Jumat, Februari 26, 2021

Retorika Pemerintah Soal Virus Korona

Habib Rizieq dan Peta Politik 2024

Kedatangan Habib Rizieq Shihab ke tanah air, seperti gelombang rakyat yang melebihi penghormatan seorang Presiden. Bertepatan di hari Pahlawan (10/11) Habib Rizieq disambut dengan...

Ada Apa dengan Kondisi Ekologis Hari Ini?

Zaman semakin melangkah maju. Kecanggihan teknologi nampaknya menjadi fasilitator penting manusia menghadapi kondisi batas terhadap alam. Segala keterbatasan yang dahulunya merupakan penghambat gerak, kini...

Menatap Masa Depan Sekolah Kejuruan di Era Industri 4.0

Aneh rasanya apabila institusi yang bertujuan untuk mengurangi pengangguran dengan pendidikan kejuruan (spesialisasi), justru memberikan sumbangsih pengangguran tertinggi dari pada institusi lainnya. Ironisnya, institusi...

Prahara Kartu Prakerja di Tengah Keterasingan Masyarakat

Polemik mengenai kartu pra kerja yang dirilis pada 20 Maret 2020 lalu hingga kini masih menjadi perbicangan hangat ditengah masyarakat. Mulanya peluncuran ini dipercepat...
Muhammad Yusuf el-Badri
Pengkaji Islam dan Kebudayaan di Simak Institute

Pada hari Sabtu yang lalu, 1/3/20, saya bersama dengan dua orang teman, ngobrol santai di sebuah rumah makan di pinggiran Jakarta. Obrolan itu sampai pada pertanyaan yang mengheran seorang teman, kenapa virus Korona belum sampai di Indonesia. Ia lalu mencoba mengonfirmasi kebenaran klaim tentang ras Melayu yang tahan virus dan berharap ada diantara kami yang membaca informasi lain.

Saya mulai menanggapi masalah itu dengan tulisan Dahlan Iskan yang dimuat di disway.id, Catatan Harian Dahlan Iskan. Lengkapnya silakan baca di sini. Tanggapan itu saya tutup dengan catatan, bahwa apa yang ditulis oleh Dahlan Iskan hanya berdasarkan perjalanannya sendiri dan cerita para ahli dengan 10 pasien yang diperiksa di Labor Universitas Airlangga. Dan itu sangat tidak mewakili Indonesia yang sangat luas.

Sebelum ditanggapi oleh dua teman lain tadi, saya mengutarakan kemungkinan lain, yakni bahwa tidak adanya korban virus Korona di Indonesia bisa saja sengaja ditutupi dan tidak diberitakan sama sekali atas intervensi pemerintah. Hal ini mengingat dua hal, yakni kerja sama pemerintahan Indonesia dengan China yang sangat akrab selama pemerintahan Jokowi dan  antisipasi konflik horizontal karena Sinophobia (anti-China) yang selain dapat mengganggu investasi negara Tiongkok di Indonesia juga dapat mengganggu keakraban antar warga negara karena rasisme.

Kemungkinan itu saya sampaikan karena tidak percaya pada teori yang dilahirkan kemarin sore, ras Melayu kebal virus. Terlebih lagi teori itu hanya berdasar pengalaman umum belasan tahun lalu tentang virus SARS dan MERS, bukan atas dasar penelitian ilmiah. Teori ini kemudian seakan dikampanyekan di media massa Indonesia sehingga masyarakat abai pada bahaya virus. Dan penolakkan terhadap turis asal China seperti terjadi di Sumatera Barat tidak melebar ke daerah lain.

Hingga WHO menyampaikan ancaman pada negara yang tidak melaporkan korban terinveksi virus Korona pada 29 Februari 2020, pemerintah Indonesia tidak menyebut adanya korban di Indonesia. Bahkan setelah diberitakan warga Jepang positif Korona sepulang dari Indonesia, pemerintah masih mengklaim tak ada warga yang terinveksi virus mematikan itu. Padahal virus Korona itu telah mewabah dan mematikan ribuan korban di berbagai negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika Australia, Malaysia dan Singapura.

Dari fakta ini, saya menyimpulkan bahwa pemerintah Indonesia tidak hanya telah mengabaikan perlindungan rakyat Indonesia tapi juga telah bermain-main dengan nyawa manusia. Abainya perlindungan terhadap rakyat Indonesia dari virus yang berbahaya itu dapat kita lihat salah satunya dari pengamanan di bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dalam kunjungan saya ke Bandara Soeta pada pertengahan Februari 2020, terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak terlihat bahwa dunia sedang dalam bahaya penyebaran virus dan tidak ada tanda-tanda pemeriksaan kesehatan bahkan hingga ruang tunggu. Saya mengira mungkin pemeriksaan kesehatan penumpang dilakukan di tempat tertentu yang tersembunyi. Laporan dari detikcom pada 2/3/20 membenarkan bahwa pengawasan terhadap virus Korona di bandara Soekarno-Hatta memang ala kadarnya sehingga terkesan sedang tidak terjadi apa-apa, di bandingkan dengan negara lain yang wasapada.

Dua hari setelah ancaman WHO itu, pemerintah melaporkan ada dua warga Indonesia yang terinveksi virus Korona. Setelah menyampaikan laporan itu, Presiden Jokowi masih saja mengklaim bahwa sejak awal pemerintah telah mempersiapkan rumah sakit dengan 100 ruang isolasi,  peralatan dan SOP dengan standar internasional.

Negara telah gagal mendeteksi adanya virus Korona yang masuk melalui warga negara asing. Bahkan hingga warga negara Jepang itu kembali pulang tak ada informasi apapun kecuali negara lain memberitakannya positif Korona. Ini menunjukkan negara tidak melakukan perlindungan terhadap warga negara atau sengaja mendiamkan adanya virus yang menyebar.

Jika satu warga Jepang saja dapat menjangkiti dua warga negara, bagaimana dengan ratusan warga Indonesia yang pulang dari Wuhan,  China beberapa bulan lalu? Apa mungkin mereka kebal virus Korona atau sengaja ditutupi oleh pemerintah? Hal ini perlu dilihat kembali demi menyelamat nyawa jutaan orang Indonesia.

Seandainya benar pemerintah terlibat dan sengaja menutupi penyebaran virus Korona, maka ini tindakan memalukan dan keterlaluan. Akan lebih memalukan lagi bila penutupan itu dengan alasan politik dan investasi China di Indonesia. Apalah artinya investasi, perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur bila mengabaikan satu jiwa manusia. Atau bagi pemerintah satu jiwa manusia tidak lebih berarti di banding uang da pembangunan?

Kalau sampai terjadi bahwa demi pembangunan dan ekonomi, negara Indonesia harus mengorbankan jiwa manusia, maka Pancasila telah mati di hadapan investasi dan pembangunan. Klaim nasionalisme pemerintah hanya omong kosong belaka, selain untuk menjadi tameng menghadapi lawan politik.

Muhammad Yusuf el-Badri
Pengkaji Islam dan Kebudayaan di Simak Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.