalau harus memposting kemesraan bersama sang Istri.

Pendidikan

Lembaga-lembaga pendidikan menjadi tempat di mana individu-individu, terutama anak-anak dan generasi muda, mempelajari sikap-sikap dan perasaan tentang sistem politik, dan sejenis peran politik yang diharapkan dari mereka.

Dari segi pendidikan keduanya adalah sama-sama seorang Dosen, dan juga lulusan Luar negeri (Jadi kalau Cuma debat dengan Bahasa Inggris maka sama jagonya, kecuali kalau Bahasa Arab maka Pak Anies akan lebih unggul, mungkin lho ya).

Perbedaannya adalah karier Pak Anies di bidang pendidikan lebih sebagai seorang yang penuh dengan “ide/gagasan”, mulai dari Gerakan Indonesia Mengajar, Rektor Paramadina dan yang terakhir adalah Mentri Pendidikan. Sedangkan Kang Emil memiliki banyak karya fisik berupa Museum Tsunami Aceh-Rumoh Aceh, NAD, Senayan Aquatic Stadium, Jakarta, Masjid Raya Bandung yang terkenal dengan keindahan dan kecanggihannya.

Dukungan Politik

Pertanyaan ini adalah pertanyaan klise yang semua sudah pasti tau jawabannya, persamaannya adalah keduanya adalah pendukung dari masing-masing Capres yang berkontestasi di 2019.

Sedangkan perbedaannya adalah; Pak Anies merupakan pendukung Pak Prabowo (kampret), dan Kang Emil adalah pendukung Pak Jokowi (Cebong).

Bagaimana Cara Mendapatkan Kekuasaan

Inilah sebenarnya pertanyaan kunci dari tulisan ini, persamaan keduanya dalam mendapatkan kekuasan atau jabatan adalah sama-sama mengikuti kontestasi dalam Pemilu, tidak ada yang mendapatkan kekuasaan dengan cara memberontak, membunuh atau makar.

Tetapi perbedaan keduanya adalah, kalau pada Pilkada Jakarta menjadi salah satu Pilkada paling menjijikkan di Indonesia, yang konon karena Pilkada ini Indeks Demokrasi Indonesia jadi menurun. Sedangkan Pilkada di Jawa Barat yang digadang-gadang akan memiliki kesamaan dengan Pilkada Jakarta, tidak demikian adanya.

Ahmad Sholikin
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif III (SKK - ASM III) dan Penulis di ahmadsholikin.web.ugm.ac.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.