Jumat, Januari 22, 2021

Ramadhan dan Spirit Melawan Terorisme

Mungkinkah Mempercepat Proses Izin Usaha Perikanan?

Dalam pertemuan dengan nelayan dalam rangka penyerahan Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) yang berlangsung di Istana Negara (30/1),...

Ego Kita dan Ingatan Komunal

Ego tumbuh dari kedalaman gelap pikiran seperti bunga teratai, membentuk bagian paling penting  dari jiwa - Carl Gustav Jung Seorang pejabat yang sempat bertahun-tahun menjadi...

Merebut Spirit Perdamaian dari Istilah Hijrah

Perkembangan dunia digital dan teknologi`bersamaan dengan tingkat kecepatan popularitas atau trending sebuah pembahasan. Topik tertentu akan dengan mudah dan cepat menjadi pokok pembicaraan warga...

Teladan dan Mimpi Sosok Ani Yudhoyono

Tidak terasa perlahan air mata jatuh membahasi wajah, saat kabar berpulangnya Ibu Ani Yudhoyono, istri keenam Presiden Republik Indonesia menghiasi seluruh layar televisi dan...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Sehingga tidak jarang orang menyebutnya sebagai bulan puasa. Ramadhan juga lazim disebut sebagai bulan suci (bulan suci Ramadhan). Melalui ibadah (ritual) puasa, umat Islam diharapkan mampu melakukan penyucian diri dari segala bentuk kedzaliman yang pernah dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya.

Pada akhir bulan Ramadhan ini, umat Islam diharapkan dapat kembali pada fitrahnya (kesucian). Meminjam istialh sastrawan Dante sebagaimana dikutip oleh Nurcholish Madjid dalam bukunya “30 Sajian  Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan,” bahwa manusia memulai hidup dalam alam kebahagiaan, alam paradise. Hal ini diamini oleh Islam, bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).

Tetapi, setelah berinteraksi dengan lingkungan sosial-masyarakatnya, kemudian ia terkontaminasi oleh lingkunagan, di mana ia tumbuh dan terjatuh ke dalam kubangan-kubangan kedzaliman. Dan Dante menyebutnya alam inferno.

Sehingga datanglah bulan Ramadhan sebagai rahmat Allah SWT kepada makhluknya (baca: umat Islam) untuk memberikan kesempatan, agar mereka mem-fitrahkan diri dan bertaubat atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Kemudian Dante menyebutnya sebagai proses di alam purgatorio.

Bulan Ramadhan juga lazim disebut bulan seribu bulan. Karena pada bulan ini terdapat apa yang disebut lailatul qadar. Dan barang siapa yang mampu beribadah di bulan ini, terlebih di malam lailatul qadar, maka dia akan mendapatkan pahala, laksana pahala orang-orang yang beribadah selama seribu bulan. Sungguh, bulan ini merupakan bulan yang penuh rahmat dan penuh kesucian.

Tapi menjadi ironi bagi kita (umat Islam), ketika bulan suci Ramadhan ini disambut oleh rentetan aksi terorisme, yang berupa peledakan bom bunuh diri di tiga Gereja Surabaya, Rusunawa Wonocolo dan Mapolrestabes Surabaya.

Menurut keterangan polisi, rentetan teror (bom bunuh diri) di Surabaya ini didalangi oleh Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yaitu kelompok terkait ISIS yang berafiliasi pada ISIS yang beroperasi di Indonesia. Menurut pengamat teroris, Harits Abu Ulya, serangan bom bunuh diri di Surabaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi dari kelompok teror dan membuat kacau situasi dan kondisi sosial-politik di Indonesia (CNNIndonesia, 14/05/2018).

Sungguh sangat disayangkan, karena pelakunya merupakan keluarga muslim dan kejadiaannya terjadi di Surabaya, Jawa Timur, yang masyhur dengan kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kedamaian dan merupakan centra Islam moderat. Islam yang menghargai perbedaan dan perdamaian.

Menurut kacamata pandang saya, aksi terorisme ini lazim terjadi dikarenakan sempitnya pemahaman keagamaan (tanpa ada maksud menjustifikasi bahwa agama-agama, khususnya Islam mengajarkan paham terorisme). Ini murni akibat kesalahan memahami ajaran agamanya (baca: Islam).

Terorisme berawal dari konsep takfiri dan jihad yang direduksi maknanya, sesuai dengan pemahaman dan kepercayaannya. Takfiri merupakan suatu ideologi yang mengakfirkan terhadap sesama Islam di luar kelompoknya atau terhadap agama lain.

Doktrin takfiriyah ini dipicu boleh cara pandang keagamaan yang eksklusif (tertutup). Eksklusifisme ini memandang kelompok lain sebagai kelompok yang salah dan hanya diri dan kelompoknyalah yang benar. Sehingga lahir apa yang disebut absolute truth claim (klaim kebenaran mutlak). Dan tidak pernah membuka ruang dialog terhadap kelompok di luar dirinya.

Kemudian, pada akhirnya doktrin takfiriyah ini menharuskan jihad dalam maknya yang tereduksi. Jihad dipahami sebagai usaha membunuh dan berperang melawan orang dan keklompok yang dianggapnya kafir. Dan barang siapa mati di medan jihad tersebut akan mati syahid dan masuk ke dalam Surga, dengan ditemani para Bidadari.

Padahal makna jihad itu universal, lebih luas dari pada apa yang dipahami oleh mereka (baca: teroris). Dalam konteks ke-Indonesiaan dewasa ini, konsep jihad lebih shahih, papabila dimaknai sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan  kebaikan dan menebarkannya ke lingkungan sekitar, dimana ia hidup.

Maka sudah sepatutnya, di bulan Ramadhan ini, kita ciptakan di dalam diri kita, spirit melawan terorisme. Paham yang meyakini kekerasan (aksi teror) sebagai satu-satunya jalan jihad, yang diyakini sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikannya, untuk membasmi kelompok-kelompok yang mereka anggap kafir.

Di bulan yang suci ini, mari kita sucikan pikiran dan paham (keagamaan) kita dari eksklusifitas yang berpotensi melahirkan radikalisme, dan hingga terorisme. Karena hal itu tidak hanya bahaya pada dirinya, tetapi juga bahaya terhadap orang lain.

Melawan terorisme bukan berarti membasmi para teroris, tetapi melawan paham (terorisme) yang menjadikan seseorang menjadi teroris. Yaitu paham yang telah disebutkan saya di atas. Pertanyaannya, dengan apa kita melawan terorisme? Karenma terorisme merupakan suatu paham, maka ia juga harus dilawan dengan paham.

Kita harus mampu menawarkan paham di luar (paham) terorisme. Dalam hal ini, paham yang paling absah kita tawarkan adalah (Islam) moderat (isme). Yaitu paham yang menjadikan inklusifitas sebagai pijakan dalam melangkah. Paham yang membuka ruang dialog seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya terhadap orang dan kelompok di luar dirinya.

Dengan inklusifitas ini, diharapkan kesalahpahaman diantara kelompok, baik agama dan aliran dapat diminimalisir, dan syukur, jika dapat dihilangkan. Sehingga doktrin takfiriyah dan konsep jihad dalam arti yang sempit tidak lagi menjadi penyebab lahirnya terorisme.

Jika spirit melawan terorisme ini tertanam dalam diri anda dan mampu diaktualisasikan ke dalam kehidupan sosial-masyarakat, dimana kita hidup, maka Ramdhan kali ini benar-benar menjadi bulan yang suci dan membawa rahmat.

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.