in

Putusan Golkar, Hoax atau Asli


Sejak hari kemarin malam media sosial diramaikan dengan beredarnya surat keputusan yang beredar yang di tanda tangani oleh Ketua DPP Partai Golkar Setya Novanto dan Sekjen Partai Golkar Idrus Marham.

Beredarnya surat keputusan tersebut sebenarnya bisa dipastikan kalau draft surat tersebut asli, walaupun belum ada cap basah, no surat dan tanggal.

Namun pada akhirnya, surat tersebut di bantah dan di anggap Hoax oleh pengurus dan Sekjen Partai Golkar itu sendiri.

Kenapa Surat tersebut bisa menjadi Hoax dan tidak benar?

Sederhana saja kenapa surat tersebut bisa menjadi Hoax, karena surat keputusan tersebut keburu ketahuan, apa bila tidak ketahuan bisa di pastikan surat itu melenggang mulus dan menjadi asli.

Kejanggalan terbesar sepertinya jelas tertuju kepada ketua umum Partai Golkar itu sendiri, Setya Novanto. Keadaan Setya Novanto semenjak menjadi tersangka kasus e-Ktp kesehatannya mulai menurun.

Apalagi beredar informasi setya novanto baru selesai menjalani operasi jantung. Dan menderita banyak komplikasi penyakit, mulai dari gula darah, vertigo, gula darah dan gangguan ginjal.

Dan dari media yang beredar jantungnya tersumbat mencapai 80%.

Bayangkan, dengan kondisi yang seperti itu, dan baru selesai operasi Setya Novanto masih bisa memimpin rapat untuk memutusakan pasangan calon gubernur dan wakil gubenur tanpa ketahuan oleh KPK dan undangan kepada pengurus DPD Partai Golkar Jawa Barat.

Baca Juga :   Dedikasi Mulya di Tanah Pasundan

Dengan beredarnya surat tersebut jelas membuat Kader Golkar di daerah Jawa Barat jelas membuat gaduh, apalagi bagi mereka yang bersama-sama dan bahu membahu untuk menjadikan Golkar menjadi Partai dengan elektabitas tertinngi di jawa barat meras di hianati oleh bapaknya sendiri.

Pengibaran bendera setengah tiang mungkin penolakan sederhana, tapi para pengurus Kecamatan (PK) Partai Golkar se jawa barat, telah sepakat apabila surat tersebut untuk calon lain, mereka akan mengundurkan diri secara bersamaan.


Apabila kejadiaanya seperti itu, maka yang paling rugi jelas Partai Golkar itu sendiri. Mesin partai tidak akan berjalan dan besar kemungkinan peluang Partai Golkar untuk memenangkan Pilgub Jabar akan semakin kecil karena matinya mesin partai.

Kenapa harus Ridwan Kamil dan Daniel Muttaqien yang di usung?

Sebenarnya, Partai Golkar sudah memiliki Kader yang potensial dan loyal terhadap partai golkar. Sebagai Ketua DPD Golkar Jawa Barat kesetiaan dan aplikatif niali-nilai ideologi partai golkar telah di terapkan oleh Dedi dalam menjalankan mesin politiknya.

Tetapi, kenapa golkar memilih calon lain selain Dedi Mulyadi, bukankah elektabilitas yang selama ini menjadi acuan telah menunjukan trend positif?

Kenapa juga tidak calon lain yang di usung selain Dedi Mulyadi, bukankah calon-calon lain pun bertebaran di jawa barat, dan golkar tidak kurang-kurangnya memiliki kader potensial.

Semenjak kunjungan Ridwan Kamil ke Indramayu adalah akar mulainya banyak permasalahan yang tak hentinya menghantam Dedi Mulyadi. Apalagi waktu kunjungan tersebut RK menunjuk Daniel secara sepontan untuk menjadi wakilnya.

Baca Juga :   Pengaruh Dedi Mulyadi di Jawa Barat

Daniel pun terbuai dengan bujuk-rayu Ridwan Kamil, padahal pada dasarnya sosok Daniel tidak dikenal sama sekali sekalipun dia merupakan Anggota DPR RI.

Daniel jelas memiliki akses ke DPP Golkar, karena dia merupakan anak dari Yance, mantan Bupati Indramayu.

DPP Golkar pun terpecah, seperti pernyataan Nusron Wahid yang secara spontan masih membuka untuk calon lain, walaupun pada saat itu Golkar telah sepakat dan menutup pintu untuk RK.

RK berhasil melobi-lobi pengurus DPP Golkar hingga pertemuannya dengan Novanto. Apa yang dilakukan oleh RK adalah membelah Partai Golkar dan menjegal pencalonan Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi semenjak dari bulan agustus seperti tidak ada kejelasan, pada bulan tersebut juga Dedi Mulyadi mendapat berbagai macam penolakan dari berbagai kelompok yang mengatasnamakan ulama, politisasi agama kembali di mainkan untuk merusak citra Dedi Mulyadi.

Padahal, MUI Purwakarta telah menjelaskan kalau kebijakan Dedi Mulyadi tidak menyimpang dan tidak betentangan dengan nilai-nilai agama. justru sebaliknya, Dedi berhasil menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam kebijakannya.

Keusilan dan maneuver yang dilakukan oleh Ridwan Kamil untuk menjegal Dedi Mulyadi menuai anti-pati dari dari masyarakat dan relawan pendukung Dedi Mulyadi, mereka semakin anti pati terhadap RK, dari sore sampai malam di media sosial ramai tagar #SayaBersamaDediMulyadi

Sedangkan di twitter, netizen ramai hastag #SavePartaiGolkar sebagai bentuk kekecewaan atas keputusan sepihak yang dilakukan oleh DPP Partai Golkar tanpa melihat akar rumput.

Baca Juga :   Elektabilitas Partai dan Figur Kader

Dan pada akhirnya DPP Golkar pun menyatakan kalau surat tersebut bodong, walaupun disana tertera surat tersebut rahasia.

Karena DPD Partai Golkar Jawa Barat sebagai pihak yang sangat dirugikan atas surat tersebut, maka DPP diminta untuk melaporkan surat tersebut, jika tidak DPD Golkar Jabar sendiri yang akan melaporkan.

Dengan makin solidnya Grassroot Partai Golkar untuk mengusung Dedi Mulyadi, harusnya DPP tidak perlu ada keraguan untuk mengusungsungnya, tapi DPP sepertinya sedang bercanda yang tidak lucu.

Bagimana dengan keusilan Ridwan Kamil, kita saksikan saja kedepannya bagaimana, karena derama masih berlangsung.


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR