Sabtu, Oktober 31, 2020

Refleksi Haul Nurcholish Madjid XIII

AHY dan Masa Depan Demokrat

Kisah partai politik tidak akan pernah habis untuk dibahas, salah satunya adalah Partai Demokrat (PD). PD dibawah kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) menguatkan wacana...

Ramadhan dan Kontra Terorisme

Apapun alasannya, aksi Teror yang dilakukan beberapa hari ini di sejumlah tempat di tanah air, mulai dari bom di Gereja Surabaya sampai penyerangan di...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Paradigma Penelitian Kritis dalam Gerakan Politik Mahasiswa (1)

Gerakan mahasiswa belakangan bangkit ketika usaha DPR (legislatif) dan Pemerintah (eksekutif) berupaya merubah beberapa Undang-Undang. Gerakan ini dinamai Reformasi Dikorupsi. Gerakan dimana mencoba mengembalikan...
Iip Rifai
Penikmat Kopi | Alumnus : ICAS Paramadina University, SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, Pascasarjana UIN SMH Banten, Sekolah Demokrasi Serang 2014.

29 Agustus 2005 adalah hari berkabung bagi seluruh warga bangsa Indonesia. Negeri ini, 13 tahun yang lalu telah kehilangan seorang begawan teladan, guru bangsa yang telah berjasa dalam membangun demokrasi dan menyemai toleransi di tengah kehidupan yang plural. Tak lain, beliau adalah Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur (1939-2005)

Menurut Muhammad Wahyuni Nafis, Ketua Nurcholish Madjid Society (NCMS), banyak pemikiran Cak Nur yang hari ini masih sangat relevan untuk dikajidan diterapkan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama di Tanah Air. Satu contoh konkret dari beberapa  yang pemikiran beliau adalah soal “Islam Yes, Partai Islam No”.

Pemikiran tersebut beliau lontarkan pada awal 1970-an, dan terasa menemukan konteksnya kembali di tahun politik 2018-2019. Kini, agama rentan dipolitisasi untuk kepentingan syahwat politik tertentu (Kompas, 28/8/2018).

Wafatnya Cak Nur ini selalu diperingati setiap tahun sebagai media untuk menghidupkan kembali pemikiran-pemikirannya. Oleh sebab itu Nurcholish Madjid Society (NCMS) yang dikomandani Muhammad Wahyuni Nafis mengadakan Haul Cak Nur yang ke-13 pada Selasa, 28 Agustus 2018 di Jakarta, dengan mengangkat tema “Politisasi Agama : Membaca Kembali Islam, Yes, Partai Islam, No”

Nurcholish Madjid  adalah tokoh terpenting bangsa ini selain Gus Dur. Pengaruhnya sangat besar dalam pemikiran Islam di Indonesia. Banyak pemikiran yang beliau wariskan kepada kita, penerus bangsa, untuk menjaga terus kerukunan umat beragama di negeri tercinta, Indonesia, yang sangat plural ini. Di sini, saya tidak akan mengungkapkan seluruh sumbangan pemikirannya.

Sumbangan pemikiran Cak Nur salah satunya adalah menyangkut demokrasi. Demokrasi yang beliau maksud adalah menyangkut makna dan hakikat demokrasi serta pentingnya oposisi loyal. Menurutnya, keberadaan partai oposisi dibutuhkan di Indonesia untuk menumbuhkan kehidupan demokrasi. Eksistensi partai oposisi akan mengefektifkan terjadinya kontrol serta check and balance dalam kehidupan berengara. Demokrasi dan perlunya partai oposisi di atas merupakan sesuatu hal yang masih cocok atau relevan dengan kondisi kekinian.

Jika kita melihat fakta objektif di lapangan, tak kita temukan satu partai pun yang berani secara konsepsional, baik sudah dipersiapkan atau belum, untuk menjadi partai oposisi dengan segala konsekuensinya.

Memang, sekarang, ada partai politik yang berdiri mengatasnamakan sebagai oposisi pemerintah tapi bukan atas dasar di atas, lebih karena alasan gengsi dan egoisme elit politik saat “kalah perang” dalam pemilu baik pileg atau pilpres. Tetapi ketika pemerintah menawarkan “kue bagian” kepada mereka, banyak dari mereka yang tak tahan dan akhirnya ikut dalam koalisi sang “pemenang perang”. Lebih tepatnya, sebutan yang tepat bagi mereka adalah pseudo oposisi (oposisi palsu).

Sumbangan lainnya dari pemikiran Cak Nur adalah menyangkut toleransi (Ulil Abshar Abdalla, Democracy Project, 2014) . Beliau menyebutnya dengan istilah “Islam Inklusif”. Sebuah sebutan bagi Islam sebagai ajaran yang sangat terbuka, tidak sebaliknya, yaitu eksklusif. Cak Nur dalam banyak ceramahnya mengungkapkan sekaligus memberi pemahaman kepada kita semua bahwa Islam itu adalah agama yang inklusif, agama yang tak menutup kebenaran-kebenaran yang bersifat universal dari agama-agama lain.

Menurut Cak Nur ; “Kebenaran Islam itu tidak eksklusif, tapi kebenarannya ada di mana-mana. Keselamatan itu bukan hanya milik orang Islam belaka, dan yang masuk surga juga bukan hanya orang Islam saja”.

Serentak ungkapan Cak Nur tersebut pun menjadi kontroversi sekaligus sentra perdebatan di antara para kyai konservatif saat itu, bahkan hingga kini. Tudingan, tuduhan, cibiran, julukan negatif bahkan label “kafir” pun tertuju kepadanya. Padahal argumentasi Cak Nur pun sumbernya ia kutip dari teks kitab suci, yaitu QS. Al-Baqarah: 62. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Hari Kemudian (Kiamat) serta beramal saleh, maka untuk mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran menimpa mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” 

Artinya, agama Islam itu bukan agama eksklusif, tapi kebenarannnya adalah inklusif. Kebenarannya tersebut bisa ada di mana-mana. Dan barang siapa beriman-tentu sesuai dengan agama masing-masing- dan beramal saleh maka ia diganjar oleh Tuhan.

Islam Inklusif ini penting untuk membangun kehidupan yang toleran di Indonesia, karena kecenderungan sebagian kalangan muslim memahami Islam sebagai agama atau keyakinan yang eksklusif. Kebenaran diklaim hanya miliknya sendiri dan yang lain adalah salah.

Karena mereka salah, maka mereka dianggap sebagai kaum kafir. Dan sebutan-sebutan kafir tersebut dilekatkan kepada kaum nonmuslim. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “Apakah anda mau juga disebut kafir oleh mereka yang nonmuslim?”. Jawabannya, pasti tidak mau!

Jika semua pihak saling menuding kafir, maka kedamaian mustahil tercipta, tumbuh dan berkembang di bumi Indonesia tercinta ini. Padahal, negeri ini dihuni oleh orang-orang yang berbeda dalam segala hal, termasuk agama dan keyakinannya.

Cak Nur menawarkan solusi terbaik, jitu sekaligus brilian untuk kehidupan keberagamaan di negeri ini. Beliau membawa angin segar, hawa kedamaian, hembusan kerukunan, seruling toleransi dan hal lain yang serupa dengannya, untuk seluruh pemeluk agama-agama di Indonesia.

Cak Nur membawa dan menawarkan pemahaman Islam Inklusif, Islam yang terbuka dan toleran terhadap yang lain, Islam yang jauh dari tindakan ancaman, kekerasan dan intimidasi terhadap pihak yang berbeda pemahaman dengannya. Mari kita rawat dan jaga terus warisan pemikiran Cak Nur ini demi terwujudnya Indonesia yang toleran, damai, demokratis dan sejahtera. Selamat dan sukses Haul Cak Nur yang ke-13, sukses juga untuk Nurcholish Madjid Society, semoga pemikiran beliau terus abadi dan lestari!

Iip Rifai
Penikmat Kopi | Alumnus : ICAS Paramadina University, SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, Pascasarjana UIN SMH Banten, Sekolah Demokrasi Serang 2014.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.