Jumat, Oktober 30, 2020

Rakyat Percaya Tanpa Korupsi

Sapardi, Bowo, dan Kabar-Kabur Tik-Tok Hari Ini

Di dalam episode 74b serial animasi SpongeBob Square Pants yang berjudul Wigstruck, SpongeBob menemukan sebuah wig besar jatuh di depan rumahnya sebelum ia berangkat kerja. SpongeBob...

Mereformasi KPK

Suara Henry Yosodiningrat yang mengusulkan pembekuan KPK memancing polemik. Henry menilai KPK seharusnya melakukan tugasnya secara bersih dan tidak tebang pilih. Pendapat Henry itu,...

Konspirasi RUU Pertembakauan

Pada 22 Mei 2017 Sidratahta Mukhtar (SM) menulis di koran sindo dengan judul Kebijakan Politik di Tengah Perang Tembakau. Dalam tulisan itu, SM menyinggung...

Pagebluk dan Ekonomi di Timur Negeri

Baru-baru ini, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan II. Tercatat, ekonomi Provinsi NTT mengalami kontraksi sebesar 1,96...

Perhelatan Pilkada serentak 2018 telah sukses dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2018 kemarin. Secara umum, pesta demokrasi lokal ini boleh dibilang lancar dan kondusif. Kendatipun terdapat insiden-insiden yang mencederai proses demokratisasi ini baik selama atau pun pasca proses pemilihan.

Misalnya, kasus moneypolitics, bagi-bagi sembako, penyebaran bahan kampanye yang tidak sesuai dengan aturan, dan/atau fakta rivalitas para calon dengan kotak kosong pada 16 daerah.

Yang paling mengerikan adalah insiden baku tembak antara TNI/Polri vs KKSB di Nduga Papua, dugaan guru yang dipecat karena beda pilihan di Bekasi dan tragedi lainnya adalah 2 (dua)kandidat tersangka korupsi berhasil keluar sebagai jawara sementara ini di Tulungagung dan Maluku Utara.

Tanpa Korupsi

Saya merasa miris mengetahui bahwa di Maluku Utara dan Tulungagung unggul dua orang tersangka kasus korupsi. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah rakyat dibutakan matanya, terlena dengan rayuan atau tidak menggunakan nurani dalam memilih hingga kedua pasangan ini bisa unggul? Ataukah memang kedua pasangan tersebut punya kekuatan luar biasa ala super hero? Tetapi bahwa itu kembali pada pilihan masing-masing orang, hanya saja pemilih cerdas adalah mereka yang mengetahui konsekuensi dari setiap tindakannya, apakah kita sudah cerdas?

Peristiwa di atas bisa dikatakan penting untuk dinalar dan direfleksikan dalam kehidupan demokrasi ke depannya. Terpilihnya pemimpin baru berarti munculnya harapan baru dan semangat baru dalam penataan kinerja, birokrasi kelembagaan dan pelayanan publik. Hal ini hanya dapat diwujudkan apabila sejak dini para kepala daerah memasukan salah satu agenda terpenting yaitu anti korupsi dan mengembalikan kepercayaan publik kepada pemerintahan yang digerakannya.

Memang bidang korupsi dapat dikatakan sebagai salah satu yang melorotkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah baik di tingkat pusat atau daerah serta lembaga-lembaga kekuasaan negara.Korupsi menjadi masalah serius dan paling banyak menguras baik secara materi, pikiran dan tenaga, nilai etika/moral yang dianut, membuat labeldan yang pasti menyengsarakan tidak hanya koruptor sendiri tetapi rakyat selaku pemilik kedaulatan.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, pada tanggal 26 Juni 2018 sehari menjelang Pilkada 2018 mengingatkan kepada publik bahwa sampai saat ini KPK telah menetapkan 95 kepala daerah tersangka kasus korupsi dari 108 perkara yang ditangani KPK. Dengan data tersebut, maka mau tidak mau, suka tidak suka menjadi tantangan bagi para kepala daerah untuk merebut kembali hati rakyat. Jangan korupsi, itu intinya.

Kepercayaan publik dibutuhkan agar pemerintah itu solid dan fokus mengerjakan hal-hal yang penting dan strategis bagi kemaslahatan rakyat. Kepercayaan publik juga dapat berarti pemerintah menjadikan rakyat sebagai subyek studi penyelenggaraan pemerintahan adalah agar pemerintah punya ukuran yang nyata terkait realisasi program-program. Disamping itu untuk mewujudkan fungsi kontrol, kepatuhan, akseptabilitas dan kredibilitas dan popularitas bila ingin tetap memerintah.

Cara demikian menunjukan bahwa pemimpin terpilih itu adalah yang terbaik dari yang baik.Niscaya rencana apapun akan mendapatkan dukunga rakyat, entah agenda rupa apapun itu asalkan lahir dari rakyat yang percaya bahwa selalu ada sisi keadilan, kemanfatan dan kemakmuran yang dimotori pemimpinnya, pasti selalu berhasil.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.