OUR NETWORK

Ratna Sarumpaet dan Wajah Hoaks Elite Negeri

Merespons keresahan serta permbincangan publik yang kian memanas ini

Baru-baru ini kita semua digemparkan oleh datangnya berita mengenai penganiayaan yang menimpa aktivis besar kemanusiaan, Ratna Sarumpaet. Bagaimana tidak? Berita penganiayaannya ini datang begitu mendadaknya, berjalan hampir beiringan dengan upaya penanganan musibah yang sedang menimpa saudara-saudara kita yang ada di Sulawesi Tengah sana.

Akibat hal ini juga, perhatian dan perbincangan publik menjadi terbelah. Di satu sisi ada yang masih tetap terfokus pada perbincangan serta upaya-upaya penggalangan dana, serta bagaimana baiknya bisa memberikan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terdampak musibah tersebut. Dan di sisi yang lain, ada juga yang sibuk mempersalahkan serta menuntut pemerintah untuk segera mengusut tuntas masalah penganiayaan yang diduga menimpa Ratna Sarumpaet ini.

Cahaya datang semua benderang

Merespons keresahan serta permbincangan publik yang kian memanas ini. Polri, dalam hal ini diwakili oleh jajarannya dari Polda Jabar mencoba bergerak cepat. Bukti-bukti mulai dikumpulkan, saksi-saksi mulai diintai serta dimintai keterangan.

Hingga akhirnya pernyataan dari Polri pun keluar. Tapi ternyata justru jauh dari apa yang diduga oleh khalayak banyak sebelumnya. Polri menyatakan bahwa, setelah melakukan penyidikan serta investigasi yang mendalam terkait kasus ini. Ternyata tidak ditemukan adanya indikasi penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet selama Bandung tersebut. Kesimpulan ini diperoleh setelah mereka mencari keterangan dengan menghubungi semua pihak rumah sakit yang ada di Bandung, serta pihak Bandara Husein Sastranegara.

Jika pada awalnya Sarumpaet bersikeras mengatakan bahwa ia memang benar-benar habis mendapat seranganan penganiayaan. Dan untuk memperkuat argumennya tersebut ia mencari dukungan dari tokoh-tokoh koalisi yang didukungnya, seperti halnya dari Prabowo, Fadli Zon, atau pun Amien Rais. Namun setelah Polri mengungkapkan hasil investigasinya serta menjereng bukti-bukti temuannya. Suara dari Sarumpaet seperti macet, seret, lalu lenyap tersendat begitu saja.

Baru esok harinya ia berani keluar dan muncul kembali di depan publik pada tanggal 3 Oktober 2018. Tapi kini dengan raut dan mimik muka yang jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Kini ia tampil dengan muka sembab dan sedih. Lalu mengeluarkan kata-kata mutiara nan lembut (tak usah saya sampaikan di sini, kalian semua pasti sudah tahu) yang membikin orang-orang di Seluruh penjuru negeri geleng-geleng kepala sambil mengumpat dalam waktu bersamaan, “uh… elite negeriku! Betapa lucu-lucunya!”. Setelah drama “Papa Setya Novanto nabrak tiang listrik”, serta “Pura-pura penjara di lapas Sukamiskin”, kini datang lagi drama baru yakni “Ratna Sarumpaet mengaku dianiaya ternyata habis operasi plastik”.

Kini publik seperti sedang menantikan parodi drama lucu lain yang muncul dari para elite negerinya di masa yang akan datang. Kini publik seperti dicekoki oleh tontonan-toontonan lucu tapi tak bermutu yang tak ada habis-habisnya dari para elite politik negerinya. Betapa keparat dan lucunya memang, kata publik.

Fanatisme kekuasaan elite politik kita

Jika pernyataan berang yang mendukung pernyataan Sarumpaet itu bukan keluar dari mulut sosok sekaliber Prabowo Subianto mungkin urusannya akan jadi lain, dan akan baik-baik saja sepertinya. Tapi ini tidak, pernyataan berang ini benar adanya datang dari mulut Prabowo sendiri, dan didukung pula oleh Sang Maestro politik Amien Rais, lengkap dengan seluruh jajaran koalisinya. Diliput pers banyak pula!

Dalam hal ini Prabowo seperti menelan pil mentah-mentah datangnya berita dari Sarumpaet ini. Tapi jika ditelisik lebih jauh, memang agak menyulitkan juga untuk membantah peryataan Sarumpaet ini awalnya. Bagaimana tidak, pada muka Sarumpaet tampak dengan jelas ada bekas luka, serta lebam di sana. Orang awam seperti kita mungkin pada awalnya juga akan terkecoh, dan dengan mudah menyatakan bahwa benar telah terjadi penganiayaan menimpa Sarumpaet.

Tapi sekali lagi, jika pernyataan berang yang terang-terangan itu keluar dari mulut Prabowo akan lain lah ceritanya. Apalagi dalam pernyataannya tersebut, Prabowo terkesan menyudutkan serta menunjuk langsung bahwa pelakunya adalah orang-orang dari kubu lawan politiknya. Sehingga berkali-kali ia tekankan dalam pernyataan persnya tersebut kepada Polri untuk bertindak netral dan cepat-tanggap melakukan pengusutan.

Lalu setelah Polri bergerak cepat. Ternyata justru hal yang keluar darinya berbanding terbalik dari keyakinan awal Prabowo. Dan hal ini semakin diperkuat oleh datangnya pernyataan jujur dari Sarumpaet Sendiri yang datang belakangan tadi (3/10). Tentu saja, Prabowo dan seluruh elemen oposisinya serasa habis kena goddam besar di tampuk jidatnya.

Seluruh perhatian serta ingatan publik kini tinggal tercurah padanya dan koalisi. Dan dari kesemuanya itu tampaknya lebih mengarah pada pandangan culas, nyinyir, dan negatif. Dianggap sebagai pendukung penyebar hoax serta menyudutkan pemerintah yang justru dalam upayanya menangani keadaan darurat bencana harus ditelan mentah-mentah oleh Prabowo kini.

Hingga akhirnya rasa-rasanya kini, Prabowo sedang meniti titian yang semakin tipis untuk bisa memenangkan pilpres di tahun mendatang. Dan semua goddam serta semua jerat-sebab ini justru muncul dan datang dari orang-orangnya sendiri. Anak kandung dari kubunya sendiri. Kasian, sungguh kasian sekali Prabowo beserta koalisinya kini!

Mahasiswa Sejarah UGM. Tukang tidur yang banyak bermimpi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…