Rabu, Desember 2, 2020

Reformulasi Nalar Paradigmatik dan Transformasi Gerakan PMII

Tuhan, Hutan, Hantu

Negara maritim, Negara Kepulauan itulah Indonesia. Indonesia berada pada ambang kemegahan yang maha luar biasa. Hamparan laut menjadi penghubung antara kepulauan, diantara kepulauan ini...

Apa Kesuksesan Utama Orang Tua

Sungguh menarik untuk membahas tentang Mata Nadjwa, yang sudah tayang lebih dari 7 tahun, dan yang sudah menghasilkan lebih dari 500 episode, menghiasi layar...

Mengukur Efektifitas “Jokowi Effect”

Hasil hitung cepat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo dan Maruf Amin unggul di atas rivalnya, yakni pasangan...

Menakar Sinkretisme Politik dan Kebencian

Membicarakan politik belakangan  terasa menjadi begitu menjemukan, terkhusus menjelang Pilpres 2019 ini. Sebagai pembelajar ilmu politik, saya pun turut kehilangan nafsu untuk mengikuti narasi,...
Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.

NuOnline

Mengingat eksistensi mahasiswa pada saat itu yang dikenal sebagai sosok yang sangat membahayakan bagi keberadaan para penjajah di Nusantara, karena kaum inilah yang memiliki kontribusi besar dalam upaya menyetir perjuangan kemerdekaan. Mahasiswa turut andil dalam upaya memperjuangkan kemerdekaan, walaupun saat itu tercatat bahwa gerakan mahasiswa masih sangat terbatas keberadaannya.

Bukan hanya ikut dalam perjuangan kemerdekaan, mahasiswa pula berpartisipasi saat kondisi ekonomi masyarakat Indonesia mulai terpuruk dan keuangan Negara mulai merosot. Selama 32 tahun gerakan mahasiswa berusaha dibungkam oleh rezim berkuasa yaitu rezim orde baru, yang mana saat ini mahasiswa tidak diperbolehkan ikut andil dalam panggung politik baik kampus maupun nasional.

Pergantian masa dari Orde baru ke Reformasi setelah  32 tahun lamanya merupakan masa yang dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Pada era reformasi ini kebebasan berpendapat yang selama ini tidak didapatkan di masa orde baru akhirnya bisa dirasakan. Dan pada saat itu pula, mahasiswa dapat kembali mengekspresikan dirinya sebagai agen kontrol dan agen perubahan tatanan demokrasi.

Namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa yang dijadikan sebagai fasilitator untuk menjadi penyuara suara rakyat justru kini malah bungkam tak berkutik sedangkan masyarakat sudah banyak tertindas, terpuruk kebodohan, kemiskinan dan ketidakadilan pemerintahan. Dari sinilah, sebagian masyarakat menaruh kekecewaan terhadap  para darah muda di  indonesia.

Teriakan-teriakan mahasiswa tak lagi didengar, demo sana sini, mengikuti kegiatan rutinan yang terkadang kurang bermutu seperti bersembahyang di warung kopi bahkan mahasiswa saat ini hanyalah memamerkan tampang yang dia anggap sebagai hal yang berbau modernisasi dan tidak sedikit pula yang menyampingkan akademiknya.

Dengan beberapa problematika di  atas haruslah kita sebagai salah satu yang bergerak aktif di dalamnya melakukan reformulasi paradigma dan transformasi terhadap gerakan terkhusus untuk organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. PMII atau biasa disebut Indonesia Moslem Student Movement lahir dari kandungan departemen pengurus tinggi Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (Anak cucu  NU), yang mana selama ini digembar-gemborkan sebagai penganut islam Moderat yang tak lepas dari asas Pancasila.

Perlu digaris bawahi pola aksi gerakannya membutuhkan bukti konkrit yang hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat. Modal yang sangat besar, yang harus dipegang teguh oleh suatu pergerakan adalah niat baik yang diimplementasikan dalam ranah pergerakan nyata yang memberikan solusi dan pemecahan masalah secara cerdas. Ada niat tetapi tak bergerak itu sama saja nonsense, dan begitupun sebaliknya bergerak tanpa niat seperti orang buta tanpa arah.

Perlu ditanamkan pada setiap pribadi yang mengaku pejuang pergerakan untuk melakukan gerakan awal yaitu penanaman bibit tauhid yang mantap karena implikasi tauhid yang mantap akan berdampak pada aktivitas sehari-hari. Transformasi gerakan mahasiswa dapatlah dibentuk  dengan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, membentuk diri dalam berbagai prestasi baik akademik maupun non akademik. Seorang aktivis tanpa mempunyai prestasi sama saja nol, tak berpengaruh; walau memang mereka sangat aktif menyuarakan embel-embel keadilan. Karena pada dasarnya tugas seorang mahasiswa adalah belajar, kedudukannya di kampus mempunyai implikasi bahwa mahasiswa adalah seorang pemikir, akademisi, bergerak secara logis dan teratur.

Kedua, leadership. Pembentukan karakter kepemimpinan sangatlah diharuskan pada setiap  individual yang mengaku aktivis pergerakan, yang mana proses dari pembentukan karakter tersebut dapat berpengaruh untuk melakukan reformasi di suatu tempat. Aktivis pergerakan yang tak memiliki kewibawaan seorang pemimpin sangatlah disayangkan dan bahkan bisa saja ia  hanya menjadi sampah masyarakat yang berkedok sebagai pahlawan bbagi kaum-kaum tertindas tetapi tak memiliki  peran yang cukup memadai di ranah keterperukan masyarakat di zaman modern ini.

Ketiga, entrepreneurship. Jiwa pembisnis haruslah ada juga pada setiap individual aktivis pergerakan, disinilah modal untuk estimasi finansial dibutuhkan saat mahasiswa berusaha untuk menutupi permasalahan finansial masyarakat  dengan menjadi teladan bagi mereka. Sangatlah absurd ketika mahasiswa meneriakkan tentang ketertindasan, penghapusan kemiskinan namun dirinya sendiri tidak dipupuk untuk menjadi sumbangan besar mahasiswa sebagai solusi masyarakat. Entrepreneurship juga mampu menjadi tonggak kemandirian organisasi dan personelnya, yang dapat menjaga independensi organisasi.

Keempat, skill. Inilah yang terkadang dilupakan, beberapa aktivis pergerakan yang hanya sibuk memupuk intelektual tanpa melatih skill yang ada. Padahal, untuk dapat terjun langsung ke masyarakat sangatlah dibutuhkan skill, daya kreatif, daya pikir dan kemampuan bercakap yang sudah terlatih sejak ia menginjakkan kaki di ruang lingkup organisasi.

Kelima, komitmen yang kuat. Seorang aktivis pergerakan diharuskan mempunyai komitmen yang kuat dalam perjuangannya memperjuangkan segala hal yang dianggap pantas diperjuangkan. Karena ketika ia tidak memiliki modal komitmen dalam setiap pergerakannya, bisa saja ia terhenti dipertengahan jalan dan malah berbalik untuk tidak ikut  kembali menyuarakan aspirasinya. Komitmen juga diperlukan ketika ia berkontribusi dalam dunia perkuliahannya, karena logikanya ketika aktivis menyuarakan anti korupsi kepada pemerintah namun ia sendiri korupsi dalam jam kuliahnya itu sangatlah tidak logis. Think globally but act locally. 

Keenam, literasi. Dunia literasi banyak berpengaruh bagi aktivis pergerakan, dimana mereka dapat menyalurkan opini lewat berbagai tulisan yang dapat di publikasikan lewat berbagai media sosial, maupun dapat disalurkan lewat Koran-koran yang ada. Karena hakikatnya, teknik mempengaruhi ala mahasiswa adalah lewat tulisan-tulisannya, yang mana dapat diukur tingkat intelektualitasnya dari  kualitas tulisan yang dihasilkan.

Anna Zakiyyah Derajat
Pegiat komunitas penulis Coretan Pena, teater EKSA, PMII RCC, debater Al Motoyat Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.