Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Ramadhan dan Spirit Melawan Terorisme

Akhirya Freeport Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Berawal dari petualangan penjajah Belanda Jean Jacques Dozy pada 1936, ia melakukan pendakian di gunung Papua untuk mencari ladang baru untuk dieksplorasi. Saat ia...

Eksploitasi Pengemudi dan Gemerlap Transportasi Online

Jasa transportasi berbasis daring menjadi fenomena yang mampu menarik perhatian masyarakat. Kemunculannya menjadi sepeti oase di padang gurun. Jumlah armadanya pun tumbuh subur. Pada tahun...

Perang Ala Sun Tzu

Sun Tzu (545 SM-470 SM) merupakan seorang Jendral Militer Kekaisaran Tiongkok Kuno. Ahli strategi perang yang telah melahirkan banyak tokoh filosof dan peradaban besar...

Cabang KPK di Daerah

Kurang dari sebulan, di bulan September, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan tiga kali Operasi Tangkap Tangan (OTT) di daerah. Sampai pertengahan tahun 2017, OTT...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Ramadhan adalah bulan di mana umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Sehingga tidak jarang orang menyebutnya sebagai bulan puasa. Ramadhan juga lazim disebut sebagai bulan suci (bulan suci Ramadhan). Melalui ibadah (ritual) puasa, umat Islam diharapkan mampu melakukan penyucian diri dari segala bentuk kedzaliman yang pernah dilakukan pada bulan-bulan sebelumnya.

Pada akhir bulan Ramadhan ini, umat Islam diharapkan dapat kembali pada fitrahnya (kesucian). Meminjam istialh sastrawan Dante sebagaimana dikutip oleh Nurcholish Madjid dalam bukunya “30 Sajian  Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan,” bahwa manusia memulai hidup dalam alam kebahagiaan, alam paradise. Hal ini diamini oleh Islam, bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).

Tetapi, setelah berinteraksi dengan lingkungan sosial-masyarakatnya, kemudian ia terkontaminasi oleh lingkunagan, di mana ia tumbuh dan terjatuh ke dalam kubangan-kubangan kedzaliman. Dan Dante menyebutnya alam inferno.

Sehingga datanglah bulan Ramadhan sebagai rahmat Allah SWT kepada makhluknya (baca: umat Islam) untuk memberikan kesempatan, agar mereka mem-fitrahkan diri dan bertaubat atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Kemudian Dante menyebutnya sebagai proses di alam purgatorio.

Bulan Ramadhan juga lazim disebut bulan seribu bulan. Karena pada bulan ini terdapat apa yang disebut lailatul qadar. Dan barang siapa yang mampu beribadah di bulan ini, terlebih di malam lailatul qadar, maka dia akan mendapatkan pahala, laksana pahala orang-orang yang beribadah selama seribu bulan. Sungguh, bulan ini merupakan bulan yang penuh rahmat dan penuh kesucian.

Tapi menjadi ironi bagi kita (umat Islam), ketika bulan suci Ramadhan ini disambut oleh rentetan aksi terorisme, yang berupa peledakan bom bunuh diri di tiga Gereja Surabaya, Rusunawa Wonocolo dan Mapolrestabes Surabaya.

Menurut keterangan polisi, rentetan teror (bom bunuh diri) di Surabaya ini didalangi oleh Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yaitu kelompok terkait ISIS yang berafiliasi pada ISIS yang beroperasi di Indonesia. Menurut pengamat teroris, Harits Abu Ulya, serangan bom bunuh diri di Surabaya dilakukan untuk menunjukkan eksistensi dari kelompok teror dan membuat kacau situasi dan kondisi sosial-politik di Indonesia (CNNIndonesia, 14/05/2018).

Sungguh sangat disayangkan, karena pelakunya merupakan keluarga muslim dan kejadiaannya terjadi di Surabaya, Jawa Timur, yang masyhur dengan kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan kedamaian dan merupakan centra Islam moderat. Islam yang menghargai perbedaan dan perdamaian.

Menurut kacamata pandang saya, aksi terorisme ini lazim terjadi dikarenakan sempitnya pemahaman keagamaan (tanpa ada maksud menjustifikasi bahwa agama-agama, khususnya Islam mengajarkan paham terorisme). Ini murni akibat kesalahan memahami ajaran agamanya (baca: Islam).

Terorisme berawal dari konsep takfiri dan jihad yang direduksi maknanya, sesuai dengan pemahaman dan kepercayaannya. Takfiri merupakan suatu ideologi yang mengakfirkan terhadap sesama Islam di luar kelompoknya atau terhadap agama lain.

Doktrin takfiriyah ini dipicu boleh cara pandang keagamaan yang eksklusif (tertutup). Eksklusifisme ini memandang kelompok lain sebagai kelompok yang salah dan hanya diri dan kelompoknyalah yang benar. Sehingga lahir apa yang disebut absolute truth claim (klaim kebenaran mutlak). Dan tidak pernah membuka ruang dialog terhadap kelompok di luar dirinya.

Kemudian, pada akhirnya doktrin takfiriyah ini menharuskan jihad dalam maknya yang tereduksi. Jihad dipahami sebagai usaha membunuh dan berperang melawan orang dan keklompok yang dianggapnya kafir. Dan barang siapa mati di medan jihad tersebut akan mati syahid dan masuk ke dalam Surga, dengan ditemani para Bidadari.

Padahal makna jihad itu universal, lebih luas dari pada apa yang dipahami oleh mereka (baca: teroris). Dalam konteks ke-Indonesiaan dewasa ini, konsep jihad lebih shahih, papabila dimaknai sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh dalam melakukan  kebaikan dan menebarkannya ke lingkungan sekitar, dimana ia hidup.

Maka sudah sepatutnya, di bulan Ramadhan ini, kita ciptakan di dalam diri kita, spirit melawan terorisme. Paham yang meyakini kekerasan (aksi teror) sebagai satu-satunya jalan jihad, yang diyakini sebagai suatu kewajiban yang harus ditunaikannya, untuk membasmi kelompok-kelompok yang mereka anggap kafir.

Di bulan yang suci ini, mari kita sucikan pikiran dan paham (keagamaan) kita dari eksklusifitas yang berpotensi melahirkan radikalisme, dan hingga terorisme. Karena hal itu tidak hanya bahaya pada dirinya, tetapi juga bahaya terhadap orang lain.

Melawan terorisme bukan berarti membasmi para teroris, tetapi melawan paham (terorisme) yang menjadikan seseorang menjadi teroris. Yaitu paham yang telah disebutkan saya di atas. Pertanyaannya, dengan apa kita melawan terorisme? Karenma terorisme merupakan suatu paham, maka ia juga harus dilawan dengan paham.

Kita harus mampu menawarkan paham di luar (paham) terorisme. Dalam hal ini, paham yang paling absah kita tawarkan adalah (Islam) moderat (isme). Yaitu paham yang menjadikan inklusifitas sebagai pijakan dalam melangkah. Paham yang membuka ruang dialog seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya terhadap orang dan kelompok di luar dirinya.

Dengan inklusifitas ini, diharapkan kesalahpahaman diantara kelompok, baik agama dan aliran dapat diminimalisir, dan syukur, jika dapat dihilangkan. Sehingga doktrin takfiriyah dan konsep jihad dalam arti yang sempit tidak lagi menjadi penyebab lahirnya terorisme.

Jika spirit melawan terorisme ini tertanam dalam diri anda dan mampu diaktualisasikan ke dalam kehidupan sosial-masyarakat, dimana kita hidup, maka Ramdhan kali ini benar-benar menjadi bulan yang suci dan membawa rahmat.

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.