Selasa, Desember 1, 2020

Retorika Pemerintah Soal Virus Korona

Meninggalkan Jejak Puasa Ramadhan

Tanpa kita sadari waktu terus berjalan, sejak kita di dalam kandungan yang berumur hari, kemudian minggu dan bulan lalu terlahir menjadi bayi, remaja, dewasa,...

Yogyakarta dalam Lingkaran “Setan” Pembangunan

Yogyakarta tak ubahnya seorang “adik” bagi ibukota Jakarta. Banyak hal yang dirasa mirip diantara kedua daerah tersebut. Mulai dari historisnya, hingga permasalahan kota yang...

Pasca OTT Walikota Medan

Kasus korupsi yang melibatkan Kepala Daerah terus terjadi. Rabu dini hari (16/10/19) Walikota Medan Dzulmi Eldin ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Eldin ditangkap bersama...

Ketika Urang Banjar Bertemu Wong Jowo

Indonesia dianugerahi kekayaan budaya yang tak terbendung, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan budaya ini juga melahirkan kekayaan bahasa yang sangat berharga. Hal ini...
Muhammad Yusuf el-Badri
Pengkaji Islam dan Kebudayaan di Simak Institute

Pada hari Sabtu yang lalu, 1/3/20, saya bersama dengan dua orang teman, ngobrol santai di sebuah rumah makan di pinggiran Jakarta. Obrolan itu sampai pada pertanyaan yang mengheran seorang teman, kenapa virus Korona belum sampai di Indonesia. Ia lalu mencoba mengonfirmasi kebenaran klaim tentang ras Melayu yang tahan virus dan berharap ada diantara kami yang membaca informasi lain.

Saya mulai menanggapi masalah itu dengan tulisan Dahlan Iskan yang dimuat di disway.id, Catatan Harian Dahlan Iskan. Lengkapnya silakan baca di sini. Tanggapan itu saya tutup dengan catatan, bahwa apa yang ditulis oleh Dahlan Iskan hanya berdasarkan perjalanannya sendiri dan cerita para ahli dengan 10 pasien yang diperiksa di Labor Universitas Airlangga. Dan itu sangat tidak mewakili Indonesia yang sangat luas.

Sebelum ditanggapi oleh dua teman lain tadi, saya mengutarakan kemungkinan lain, yakni bahwa tidak adanya korban virus Korona di Indonesia bisa saja sengaja ditutupi dan tidak diberitakan sama sekali atas intervensi pemerintah. Hal ini mengingat dua hal, yakni kerja sama pemerintahan Indonesia dengan China yang sangat akrab selama pemerintahan Jokowi dan  antisipasi konflik horizontal karena Sinophobia (anti-China) yang selain dapat mengganggu investasi negara Tiongkok di Indonesia juga dapat mengganggu keakraban antar warga negara karena rasisme.

Kemungkinan itu saya sampaikan karena tidak percaya pada teori yang dilahirkan kemarin sore, ras Melayu kebal virus. Terlebih lagi teori itu hanya berdasar pengalaman umum belasan tahun lalu tentang virus SARS dan MERS, bukan atas dasar penelitian ilmiah. Teori ini kemudian seakan dikampanyekan di media massa Indonesia sehingga masyarakat abai pada bahaya virus. Dan penolakkan terhadap turis asal China seperti terjadi di Sumatera Barat tidak melebar ke daerah lain.

Hingga WHO menyampaikan ancaman pada negara yang tidak melaporkan korban terinveksi virus Korona pada 29 Februari 2020, pemerintah Indonesia tidak menyebut adanya korban di Indonesia. Bahkan setelah diberitakan warga Jepang positif Korona sepulang dari Indonesia, pemerintah masih mengklaim tak ada warga yang terinveksi virus mematikan itu. Padahal virus Korona itu telah mewabah dan mematikan ribuan korban di berbagai negara di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Afrika Australia, Malaysia dan Singapura.

Dari fakta ini, saya menyimpulkan bahwa pemerintah Indonesia tidak hanya telah mengabaikan perlindungan rakyat Indonesia tapi juga telah bermain-main dengan nyawa manusia. Abainya perlindungan terhadap rakyat Indonesia dari virus yang berbahaya itu dapat kita lihat salah satunya dari pengamanan di bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Dalam kunjungan saya ke Bandara Soeta pada pertengahan Februari 2020, terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak terlihat bahwa dunia sedang dalam bahaya penyebaran virus dan tidak ada tanda-tanda pemeriksaan kesehatan bahkan hingga ruang tunggu. Saya mengira mungkin pemeriksaan kesehatan penumpang dilakukan di tempat tertentu yang tersembunyi. Laporan dari detikcom pada 2/3/20 membenarkan bahwa pengawasan terhadap virus Korona di bandara Soekarno-Hatta memang ala kadarnya sehingga terkesan sedang tidak terjadi apa-apa, di bandingkan dengan negara lain yang wasapada.

Dua hari setelah ancaman WHO itu, pemerintah melaporkan ada dua warga Indonesia yang terinveksi virus Korona. Setelah menyampaikan laporan itu, Presiden Jokowi masih saja mengklaim bahwa sejak awal pemerintah telah mempersiapkan rumah sakit dengan 100 ruang isolasi,  peralatan dan SOP dengan standar internasional.

Negara telah gagal mendeteksi adanya virus Korona yang masuk melalui warga negara asing. Bahkan hingga warga negara Jepang itu kembali pulang tak ada informasi apapun kecuali negara lain memberitakannya positif Korona. Ini menunjukkan negara tidak melakukan perlindungan terhadap warga negara atau sengaja mendiamkan adanya virus yang menyebar.

Jika satu warga Jepang saja dapat menjangkiti dua warga negara, bagaimana dengan ratusan warga Indonesia yang pulang dari Wuhan,  China beberapa bulan lalu? Apa mungkin mereka kebal virus Korona atau sengaja ditutupi oleh pemerintah? Hal ini perlu dilihat kembali demi menyelamat nyawa jutaan orang Indonesia.

Seandainya benar pemerintah terlibat dan sengaja menutupi penyebaran virus Korona, maka ini tindakan memalukan dan keterlaluan. Akan lebih memalukan lagi bila penutupan itu dengan alasan politik dan investasi China di Indonesia. Apalah artinya investasi, perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur bila mengabaikan satu jiwa manusia. Atau bagi pemerintah satu jiwa manusia tidak lebih berarti di banding uang da pembangunan?

Kalau sampai terjadi bahwa demi pembangunan dan ekonomi, negara Indonesia harus mengorbankan jiwa manusia, maka Pancasila telah mati di hadapan investasi dan pembangunan. Klaim nasionalisme pemerintah hanya omong kosong belaka, selain untuk menjadi tameng menghadapi lawan politik.

Muhammad Yusuf el-Badri
Pengkaji Islam dan Kebudayaan di Simak Institute
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.