in

Ramadhan dan Jihad Melawan Radikalisme


A Muslim American man holds up his hands in prayer after breaking fast and performing the Maghrib sunset prayer on the first day of Ramadan at the Islamic Cultural Center in Manhattan, New York, U.S., May 27, 2017. REUTERS/Amr Alfiky TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Seorang Muslim Amerika mengangkat tangan saat berdoa setelah berbuka puasa dan salat Magrib di hari pertama Ramadhan di Pusat Budaya Islam, Manhattan, New York, Sabtu (27/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Amr Alfiky/djo/17

“Kalian baru saja pulang dari jihad terkecil menuju jihad terbesar,” ujar Nabi Muhammad SAW. Para Sahabat pun heran lalu bertanya, “Wahai Rasulullah! Apakah gerangan jihad terbesar itu?” Tanpa ragu-ragu, beliau menjawab, “Jihad seseorang melawan hawa nafsunya.”

Demikianlah sabda Nabi Muhammad SAW sepulang dari Ekspedisi Tabuk seperti diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dalam kitab Az-Zuhd. Dalam tarikh, Ekspedisi Tabuk tercatat sebagai salah satu yang terberat bagi kaum muslimin. Pasukan Islam saat itu harus menempuh perjalanan sejauh 60 hingga 70 mil ke selatan Yordania di tengah cuaca bulan Rajab tahun 9 Hijriah yang sangat panas dengan tunggangan yang sedikit.

Selain itu, mereka juga menderita kekurangan biaya ditambah perbekalan yang tidak seberapa. Namun, dalam pandangan Nabi, masa-masa yang serba sulit itu bukanlah apa-apa. Masih ada suatu jihad yang jauh lebih hebat, yaitu jihad mengalahkan hawa nafsu. Mengapa hawa nafsu dikategorikan sebagai musuh terakbar manusia?

Jawabannya, sebagaimana dikatakan Mirza Ghulam Ahmad dalam Islam Ushul Ki Filasafi (1896), adalah karena hawa nafsu senantiasa mendorong manusia ke arah kejahatan dan memerintahkannya untuk melakukan apa yang bertentangan dengan fitrah kebaikan. Oleh sebab itu, hawa nafsu dinamai ammarah. Manusia yang dikuasai oleh hawa nafsu tak ubahnya bagai binatang liar. Ia menerjang ke sana dan ke sini seraya berbuat keonaran.

Hawa Nafsu Radikalisme

Umat Islam Indonesia, sebagai satu-kesatuan tubuh manusia, terlihat tengah dijangkiti oleh banyak sekali jenis hawa nafsu dalam beberapa tahun belakangan. Bermacam-macam hawa nafsu menjalar ke berbagai dimensi kehidupan mereka. Apabila dikerucutkan dari sudut pandang sosial-kebangsaan, akan terlihat bahwa hawa nafsu terganas yang menginfeksi tubuh umat Islam Indonesia dewasa ini adalah radikalisme yang bernatijah pada intoleransi beragama.

Greg Fealy dalam tulisannya di jurnal Southeast Asian Affairs (2004) menyebutkan bahwa kebebasan pers dan organisasi pada era reformasi telah melepaskan kerangkeng radikalisme yang sebelumnya terikat kuat semasa Soekarno dan Soeharto berkuasa. Radikalisme itu mengejawantah dalam bentuk ormas-ormas radikal.

Baca Juga :   Pemindahan Ibu Kota Negara: Dari Imam Ali, Sukarno, hingga Anies Baswedan

Pertumbuhan ormas-ormas radikal yang sangat pesat telah mengubah wajah umat Islam Indonesia secara signifikan. Jika selama ini umat Islam Indonesia masyhur dengan perangai cinta-damai dan toleran, kehadiran ormas-ormas radikal justru telah membuat para pengikut agama-agama lain khawatir dan cemas akan keselamatan hidup mereka.

Ketakutan dan kecemasan tersebut memang patut dirasakan dan bukan tanpa alasan. Pasalnya, berdasarkan laporan The Wahid Institute (2014), ormas-ormas radikal, seperti Front Pembela Islam (FPI), Forum Jihad Islam (FJI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta Forum Umat Islam (FUI) tercatat paling dominan dalam menelurkan tindakan-tindakan intoleran. Sementara itu, korban-korban mereka tercatat dipenuhi oleh para pemeluk agama-agama lain, seperti Jemaat Kristen dan Katolik, kelompok gereja, aktivis lintas iman, serta kelompok Pura.


Akhir-akhir ini, ormas-ormas tersebut kian mendapat panggung dan semakin berani untuk membakar bara radikalisme di tengah-tengah masyarakat. Dimulai setidaknya dengan rentetan Aksi Bela Islam, nyala intoleransi terus-menerus mereka sulut hingga kini membumbung tinggi, membuat berbagai elemen kebangsaan terusik sekaligus merasa takut.

Presiden Joko Widodo pun turun tangan dengan menemui serta mengundang berbagai tokoh dari beragam kalangan, terutama dari kalangan Islam, guna menjaga kejombangan wajah umat Islam Indonesia yang cinta-damai dan toleran seraya mengonsolidasi persatuan dan keutuhan negara. Terakhir, pada 16 Mei 2017 lalu, Presiden dengan didampingi Kapolri dan Panglima TNI mengadakan pertemuan dengan para pemuka lintas agama di Istana Merdeka, Jakarta, dalam rangka mengatasi persoalan-persoalan kebangsaan yang sedang hangat terkait isu SARA.

Jadi, tidak bisa dibantah lagi bahwa gejolak radikalisme yang mengobarkan api intoleransi beragama telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan karakter cinta-damai dan toleran umat Islam Indonesia. Untuk menjaga kelangsungan hidup kedua sifat mulia itu, umat Islam Indonesia harus berjihad melawan hawa nafsu radikalisme yang datang dari dalam tubuh mereka sendiri. Jika tidak, hawa nafsu radikalisme suatu saat nanti pasti akan menguasai tubuh umat Islam Indonesia lalu menggerakkannya laksana kuda binal untuk menciptakan intoleransi total di seluruh negeri. Pertanyaannya, bagaimanakah jihad yang paling tepat untuk diperbuat?

Baca Juga :   Kekerasan Atas Nama Tuhan

Diagnosis

Setelah didiagnosis, tampak bahwa radikalisme berurat-akar dari paham fundamentalisme agama. Menurut Jack David Eller dalam Introducing Anthropology of Religion (2007), fundamentalisme agama merupakan usaha untuk mengacu dan menampilkan kembali ajaran yang paling fundamental atau yang paling murni dari suatu agama. Dari pemaknaan ini, fundamentalisme agama (baca: fundamentalisme Islam) sebenarnya dapat diartikan secara positif dan dapat pula membuahkan hal-hal yang baik.

Sayangnya, hakikat fundamentalisme Islam didistorsi oleh ormas-ormas radikal. Mereka beranggapan bahwa ajaran Islam yang paling fundamental adalah monopoli kebenaran sehingga memaksakan Islam kepada para penurut agama-agama lain yang batil dan tidak samawi menjadi sebuah kewajiban.

Dalam Tuhfah-e-Qaishariyyah (1897), Mirza Ghulam Ahmad menyatakan bahwa gagasan ini sama sekali tidak benar. Sebaliknya, fundamentalisme Islam yang sejati dan linear dengan prinsip-prinsip Qurani adalah bahwa agama-agama selain Islam benar pada asalnya dan para pendiri agama-agama tersebut merupakan nabi-nabi Tuhan. Suatu agama, ungkapnya, yang telah sintas melewati bentangan waktu yang sangat panjang dan memiliki jutaan pengikut pasti bermula dari sesosok nabi yang benar.

Apakah agama itu mengalami perubahan dari ajaran aslinya di kemudian hari ialah cerita lain. Jadi, tokoh Yesus dari Kristen, Sri Krishna dari Hindu, Siddhartha Gautama dari Buddha, dan Konfusius dari Kong Hu Cu, tidak dapat dimungkiri bahwa mereka semua merupakan nabi-nabi Tuhan yang terkasih.

Jihad Yang Paling Tepat

Nah, jihad yang paling tepat dilakukan oleh umat Islam Indonesia dalam konteks ini adalah memeragakan ajaran Islam yang fundamental tersebut. Bila seorang muslim yang hakiki, yang beriman kepada kebenaran semua nabi, menghayati prinsip-prinsip Qurani yang penuh damai itu, ia tentu tidak akan mempraktikkan tindakan-tindakan intoleran kepada para penurut agama-agama lain. Ia justru akan menghargai dan menghormati mereka dengan penuh ketulusan selaku saudara-saudara kenabian meskipun dari kenabian yang berbeda. Walhasil, saudara-saudaranya dari kenabian yang berbeda akan balik menghargai dan menghormatinya sehingga kedamaian dan simpati mutual akan terbentuk di antara mereka.

Baca Juga :   Yang Muda yang Radikal

Kemudian, tiap-tiap muslim yang telah menerapkan akhlakul karimah ini harus menularkannya kepada muslim-muslim lain di lingkungannya. Ia harus berani memperbaiki pemikiran-pemikiran intoleran yang telah sekian lama merasuk ke dalam otak keluarga, teman, dan tetangganya sebagai hasil dari interaksi dengan radikalisme. Ia tidak boleh menyerah kala mendapatkan resistensi dari orang yang diajaknya atau bahkan penentangan dari tokoh yang memelopori radikalisme itu sendiri.

Ringkasnya, ia harus terus berjuang sekuat tenaga untuk menyempurnakan misinya kendati harus mati karenanya. Inilah makna jihad yang sesungguhnya, yaitu menyebarkan pesan damai ilahi kepada semua manusia walaupun seseorang harus kehilangan nyawanya.

Momentum Ramadhan

Bulan Ramadan, terumata pada 10 hari terakhirnya, merupakan momentum bagi umat Islam Indonesia untuk memulai jihad terbesar melawan hawa nafsu radikalisme. Pada hari-hari yang sarat pengabulan doa ini, mereka harus bermunajat ke hadirat Tuhan dengan hati yang khusyuk, memohon agar kemantapan dan kekuatan dianugerahkan kepada mereka dalam berjihad. Mereka harus yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong mereka di setiap medan dan mengaruniai mereka kemenangan demi kemenangan.

Jika umat Islam Indonesia menyadari betapa pentingnya jihad ini dan melaksanakannya dengan penuh kecintaan, merupakan keniscayaan bahwa radikalisme akan segera hilang dari Bumi Pertiwi. Lantas, wajah umat Islam Indonesia yang cinta-damai dan toleran akan bersemi kembali dengan ketampanan dan wibawa yang lebih cemerlang daripada sebelumnya.

Malahan, keelokannya akan seperti sebuah pepatah Arab, Wajhuka yuranil kawakiba husnuhu, yakni (Keindahan wajahmu sungguh menyaingi bintang-bintang di langit). Dengan kemolekan demikian, umat Islam Indonesia akan menjadi teladan dan inspirasi bagi dunia.


Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR