Senin, Januari 25, 2021

Rekonsiliasi Agama Dan Budaya

Menakar Kekuatan Oposisi Pasca Pemilu 2019

Putusan final Mahkamah Konstitusi (MK) pada 27 Juni lalu, menjadi pertanda runtuhnya sengketa pemilu 2019 yang, sempat melahirkan berbagai drama yang mengguncang dunia. Putusan...

Berguru Pada M. Quraish Shihab

Rabu, tanggal 16 Februari 1944, bertepatan dengan 22 Safar 1363 H. Seorang bayi mungil lahir diiringi tangisan yang keras, terdengar menyusup celah-celah daun jendela...

Indonesia, Multikultural dan Konflik

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang unik karena memiliki ribuan adat-istiadat. Memiliki apa yang disebut sebagai SARA (Suku, Agama dan Ras) yang menyebar dari Sabang...

Taman Nasional Komodo Terancam

Seandainya negara-negara anggota G-20 tahu bahwa Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun 2023 yang akan berlangsung di Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur (NTT), berpotensi sangat berdampak...
Dhanny Sutopo
Pengajar pada fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) Univ. Brawijaya Malang, sedang menempuh program doktoral pada Universitas Airlangga

Isu-isu benturan antara agama dan budaya di Nusantara ini harusnya adalah kisah usang, namun ekspresi beragama mengancam ekspresi berbudaya masih saja terjadi di republik yang telah berdiri 73 tahun ini.

Kisah paling mutakhir adalah peristiwa penolakan, bahkan perusakan, terhadap ritual sedekah laut di Bantul dan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, beberapa waktu lalu, hanyalah dua contoh bagaimana gesekan itu terjadi.

Tentu ini dapat menjadi gerbang petaka, sekedar memanggil ingatan konflik budaya dan agama dapat menjadi mata air bencana yang tidak bertepi, Kosovo dan Serbia dapatlah menjadi cermin.

Konflik panjang dan pelik mewarnai hubungan antara keduanya. Secara demografi, selain penduduk etnis Serbia, Kosovo juga dihuni oleh kelompok masyarakat etnis Albania. Keduanya dipisahkan oleh perbedaan agama yang dianut. Kelompok masyarakat etnis Albania mayoritas beragama Islam sejak pengaruh kekhalifahan Utsmaniyah Turki, sedangkan etnis Serbia memeluk Kristen Ortodoks Timur. Sebuah kisah pait yang terhampar hingga kini.

Oleh sebab itu gesekan yang terjadi di Bantul dan Banyuwangi, seketika menjadi perhatian bagi pemerintah. Tepat awal bulan Nopember 2018 ini ,bibit petaka tersebut coba disikapi oleh Kementrian Agama dengan memfasilitasi berlangsungnya Sarasehan Reaktualisasi Relasi Agama dan Budaya yang menghasilkan “Permufakatan Yogyakarta Agamawan dan Budayawan”. Permufakatan ini dirumuskan sebagai respon sejumlah tokoh agama dan budaya yang merasa gelisah memperhatikan fenomena  hubungan agama dan budaya di Indonesia.

Berbincang mengenai dua kutub agama dan budaya di negeri yang majemuk seperti Indonesia adalah tema uzur, sebab sejarah peradaban di Nusantara ini telah memperlihatkan agama dan budaya telah bersanding dengan damai. Bahkan para pendiri bangsa dengan penuh keyakinan mendirikan negara berdasar keberagaman masyarakat dan budayanya, tecermin di dalam Pancasila. Semua dengan satu tujuan, yaitu mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

Namun mengapa fakta miris dan kisah benturan budaya serta agama masih terjadi? Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin punya analisa yang menarik. Dia mengatakan, masih ada ketegangan antara budaya dan agama. Hal itu disebabkan, budaya yang berkembang bisa jadi justru bertolak belakang dengan agama yang ada.

Budaya sebagai produk hasil rasa karya cita manusia yang boleh jadi tidak berdasarkan agama. Sekarang tugas agamawan dan umat beragama bagaimana budaya itu tidak keluar dari nilai-nilai agama dan sekaligus keagamaan itu tidak keluar dari nuansa kebudayaan. Rekonsiliasi ini yang harus kita lakukan. Indonesia memiliki Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika untuk menghadapi kemajemukan yang ada. Namun, pemahaman terhadap dua simbol negara itu masih minim di mata masyarakat.

Guru Besar Filologi UIN Jakarta, Prof. Oman Fathurahman punya diagnosa mengenai hal tersebut. bahwa salah satu penyebab melapuknya tali relasi agama dan budaya saat ini adalah karena “komposisi” asupan materi pendidikan agama yang belum proporsional.

Pendapat Guru Besar yang juga merupakan staff ahli Kementrian Agama tersebut bersandar pada Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, akhir 2017, merilis bahwa hanya 31,36 persen materi akhlak/moral yang diajarkan dalam pendidikan agama di sekolah, sementara 63,47 persen materi keimanan, ketakwaan, dan ibadah. Artinya, porsi materi keagamaan untuk membentuk kesalehan sosial memang jauh di bawah materi untuk membentuk kesalehan individual.

Dari sini begitu gamblang, bahwa pendidikan  agama lebih berat dipahami dan diorientasikan untuk membentuk kesalehan diri belaka, sehingga masih terbentuk karakter intoleran dan konservatif adalah keniscayaan.

Memang dalam konteks Indonesia, agama dan budaya memang tidak dapat dipisah-pisahkan apalagi dibentur-benturkan. Namun, mempertemukan agama dan budaya dalam konteks Indonesia, bukan berarti kita harus mengorbankan prinsip-prinsip dasar akidah dalam setiap agama atas nama budaya.

Demikian pula sebaliknya, mendamaikan budaya dengan agama tidak lantas berarti harus mengungkung kreatifitas dan ekspresi kebudayaan yang kita miliki.

Kita masih menyimpan potret hitam tentang konflik berdarah-darah di Ambon, Poso, Kalimantan, atau yang bersifat vertikal seperti di Aceh. Merajut kemajemukan adalah jalan agar kisah pahit tersebut tidak akan terjadi lagi.

Meski pada dasarnya seluruh agama dapat menerima beragam kemajemukan sebagai suatu keniscayaan namun persoalan yang dihadapi saat ini adalah ancaman multikulturalisme atau kemajemukan itu sendiri.

Sebagai penutup ungkapan dari KH. Abdurahman Wahid dapatlah kita ingat kembali,  “Sebuah bangsa yang mampu bertenggang rasa terhadap perbedaaan-perbedaaan budaya, agama, dan ideologi adalah bangsa yang besar”. Semoga kita bisa meresapi kembali sehingga semboyan yang mencengkram dalam kaki kuat Burung Garuda bukanlah wacana lagi.

Dhanny Sutopo
Pengajar pada fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) Univ. Brawijaya Malang, sedang menempuh program doktoral pada Universitas Airlangga
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Menteri Agama Memang untuk Semua Agama, Mengapa Tidak Kita Dukung?

Pernyataan Menteri Agama, Gus Yaqut, bahwa dirinya adalah “menteri agama untuk semua agama” masih menyisakan perdebatan di kalangan masyarakat. Bagi mereka yang tidak sepakat,...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.