Sabtu, Februari 27, 2021

Ribut Sistem Zonasi?

Narendra Modi, BJP, dan Nestapa Petani India

Nasi dan sayur yang kita makan tak lepas dari andil para petani. Salah satu manfaat dari nasi dan sayur yang kita makan ialah stamina...

PSI dan Politik Perubahan: Sebuah Refleksi

Politik adalah bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas manusia. Manusia sebagai ‘zoon politicon’, alias binatang politik, seperti disebutkan oleh Hannah Arendt dan Aristoteles, hanya...

Menakar Shortfall Pajak

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, shortfall penerimaan pajak tetap tidak dapat terhindarkan. Shortfall pajak telah menjadi takdir bagi perekonomian Indonesia, dan memberi dampak signifikan terhadap...

Anime Terbaru Bulan April yang Cocok Buat Kamu

Hai animelovers, kamu sudah tunggu tunggu Anime terbaru yang bakal dirilis bulan April ini? Yuk lihat judul anime ongoing yang bakal bikin kita sulit...
Adis Setiawan
Mahasiswa | Penulis Lepas

Sudah pernah saya bahas ditulisan sebelumnya, bahwa saya termasuk orang yang masa bodoh dengan sekolah favorit, karena dari dulu saya sudah mengamalkan sekolah dengan sistem zonasi, tidak peduli lagi favorit atau unggulan walapun ada beberapa macam sekolahan swasta yang termasuk kategori difavoritkan oleh masyarakat. Tapi saya masuk sekolahan swasta tersebut tidak mengejar favorit itu.

Yang saya kejar adalah efektif dan efisien, tentang jarak tempuh perjalanan karena maklum saya tidak punya kendaraan pribadi pada waktu itu. Sebagai mahasiswa manajemen saya sekarang harus mengamalkan ilmu pengaturan minimal untuk diri sendiri dan kelak untuk anak saya tentang pilihan efisien dan efektif.

Waktu TK saya Sekolah di TK Asyiyah Bustanul Athfal 05 Tlangu Sukorejo (ABA 05 Tlangu). Tempat tersebut masih dalam satu zona Kampung termasuk tidak jauh. Walapun rumah saya dulu di Tlangu Tengah sedangkan TK ABA 05 berada di Tlangu Barat tapi masih kategori dekat dan jalan kaki juga sampai. Mengurangi polusi udara oleh kendaraan bermotor.

Waktu SD saya sekolah di MI Al Islam Kauman Sukorejo, sebetulnya bukan paling dekat dari rumah tapi MI Al Islam termasuk sekolah yang jaraknya masih dekat, masih di zona Sukorejo jalan kaki juga sampai. Melewati kantor pos, Kantor Polisi dan Alun Alun Sukorejo. Iya sekolah tersebut disamping Alun Alun Sukorejo. Gedung sekolahanya tingkat dari atas bisa melihat keramaian alun alun bunderan Sukorejo.

Waktu SMP saya sekolah di SMP Muhammadiyah 04 Sukorejo, Yang berada di Sumber kebumen. Waktu Masih sekolah SMP rumah saya pindah dari Tlangu Tengah ke Tlangu Barat jadi lebih dekat dengan kebumen.

Walaupun berangkat sekolah jalan kaki lewat Papringan (kebun bambu) dan kuburan serta menyebrang kali. Tapi masih masuk kategori dekat jalan juga sampai. Karena pada saat itu saya berangkat sekolah jalan kaki, sudah saya buktikan tidak menganggu proses pendidikan.

Waktu SMK saya sekolah di SMK Muhammadiyah 04 Sukorejo (Mupat) yang lokasi berada disamping perempatan kebumen  dibawah terminal sukorejo, tapi masih dalam satu zona dari tempat tinggal tidak jauh, sering jalan kaki walapun lumayan sedikit lama jaraknya -+ 3 KM, tapi saya lebih sering jalan kaki lewat jalan tikus  lewat Tlangu Barat yang ada kebun jadi lebih dekat.

Terus yang mau diributkan apa soal sistem zonasi ini. Saya mengamalkan dari dulu tidak ada rasa penyesalan, Justru biasa saja masa bodo, Lulusan sekolah tidak favorit pun saya bisa mendaftar kerja, Alhamdulillah punya uang bisa menikah dan dikaruniai dua orang anak cewe dan cowo, Setelah kerja dan menikah saya lanjut kuliah, Masih bisa hidup normal hasil didikan zonasi.

Oke, misal, kalau seandainya sekolah ditempat yang tidak favorit karena dampak sistem zonasi, Akhirnya tidak pandai seperti lulusan sekolah favorit, Jadi tidak bisa mendapatkan beasiswa kuliah, karena sekolah diswasta dianggap kurang nilainya, atau statusnya tidak dianggap. Apalagi dari keluarga tidak mampu bagaimana mau kuliah.

Justru yang harus kalian cari adalah teman relasi, bayangkan dulu saya beberapa kali mau diberi beasiswa kuliah oleh beberapa orang. Tapi saya menolaknya lebih memilih perguruan tinggi yang masih baru belum terkenal dengan biaya sendiri dan yang penting lokasi masih dalam satu zona dari tempat tinggal saya sekarang.

Karena kalau saya pribadi punya kelainan sifat, kalau dapat beasiswa selalu jadi orang nakal, bolosan dan sudah punya pengalaman waktu dulu mendapatkan beasiswa , Jadi lebih baik pakai uang sendiri kalau rugi, ya rugi sendiri, Akhirnya berpikir, sayang benar kerja keras buat bayar kuliah kalau akhirnya malah jadi mahasiswa tidak benar.

Jadi buat apa mengejar-ngejar tipe favorit capek doang, ngejar gengsi tidak akan ada habisnya kata orang tua sih. Sekali kali hidup prihatin (menyamar jadi orang susah).

Banyak pasti sekolahan swasta yang favorit di zona tempat tinggal anda, Apa lagi yang islami,  kalau yang non muslim lebih ke yayasan yayasan non muslim kan juga banyak. Memang tidak ada sekolah swasta yang berkualitas ? Sampai segitunya memandang sekolah swasta misalkan, Sehingga harus ribut dengan sistem zonasi yang mengakibatkan kita tidak bisa masuk sekolah favorit.

Adis Setiawan
Mahasiswa | Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.