Jumat, Februari 26, 2021

Reformulasi Nalar Paradigmatik dan Transformasi Gerakan PMII

RAPBD Tersandera Kepentingan Politik

Pembahasan RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) merupakan sesuatu yang cukup sensitif, terutama saat membahas KUA PPAS (Kebijakan Umum Anggaran Prioritas Plafon Anggaran...

Pandangan Islam Tentang Monopoli dan Etika Pasar Bebas

Monopoli  adalah  suatu keadaan pasar dimana hanya terdapat satu perusahaan saja yang yang menguasai. Perusahaan tersebut menghasilkan barang yang tidak mempunyai barang pengganti (substitusi)...

Ide Menulis Mentok, Tetap Paksa Menulis

“Ide mentok” begitulah keluhan yang sering saya dengar dari para penulis pemula. Biasanya, kata-kata tersebut akan terus didengungkan olehnya. Yang pasti, implikasinya ialah akan...

Pemilihan Umum 2019 dan Aroma “Konfrontasi”

Pemilihan Umum (Pemilu) beserta turunannya menjadi bagian dari prosedur demokrasi, diadakan secara periodik untuk mendudukkan sejumlah warga bangsa “terbaik” sebagai penyelenggara negara. Hajatan politik...
Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

NuOnline

Mengingat eksistensi mahasiswa pada saat itu yang dikenal sebagai sosok yang sangat membahayakan bagi keberadaan para penjajah di Nusantara, karena kaum inilah yang memiliki kontribusi besar dalam upaya menyetir perjuangan kemerdekaan. Mahasiswa turut andil dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan, walaupun saat itu tercatat bahwa gerakan mahasiswa masih sangat terbatas keberadaannya.

Bukan hanya ikut dalam perjuangan kemerdekaan, mahasiswa pula berpartisipasi saat kondisi ekonomi masyarakat Indonesia mulai terpuruk dan keuangan Negara mulai merosot. Selama 32 tahun gerakan mahasiswa berusaha dibungkam oleh rezim berkuasa yaitu rezim orde baru, yang mana saat ini mahasiswa tidak diperbolehkan ikut andil dalam panggung politik baik kampus maupun nasional.

Pergantian masa dari Orde baru ke Reformasi setelah  32 tahun lamanya merupakan masa yang dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Pada era reformasi ini kebebasan berpendapat yang selama ini tidak didapatkan di masa orde baru akhirnya bisa dirasakan. Dan pada saat itu pula, mahasiswa dapat kembali mengekspresikan dirinya sebagai agen kontrol dan agen perubahan tatanan demokrasi.

Namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa yang dijadikan sebagai fasilitator untuk menjadi penyuara suara rakyat justru kini malah bungkam tak berkutik sedangkan masyarakat sudah banyak tertindas, terpuruk kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan pemerintahan. Dari sinilah, sebagian masyarakat menaruh kekecewaan terhadap  para darah muda di  indonesia.

Teriakan-teriakan mahasiswa tak lagi didengar, demo sana sini, mengikuti kegiatan rutinan yang terkadang kurang bermutu seperti bersembahyang di warung kopi bahkan mahasiswa saat ini hanyalah memamerkan tampang yang dia anggap sebagai hal yang berbau modernisasi dan tidak sedikit pula yang menyampingkan akademiknya.

Dengan beberapa problematika di  atas haruslah kita sebagai salah satu yang bergerak aktif di dalamnya melakukan reformulasi paradigma dan transformasi terhadap gerakan terkhusus untuk organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. PMII atau biasa disebut Indonesia Moslem Student Movement lahir dari kandungan departemen pengurus tinggi Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (Anak cucu  NU), yang mana selama ini digembar-gemborkan sebagai penganut islam Moderat yang tak lepas dari asas Pancasila.

Perlu digaris bawahi pola aksi gerakannya membutuhkan bukti konkrit yang hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Modal yang sangat besar, yang harus dipegang teguh oleh suatu pergerakan adalah niat baik yang diimplementasikan dalam ranah pergerakan nyata yang memberikan solusi dan pemecahan masalah secara cerdas. Ada niat tetapi tak bergerak itu sama saja nonsense, dan begitupun sebaliknya bergerak tanpa niat seperti orang buta tanpa arah.

Perlu ditanamkan pada setiap pribadi yang mengaku pejuang pergerakan untuk melakukan gerakan awal yaitu penanaman bibit tauhid yang mantap karena implikasi tauhid yang mantap akan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Transformasi gerakan mahasiswa dapatlah dibentuk  dengan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, membentuk diri dalam berbagai prestasi baik akademik maupun non akademik. Seorang aktivis tanpa mempunyai prestasi sama saja nol, tak berpengaruh; walau memang mereka sangat aktif menyuarakan embel-embel keadilan. Karena pada dasarnya tugas seorang mahasiswa adalah belajar, kedudukannya di kampus mempunyai implikasi bahwa mahasiswa adalah seorang pemikir, akademisi, bergerak secara logis dan teratur.

Kedua, leadership. Pembentukan karakter kepemimpinan sangatlah diharuskan pada setiap  individual yang mengaku aktivis pergerakan, yang mana proses dari pembentukan karakter tersebut dapat berpengaruh untuk melakukan reformasi di suatu tempat. Aktivis pergerakan yang tak memiliki kewibawaan seorang pemimpin sangatlah disayangkan dan bahkan bisa saja ia  hanya menjadi sampah masyarakat yang berkedok sebagai pahlawan bbagi kaum-kaum tertindas tetapi tak memiliki  peran yang cukup memadai di ranah keterperukan masyarakat di zaman modern ini.

Ketiga, entrepreneurship. Jiwa pembisnis haruslah ada juga pada setiap individual aktivis pergerakan, disinilah modal untuk estimasi finansial dibutuhkan saat mahasiswa berusaha untuk menutupi permasalahan finansial masyarakat  dengan menjadi teladan bagi mereka. Sangatlah absurd ketika mahasiswa meneriakkan tentang ketertindasan, penghapusan kemiskinan namun dirinya sendiri tidak dipupuk untuk menjadi sumbangan besar mahasiswa sebagai solusi masyarakat. Entrepreneurship juga mampu menjadi tonggak kemandirian organisasi dan personelnya, yang dapat menjaga independensi organisasi.

Keempat, skill. Inilah yang terkadang dilupakan, beberapa aktivis pergerakan yang hanya sibuk memupuk intelektual tanpa melatih skill yang ada. Padahal, untuk dapat terjun langsung ke masyarakat sangatlah dibutuhkan skill, daya kreatif, daya pikir dan kemampuan bercakap yang sudah terlatih sejak ia menginjakkan kaki di ruang lingkup organisasi.

Kelima, komitmen yang kuat. Seorang aktivis pergerakan diharuskan mempunyai komitmen yang kuat dalam perjuangannya memperjuangkan segala hal yang dianggap pantas diperjuangkan. Karena ketika ia tidak memiliki modal komitmen dalam setiap pergerakannya, bisa saja ia terhenti dipertengahan jalan dan malah berbalik untuk tidak ikut  kembali menyuarakan aspirasinya. Komitmen juga diperlukan ketika ia berkontribusi dalam dunia perkuliahannya, karena logikanya ketika aktivis menyuarakan anti korupsi kepada pemerintah namun ia sendiri korupsi dalam jam kuliahnya itu sangatlah tidak logis. Think globally but act locally. 

Keenam, literasi. Dunia literasi banyak berpengaruh bagi aktivis pergerakan, dimana mereka dapat menyalurkan opini lewat berbagai tulisan yang dapat di publikasikan lewat berbagai media sosial, maupun dapat disalurkan lewat Koran-koran yang ada. Karena hakikatnya, teknik mempengaruhi ala mahasiswa adalah lewat tulisan-tulisannya, yang mana dapat diukur tingkat intelektualitasnya dari  kualitas tulisan yang dihasilkan.

Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.