OUR NETWORK

Remember Only Better

Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan saya dengan teman sebaik Rishab saat saya jauh dari keluarga dan sahabat.

Saya sedang mencuci piring semalam saat Rishab kembali dari supermarket dan berseru bahwa cookies yang dia beli mengandung telur. Rishab adalah housemate saya. Kami tinggal bertujuh dengan teman-teman dari negara lain. Rishab berasal dari India dan beragama Jain.

Pengikut Jain adalah vegetarian. Hanya, di saat vegetarian lain boleh memilih menjadi lacto-ovo vegetarian (vegetarian yang mengkonsumsi produk susu dan telur), seorang Jain minimal adalah lacto vegetarian, masih boleh memakan produk susu. Menjadi vegan lebih dianjurkan bagi seorang Jain.

Menyakiti, apalagi membunuh makhluk lain haram hukumnya bagi Jain. Menurut Rishab, awalnya Jain selalu berpuasa di malam hari. Di awal penyebaran Jain, penerangan masih langka. Saat mereka minum, besar kemungkinan ada semut atau serangga lain yang dapat tertelan karena tidak terlihat di gelapnya malam. Untuk menghindarinya, Jain mengharuskan pengikutnya berpuasa setelah matahari tenggelam. Mengkonsumsi telur dianalogikan dengan membunuh calon makhluk baru. Maka Jain melarangnya.

Waktu berlalu. Manusia menemukan penerangan yang lebih memadai. Thomas Alfa Edison mulai memasarkan bola lampu. Penganut Jain akhirnya boleh makan di malam hari. Rishab memegang teguh gaya hidup vegetariannya dan menjauhi semua aktivitas yang tidak mendukung gerakan ‘menghargai binatang’.

Rishab tidak dapat membantu saya menerjemahkan cooking instruction di kemasan produk ikan dari supermarket karena itu berarti Rishab mendukung kebiasaan karnivor saya. Hal itu jelas melanggar konsep Jain. Rishab juga hanya membolehkan kartu diskonnya dipakai untuk membayar minuman non alkohol dan makanan vegetarian.

Saya menceritakan ini bukan untuk menjelekkan Rishab tetapi untuk menggambarkan bagaimana efek menjadi Jain menurut Rishab. Di atas itu semua, Rishab is a really nice, helpful, knowledgeable person, mind you. Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan saya dengan teman sebaik Rishab saat saya jauh dari keluarga dan sahabat.

Kembali pada kejadian semalam. Seketika saya menawarkan pada Rishab untuk membeli cookies dari dia, supaya Rishab tidak merasa rugi. Apa saya suka cookies itu? Tidak, cookies Rishab fruit and nut, saya lebih suka triple chocolate. Apa saya ingin makan cookies? Tidak, saya sudah kenyang, baru saja selesai makan malam. Lalu? Ya apa salahnya menggembirakan orang lain, bukan? Toh £1 juga tidak mahal. Saya tinggal kasih uang ke Rishab dan kasih cookies ke housemate lain atau menaruhnya di pantri perpustakaan besok. Pasti banyak yang mau.

Tapi… jeng…jeng… Rishab menolak. Kenapa? Dengan mengijinkan saya membeli berarti Rishab mendukung orang lain makan telur. Jain hanya mendukung pola hidup vegetarian. Bagaimana jika dikembalikan ke supermarket saja? Ternyata bukan opsi yang bijak. Karena pada akhirnya produk yang Rishab kembalikan akan dibeli orang lain. Secara tidak langsung Rishab memudahkan orang lain memakan telur. Menurut Rishab, dalam Jain itu adalah dosa.

Jadi apa solusinya? Buang. Eh? You read it right, buang ke tempat sampah. Jengkel langsung menguasai saya. Semangat altruism membuat saya sontak bete pada Rishab.

Satu detik, dua puluh detik, sembari meneruskan cuci piring akhirnya saya sampai pada zen..zen.. Saya lalu ingat beberapa pesan yang saya dapat dari ngaji-ngaji saya yang sporadis. Dulukan akhlaq. Juga imam siapa yang mengajarkan doa saat kita terpaksa harus membuang makanan? Imam Hanafi, bukan? “Ya Allah, semoga makanan ini berguna bagi makhluk lain.” Habis perkara.

Seketika hati agak tenang. Kalau tidak ingat ajaran-ajaran tadi, mungkin kami bakal perang mulut. Lalu, walau mungkin kelihatan menerima di awalnya, Rishab akan membenci saya dan tidak mau menyapa (ini terjadi antara Rishab dan satu housemate lain, tapi mereka sudah baikan sekarang). Lalu suasana rumah jadi tidak kondusif dan saya jadi malas pulang. Lalu kualitas hidup kami berdua terganggu dan pasti akan berpengaruh terhadap proses belajar kami.

Apalagi ini masa ujian. Masak hanya karena cookies £1 segalanya rusak? Mungkin seperti membesar-besarkan, tapi kejadiannya memang selalu seperti itu, bukan? Perpecahan sering berasal dari hal-hal kecil. Kemudian apapun yang dilakukan oleh pihak lain akan terasa salah, karena kita mulai berapriori. Dan akhirnya perpecahan berkembang menjadi besar seperti supermarket yang terbakar karena api dari puntung rokok. Tragis.

Saya ingat kondisi di tanah air. Sama dengan saya dan Rishab. Rishab niatnya baik, menjalan agama sesuai yang dia tahu. Saya juga niatnya baik, membuat Rishab happy dan tidak membuang makanan. Tapi kalau kami memaksakan mewujudkan niat kami masing-masing, akan terjadi perang. Semua ini berakar dari ego merasa paling benar. Diejawantahkan dengan mengesampingkan sesuatu yang lebih wajib: menaruh kebahagiaan di hati orang lain sesuai koridornya.

Sambil mengelap piring saya berpikir. Sama-sama mengalah itu memang susah. Tidak heran kondisi perpecahan di tanah air kita seperti sekarang. Saya tidak maido. Saya juga tidak tahu jalan keluarnya. Saya jadi ingin memodelkan perpecahan karena agama di Indonesia memakai System Dynamics. Melihat inti masalah yang sebenarnya di bawah gunung es yang hanya tampak puncaknya.

Masalah cookies saja sudah membikin saya merasa tidak damai. Energi negatif yang tidak perlu. Apalagi mereka yang merasa apa yang mereka bela lebih besar dari cookies atau dari hak-hak students lain di perpustakaan yang pasti akan bahagia bila mereka menemukan cookies gratis di pantri.

Tapi ayolah. Belajar menghormati. Rishab baru segitu tahunya. Dan saya juga baru segini. Saya akan marah kalau diskusi dilanjutkan. Rishab pasti juga akan begitu. Karena kehendak kami berdua sama-sama tidak terpenuhi. Padahal itu cookies Rishab, terserah Rishab mau diapain.

Saya tidak berdosa kalau Rishab membuangnya. Justru saya akan berdosa kalau membuat Rishab terluka. Apa untung saya kalau Rishab tidak jadi membuang cookies? Menyelamatkan makanan 1000 kalori? Terus kenapa? Saya akan membuat orang tidak kelaparan? Tidak juga kan? Saya hanya akan membuat Rishab tidak nyaman.

Masak hanya karena cookies saya jadi melupakan kue ulang tahun yang Rishab bikin buat saya Maret kemarin? Atau saat saya tidak enak badan dan Rishab mengetuk pintu saya mengantarkan Indian toast dia yang super enak? Atau saat Rishab membantu saya mengerjakan tugas kuliah.

Jadi ya sudah. Saya susun rapi piring di lemari. Dan, good night, Rishab. May the Force be with us.

Bulan di luar terlalu besar dan indah untuk dirusak oleh masalah cookies. Di UK, bulan selalu terlihat lebih besar, dekat dan terang. Di Indonesia, bulan terlihat lebih kecil, jauh dan sinarnya tersamarkan noise cahaya lampu kota dan polusi. Tapi, di sana saya menikmatinya bersama orang-orang tersayang.

Pelajar. Dari Jawa Tengah. Penyuka The Cranberries.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.