OUR NETWORK

Realitas Simbolik dan Antitesis Politik Generasi Milenial

Realitas itu sedang terlihat hari-hari ini, simbol terundang masuk dalam kontestasi politik yang secara otoritatif meluapkan kehendak, dengan gairah simbolik yang kuat.
sumpah-pemuda-geotimes

Dalam simbol ada jejak pengalaman, makna, nilai dan emosi. Dan jejak itu semakin sulit dihapus dalam suasana hari ini, bukan karena telah jadi bagian dari realitas, namun juga ada kenikmatan dari simbol dan manusia bagian dari homo simbolicum.

Simbol atau semiotik dalam pemahaman Umberto Eco “semiotics is in principle the discipline studying everything which can be used in order to lie”. Adalah suatu pendisiplinan, yang juga cara untuk melakukan kebohongan.

Yang dimaksud Umberto Eco, dapat diterangkan ulang dalam maksud simbol sebagai ungkapan yang ekspresif juga agresif, berupaya memaksimalkan segala cara, bahkan dengan melegalkan kebohongan.

Realitas itu sedang terlihat hari-hari ini, simbol terundang masuk dalam kontestasi politik yang secara otoritatif meluapkan kehendak, dengan gairah simbolik yang kuat. Politik bertransformasi dalam realitas simbolik, yang dalamnya mengandung tanda (tagar, hastag, narasi, label) dan simbol itu sedang menemukan klimaks dalam ruang publik, akhirnya tidak pernah mati, dan terus bergairah ulang dalam rivalitas politik hari ini, mengontrol, mengendalikan opini, mengkonstruksi wacana dan memperluas kepentingan.

Keane (2018) dalam “on semiotic ideology” menerangkan semiotik yang dalam hal ini “ideologi yang berasal dari asumsi yang mendasari tanda-tanda, fungsi, dan konsekuensi yang mungkin dihasilkan”. Asumsi semiotik itu bisa timbul dari asosiasi identitas, budaya, sosial dan historis.

Tetapi ideologi semiotika bukan sebuah kesadaran palsu, juga bukan sesuatu yang hanya dimiliki sebagian orang. Ideologi semiotik itu termanisfetasi dalam upaya memperluas pengaruh dan ideologi politik tertentu, dan generasi milenial mesti memandang itu sebagai antitesis agar memunculkan kritisisme, refleksi rasional kepada para subjek yang berpolitik. Sebab itu sejalan dalam proses semiotika yang dikontruksikan agar supaya timbul penilaian khusus dari nilai etis dan politik (Keane, 2018).

Diskursus politik menjelang Pemilu tahun 2019 yang berlangsung saat ini, sedang dalam suasana merayakan realitas simbolik itu. Politik sedang ada dalam suatu narasi yang berubah, dinamika terus berlangsung dan berulang demi menemukan intimitasnya. Politik simbol adalah cara yang dikedepankan saat ini untuk mengendalikan perasaan publik yang cenderung mudah berubah.

Dominasi kepentingan pun diselundupkan dalam suasana semiotik, dikemas dalam logika pasar (marketing politics) demi akumulasi suara masyarakat. Keberhasilannya tergantung kekuatan visualisasi, mana yang lebih menarik simpati publik, terutama generasi milenial.

Simbol-simbol yang umumnya dapat dilihat dalam politik hari ini adalah misalnya, simbol dalam tagline “kerja,kerja,kerja” yang menjadi marketing politik kekuasaan Presiden Jokowi saat ini, dan simbol politik dengan kesan yang tegas, kuat, dan berdikari sebagai personal branding Calon Preisden Prabowo menjelang tahun 2019.

Perang simbol dan narasi sedang berlangsung di ruang publik. Kontestasi Calon Presiden menjelang Pemilu tahun 2019, posisi interaksi simbol yang berlangsung semarak dan masif semakin menggairahkan kompetisi dan meningkatkan rivalitas argumen politik di ruang publik, rivalitas politik dengan simbolisme yang kuat agar sama-sama saling berupaya mencuri simpati publik.

Kontestasi simbolik di ruang publik pun meluas ke kelompok koalisis partai politik. Gerakan simbol yang masif dibicarakan belakangan adalah tagar “2019gantipresiden”, dan tagar “jokowiduaperiode”. Realitas simbolik semacam itu sedang dikemas di ruang maya, dan simbol itu terus “berkelahi” menunjukan eksistensi kelompok.

Eksploitasi Simbol Demi Marketing Politik

Makna simbol secara sosiologis berguna sebagai sarana komunikasi dan mencairkan interaksi. Namun, dalam menyampaikan maksud, makna simbol mudah berubah dalam situasi yang pragmatis, tergantung siapa yang mengendalikan simbol itu. Hal yang perlu dicegah adalah, simbol pelan-pelan mulai dieksploitasi oleh mereka yang pura-pura populis dengan sensasi teologis, mencuatkan pandangan-pandangan keyakinan tertentu.

Tentu literasi politik yang diinginkan generasi milenial adalah uji argumentasi, rasionalitas, yang menurut Jurgen Habermas diistilahkan “demokrasi deliberatif”. Demokrasi harus berupaya mengembalikan nilai-nilai rasionalitas pada kebebasan sebagai arena diskursif warga negara dalam ruang publik (public space).

Simbol harus menjadi panggung komunikasi yang rasional, jika tanpa rasionalitas itu, tentu ada konsekuensi yang ditanggung generasi milenial yang kini sedang tumbuh dalam kondisi semiotik yang kian menguat secara politis. Pertanyaannya, bagaimana diskursus politik dibuka, diolah, dan didudukan pada fakta pluralitas, bukan tereksploitasi secara parsial dan privat dalam kepentingan golongan tertentu.

Yang terpenting, bagaimana agar supaya generasi milenial tidak mudah terjebak dalam politisasi simbol dan sentimen-sentimen primordialisme, bagaimana menghadapi drama baru dalam politik yang kuat dengan realitas simbolik semacam itu? Kecemasan itu perlu jalan keluar, dan mendesak pentingnya edukasi dan literasi politik generasi milineal yang terus tumbuh menuju bonus demografi di tahun 2030.

Menurut Data BPS jumlah pemilih milenial tahun 2019 sekitar 55-58 persen (Hanan, 2018). Generasi milenial adalah mereka yang lahir awal 1980an hingga 2000 dan pada tahun 2019 milenial adalah pemilih yang rata-rata berusia 17-38 tahun (Hanan, 2018).

Generasi milineal adalah usia produktif yang hari ini tumbuh dalam kondisi semiotik yang sangat kuat, kemajuan teknologi mudah menghanyutkan dan membawa konsekuensi, pragmatisme, dan manipulasi.

Kekhawatiran yang agak penting dikritisi adalah kepentingan politik akan semakin mengeksploitasi simbol agama, ras, suku dan identitas. Itu secara wajar dalam politik dipahami sebagai upaya mengejar kepentingan, mengerahkan segala daya agar memaksimalkan kehendak politik tertentu.

Umberto Eco (dalam A Theory of Semiotics, 1976) mengatakan “thus semiotics is in principle the discipline studying everything which can be used in order to lie”. Simbol kerap dikendarai sebagai alasan politis, melegalkan kebohongan, dan memperluas manipulasi di ruang publik.

Dan kekhawatiran itu yang harusnya ada dalam benak milenial, agar mengkritisi pola-pola manipulasi yang berpeluang menimbulkan sentimen primordialisme yang sangat mudah meluas di masyarakat. Hal yang kerap ditakuti adalah simbol politik mengeksploitasi isu agama dan wacana primordialisme.

Generasi milenial bertanggungjawab secara moral, untuk kritis mencegah kekerasan simbolik yang sedang bertaruh, dihadap-hadapkan dalam ruang politik yang absurd, agar tidak hanyut dalam permainan simbol yang provokatif, penuh sentimen, dam diksriminatif.

Tanpa rasa kritis, generasi milenial termasuk masyarakat mudah terbawa arus wacana, dan narasi politik yang sulit ditebak, apakah menjanjikan keteduhan atau kegaduhan baru. Baudrillard mengungkap suatu istilah “hiper-realitas”, keadaan dimana tanda-tanda (simbol) memiliki kehidupannya sendiri, lepas dari realitas dan mengambang bebas (Donnell, 2009). Ambisi seringkali bersembunyi di belakang simbol, bagian dari permainan yang sistematis, terstruktur, dan dimainkan demi kepentingan tertentu.

Write for rights

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…