OUR NETWORK

Qabbani, dan Makrokosmos Konflik Timur Tengah

Cara luhur mengetahui jati diri sebuah bangsa adalah melalui sosio-kulturalnya, membaca sejarah bangsanya hingga ke akar-akarnya. Baru kemudian melacak para ilmuan yang kompeten, dan dipungkasi dengan berkenalan dengan para politisi, pemimpin, dan para pengusahanya. Dalam konteks regional Timur Tengah—selain para politisi dan pemimpin negara yang selalu mendapat lampu sorot lebih—sejatinya tumbuh subur penyair-penyair kenamaan yang wanginya tercium hingga ke bumi pertiwi ini. Sebutlah: Muhyidin Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Jalaluddin Rumi, Imam al-Busyiri Ibnu Burdah, Muhammad Iqbal, dan Nizar Tawfiq Qabbani.

Melihat Timur Tengah tak ubahnya melihat peradaban Islam. Dari tanah tandus itu, tidak hanya minyak yang menyumbar tapi puisi-puisi tasawuf juga mengalir deras. Bahkan, puisi-puisi politis dan romantis tidak jarang dikobarkan oleh para penyairnya, salah satunya oleh Nizar Qabbani.

Timur Tengah yang remuk-redam memang terasa terwakili oleh beberapa puisi gubahan Nizar Qabbani. Ia menyorot begitu detail kecamuk perang yang terjadi di Irak, Suriah, bahkan tanah para nabi Jerusalem (al-Quds). Selain puisi politis, Qabbani juga menulis puisi romantik dan sensual. Qabbani banyak menulis puisi di harian berbahasa Arab, Al-Hayat. Puisinya dikenal banyak kalangan luas karena banyak dinyanyikan para penyannyi Lebanon dan Suriah. Karena itu, banyak orang di Timur Tengah, yang bertutur menggunakan bahasa Arab sangat mengenal karyanya.

Salah satu puisi familiarnya, dan sangat inheren ketika melihat gejolak di Timur Tengah saat ini adalah “Yerusalem (al-Quds)”: Saya kutib di sini beberapa bagian: Yerusalem, o, kota nabi-nabi yang bercahaya/jalan pendek antara surga dan bumi!/Yerusalem, kota seribu menara/seorang gadis cilik yang cantik dengan jari-jari terbakar/kota penuh duka,o, air mata yang sangat besar/bergetar di kelopak matamu/siapa yang akan menyelamatkan Injil?/siapa yang akan menyelamatkan Qur’an? (Yerussalem, Setiap Aku Menciummu. Terjemahan Irfan Zakki Ibrahim, Akar Indonesia, 2016).

Jerusalem memang “wangi oleh para nabi”, kota suci agama-agama samawi. Sejak dahulu kala, Jerusalem dipertahankan sebagai tempat yang menginspirasi kedamaian di bawah cahaya iman agama-agama samawi. Tidak jauh dari Masjid al-Aqsa (Islam) terdapat Gereja Makam Kristus (Kristiani) dan Tembok Ratapan (Yahudi). Jerusalem merupakan sumber inspirasi untuk mewujudkan perdamaian. Barang siapa yang berziarah ke Jerusalem, maka ia tidak hanya berziarah ke satu tempat suci, tapi juga berziarah ke tempat suci agama-agama samawi. Inilah yang membuat kota ini unik walau beberapa kali terjadi gesekan atas nama teologis dan ihwal politis.

Seperti ungkapan Qabbani, Jerusalem tak ubahnya gadis kecil nan cantik dengan jari-jarinya terbakar. Nasib kota suci itu seperti kisah anak perempuan, ibu-ibu hamil, dan jutaan korban lainnya saban hari mendapat gempuran bom dan senapan. Parade konflik tak ada jedanya, walau jarum jam menunjuk 01:00 tengah malam.  

Masih menurut Qabbani, Jerusalem seperti kota “Sang Perawan” dengan tatapan murung dan impian yang tak pernah final. Menara-menara masjid pun murung, Tembok Ratapan pun bersimbah luka, hingga gereja itu pun tak mampu berdiri tegap lagi. Sehingga, siapa yang akan menyelamatkan Kristus? siapa yang akan menyelamatkan manusia? Yerusalem, kotaku tercinta!, kata Qabbani.

Sejarah menjelaskan secara gamblang bahwa Jerusalem adalah kota yang selalu diperebutkan, ditaklukkan, dan dihancurkan. Karena itu, Jerusalem menderita, bahkan penderitaannya hingga sekarang tak kunjung usai. Maka cerita tentang pemasangan alat pemindai metal (17/07/17) di Masjid al-Aqsa oleh Israel adalah ranting konflik dari pohon konflik Jerusalem selama bertahun-tahun. Sejak akhir perang 1948 (perang kemerdekaan bagi Israel; dan perang awal kolonialisasi bagi Palestina), Jerusalem memulai kisah baru dengan bibit-bibit konflik yang mulai bermekaran. Situasi semakin memburuk setelah perang pada 1967 hingga saat ini. Tak ayal kalau Jerusalem menjadi salah satu sumber konflik di Timur Tengah. Jerusalem pun tak sesuai dengan nama kota itu, “Kota Perdamaian”. Jerusalem tak sesuai lagi dengan nama dalam bahasa Arab, al-Quds, yang berarti “kudus”.

Di tanah air sendiri setidaknya digelar acara solidaritas sastra untuk Palestina sejak 1982, dan baru-baru ini juga digelar acara yang sama pada kamis malam (24-08-17) di Taman Ismail Marzuki. Dengan suasana begitu hangat dan menyentuh, ada kaliber kiai sastrawan Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Abdul Hadi WM, D. Zawawi Imron, Mahfud MD, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dan beberapa undangan dari Duta Besar negara-negara Arab yang ikut meramaikan. Ada pembacaan puisi-puisi karya penyair-penyair Arab termasuk puisi gubahan Nizar Qabbani.

Acara macam ini adalah bentuk solidaritas sesama umat muslim dunia dan mendukung kemerdekaan Palestina secara penuh. Hal ini juga menadi suatu penegasan kembali atas pernyataan Presiden Soekarno di tahun 1962: “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”

Syahdan, di tanah kelahiran Qabbani—Suriah—siapa bilang aman dan damai. Di negeri Bashar al-Assad itu bahkan lebih mengerikan lagi. Akar konfliknya begitu kompleks, ada banyak kepentingan atas nama teologi, ideologi, materi bahkan campur tangan eksternal (barat) yang membikin musim semi di Suriah kian lama. Suriah tengah dalam proses penghancuran sistematis melalui perang yang telah berlangsung kurang lebih delapan tahun terakhir. Kehancuran Suriah, dengan demikian disebut bencana geopolitik (geopolitical disaster) yang melibatkan simpul-simpul utama international order yang tak kunjung berhasil menemukan kesepakatan mengenai kawasan.

Qabbani lahir dari ekosistem macam itu. Seperti kata Faizal Kamandobat; Ia mewarisi masa lalu dalam wajah Negara Suriah modern yang tak sepenuhnya mampu mengolah potensi yang diwarisinya ke level teknokrasi lebih lanjut. Sebagai diplomat, ia merasakan betul pertikaian negaranya dengan Israel, yang buah pahitnya antara lain berupa nasib dataran tinggi Golan yang tak pasti hingga kini. Maka Qabbani berujar dalam kealpaan tentang nasib saudara dan negaranya: karena kata-kata dalam kamus telah mati/karena kata-kata dalam riwayat telah mati/karena kata-kata dalam buku-buku telah mati/maka kubuka sebuah jalan cinta/di mana aku dapat mencintaimu tanpa kata-kata.

Baik Jerusalem, Suriah, Lebanon, Irak, dan Negara Timur Tengah lainnya adalah sebuah elegi dan tragedi bagi Qabbani. Qabbani begitu lara menarasikan betapa negara-negara Arab tengah murung dengan awan hitam tebal di langitnya. Dalam rentang waktu lima tahun, Qabbani melihat orang-orang Arab menjadi guruh (guntur) dan tak pernah menjadi hujan. Mereka memasuki peperangan namun tak pernah meninggalkannya. Mereka terus mengunyah kebijakan, namun tak pernah menelannya. Musim di tanah tandus itu tak lagi kemarau, tapi musim semi berkepanjangan, dan tak tahu kapan kemarau tiba. Dari Qabbani dan puisinya adalah suara lara masyarakat Timur Tengah.

 

Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…