Selasa, Maret 2, 2021

Reposisi Gerakan Pemuda

Diskursus Dibalik Pemutaran dan Peremajaan Film G30S

Film merupakan sebuah karya untuk memberikan sebuah pandangan baru, merekonstruksi pemikiran seseorang agar terpengaruh oleh pesan yang ingin disampaikan. Sehingga terkadang film merupakan upaya...

Air dan Kota: Jakarta (Jangan) Tenggelam

"Air adalah saudara, ada saatnya kita akan didatangi" Ciliwung Institute. Kalimat singkat sarat makna. Bagaimana tidak, quote tersebut mengandung esensi tentang hubungan berkelindan antara manusia dan...

Bunuh Diri, Bermula dari Kematian Sosial

Bunuh diri tidak pandang bulu dan mungkin akan selalu ada di kolom berita seperti menu wajib yang mustahil ditinggalkan. Jika datang di momen yang...

Penurunan Obligasi Bukan Satu-Satunya Langkah Menarik Investor

Penurunan obligasi tentu menimbulkan berbagai dampak, diantaranya dampak kebijakan pengurangan PPh bunga obligasi terhadap industri reksadana bergantung pada keputusan besarnya. Saat ini pajak diskonto...
Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

Melihat dari uraian sejarah perjuangan para pemuda pada masa penjajahan, seharusnya kaum muda pada saat ini menjadi penerus pelopor terdahulu. Untuk mengaktualisasikan kemerdekaan menjadi pilar kemajuan bangsa.

Bagi bangsa Indonesia itu sendiri, peran pemuda menjadi wujud kekuatan potensial yang selalu menjadi coretan sejarah dalam perjuangannya dalam berbagai gerakan, baik itu di bidang politik, kebudayaan, agama, bahkan dalam lingkup globalisasi yang semakin tak terelakkan kini.

Romantika sejarah mencatat, peran pemuda sebagai “pemberontak” yang terjadi secara turun-temurun itu dipelopori oleh gerakan pemuda, seperti Budi Oetomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Proklamasi Kemerdekaan 1945, generasi 1966 sampai gerakan 1998, yang dikenal dengan nama reformasi. Namun, kali ini gerakan pemuda yang karap hanyut tertimbun peradaban banyak sekali ditemui. Bahkan, peran pemuda sebagai generasi pembaharu menuju kemajuan Indonesia perlu adanya peninjauan kembali. Fakta yang terjadi di Indonesia, sangat jauh dari harapan. Negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur seperti mimpi di siang bolong. Kekayaan sumber daya alam yang ada seperti tikus mati di dalam lumbung padi, juga permasalahan moral yang kerap dimembumbui perjalanan Negara Indonesia ini.

Kemandirian bangsa tentunya menjadi atensi dari semua elemen bangsa terutama untuk pemuda yang menjadi aset masa depan suatu bangsa. Tidak dapat dipungkiri, peranan pemuda dalam sangat penting dan berkelanjutan dalam perjalanan kehidupan berbangsa. Mengingat peranan dan posisinya yang strategis dalam konfigurasi kehidupan kebangsaan, maka dari itu sudah sepatutnya peranan pemuda menjadi aset sosial bangsa yang strategis dalam pembangunan negeri.

Reposisi peran pemuda ini, menjadi sebuah keniscayaan karena tantangan pada perubahan dunia secara global tidak sama lagi dengan tantangan dunia pada 10-20 tahun yang lalu. Saat ini telah terjadi pergeseran paradigma karena generasi muda yang lahir saat ini beriringan dengan lahirnya perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat.

Dalam era digital yang sangat mudah dan instan ini, peranan orang tua tidak lagi menjadi pacuan untuk mengambil posisi “Ing Ngarso Sung Tolodo”, yang mendorong pemuda untuk mengambil alih-alih peran inisiatif. Namun pada pengaplikasiannya, generasi tua menempatkan posisi sebagai “Tut Wuri Handayani” dengan memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, kecerdasan, serta kekuatan moral untuk membentengi kaum muda dari era globalisasi yang mencengkam ini.

Reposisi gerakan pemuda itu sendiri, yaitu sebagai gerakan civil society yang akan terus menempatkan pemuda sebagai pelatuk sekaligus pengawal perubahan. Pemuda yang didefinisikan sebagai social human seharusnya memiliki kesadaran organik dan senantiasa bergerak dalam kerangka kelembagaan. Pada era desentralisasi ini, seharusnya pemuda dapat menginternalisasi kembali efektifitas gerakannya.

Dalam jejak rekamnya, pemuda acap kali dalam posisi sebagai pelopor pembaharu, pelatuk pengawal perubahan, menjadi latar belakang desentralisasi yang semestinya menemukan titik temu peran pemuda yang telah melekat dalam dirinya.

Sebuah peradaban tak akan bangkit tanpa adanya spirit dari para pemuda, sebuah bangsa tak akan merdeka tanpa adanya perjuangan keras dari para pemuda, sebuah organisasi tak akan maju tanpa peran besar dari para anggota mudanya. Seperti yang disampaikan Bung Karno dalam salah satu pidatonya: “Beri aku sepuluh pemuda maka aku akan goncangkan dunia, jika aku muda maka aku akan berontak dalam posisi seperti ini”. Ini bukanlah pernyataan retoris apalagi mengandung unsure apologetic, melainkan pernyataan ini sebagai pertimbangan bahkan dijadikan solusi atas kebuntuan dan kemunduran zaman. Maka, kepemimpinan muda merupakan suatu kemutlakan yang diharapkan masih berkontribusi dalam bernegara.

Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.