Senin, April 12, 2021

Relasi Historis Jawa, Majapahit dan Republik

Menyoal Nalar Privat dan Nalar Publik Keberagamaan Kita

Seakan menjadi menu harian, masyarakat kita disuguhi kegaduhan diberbagai media sosial. Kegaduhan tidak bisa dipungkiri sarat dengan nuansa dan bahasa agama. Bisa disebut misalnya,...

Dinamika UU Terorisme di Tahun Politik

Beberapa waktu lalu, wacana atasi hoax dengan UU Terorisme bukan hanya menyulut perdebatan di tengah masyarakat, tapi juga menuntut logika tersirat. Menyulut perdebatan karena...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Ada Apa dengan Pajak E-Commerce?

Di era sekarang dunia seakan terasa sempit dan penuh dengan kemudahan. Hal ini tidak terlepas dari peranan teknologi yang semakin canggih sehingga tak bisa...
Aan Hasanudin
seorang anak desa, sekarang mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Untirta. Baginya, menulis adalah soal eksistensi.

Pada suatu malam yang mendung, secangkir kopi panas, dan alunan simphoni dari rintik hujan yang menyerbu bumi. Balutan sarung melilit tubuh menambah hangat malam ini. Pada menit 01:06:51 Minke yang seorang anak Bupati itu menyampaikan pidatonya dihadapan pembesar Belanda.

“Sejak Majapahit berdiri, negeri ini disatukan oleh sumpah yang ambisius. Meski pada akhirnya runtuh. Tapi semangat Majapahit itu menjadi api bagi masyarakat Hindia hingga hari ini. Peradaban kami adalah peradaban yang memiliki kebijakannya sendiri. melebihi sumber daya alam yang luar biasa yang merayu bangsa-bangsa lain. Pada hakikatnya, harkat dan martabat kami sedari awal sudahlah tinggi.”

Ya, penulis baru saja menonton film Bumi Manusia yang diangkat dari Tetralogi Pulau Buru karya Maestro Pramoedya Ananta Toer. Tidak seperti orang lain yang menonton Bumi Manusia di bioskop saat film itu baru rilis, penulis terbiasa menunggu film terkait hadir di web film bajakan baru setelah itu bisa menikmati tayangan film.

Kebiasaan yang mencerminkan kaum proletariat memang, hehe. Namun sebetulnya jauh sebelum masterpiece itu hendak diangkat menjadi sebuah film, penulis telah lebih dulu membaca seri novelnya. Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Sedangkan dua judul lainnya, yaitu Jejak Langkah dan Rumah Kaca belum sempat dibaca.

Beberapa minggu sebelum menonton film itu, penulis sempat terlibat diskusi ringan dengan teman yang mampir ke rumah. Obrolan itu membawa pada satu pertanyaan, “Apa yang menjadi faktor pemersatu Indonesia”, atau “Kenapa bangsa yang berbeda-beda ini bisa disatukan dalam satu negara bernama Indonesia?”.

Dugaan sementara mengemuka pada jawaban bahwa bangsa ini dipersatukan karena perasaan senasib sepenanggungan atas penjajahan untuk kemudian bersatu padu mengusir bangsa asing dan membentuk pemerintahannya sendiri. Namun, timbul lagi pertanyaan.

Bukan hanya Indonesia yang saat itu dijajah, hampir seluruh bangsa Asia dan Afrika berada dalam penjajahan Barat pada abad ke 18-19 Masehi. Pertanyaan seperti, kalau alasan persatuan itu senasib dan sepenanggungan kenapa Malaysia atau Singapura tidak bergabung saja menjadi Indonesia. Toh, mereka juga sama-sama dijajah. Sama-sama senasib dalam cengkeraman kolonialisme. Duh, bikin tidur tak nyenyak saja pertanyaannya.

Hadirnya teman diskusi itu membawa satu pertanyaan yang belum terjawab dan terus mendekam di kepala sampai akhirnya ketika penulis menonton film Hanung Bramantyo itu secercah jawaban mulai sedikit terkuak. Ya, faktor historis lah yang menjadi dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan, bukan hanya Indonesia, hampir seluruh negara di dunia terbentuk tidak terlepas dari historis dari negara masing-masing.

Fantastis memang, bangsa yang memiliki ratusan suku dan ribuan bahasa daerah ini bisa menjadi satu negara kesatuan. Belum lagi luas wilayah yang membentang dari samudera pasifik hingga samudera hindia ini, rasa-rasanya jika satu Provinsi dibentuk menjadi satu negara bisa saja terjadi. Walaupun memang syarat terbentuknya suatu negara itu bukan dihitung dari seberapa luas wilayahnya.

Kembali ke persoalan historis.

Jauh sebelum Republik ini tebentuk, nusantara terdiri dari banyak kerajaan. Periode Hindu-Budha, juga era Kesultanan Islam menjadi bukti bahwa sebelum lahirnya Indonesia, telah ada negara dengan bentuk Monarkhi. Pada masa Hindu-Budha tercatat kerajaan besar Sriwijaya dan Majapahit yang fenomenal. Bahkan keduanya masuk dalam kategori 100 imperium besar dunia.

Meminjam istilah “Minke” yang mengatakan “Bangsa ini disatukan oleh sumpah yang ambisius”, merujuk pada sumpah amukti palapa Gajah Mada, perdana menteri kerajaan Majapahit. Duet fenomenal Hayam Wuruk dan Gajah Mada membawa Majapahit pada era kejayaan dan menjadi negara yang disegani. Majapahit memang Indonesia di masa depan, atau secara terbalik bisa dikatakan Indonesia saat ini merupakan Majapahit di masa lalu. Hal ini cukup beralasan dengan beberapa simbol Majapahit dan kebudayaan Hindu-Budha yang diadopsi oleh Indonesia.

Pertama, lambang negara.

Lambang Negara Republik Indonesia adalah burung Garuda. Pertanyaannya, adakah burung Garuda di dunia nyata. Jawabannya adalah tidak ada. Burung Garuda merupakan hewan mitologi tunggangan dari Dewa Wishnu dalam kepercayaan agama Hindu. Tentu jangan heran kenapa hewan mitologi ini dijadikan sebagai lambang negara. Karena pada dasarnya tebentuknya Indonesia tidak telepas dari relasi historis dengan kerajaan masa lampau.

Kisah Garuda terdapat dalam kitab Mahabharata. Burung garuda ini melambangkan kekuatan. Mungkin para pendiri bangsa ingin menjadikan Indonesia negara yang kuat yang mampu mengolah potensinya, dari potensi laut yang membentang sampai tanahnya yang subur. Gemah Ripah Loh Jinawi, itulah dambaan orang-orang terhadap Indonesia. Islam mengenalnya dengan sebutan Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Sebelas dua belas makna dari dua kalimat ini.

Kedua, semboyan negara.

Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan yang diambil dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular pada abad ke-14. Sejak zaman dahulu toleransi umat beragama sudah dijalankan bangsa kita. Bhineka Tunggal Ika mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Budha pada masa itu.

“Rwaneka dhatu winuwus Budha Wiswa

Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen

Mangka ing jinatwa kalawan siwatatwa tunggal

Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”

Kurang lebih artinya seperti ini:

“Konon Budha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda,

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Budha) dan Siwa adalah tunggal

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.”

Darimana penulis tahu kutipan naskah kuno beserta artinya, tentu dari intenet. Tepatnya dari web Kemendikbud. Kutipan Mpu Tantular ini dibuat pada masa kerajaan Majapahit, memperkuat argumen bahwa pengaruh Majapahit terbawa sampai era Indonesia modern.

Bersambung

Aan Hasanudin
seorang anak desa, sekarang mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Untirta. Baginya, menulis adalah soal eksistensi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.