Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Realitas Simbolik dan Antitesis Politik Generasi Milenial

Mental Serba Instan Kaum Akademisi

Mental serba instan yang menjangkiti bangsa ini tak dapat dipungkiri turut menjalari kaum akademisi. Sementara para pengajar lebih sibuk memburu keuntungan-keuntungan ekonomis-politis di luar...

Peran ASEAN dalam Konflik Kepulauan Natuna

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat luas dan terbentang dengan begitu banyak pulau, oleh sebab itu Indonesia dikenal juga dengan Negara Kepulauan, salah...

Gajah Mada: Si Dewa Mabuk?

Dari namanya saja Gajah Mada bisa diartikan sebagai seorang yang jagoan minum-minuman keras. Mada dalam  bahasa Jawa Kuno berarti mabuk.  Gajah Mada karena itu...

Candu Nyinyir, Hilangnya Akal Sehat Demokrasi

“Beruntunglah penguasa jika rakyatnya tak pernah berpikir” ~ Adolf Hitler Kasak-kusuk potret politik di Indonesia memang nampak tak pernah bosan jika diperbincangkan, kecemasan kerusuhan dalam kontestasi...
Everd Daniel
Write for rights

Dalam simbol ada jejak pengalaman, makna, nilai dan emosi. Dan jejak itu semakin sulit dihapus dalam suasana hari ini, bukan karena telah jadi bagian dari realitas, namun juga ada kenikmatan dari simbol dan manusia bagian dari homo simbolicum.

Simbol atau semiotik dalam pemahaman Umberto Eco “semiotics is in principle the discipline studying everything which can be used in order to lie”. Adalah suatu pendisiplinan, yang juga cara untuk melakukan kebohongan.

Yang dimaksud Umberto Eco, dapat diterangkan ulang dalam maksud simbol sebagai ungkapan yang ekspresif juga agresif, berupaya memaksimalkan segala cara, bahkan dengan melegalkan kebohongan.

Realitas itu sedang terlihat hari-hari ini, simbol terundang masuk dalam kontestasi politik yang secara otoritatif meluapkan kehendak, dengan gairah simbolik yang kuat. Politik bertransformasi dalam realitas simbolik, yang dalamnya mengandung tanda (tagar, hastag, narasi, label) dan simbol itu sedang menemukan klimaks dalam ruang publik, akhirnya tidak pernah mati, dan terus bergairah ulang dalam rivalitas politik hari ini, mengontrol, mengendalikan opini, mengkonstruksi wacana dan memperluas kepentingan.

Keane (2018) dalam “on semiotic ideology” menerangkan semiotik yang dalam hal ini “ideologi yang berasal dari asumsi yang mendasari tanda-tanda, fungsi, dan konsekuensi yang mungkin dihasilkan”. Asumsi semiotik itu bisa timbul dari asosiasi identitas, budaya, sosial dan historis.

Tetapi ideologi semiotika bukan sebuah kesadaran palsu, juga bukan sesuatu yang hanya dimiliki sebagian orang. Ideologi semiotik itu termanisfetasi dalam upaya memperluas pengaruh dan ideologi politik tertentu, dan generasi milenial mesti memandang itu sebagai antitesis agar memunculkan kritisisme, refleksi rasional kepada para subjek yang berpolitik. Sebab itu sejalan dalam proses semiotika yang dikontruksikan agar supaya timbul penilaian khusus dari nilai etis dan politik (Keane, 2018).

Diskursus politik menjelang Pemilu tahun 2019 yang berlangsung saat ini, sedang dalam suasana merayakan realitas simbolik itu. Politik sedang ada dalam suatu narasi yang berubah, dinamika terus berlangsung dan berulang demi menemukan intimitasnya. Politik simbol adalah cara yang dikedepankan saat ini untuk mengendalikan perasaan publik yang cenderung mudah berubah.

Dominasi kepentingan pun diselundupkan dalam suasana semiotik, dikemas dalam logika pasar (marketing politics) demi akumulasi suara masyarakat. Keberhasilannya tergantung kekuatan visualisasi, mana yang lebih menarik simpati publik, terutama generasi milenial.

Simbol-simbol yang umumnya dapat dilihat dalam politik hari ini adalah misalnya, simbol dalam tagline “kerja,kerja,kerja” yang menjadi marketing politik kekuasaan Presiden Jokowi saat ini, dan simbol politik dengan kesan yang tegas, kuat, dan berdikari sebagai personal branding Calon Preisden Prabowo menjelang tahun 2019.

Perang simbol dan narasi sedang berlangsung di ruang publik. Kontestasi Calon Presiden menjelang Pemilu tahun 2019, posisi interaksi simbol yang berlangsung semarak dan masif semakin menggairahkan kompetisi dan meningkatkan rivalitas argumen politik di ruang publik, rivalitas politik dengan simbolisme yang kuat agar sama-sama saling berupaya mencuri simpati publik.

Kontestasi simbolik di ruang publik pun meluas ke kelompok koalisis partai politik. Gerakan simbol yang masif dibicarakan belakangan adalah tagar “2019gantipresiden”, dan tagar “jokowiduaperiode”. Realitas simbolik semacam itu sedang dikemas di ruang maya, dan simbol itu terus “berkelahi” menunjukan eksistensi kelompok.

Eksploitasi Simbol Demi Marketing Politik

Makna simbol secara sosiologis berguna sebagai sarana komunikasi dan mencairkan interaksi. Namun, dalam menyampaikan maksud, makna simbol mudah berubah dalam situasi yang pragmatis, tergantung siapa yang mengendalikan simbol itu. Hal yang perlu dicegah adalah, simbol pelan-pelan mulai dieksploitasi oleh mereka yang pura-pura populis dengan sensasi teologis, mencuatkan pandangan-pandangan keyakinan tertentu.

Tentu literasi politik yang diinginkan generasi milenial adalah uji argumentasi, rasionalitas, yang menurut Jurgen Habermas diistilahkan “demokrasi deliberatif”. Demokrasi harus berupaya mengembalikan nilai-nilai rasionalitas pada kebebasan sebagai arena diskursif warga negara dalam ruang publik (public space).

Simbol harus menjadi panggung komunikasi yang rasional, jika tanpa rasionalitas itu, tentu ada konsekuensi yang ditanggung generasi milenial yang kini sedang tumbuh dalam kondisi semiotik yang kian menguat secara politis. Pertanyaannya, bagaimana diskursus politik dibuka, diolah, dan didudukan pada fakta pluralitas, bukan tereksploitasi secara parsial dan privat dalam kepentingan golongan tertentu.

Yang terpenting, bagaimana agar supaya generasi milenial tidak mudah terjebak dalam politisasi simbol dan sentimen-sentimen primordialisme, bagaimana menghadapi drama baru dalam politik yang kuat dengan realitas simbolik semacam itu? Kecemasan itu perlu jalan keluar, dan mendesak pentingnya edukasi dan literasi politik generasi milineal yang terus tumbuh menuju bonus demografi di tahun 2030.

Menurut Data BPS jumlah pemilih milenial tahun 2019 sekitar 55-58 persen (Hanan, 2018). Generasi milenial adalah mereka yang lahir awal 1980an hingga 2000 dan pada tahun 2019 milenial adalah pemilih yang rata-rata berusia 17-38 tahun (Hanan, 2018).

Generasi milineal adalah usia produktif yang hari ini tumbuh dalam kondisi semiotik yang sangat kuat, kemajuan teknologi mudah menghanyutkan dan membawa konsekuensi, pragmatisme, dan manipulasi.

Kekhawatiran yang agak penting dikritisi adalah kepentingan politik akan semakin mengeksploitasi simbol agama, ras, suku dan identitas. Itu secara wajar dalam politik dipahami sebagai upaya mengejar kepentingan, mengerahkan segala daya agar memaksimalkan kehendak politik tertentu.

Umberto Eco (dalam A Theory of Semiotics, 1976) mengatakan “thus semiotics is in principle the discipline studying everything which can be used in order to lie”. Simbol kerap dikendarai sebagai alasan politis, melegalkan kebohongan, dan memperluas manipulasi di ruang publik.

Dan kekhawatiran itu yang harusnya ada dalam benak milenial, agar mengkritisi pola-pola manipulasi yang berpeluang menimbulkan sentimen primordialisme yang sangat mudah meluas di masyarakat. Hal yang kerap ditakuti adalah simbol politik mengeksploitasi isu agama dan wacana primordialisme.

Generasi milenial bertanggungjawab secara moral, untuk kritis mencegah kekerasan simbolik yang sedang bertaruh, dihadap-hadapkan dalam ruang politik yang absurd, agar tidak hanyut dalam permainan simbol yang provokatif, penuh sentimen, dam diksriminatif.

Tanpa rasa kritis, generasi milenial termasuk masyarakat mudah terbawa arus wacana, dan narasi politik yang sulit ditebak, apakah menjanjikan keteduhan atau kegaduhan baru. Baudrillard mengungkap suatu istilah “hiper-realitas”, keadaan dimana tanda-tanda (simbol) memiliki kehidupannya sendiri, lepas dari realitas dan mengambang bebas (Donnell, 2009). Ambisi seringkali bersembunyi di belakang simbol, bagian dari permainan yang sistematis, terstruktur, dan dimainkan demi kepentingan tertentu.

Everd Daniel
Write for rights
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.