Kamis, Maret 4, 2021

Quovadis Agama

Budaya Melek Literasi dalam Keluarga

Literasi selalu menjadi isu yang seolah tidak ada habisnya didiskusikan. Hal ini mengingat fakta yang dipaparkan oleh UNESCO, bahwa budaya literasi di Indonesia yang...

Sarung Jokowi

Dalam berbagai kesempatan, Jokowi tampil dengan menggunakan sarung. Dalam ruang pribadi dan juga di publik. Ini dapat dilihat dari fanpage resmi dengan akun Presiden...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Bekas Ekstremis: Syariat Hanya Ada di Otak, Kedamaian di Hati!

Masih ingat dengan Bom Bali 1 dan 2 yang terjadi lebih dari satu dekade silam? Siapa otak maupun pelaku yang melekat di benak Anda...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Setelah saya membaca tulisan Sujiwo Tejo dari grup WA yang berjudul ‘Ketika Agama Kehilangan Tuhan’ saya tersentuh dan mencoba menyelami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam tulisan itu, saya menduga tampaknya agama telah menjelma menjadi sosok manusia yang sangat mengerikan karena mampu mengalahkan Tuhan dan merampok hak-hak Tuhan.Dalam pandangan saya, sesungguhnya agama dan Tuhan tidak saling mengalahkan.

Agama juga tidak pernah mengambil hak-hak Tuhan sejak manusia meyakini adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Justru manusialah yang mengubah dirinya menjadi sosok agama dalam versinya sendiri dan merampas hak-hak Tuhan dengan cara-cara kejam. Lantas, siapa sebenarnya manusia yang dengan seenaknya mengubah dirinya menjadi sosok agama dan ‘merampok’ hak-hak Tuhan secara sadis? Dialah tokoh agama yang dirasuki iblis keserakahan, kerakusan, kekayaan, popularitas dan kekuasaan.

Dalam terminologi agama mayoritas di Indonesia, tokoh agama memiliki banyak sebutan seperti ulama, ustadz, kiai dan habib. Menurut saya, sebutan ulama telah mengalami pergeseran makna yang sangat signifikan berdasarkan penilaian dari dua kelompok aliran yang ada dalam salah satu agama mayoritas di Indonesia.

Tuhan Dipaksa Menyingkir

Kelompok pertama memaknai ulama sebagai ahli agama yang wajib menyuarakan syariah agama tertentu di Indonesia berdasarkan keberadaan agama mayoritas di Indonesia. Umumnya, para ulama dari kelompok pertama ini menyuarakan aspirasi agamanya dengan cara-cara keras dan saklek, tanpa mempedulikan aspek kemanusiaan dan dasar-dasar hukum positif negara. Pokoknya, bagi ulama kelompok ini, agama harus mengalahkan segala aspek kehidupan manusia dan agama menjelma menjadi Tuhan (Tuhan dipaksa menyingkir dalam agama).

Sedangkan ulama dalam pandangan kelompok kedua ialah seseorang yang memiliki keahlian ilmu agama dan ‘keahlian sosial’ yang kemampuannya berada diatas rata-rata para penganut agama mayoritas. Para ulama di kelompok ini berperan bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi juga menjadi pemimpin sosial dalam memecahkan berbagai persoalan publik dan agama dengan cara-cara bijaksana.

Dalam etimologi bahasa Arab, kata ulama berarti orang yang mengetahui karena memiliki ilmu pengetahuan yang sangat tinggi dan luas. Makna sebenarnya dalam bahasa Arab, ulama adalah ilmuwan atau peneliti. Kemudian arti ulama mengalami perubahan setelah diserap ke dalam Bahasa Indonesia yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama, khususnya Islam.

Melihat fakta dua definisi ulama di atas, bila dikaitkan dengan perbedaan tafsir makna ulama oleh dua kelompok aliran penganut agama dalam salah satu agama mayoritas di Indonesia, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penganut agama mayoritas di Indonesia, belum atau bahkan tidak memahami makna peran ulama dengan baik dan benar dalam kehidupan sosialnya maupun dalam kehidupan keagamaannya.

Sesungguhnya, makna ulama bukan hanya sekadar memiliki keahlian agama, tetapi juga harus mempunyai pengetahuan umum yang tujuannya untuk menjawab semua problem sosial. Kelompok pertama yang memaknai ulama semata-mata sebagai ahli agama saja, sangat tidak tepat dan terlalu sempit sehingga ulama menjelma menjadi sosok agama yang kaku dan bersifat doktrin.

Sedangkan kelompok kedua memaknai ulama bukan hanya sebagai orang yang ahli agama, tetapi juga mampu menunjukkan sikap dan perilaku baik dalam tataran norma umum, menyejukkan dan bijaksana dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial serta mampu menjaga dan menerima adanya perbedaan apapun dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pandangan kelompok ini penafsiran agama sangat fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi zaman.

Agama Sebagai Doktrin

Di sisi lain, menurut saya sekarang ini sebagian kecil penganut agama mayoritas di Indonesia sedang mengalami krisis iman akut. Hal itu terjadi karena hati nurani dan nalar mereka hanya menjadikan agama sebagai doktrin. Tuhan dan manusia tidak lagi punya arti.

Dalam pandangan mereka agamalah yang penuh arti. Buktinya, banyak penganut agama mayoritas menjadikan agama sebagai ‘gelang karet’ yang bisa ditarik kekiri, kekanan, keatas, kebawah, kesamping, kedepan, kebelakang dan kemana saja sesuka-sukanya. Agama sudah menjadi ‘gelang karet’.

Sebagaimana sifat karet yang mampu mengikat sebuah barang dengan kencang maupun kendor. Artinya sosok ulama dalam ruang lingkup penilaian agama mayoritas (seperti telah disebutkan di atas) bisa memfungsikan agama semaunya dan ulama tidak boleh dibantah dan harus menjadi kebenaran mutlak.

Dalam mengimplementasikan nilai dan ajaran agama sesuka hatinya, tentu saja sekelompok tokoh agama tertentu memiliki kepentingan (seperti kepentingan kekuasaan, kepentingan politik, kepentingan agama, kepentingan popularitas, kepentingan ekonomi, kepentingan budaya, kepentingan sosial atau bisa jadi kepentingan teknologi dan informasi).

Sejumlah tokoh agama akan berperan menjadi sosok agama dan memainkan dirinya sebagai Tuhan. Contohnya ialah seseorang yang mengaku ustadz atau ulama yang berani menghina dan mengecam penganut agama lain dan juga agamanya sendiri karena adanya perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat di kitab suci.

Belum lagi ada sejumlah penganut agama mayoritas yang mengklaim dirinya sebagai ulama atau keturunan nabi. Akibatnya, agama mayoritas dan para penganutnya di Indonesia berubah menjadi monster yang begitu mengerikan, menakutkan, kejam dan sadis.

Coba Anda tengok fakta lainnya, banyak pejabat negara dan anggota parlemen yang korupsi ‘gila-gilaan’ berlindung dibalik agama, segelintir oknum politisi yang diduga kuat ingin ‘membunuh’ pejabat KPK mengaku penganut agama.

Sejumlah oknum yang diduga merencanakan aksi makar mengatasnamakan agama, aksi persekusi sekelompok ormas lantang menyebut-nyebut agama, aksi demo politik mengatasnamakan bela agama, sekelompok orang ingin mengganti Pancasila karena dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama, menebar fitnah dan hoaks selalu menggunakan jargon agama, politisi rakus dan serakah rajin meneriakkan agama, perbuatan intoleransi sekelompok orang selalu membawa-bawa agama.

Pokoknya semua dikaitkan dengan agama. Akhirnya, agama di Indonesia menjadi bahan ‘lelucon’ agama lain sekaligus menjadi alat untuk membunuh yang paling ampuh.

Penganut agama mayoritas di Indonesia menjadi begitu hina derajatnya dalam agama itu sendiri. Perlahan tetapi pasti, bila agama terus-menerus dijadikan sebagai senjata mematikan, maka agama bukan hanya kehilangan TUHAN, tetapi juga kehilangan nilai-nilai KASIH SAYANG dalam pergaulan sosial.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.