in

Paradoks Etika Humanisme


Paradoks anti-kekerasan sebagai bagian dari produk etika humanisme adalah kegemarannya mengeksploitasi kekerasan untuk dinikmati sebagai pertunjukan, pemenuhan hasrat ingin tahu, komoditas informasi, atau sekedar selera untuk membangkitkan perasaan penonton akan halusinasi keberadaban. Karena dengan mempertontonkan sisi kebiadabanlah sisa-sisa sisi keberadaban dievakuasi. Tentu saja dengan menjadikan kebiadaban sebagai sebuah tolok-ukur tersendiri.

Seolah-olah ada kesepakatan umum yang tidak tertulis, bahwa sebuah kerumunan akan dianggap beradab ketika ia telah mampu mengolok-olok sejarahnya sendiri. Dengan kata lain, mengolok-olok dirinya sendiri sebagai bagian dari kesatuan kolektif. Sembari disadari ataupun tidak, hal itu telah memungkinkan terjadinya reproduksi kekerasan, mentransformasikannya ke dalam bentuk lain, di wilayah-wilayah yang lain, yang nantinya juga akan menjadi bahan olok-olok bagi generasi selanjutnya, di ruang dan waktu yang berbeda. Inilah yang disebut sebagai lingkaran setan kekerasan.

Gejala itu dapat dijumpai akhir-akhir ini, di dalam komoditas isu rasialisme misalnya, atau kegemaran mengemas kekerasan dengan mengenakan baju agama, nasionalisme, bermain-main dengan simbol, politik bahasa, sementara abai pada situasi riil yang ada di depan mata, seperti konflik agraria, kerusakan ekologi dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau mengamati apa yang sedang terjadi baru-baru ini, malah ada yang lebih baru lagi dan beberapa hari lalu sedang ramai diperbincangkan di jagad maya, yaitu publikasi arsip milik AS mengenai tragedi genosida pada tahun 1965 di Indonesia. Sebenarnya ini adalah isu usang. Karena bila masih ingat, dua tahun silam beberapa media juga sudah pernah mengabarkan CIA membuka 19 ribu halaman memo dengan dalih bahwa rahasia negara itu telah kadaluwarsa. Namun entah mengapa tiba-tiba viral itu berhenti, hanya selang beberapa bulan sebelum hiruk-pikuk Papa Minta Saham mencuat dan jadi trending topic di Twitter.

Barangkali pemegang kuasa pengetahuan dari Paman Sam itu sedang merancang momen yang tepat. Karena tindakan itu, yang menyangkut hubungan-hubungan yang bisa memberi dampak langsung terhadap situasi sosial pada negara lain, tentu tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks geopolitik dalam perkembangan yang terjadi di dunia saat ini. Terutama, bila mengamati bagaimana rute kapital bergerak dari negara-negara besar satu ke negara besar yang lain.

Kawan saya, Billowo, pakar Juve garis lurus, membagikan pandangannya yang sarat dengan sinisme ketika suatu kali ngobrol di warung kopi dan membahas tentang hal itu.

“Dalam metafora geopolitik sederhana..,” demikian kata Bilowo mengawali komentarnya, “..viral berita tentang publikasi arsip genosida 65 oleh AS itu seperti Juve, eh salah, seperti mantan yang gagal move on lalu nyebarin video bokepnya lantaran melihat si mantan lagi kencan sama pasangan barunya”


“Kalau di Poker..” lanjutnya “..dengan memegang memorabilia catatan tragedi 65, dikiranya kalau AS sudah pegang straight flush dia pasti bakalan menang. Padahal pasangan baru yang lagi kencan sama mantannya itu, pegang royal flush. Ujungnya bisa diterka, sejarah genosida dan korban dikerdilkan sedemikian rupa jadi benda taruhan sampingan demi hajat ekonomi politik tai kopet. Kalau ndak percaya, silahkan diuji dengan menelusuri blueprint ekonomi yang sedang dibangun, konstelasi politik nasionil..”

“Nasional!” kataku mencoba mengoreksi.

“Ho’oh, nasionaall.. dan agensi kapitalis global dalam agenda nasionil. Siapa sekarang yang sedang bercocok-tanam dolar?”

***

Sebelumnya, mohon dimaafken bila ada yang merasa terganggu dengan diksi kawan saya itu. Seperti “bokep”, “poker” dan “tai kopet”. Memang begitulah Billowo. Tapi agaknya dia punya alasan tersendiri mengapa memilih diksi semacam itu. Boleh jadi, ya, itulah gaya obrolan warung kopi, yang seperti di lagu Warkop DKI, “..sekedar suara rakyat kecil.. bukannya mau usil..” kata lirik di lagu itu.

Dengan menggunakan metafora untuk menggambar sketsa geopolitik, Billowo sedang mencoba menemukan pola dari suatu narasi yang seolah terlepas-lepas tapi sebetulnya berhubungan satu sama lain.

Melalui pengandaiannya tentang bokep, Billowo hendak menjelaskan bahwa suatu narasi tentang tindakan pembantaian yang dipertontonkan sedemikian rupa oleh beragam industri media itu tidaklah semata-mata berfungsi untuk membuka selubung kebenaran. Tetapi juga sekaligus mengemban fungsi lain: hiburan, pemenuhan hasrat ingin tahu dan birahi akan kebenaran.

Ketika masuk ke metafora geopolitik, Billowo dengan pembayangannya tentang permainan kartu, sedang mengajak saya untuk tidak reaktif merespon kabar yang ditiupkan dari negeri Paman Sam tersebut.

Alih-alih meresponnya secara reaktif, Billowo sedang mengajak untuk melihat viral berita itu melalui lanskap global, dengan lensa zoom-out dan bukan zoom-in, yakni dengan menyusun indikator apa saja yang mungkin melatarbelakangi Paman Sam melakukan penyebaran video yang dulu pernah dibikin dengan mantannya itu.

Dalam relasi asmara mantan yang gagal move on, hal paling mungkin yang melatarbelakangi Paman Sam nyebarin videonya sendiri, apalagi kalau bukan cemburu?

Ya, dan itu dapat diketahui bila menyimak berita yang membahas dinamika ekonomi dunia, yang seperti bisa digoogling di laman internet, pertumbuhan ekonomi Tirai Bambu cukup membikin keder aset Paman Sam di negara dunia ketiga (walaupun istilah dunia ketiga ini sudah jadul karena muncul dalam konteks perang dingin, namun sebagai penunjuk peta ekonomi dunia, saya menganggap istilah itu masih relevan).

Belakangan, isu yang paling gampang distabilo yang agaknya menyulut Paman Sam beraksi dengan sembunyi di balik selubung kemanusiaan lewat akting publikasi arsip pembantaian 65, adalah soal perpanjangan kontrak tambang Mc Moran terkait divestasi saham 51% Paman Sam. Hal itu masih ditambah dengan isu RUU Hukum Adat yang digodok, yang jika goal, akan melapangkan jalan bagi masyarakat di sekitar aset Paman Sam seperti suku Amungme dan Kamoro yang sejak UU PMA tahun 67 ruang hidupnya terus tergerus.

Tekanan itu kian diperkeruh dengan menguatnya perekonomian Tirai Bambu, terutama di negara-negara Asia. Seperti dikonfirmasi oleh Wakil Presiden Senior Kebijakan Global Dewan Industri Teknologi Informasi AS Josh Kallmer, yang diberitakan 5 Oktober lalu, yang mengatakan Cina telah membuat peraturan yang kurang menguntungkan bagi perusahaan asing. Dan saya menduga, itulah blueprint yang dimaksud Billowo sebagai bentuk agensi kapitalis global.

Sampai di sini, kita memperoleh sketsa awal tentang apa yang sebetulnya sedang belangsung di balik publikasi arsip yang berlindung dalam topeng kemanusiaan. Bahwa apa yang dibayangkan tentang pembongkaran tragedi masa silam itu tidak sepenuhnya tulus sebagaimana mungkin dibayangkan, tetapi sarat dengan kepentingan ekonomi politik tai kopet (seperti Billowo mengistilahkannya), di mana Asia — khususnya Indonesia, tetap terlihat seksi meski sudah diperkosa berkali-kali  — seperti dinyatakan Simon Philpott dalam disertasinya “Rethinking Indonesia: Postcolonial Theory, Authoritarianism, and Identity” — dan menjadi surga dambaan yang menentukan kelangsungan hidup Paman Sam di masa-masa mendatang. Tapi kini, peluang itu kian kecil sejak Tirai Bambu berhasil menunjukkan dirinya sebagai cahaya dari Asia.


Written by Rio Belvage

Pembaca, pesepeda, penonton film, yang merangkap peneliti Antropologi.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR